
Gemericik suara air di kamar mandi bercampur dengan dendang lagu Ajarkan aku by Arvian Dwi dengan suara fals dan nada yang berkelok-kelok tak seperti aslinya, membuat telinga yang mendengar terasa ingin mengamuk.
"Ajarkannn akuuu cara tuk melupakanmuuuu
Bilaa membencimuuu tak akan pernah cukuppp
Tuk hilangkan kamuuuuu
Ajarkan akuuuu cara tuk melupakanmuuuuuu
Bila membencimuuu tak cukupppp
Tuk hilangkan kamuuuuu
Hooooo hoooooo hoooooo yeeeeeee!!!"
DUK DUK DUK DUK
"BRISIK WOIII!!!" teriak Hamid sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Bomattt!!" balas Lola berteriak dari dalam kamar mandi.
"Dih, gaje udah salah lirik salah nada pula!" protes Hamid paling tidak suka kalau mendengar ada orang bernyanyi tapi tidak nyambung nada dan juga liriknya.
"Ajarkannn akuuu cara tuk melupakanmuuuu
Bilaa membencimuuu tak akan pernah cukuppp
Tuk hilangkan kamuuuuu
Ajarkan akuuuu cara tuk melupakanmuuuuuu
Bila membencimuuu tak cukupppp
Tuk hilangkan kamuuuuu
Hooooo hoooooo hoooooo yeeeeeee!!!"
"Astaghfirullah itu bocah perempuan mulut nya gak takut sobek apa ya?" tanya Saroh pada diri sendiri begitu baru keluar dari kamar sambil geleng-geleng kepala.
Hampir setengah jam Lola di kamar mandi membersihkan diri sambil menyanyikan potongan-potongan lagu yang nggak jelas dan selama setengah jam itu seisi rumah tersiksa gendang telinga nya dengan suara cempreng Lola yang lebih buruk di bandingkan anak TK sedang bernyanyi.
Begitu Lola keluar dari kamar mandi anggota keluarga yang sedang ada di meja untuk sarapan serempak berseru.
"ALHAMDULILLAH!" seru mereka sambil mengangkat tangan ke atas.
"Emang habis mati lampu ya hehehe." celetuk Lola tanpa dosa berjalan melenggang menaiki tangga menuju kamarnya.
Setelah memilih baju dan memakainya Lola duduk di depan meja rias lalu dia mulai merias wajahnya.
Ting.
Bunyi notif pesan wa masuk ke ponselnya dan Lola hanya melirik kearah hp-nya, tanpa merespon. Lola mengambil sebuah kotak di dalam paper bag oleh-oleh pemberian Lia saat baru pertama kali kembali datang dari Jepang.
"Cantik." matanya langsung berbinar saat melihat kotak make up berwarna ungu muda warna favoritnya dengan Hiasan manik-manik berbentuk bunga warna warni nan cantik.
Jari jemari Lola dengan lincah membuka kunci penutup kotak make up lalu membukanya.
"Wooowwwww." seru Lola begitu melihat semua jenis make up lengkap ada di kotak itu.
__ADS_1
Ting ting ting.
Beberapa kali kembali hp Lola menerima notif pesan tapi Lola mengacuhkannya.
Lola mengangkat kotak make up lalu dia mengendus dan mencium aroma harum yang keluar dari kotak itu.
"Perfect to. Thanks tan Lia muach." ucap Lola mengagumi hadiah kotak make up yang dia dapat dari Lia sambil memberi kecupan bibir.
Lola mulai merias wajahnya menggunakan alat make up satu persatu dengan sangat lihai, dalam keseharian di sekolah ataupun di rumah Lola selalu tampil cuek. Tapi saat berada di depan alat make up dan cermin di kamar atau di depan kamera tiktok nya, dia benar-benar seperti seorang ahli make up. Kecintaanya pada make up membuat Lola ingin bercita-cita menjadi seorang ahli Skin Care.
Kali ini Lola merias wajahnya dengan nude make up, yaitu gaya make up sehari-hari terlihat natural, Lola menggunakan warna-warna nude yang kalem. Setelah hampir setengah jam Lola pun sudah tampil cantik.
"Wuih, lumayan lumayan lumayan. Waktunya gooo." ucap Lola beranjak dari duduknya lalu menyambar tas selempang dan HP yang tergeletak di atas kasur.
Saat Lola menuruni tangga ke lantai bawah HP Lola yang ada di genggaman nya berdering tanda panggilan masuk.
Lola imut lola cantik. Angkat dong Sayang.
Sejenak Lola berhenti dan melihat si penelepon yang tak lain adalah Darren.
"Kang ngambek." Lola menekan tombol tolak di ponsel nya sambil mengulum senyum melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
Ting
Ting
Ting.
Entah udah berapa puluh kali pesan chat masuk ke WAnya, tapi tetap saja Lola mengabaikan pesan itu karena dia tahu pesan itu pasti dari Daren.
"Anakonda yah," saut Lola cuek mendudukkan bokongnya di sebelah Dadang sambil memakai sepatu.
"Hu ssttt, kalau ngomong ya!" tegur Saroh dari ruang makan sedang membersihkan meja bekas sarapan.
"Hehehe canda Mamsky." saut Lola cengengesan.
"Ayah tumben pagi ini ganteng." puji Lola sambil memakai kaos kaki.
"Perasaan ayah setiap hari ganteng dari dulu." saut Dadang yang tahu kalau dia sedang dirayu oleh anak gadisnya.
"iya iya Ayah memang selalu ganteng tapi lebih ganteng lagi kalau bagi duit hehehe." ucap Lola mulai mengutarakan niat aslinya.
"Ambil dompet ayah gih di kamar." perintah Dadang.
Lola langsung bergegas berjalan menuju kamar Saroh dan mengambil dompet sang ayah, lalu dia menyerahkan dompet itu kepada Dadang. Dadang mengeluarkan uang Rp20.000 dari dompetnya dan mengulurkan kepada Lola.
"Makasih yah," ucap Lola mengambil uang dari tangan Dadang sambil mencium punggung telapak tangan Dadang.
"Lumayan buat beli cireng mercon." ucap Lola sambil mengibas-ngibaskan uang 20.000-an di tangannya.
Duk duk duk duk
Hamid turun dari tangga sudah keren dengan memakai busana outfit kebanggaannya hoodie warna hitam dengan celana ketat warna hitam.
"Baunya kek kuburan lu teh, berapa botol sih parfum yang lu habisin buat sekali pakai bikin mual perut gue." cela Hamid saat tiba di ruang tamu.
"Hahaha, gelo lu." ucap Lola terbahak.
__ADS_1
"Sayang, jaga mulut nya!" teriak Saroh dari dapur sedang mencuci piring.
"Ups, sorry yah rem mulut blong hehehe." kata Lola sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.
"Ehmmm." Dadang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Putri satu-satunya.
"Mama! Eneng berangkat kerkom ya!" teriak Lola dari ruang tamu berpamitan pada Saroh.
"Assalamu'alaikum mah!" seru Lola berjalan keluar.
"Neng! Ayah nggak keliatan ya gak di pamitin." tegur Dadang menatap punggung putrinya.
Lola berbalik badan dengan senyum mengembang.
"Bye pipi handsome." pamit Lola lalu ngeloyor ke garasi mengambil motor.
***
Angga menatap wajahnya yang rupawan di depan cermin sambil menata rambutnya.
"Gue tau Ndol, Gue pernah lukain hati lu. Tapi Gue janji akan obati hati lu yang pernah gue gores sampai dalam. Gue akan ganti waktu yang selama 5 tahun terlewati hilang begitu saja. Gue tau mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk menyembuhkan luka lu. Tapi gue berjanji akan berusaha untuk menebus dan menggantikan dengan kasih lu kebahagiaan yang bisa gue berikan untuk merebut hati lu kembali Ndol." janji Angga dengan yakin.
Angga menatap paper bag ada di depan sambil tersenyum.
"Lu akan di pakai pada orang yang berhak sebentar lagi." kata Angga.
Angga beranjak dari duduknya, angan kanannya mengambil paper bag warna biru laut dan menentangnya dengan Langkah tegap penuh percaya diri dia keluar dari kamarnya.
Sementara di Markas Babibu Cekcok kegelisahan mulai melanda Daren setelah puluhan chat dan juga panggilan telepon tak mendapat respon dari Lola.
"Hadeuh! Jangan-jangan ayang beb marah beneran lagi." ucap Daren gusar bicara seorang diri sambil mengacak rambutnya.
"Coba gue telepon lagi." gumamnya. Daren kembali menekan nomor kontak Lola.
Tapi seperti sebelumnya panggilan Daren tidak direspon. Daren beranjak dari tempat tidur nya lalu bergegas menaiki motor trailnya.
"Bos, Mau kemana?" tanya Joni penasaran.
"Ketemu My Princess." jawab Daren mulai men starter motor milik nya.
Tangan Joni menahan motor Daren, membuat Daren menatap tajam ke arah Joni.
"Apa?" tanya Daren kesal.
"Masa mau ketemu pacar, iler sama bau ketek asem di bawa. Emang gak ada oleh-oleh yang lebih cute buat princess nya Bos hehehe." canda Joni.
Daren langsung berkaca lewat spion motor nya, dia bisa melihat dengan jelas wajah tampannya yang terlihat kucel dengan rambut acak-acakan, Daren lalu mencium kaos oblong bagian ketiak.
"Anjiirr, baunya kek gue gak mandi seminggu, kalau sampai Ayang beb mencium bau Ketek gue udah pasti langsung mutusin gue tanpa kencan hehehe." Daren terkekeh turun dari motor nya.
"Jontor lu mandiin si Tukidi jangan lupa pakein shampoo, gue mandi kembang setaman dulu. Biar kita berdua sama-sama wangi ketemu ayang beb." perintah Daren pada Joni untuk mencuci motor trail nya sebelum dia pergi berlalu ke kamar mandi.
"Siap Bos, gue bikin si Tukidi ampe kinclong!" seru Joni.
"Anjay, gue bikin lu mulus tanpa debu sedikit pun pak." kata Joni sambil mengusap motor trail Daren.
..."Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah menyuruhmu pergi dan menjauh dari ku. Sekarang aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa merangkai indahnya hidup tanpa ada kamu di sampingku."...
...~Angga~...
__ADS_1