Off Bucin

Off Bucin
Pencuri Bibir


__ADS_3

Setelah mendengar cerita kisah Nabila tentang penyakitnya, rasa simpatik Lola tumbuh seketika. Lola benar-benar merasa ikut sedih dan juga prihatin dengan keadaan Nabila.


"Alhamdulillah Engkau beri hamba kesehatan." kalimat syukur itu tiba-tiba meluncur dari mulut Lola.


"Ya Robbi sembuhkan penyakit Bila, biarkan dia hidup lebih lama dan bahagia."doa tulus pun mengalir dari bibir Lola untuk Nabila.


Langkah lunglai Lola arah ke kantin tapi malah mengambil arah ke taman belakang.


"Ayank mau ke mana ya? Kok dia bukannya nyamper gue tapi malah ngambil jalan ke arah lain." Daren terlihat bingung melihat keanehan yang dilihat pada Lola begitu keluar dari toilet.


Daren terus mengikuti langkah Lola dari belakang yang membawanya ke taman belakang sekolah.


"Kenapa mbeb gue kek vampir gitu, mana kosong lagi tatapan matanya. Apa jangan-jangan ayank kesambet hantu toilet?" Daren bertanya menebak-nebak tanpa menghentikan Lola dan hanya mengikutinya.


Begitu sampai taman belakang Lola mendudukkan bokong nya pada sebuah bangku tanpa sandaran yang ada tepat di bawah pohon akasia.


Lola diam mematung duduk dengan tatapan lurus arah lapangan di bangku sambil menyadarkan tubuhnya di batang pohon akasia. Hembuskan angin semilir menerpa wajahnya hingga tanpa sadar rasa lelah menjadi penghantar tidur yang sangat cepat.


"Ya elah kang molor belum juga lima menit dah terlelap di alam mimpi." gumam Daren tersenyum menatap kearah Lola dari tempat agak tersembunyi.


Langkah kaki Daren sangat perlahan mendekati Lola dengan hati-hati sekali, karena dia tidak ingin membangunkan Lola.


Krek


Suara ranting pohon yang terinjak kaki Daren menimbulkan bunyi yang membuat Daren terkejut dan langsung mengangkat kakinya.


"Ssttt, yaelah napa mata kaki gue buta," bisik Daren tertahan dengan dahi mengkerut sambil menutup mulutnya.


"Bener kata Juki, Ayank gue kalau tidur dah kek Sandy lagi hibernasi wkwk." kembali Daren menahan tawa sambil berbisik.


Daren membungkuk memperhatikan dengan seksama wajah cantik Lola terlihat tanpa dosa sedang tertidur pulas.


"Kaya bayi beneran kulitnya ampe putih mulus gitu. Ayank beb itu tomboy n barbar, tapi urusan perawatan kulit bener bener kek seorang profesional." puji Daren dalam hati.

__ADS_1


Daren menelan slavina nya saat manik matanya jatuh menatap bibir berbentuk hati milik Lola dengan polesan lipstik warna pink.


"Astaghfirullah!" pekik Daren tertahan sambil meremas rambutnya.


Daren lalu berdiri tegak dan mundur dua langkah menjauh dari Lola.


"Bahaya kalau gue terlalu dekat sama doi bisa khilaf gue liat bibir doi yang menggoda." keluh Daren lalu mencari tempat duduk di bangku taman yang letaknya berhadapan dengan posisi di mana Lola sedang duduk tertidur pulas.


"Apa gue ada di mimpi lu Yank?" gumam Daren menatap Lola sambil tersenyum dan melipat tangan di dadanya.


Entah bisikan syetan darimana tatapan mata Daren tak lepas dari bibir Lola, bahkan bibir itu sedang menggoda melambai ke arahnya.


"Itu bibir genit amat godain iman gue mulu isstt." Daren mulai oleng pikirannya lalu memaalingkan pandangannya ke arah lain.


"Cowok ideal itu tidak merokok, tidak minum, tidak menggunakan narkoba, tidak bersumpah, tidak marah, tidak ada." gumam Daren tiba-tiba pikiran itu begitu saja mampir di kepalanya.


"Gue emang brengsek dan untuk jadi cowok ideal pun masih jauh. Tapi gue udah janji untuk jaga kehormatan my princess sampai kata sah. So, godaan dari demit apapun aman." debat Daren menepis pikiran kotornya.


Daren mengambil sebatang rokok yang dia selipkan di salah satu kaos kakinya, rokok itu dia selipkan di celah bibir tipisnya. Daren mengambil pulpen yang ada di saku bajunya, lalu membuka tutup bawahnya yang ternyata sebuah pemantik api.


"Itu bibir pasti lebih manis dari rokok gue."pikiran kotor tiba-tiba lewat di kepala Daren.


"Astaghfirullah! Napa otak mesum gue nyangkut lagi." geram Darren sambil mengambil sebatang rokok dari mulutnya dan meremasnya kuat-kuat.


Daren beranjak dari duduknya berniat untuk meninggalkan Lola di taman belakang yang masih tertidur pulas.


"Ihhhh, serem di sini kalau kelamaan gue bisa bener-bener kerasukan godaan setan yang terkutuk." gumam Daren sambil berjalan pergi kembali ke kelas.


Selang kurang dari 5 menit tampak Angga berjalan menyusuri pinggir lapangan bola menuju taman belakang.


"Kemana si cendol ngilang, Tuh anak udah kebiasaan nggak ada batang hidungnya kalau lagi di butuhkan." gerutu Angga kesal.


Kepala Angga berputar ke kanan ke kiri begitu juga dengan bola makanya mencari keberadaan Lola.

__ADS_1


"Ckckck, dari dulu kebiasaan tidurnya nggak pernah berubah, asal kena angin langsung kebawa mimpi." decak Angga saat kedua manik matanya menangkap Lola yang tertidur pulas di bangku.


Angga berjalan lebih mendekati bangku tempat Lola tertidur pulas, saat persis berada di depan Lola Angga yang tinggi perawakan berjongkok di hadapan Lola.


"Gue baru nyadar ternyata Ketaksempurnaan lu membuat lu cantik. Karena itu membuat lu menjadi diri lu sendiri." gumam Angga menatap sendu wajah Lola dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Bibir itu makin menggoda saja." pikiran kotor tiba-tiba masuk begitu saja di kepala Angga.


Angga mengusap lembut pipi Lola dengan mesra, sentuhan punggung jari jari tangan kanannya langsung bisa merasakan betapa lembut kulit pipi Lola yang putih bersih tanpa jerawat satupun.


"kenapa lo semakin cantik dan menawan Ndol? Gimana gue nggak nyesel kehilangan lu saat ini." ucap lirih Angga menatap wajah cantik Lola penuh kagum sekaligus sesal.


Perlahan jari-jari Angga menyapu lembut dan halus setiap inci bagian wajah Lola dari pipi, alis, hidung hingga jari itu mendarat tepat di bawah bibir Lola yaitu dagu.


Dagu Lola yang terbelah simetris dengan bibir berbentuk hati begitu penuh pesona dengan daya magnet kuat hingga tak mampu cowok manapun menolak ingin menikmati bibir seksi itu untuk menciumnya.


"Seksi," gumam Angga lirih hampir tak terdengar.


Dorongan kuat hasrat berbalut cinta seketika membuat Angga hilang perasaan malu dan gengsinya, yang ada dipikirannya adalah keinginan kuat untuk mencium bibir dan menikmatinya.


Perlahan Angga makin mendekatkan wajahnya jarak diantara wajar itu benar-benar sangat dekat. Hembusan hangat napas aroma mint tak membuat Lola terusik tidurnya, dia masih tetap pulas tertidur tanpa menyadari apa yang terjadi.


"Sorry La, gue harus curi ciuman pertama Lo. Karena gue nggak rela cowok siapapun yang dapat mencium bibir lu selain gue, karena Lo adalah cinta pertama gue begitu juga sebaliknya." batin Angga.


"Hoaaammm," Lola tiba-tiba menguap dengan mata masih terpejam hingga membuat Angga menarik jari tangannya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Lola.


Wajah Angga seketika tegang takut Lola terbangun dan memergoki perbuatan kurang ajarnya, yang sudah pasti membuat Lola akan marah besar dan mungkin juga akan menjauhinya.


Lola kembali tertidur pulas setelah menguap semilir angin di taman belakang sekolah menikmati tidur siangnya lali seperti orang pingsan yang tak peduli dengan sekelilingnya.


"Syukur lah, Cendol kamu udah tidur kak mayat hidup jangan kan toak masjid ada gempa juga dia nggak bakal nyadar kecuali ditempeli es batu pipinya." gumam Angga tersenyum lega.


Angga kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Lola kali ini jari-jari tangannya tak bermain di wajah itu.Keinginan terbesar di hati Angga cuma satu mencium dan memberikan ciuman pertama di bibir Lola.

__ADS_1


“Kenanganku begitu mencintaimu, bahkan ia selalu bertanya tentangmu dan penasaran akut untuk kembali mengulang masa lalu bersamamu”


~Angga~


__ADS_2