
Keringat dingin mulai mengalir bagai lelehan kristal di pelipis Lola, rasa sakit di perutnya kian lama kian menjadi dan Lola berusaha menahannya sekuat tenaga. Beberapa kali dia memegangi perutnya bahkan meremasnya untuk mengurangi rasa sakit.
Begitu kelas selesai Lola langsung buru-buru berjalan cepat meninggalkan kelas, hal itu membuat Angga heran.
"Tumben kek orang di kejar tukang kredit jalannya." gumam Angga heran menatap kepergian Lola.
"Aduhh! Astagfirullah kenapa lagi perut gue, sakit banget." keluh Lola begitu kakinya mulai memasuki parkiran.
Langkah Lola terhenti karena rasa sakit yang kian mendera perutnya, dia membungkuk memegangi perutnya sambil satu tangannya memegang setengah motor yang terparkir di dekatnya berdiri.
"Mama sakit banget hiksss hiksss." Lola tak mampu menahan tangisnya karena rasa sakit di perutnya.
Wajah putih Lola seketika berubah menjadi pucat pasi, air mata mulai menetes. Lola merintih kesakitan, dia berjalan dengan tertatih dan berpegangan pada motor satu ke motor lain yang terparkir untuk mencari motornya.
Dengan susah payah Lola akhirnya menemukan motornya, saat dia hendak naik untuk mengendarai motornya, tiba-tiba rasa sakit kembali menderanya dan rasa sakit ini membuat Lola tak mampu berdiri hingga akhirnya dia terjatuh di tanah bersandar pada motornya.
"Raini?" ucap Daren saat berjalan menuju mobilnya terparkir melewati Lola.
Daren bergegas lari menghampiri Lola yang sedang merintih kesakitan memegangi perutnya sambil menangis.
"Ri, kamu kenapa?" tanya Daren cemas.
"Hiksss hiksss hiksss sakit perut." jawab Lola tetap tertunduk memegangi perutnya.
"Lo bisa jalan gak, gue antar ke klinik terdekat." kata dari menawarkan jasanya.
Lola diam tak menyahut dia terus merintih dan menangis terisak, hingga tak ada suara nya lagi dengan tubuh yang bersandar lemas di bodi motor nya.
"Ri...Ri...Raini!" panggil Daren sambil menepuk pundak Lola pelan tapi tubuh itu dia yang tak merespon.
Daren mengangkat dagu Lola dan betapa terkejutnya dia saat melihat mata lelah dalam keadaan terpejam.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Dia pingsan!" pekik Daren kaget langsung mengangkat tubuh Lola dan membopong nya menuju mobilnya.
"Kenapa lomut?" tanya Ita saat hendak mengambil motornya melihat Daren membopong Lola.
"Gak tau. Cepat buka pintu belakang mobil gue!" perintah Daren pada Ita.
Ita yang di landa panik tangannya terlihat gemeteran saat membuka pintu mobil belakang Daren. begitu pintu mobil terbuka Daren mendudukkan Lola, tubuh Lola lemas tak berdaya bersandar di Jog belakang.
Sementara Ita memutari mobil Daren dari depan dan masuk ke dalam mobil duduk di samping Lola.
"Cepat ke rumah sakit aja!" seru Ita panik memeluk tubuh Lola agar kepala nya bersandar pada pundaknya.
"Mut, lo kenapa sih?" Hikss hiksss. Bangun Mut." Iya memijit telapak tangan Lola yang dingin sambil terisak.
Ita lalu menghubungi Night owl lewat wag dengan pesan VN.
"Lomut pingsan hiksss, gue bawa ke rumah sakit tar gue serlok alamat nya kalau dah sampai" begitu bunyi VN kita yang dikirim ke WAG.
"Di mana Lo sekarang!" bentak Juwi emosional di seberang telepon hingga membuat Ita menjauhkan telepon dari telinganya.
"Cikokol, Ren Lo mau bawa Lomut ke rumah sakit mana?" tanya Ita dengan telepon masih tersambung ke Juwi.
"Metropolitan aja yang dekat." jawab Daren dengan pandangan fokus ke jalan raya tak jauh dari kampus mereka.
Klik
Sambungan telepon diputus oleh Juwi, sepertinya Juwi mendengar mau dibawa ke mana Lola. Tak sampai 15 menit mobil mereka sudah memasuki halaman rumah sakit metropolitan tempat ruang IGD berada dan mobil berhenti tepat di depannya.
Dua orang petugas menyambut mereka dengan bankar. Daren bergegas turun dari kursi kemudi dan langsung membukakan pintu belakang.
Dua orang petugas langsung mengangkat tubuh Lola dan meletakkan tubuh Lola yang masih tak sadarkan diri di atas bankar. Ita turun dan mengikuti bankar di mana Lola di bawa menuju ruang IGD, sementara Daren memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Seorang dokter jaga IGD yang masih muda langsung memeriksa Lola.
"Sudah berapa lama dia pingsan apa dia mengeluh sebelum pingsan?" tanya dokter sambil memeriksa Lola.
"Hiksss hiksss, katanya tadi dia mengeluh sakit perut hiksss hiksss. Tolong dok bikin dia sadar hiksss hiksss hiksss." ucap Ita terisak dengan suara gemeteran bahkan tangannya juga ikut gemeteran.
Dokter muda itu langsung memeriksa seluruh bagian perut Lola dengan stetoskop yang menggantung di lehernya, Ita tak berhenti menangis mengusap telapak kaki Lola yang berbalut kaos kaki putih.
"Adek keluarganya?" tanya dokter pada Ita setelah selesai memeriksa Lola.
"Saya sahabatnya Dok, hiksss hiksss." jawab Ita cemas.
"Adiknya ini kemungkinan terkena infeksi usus buntu, jadi kemungkinan besar akan dilakukan operasi. Lebih jelasnya kita akan lakukan tes secara menyeluruh nanti setelah hasilnya keluar baru akan diambil tindakan operasi secepatnya. Sekarang adek hubungi keluarganya agar secepatnya datang ke rumah sakit." dengan tenang dokter menjelaskan pada Ita yang makin panik hingga tangisnya makin keras.
"Huuuuu hiksss huuuu Lomut kenapa Lo jadi gini huuuuu..." Ita meraung tangis nya pecah.
Seorang perawat perempuan mendekati Ita dan mengusap lembut pundaknya.
"Mbak, Insya Allah temannya akan baik-baik saja udah jangan menangis kasihan pasien yang lain terganggu." bujuk perawat itu menenangkan Ita.
"Gimana Raini dok?" tanya Daren begitu sampai di ruang IGD.
"Kamu temannya dia juga?" tanya dokter pada Daren.
"Ehh... iya Dok saya satu kampus sama dia." jawab Daren.
"Nah, sekarang salah satu dari kalian urus administrasi dulu biar temannya cepat di lakukan tindakan." saran Dokter sebelum pergi.
Ita dan Daren saling bertatapan.
"Gue gak bawa cuan Eb, Lo bawa kan?" tanya Ita.
__ADS_1