
Sabtu pagi di rumah Lola masih tampak sepi, hampir kebanyakan penghuni rumah belum bangun karena tidak punya aktivitas di luar seperti hari biasa dikarenakan libur.
Setelah selesai masak Saroh menemani Dadang sarapan di meja makan, kebetulan hari ini Sarah tidak memiliki jadwal belanja untuk tokonya ke Tanah Abang jadi dia terlihat santai bersama suaminya.
"Mah tiap hari aja bikin tempe gembus ditepungin aja, gigi Ayah udah nggak kuat makan sedikit keras pada ngilu semua." keluh Dadang pada istrinya sambil menyantap bakwan tempe gembus.
"Hehehe itu tandanya Ayah sudah tua, hati-hati udah di kurangi nikmatnya." saut Saroh sambil terkekeh meledek suaminya.
"Hooh, itu juga tandanya kita harus lebih hemat karena anak-anak makin besar dan butuh banyak biaya Mah." Dadang berpendapat sambil mulutnya mengunyah bakwan tempe gembus.
"Ayah, ayah. Kalau anak-anak kita mana mau disuruh makan tempe gembus kayak gini ngelirik aja mereka nggak mau, yang hemat cukup kita aja. Kalau mereka ya biarin aja jangan disuruh hidup susah juga kaya kita dengan makan kayak gini." saut Saroh realistik.
"Mamah teteh! buruan ke Alfamidi ada minyak murah!" teriak Lina tetangga Saroh tepat di samping rumah dari luar.
SREEETTT
Mendengar kata minyak Saroh langsung bergegas bangun dari duduknya dan menyambar hijab yang ada di sofa ruang tengah. Dadang yang melihat sikap istrinya seperti mau perang dibuat bingung.
"Mau kemana sih Ma? Ngapain buru-buru, baru juga jam 7 lewat dikit mau ke Alfa. Emang udah buka jam segini?" tanya Dadang bingung melihat istrinya yang babibu tergesa-gesa seperti orang mau maju perang.
"Udah kali," seru Saroh sambil menyambar kunci motor Anzal putra pertamanya.
Duk duk duk duk duk.
Hamid tampak baru turun dari tangga sambil sibuk memainkan HP di tangannya kakinya sangat lincah dan hafal benar setiap inci menuruni tangga walaupun matanya tanpa melihat. Begitu melihat batang hidung Hamid, Saroh langsung teriak.
"Mid! Buruan ikutan mamah ke Alfa ada minyak murah!" teriakan Saroh terdengar melengking dari depan rumah sudah duduk di atas motornya.
"Gak mau Mah, Fadil mau ke rumah Daddy," tolak hamid.
"Mama teteh duluan!" teriak Lina melesat pergi menuju Alfamidi lebih dulu.
Lina berboncengan dengan mama Sahar terlihat sekali Lina membawa motor seperti orang kesetanan karena saat di belokan pertigaan Gang dia sempat hampir bertabrakan.
"Minyak bikin ibu-ibu sampai berani mempertaruhkan nyawa." gumam Saroh saat melihat kejadian itu.
"HAMID BURUAN KEBURU HABIS!" teriak Saroh kembali melengking membuat mama Uci tetangga jarak tiga rumah dari rumahnya langsung menengok kaget kearahnya.
"Wah, Yu Saroh masih pagi maneh gegrowakan." canda Mama Uci.
"Sorry jeng, tuh nyuruh anak susahnya minta ampun," saut Saroh sambil tersenyum.
"Fadli! antarin Mama." perintah Dadang dengan suara Wibawa membuat Hamid tak berkutik dan mau nggak mau mengikuti sang mama.
__ADS_1
Dengan wajah cemberut Hamid membonceng Saroh di belakang, Sepanjang Jalan Hamid tidak berhenti menggerutu, Saroh yang membawa motor hanya tersenyum dan tertawa mendengarnya.
"Ngapain sih Mama pagi-pagi udah pergi ke Alfamidi, mandi aja belum cuci muka aja belum Mamah Mah keterlaluan. Kalau tahu gini mendingan tadi Fadli nggak turun." gerutu Hamid menyesal kenapa dia harus turun dari kamarnya.
"Kalau gak buru-buru gak kebagian mid," saut Saroh sambil fokus mengendarai motornya.
"Dih, nyebelin banget sih Ibu-ibu. Pagi-pagi udah rebutan minyak aja. Beli aja tempat lain napa sih Mah, emang nggak ada di tempat Jadid?" Hamid bertanya kesal sambil menggoyangkan tubuhnya di atas motor membuat motor sedikit bergoyang.
"Kemiiit! Bisa anteng gak sih! Tar kalau kita jatuh bukannya dapat minyak tapi dapat ketawaan orang." omel Saroh berusaha fokus agar terjaga keseimbangannya mengendarai motor.
"Lagian malas banget sih, pagi-pagi orang masih pada ileran dah di suruh ngantri minyak." gerutu Hamid masih uring-uringan.
"Bentar doang Mid, Lagian cuek aja nggak bakal kamu ketemu sama teman-teman kamu ini kan." ucap Saroh memandang Hamid dari kaca spion motor.
Kurang dari 5 menit mereka sudah sampai di tujuan yaitu sebuah mini market terbesar di Kompleks perumahan Lola. Masyarakat sudah terlihat ramai mengantri, di lapangan parkir Alfamidi Saroh dan Hamid bertemu dengan Lina dan mama Sahar di parkiran.
"Udah habis Mama teteh!" seru Lina begitu motor mereka memasuki area parkiran.
"Lah kok cepet amat habisnya, emang buka dari jam berapa Lin?" tanya Saroh kecewa.
"Jam 7 mama teteh." sahur Lina terdengar tak bersemangat.
"Tuh kan apa Fadli bilang, Zonk. Ngapain sih cari minyak pagi-pagi? Gaje mama mah. Buruan pulang Ma, Fadli mau ke rumah Dandi mau ngambil kaos buat ujian praktek masak hari ini." gerutu Hamid kesal sambil menepuk-nepuk pundak Saroh.
***
Sinar matahari mulai menembus celah-celah jendela kamar Lola yang ada di lantai atas rumahnya, letak kamarnya yang persis berada paling depan membuat pancaran sinar matahari sangat berlimpah apalagi di saat pagi hari.
Lola mulai menyibak selimutnya, jari-jari tangannya mulai menari menyisir kasur yang tertutup sprei warna pink bermotif Mawar Merah. Begitu jari-jemarinya meraih benda pipih Lola langsung bangun dari tidurnya dan bersandar di dinding dekat kepalanya.
"Tumben dia gak chat, biasanya jam segini udah 100 kali Sueb spam chat di nomor gue." gumam Lola heran saat melihat tak ada satu pesan pun masuk dari nomor Daren.
"Apa si dudul beneran marah sama gue?" Lola kembali mengingat perkataan Darin kemarin pagi saat dia jatuh bertindihan dengan Angga.
"Masa iya sih, cemburu nggak habis-habis masa berlakunya," guman Lola kembali sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Cobalah, gue chat dia duluan." Lola mulai mencari nomor kontak Daren dan menulis pesan melalui WA.
Panda 🐼 imut : Hai
5 menit Lola memandangi hp-nya ekspresi wajahnya masih tampak cuek dan datar, Lola mulai membuka konten tiktoknya jari jemarinya dengan lincah menscroll turun-naik nggak jelas dengan salah satu tangan menopang dagunya..
Tatapan matanya pun entah kemana yang jelas tidak fokus pada layar HP di tangannya, 10 menit berlalu belum ada balasan dari Daren dan itu membuat Lola mulai memikirkan Daren.
__ADS_1
"Buset dah biasanya chat-an gue langsung dibalas, ini chat-an gue dianggurin. Wah beneran nih si sawit minta di SP jadi pacar." gumam Lola mulai kesal.
Panda 🐼 imut: Kalau lo gak balas chat gue dalam dua detik gue blok nomor lo 😠.
My Buzz: ?
"Dih, balesnya sok cool bikin bete aja." dumel Lola saat membaca balasan dari Daren.
"Gak sesuai ma nama kontaknya, ngapain gue kasih nama kontak My Buzz kegembiraan ku). Mending gue ganti aja nama kontaknya my rioter (perusuh ku). Hihh kalau deket udah gue jitak nih orang." geram Lola sambil mengepalkan tangannya hendak meninju HPnya.
"Udahlah daripada gue bad mood mikirin Duren Sawit, mendingan Gue mandi siap-siap buat kerkom." gumam Lola sambil melempar hp-nya ke kasur dan bergegas keluar kamar menuju kamar mandi.
***
Sementara di markas Babibu cekcok, Daren sedang duduk di atas kasur tanpa sprei yang terhampar di lantai. Letaknya ada di salah satu sudut gudang yang diberi dinding pembatas anyaman rotan. Wajah Daren terlihat gelisah, berkali-kali dia mengacak rambutnya seperti orang sedang geram sendiri.
"Hai iiss! Ayang beb napa gak chat gue lagi? Bujuk gue kek, kan gue lagi mode merajuk. Hadeuh gak peka amat gue punya doi" oceh Daren dengan wajah mulai cemas bercampur kesal.
Selama kenalan baru kali ini Daren mengabaikan chat Lola dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Apa perlu gue chat lagi ya? Ntar kalo Ayang beb ngambek bakal ribet urusannya. Ayang lobar kan paling tahan diemin orang," gumam Daren kembali.
"Mana dah 2x24 jam lagi gue tahan kangen ma my Princess. Hadeuh gini amat kalau dilanda rindu bucin. Hiihhh!" gumam Daren Geregetan sambil membanting tubuhnya dengan posisi terlentang ke kasur.
Joni yang sedang tidur pulas di samping Daren sampai kaget saat telapak tangan kanan Daren menghantam pipi kirinya.
Plak
"Aaaaawww! salah apa gue bos? Kenapa pagi-pagi dah kena tampar?" keluh Joni langsung bangun sambil mengusap pipi kirinya.
"Lah ada manusia? Kirain guling?" Darren menengok ke samping dengan mata membulat kaget.
"Iya Bos, gue juga tahu kalau orang lagi jatuh cinta dunia terasa milik berdua sampai orang di sebelahnya aja kagak kelihatan. Tapi jangan di tampar napa" sunggut Joni dengan wajah cemberut lalu bangun dari kasur keluar dari bilik Daren menuju sofa panjang yang ada di salah satu sudut gudang dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Baru juga gue mau mimpi ketemu bidadari, malah kena tabok Bos bucin akut nasib nasib." gerutu Joni lalu membungkus tubuh dengan kain sarungnya.
"Ternyata bener kata Om Ahmad Dhani kalau lagi jatuh cinta itu dunia terasa milik berdua, jangankan semut diujung lautan gajah di pelupuk mata aja rasanya tak tampak yang tampak cuman Ayang Lobar dan ayang Lobar lagi. Bisa gila lama-lama gue gara-gara Rindu yang makin menggebu sama ayang lobar." gumam Daren sambil geleng-geleng kepala sambil mengacak rambutnya.
Daren mulai ragu untuk bertahan cuek dengan chat Lola, tatapan matanya menatap benda Pipih di depannya. Ada keinginan kuat untuk kembali mengirim balasan chat ke nomor Lola tapi ada gengsi yang menahan.
..."Dalam hatiku tidak akan ada kekecewaan yang mendalam jika hatiku tanpa ada cinta yang dalam untukmu."...
...~Daren~...
__ADS_1