
Lola langsung jongkok tak sanggup berdiri saat menyadari dan yakin kalau orang di depannya adalah Daren hingga membuatnya lemas, kedua telapak tangan menutupi wajahnya menyembunyikan tangis yang pecah seketika.
"Huuuu...huuuuu....huuuuu ...hiks hiks 🤧!"
Daren bergegas menghampiri Lola dengan wajah bingung. Ingin sekali rasanya dia memeluk tubuh mungil yang terguncang guncang akibat tangisnya yang pecah.
"Yang, please jangan nangis kek gitu. Hati Gue terasa tersayat sembilu yang denger tangisan Lo," bujuk Daren dengan wajah bingung.
Lola bukannya diam tak berhenti menangis, tapi malah semakin sesenggukan hingga napasnya terasa sulit di atur. Melihat hal itu Daren lalui ikut berjongkok, tangannya melayang di udara tepat di atas pucuk kepala Lola ingin sekali menyentuh dan mengusapnya.
"Yang, Lo gak mau jawab salam Gue?" tanya Daren kehabisan kata ingin membuat Lola berhenti menangis.
Sesaat hening, sepertinya Lola berusaha untuk menghentikan tangisnya.
"Waalaikumsalam keren, hiks," jawab Lola berusaha sebisa mungkin mengeluarkan kata dari bibirnya tanpa mengangkat kepalanya.
"Lola sayang, angkat dong wajah bidadarinya. Masa Gue yang keren gini di anggurin cuma mandang pala lu doang," pinta Daren.
"Lo tau nggak yang, saat memori gue kembali. Ingat Lo terasa seperti rumah buat Gue. Jadi, setiap kali pikiran Gue mengembara karena amnesia atau hal lain, pikiran itu selalu menemukan jalan kembali ke Lo Beb" ucap Daren setengah berbisik dekat telinga Lola.
"Lo tau karena apa Yank? Karena setiap momen yang Gue habiskan sama Lo ngasih alasan lebih banyak alasan untuk semakin merindukanmu, Beb." Daren melepaskan setiap rasa yang menumpuk di hatinya karena rasa dera rindu dan juga karena bersalah.
"Hiks.... hiks... hiksss." Lola tak mampu menjawab hanya suara isak yang keluar dari bibirnya.
"Maafin Gue Yank. Salah satu penyesalan Gue, ketika Gue kehilangan sketsa tentang diri Lo yang lupa ku taruh entah dimana, hingga menjadi linglung. dan amnesia" ucap Daren penuh sesal.
"Beb, maaf kalau selama Gue hilang ingatan sikap gue terlalu nyakitin Lo. Please Yank, Jangan benci Gue, jangan jauhi gue dan jangan hapus cinta Lo ke Gue. Lo tau kan Yank, Gue nggak bisa hidup tanpa Cinta Lo, Yank." permintaan maaf yang begitu tulus keluar dari bibir Daren membuat Lola semakin terisak.
Lola mengangkat wajahnya, pipi putihnya basah oleh air mata dengan bibir gemetar dia mencoba untuk mengeluarkan suara.
"Gak ada yang salah By, nasib yang sedang menguji Cinta Kita, apakah kita mampu bertahan untuk terus ada dengan perasaan yang sama walaupun menyakitkan." saut Lola begitu bijak membuat hati Daren sedikit ringan.
__ADS_1
"Thank you very much cinta, thank you my Princess. Hati gue nggak pernah salah melabuhkan cinta gue sama Lo. Lo adalah cewek yang bukan hanya berhati lembut seperti sutra tapi juga bening seperti embun." rasa syukur tak terhingga menjadi obat yang ampuh untuk segala sesuatu yang ada di hati Daren tentang sikapnya kepada Lola selama ini.
"Boleh tanya Beb?"
"Apa By?" balik tanya Lola menatap Daren yang hanya berjarak Beberapa cm di sampingnya.
"Apa selama ini Lo kangen Gue?" tanya Daren menatap lurus manik mata Lola mencari kejujuran dari sorot mata hazel itu.
Bibir ramun Lola bergetar menahan tangisnya.
"Bangettt 🤧," jawab Lola singkat.
jawaban Lola terbuat Daren mengembangkan senyumnya, dengan mata berbinar membalut genangan di kedua sudut matanya.
"Setiap hari Gue membuat diri Gue sibuk dengan hal-hal yang Gue lakukan, tetapi setiap kali Gue berhenti, Gue masih mikirin Lo lagi dan lagi." ucap Lola dengan dada turun naik.
"Astaghfirullah Beb, pasti Lo banyak lewati hal-hal buruk saat Gue nggak ada di samping Lo terutama saat gue koma ya?' ucap Daren penuh sesal.
"Lo tau kan By. Saat hati Gue tertambat pada seseorang, gak ada kamusnya dalam diri Gue untuk nyerah, nyesel atau ngelepasin sampai orang itu ngelepasin. Emang kemarin pas kita ketemu di Paslam, Gue hampir nyerah dan lupain Lo tapi ternyata perasaan Gue berontak gak mau terima dan saat tadi gue dapet WA dari Lo, Gue seperti mimpi antara percaya dan nggak kalau itu dari Lo. Sepanjang perjalanan Gue terus berharap untuk bangun dari mimpi tapi ternyata rasa cinta Gue terlalu kuat untuk bawa Gue sampai sini." ucap Lola panjang lebar menyampaikan perasaannya.
Lo tau kan Beb, seratus hati akan terlalu sedikit untuk membalas semua penantian cinta Lo sama Gue." balas Daren menatap sendu mata Lola.
"Eb, Gue boleh nggak minta sesuatu ke Lo atas apa yang Gue lakuin selama ini ke Lo?" tanya Lola serius
"Apa Yank? Lo boleh minta apa aja sama Gue asal jangan minta satu hal, " jawaban Daren membuat Lola menjernitkan dahi.
"Apa?" tanya Lola dengan wajah serius.
"Jangan suruh gue berhenti mencintai Lo," jawab Daren dengan wajah super serius.
"Dih, gajee Lo. Gue lagi serius dudul." tak pelak jawaban Daren membuat cair suasana hati Lola yang menyinggung senyum.
__ADS_1
"Subhanallah, itu senyum kenapa manis banget ya lebih manis dari madu yang di campur susu kental manis." puji Daren membuat rona merah di kedua pipi Lola.
"Yank, Lo mah pelit banget sih jadi pacar." keluh Daren tiba-tiba dengan wajah di buat kesal.
Melihat hal itu membuat Lola bingung.
"Pelit apaan sih?" jutek Lola mulai keluar karena kesel.
"Itu senyum kenapa cuma ngintip doang?" protes Daren.
"Mbok iya yang full senyum sayang, biar Abang makin sayang." ucap Daren merajuk dengan wajah cemberut.
"Hahaha! Abang! Hahaha..." seru Lola ngakak mendengar Daren memanggil dirinya sendiri dengan panggilan Abang.
"Lah kenapa Yank? Emang salah Gue minta di panggil Abang?" rajuk Daren makin menjadi.
Lola sendiri tak berhenti tertawa ngakak melihat sikap Daren yang alay di mata Lola.
"Abang Sueb, Abang udah makan belum? Abang... Abang udah bobo belum? Abang... Abang bakso, Abang somay, apa Abang abangan? Hahahaha," canda Lola makin menjadi sambil terbahak membuat Daren jadi makin geregetan dan kesal.
"Please dah beb, udah Napa? Kalau Lo gak mau panggil Abang juga gak papa kok. Tapi gak usah ngakak gitu Napa!" gerutu Daren.
Lola membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya untuk menahan tawanya.
"Iya Abang, maafin Adek ya?" saut Lola sambil menahan tawa.
"Ngapain panggil Abang?" rajuk Daren menatap kesal ke arah Lola.
"Utututu, ngambeknya gemesin deh jadi pengen cubit sayang Adek Bang 🤣🤣." ledek Lola makin menjadi.
Mendapatkan ledekan seperti itu membuat Daren tak tahan menahan tawa hingga dia harus memalingkan wajahnya menghindari tatapan Lola yang mentertawakan nya untuk menahan tawa.
__ADS_1
"Abangggg, Abang sayaaanggg! Jangan ngambek dong. Tar ilang loh gantengnya hahaha." kembali Lola menggoda Daren.
"Berhenti ngeledek atau Gue-" ancam Daren sambil merentangkan kedua tangannya siap memeluk Lola.