Off Bucin

Off Bucin
Mimpi Buruk


__ADS_3

Foto Lola dan Angga cepat sekali tersebar di grup WA atau WA klub sekolah, salah satu klub sekolah adalah grup WA klub basket di mana Daren sebagai ketuanya.


Daren duduk di samping Juki di barisan kursi paling belakang tampak sedang tertidur pulas sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Anjirrr, Ucup kenapa foto kayak gini sama si Lola? Bakal terjadi perang dunia ke-3 kalau kek gini." batin Juki saat membuka WA grup basket dan melihat foto Angga dan Lola yang di-share oleh salah satu anggota klub mereka.


Juki melirik Daren yang sedang tertidur pulas, tatapan matanya menelisik Daren dari atas sampai bawah. Saat manik matanya menangkap HP yang ada di saku depan vest parasut yang dipakai Daren, seketika otak Juki bekerja.


"Sorry bro, gue harus ambil HP lu." gumam Juki lirih hampir tak terdengar.


Perlahan tangan kanan Juki membuka resleting jaket yang tepat persis berada di sampingnya, lalu dengan hati-hati Juki menurunkan resleting itu sambil tatapan matanya tetap lurus menatap mata Daren yang masih terpejam.


"Moga jangan bangun bos, tidur yang nyenyak ya." Juki berbisik bicara sendiri.


Sementara tangannya terus menurunkan kancing resleting vest milik Daren, dan saat kantong face itu terbuka hampir separuh lebih cuki memasukkan tangannya ke dalam kantong itu lalu jari-jemarinya meraba kantong itu dan mengambil benda pipih yang ada di dalamnya.


"Yes dapat!" ucap Juki dengan suara tertahan tapi tanpa diduga cipratan air liur dari mulutnya mengenai pipi Daren.


Daren terlihat menggeliat jari jempol dan telunjuk kirinya menutup hidungnya seperti menghindari bau yang menusuk indra penciuman.


"Emang bau banget ya jigong gue sampai si bos nutup hidungnya. HAHHH!" kata Juki pelan sambil mengeluarkan udara dari mulutnya lalu menciumnya sendiri.


"Ooeek." Juki rasanya ingin muntah saat mencium bau nafasnya sendiri.


"Sedapnya bikin yang pingsan pasti langsung sadar xixixi." gumam Juki cekikikan sendiri.


Juki lalu menyalakan tombol on hp Daren, begitu layar terbuka ada pola angka yang menjadi kuncinya.


"Astaga naga! kenapa pula pakai di gembok nih hp kek ada tuyulnya aja. Huh mentang-mentang selebriti." keluh Juki garuk-garuk kepala terlihat kesal.


"Nomornya kira-kira berapa ya, yang dipakai buat passwordnya. coba nomor ulang tahun ketua." Juki mulai mengetik nomor ulang tahun Daren dan ternyata hasilnya nihil.


Juki menengadahkan wajahnya ke atas dengan dahi berkerut terlihat sekali dia sedang berpikir keras.


"Kalau nomor nyokapnya ketua udah jelas gue kagak tahu, nomor bokapnya juga sama gue kagak tahu. Orang yang paling berharga buat ketua cuma satu si Lomut, gue yakin pasti hari ultah dia yang dipakai buat sandi." gumam Juki sambil mangkut-manggut.


Juki dengan cepat mengetik tanggal lahir Lola di HP Daren, begitu layar HP Daren terbuka terpampang menu utama. Juki membuka WhatsApp dan begitu terbuka Juki langsung mencari grup-grup sekolah yang ada di kontak WhatsApp Daren.


Kurang dari 5 menit semua foto-foto Lola dan Angga dari berbagai grup sekolah sudah Juki hapus.

__ADS_1


"Alhamdulillah rebes, aman aman." Juki lalu mematikan ponsel Daren dengan sangat hati-hati ke dalam kantong samping vest milik Daren.


Saat tangan Juki hendak keluar dari kantong vest Daren, tiba-tiba telapak tangan kiri Daren mencekal lengan kirinya membuat Juki seketika kaget setengah mati.


Telapak tangan Juki membekap mulutnya agar tidak bersuara, Juki memperhatikan wajah Daren dengan mata terpejam dan terlihat gelisah. Dahi Daren mengkerut seperti sedang menahan rasa sakit atau ketakutan, beberapa bulir kristal menetes di kedua keningnya.


"Aarrggg!" Daren mengerang.


Cekalan tengahnya di lengan Juki makin kuat hingga kuku-kukunya menimbulkan bekas merah di kulit Juki


"Aaaww!" Juki makin kuat membekap mulutnya agar tidak menimbulkan suara Karena rasa sakit di lengannya akibat tancapan kuku Daren.


"Gila sakit amat nih kuku, kenapa gak di potong lagi. Nih kuku dah nglebihin cakar kucing sakitnya kalau nyakar." keluh Juki merasa makin kesakitan.


Karena merasa tidak tahan Juki membangunkan Daren dengan mengguncang-guncangkan tubuh Daren sambil berteriak memanggil-manggil namanya.


"Ketua bangun! Bangun ketua!!" beberapa kali Juki melakukan hal yang sama.


Daren geleng-gelengkan kepalanya dengan mata masih terpejam wajahnya tampak pucat dan semakin ketakutan entah dia sedang bermimpi apa.


"KETUAAAAA!!" teriak Juki melengking tepat di depan telinga Daren.


Beberapa siswa bahkan berdiri menengok ke arah bangku di mana cuki dan Daren duduk dengan wajah penasaran.


"B**o Lo! Lo teriak di telinga gue!" wajah Daren Mama merah dengan mata melotot ke arah Juki terlihat kesal.


"Sakitttttt..." rengek Juki meringis kesakitan sambil mengarah ke arah Pangandaran yang mencekal lengannya.


"Anjirrr! Sorry sorry jok gue beneran gak sengaja." Daren buru-buru melepaskan cekalan tangannya.


Lengan Juki tampak memerah bahkan bekas tancapan kuku Daren membuat kulit Juki sedikit mengelupas dan mengeluarkan darah.


"Hehehe, kagak napa napa ketua sans aja." saut Juki cengengesan sambil tangan kirinya mengusap lengan kanannya yang luka.


"Awas misi dulu jok," Daren beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah bangku depan.


Begitu tiba di bangku guru pendamping Daren membungkuk.


"Pak Hudri mintol dong pak, ada obat luka gak?" tanya Daren dengan suara pelan

__ADS_1


Nabila yang duduk di bangku bersebrangan dengan pak Hudri langsung berdegup hatinya karena cemas, dia berpikir Daren terluka.


"Ren, kamu terluka kenapa?" tanya Nabilla dengan wajah cemas.


Daren menoleh ke arah Nabila.


"Bukan gue tapi si Jok." saut Daren datar.


"Alhamdulillah." ucap Nabila sambil menarik nafas dalam dan tersenyum.


Daren melirik Nabila dan mengangkat salah satu ujung bibir karena merasa aman dengan ucapan Nabila.


"Orang teman luka kok bersyukur," gumam Daren terdengar di telinga Nabila.


"Oh, bukan begitu maksud Bila Ren," sanggah Nabila sambil menggoyangkan kedua telapak tangan yang di depan dada.


"Ini Ren. Yang luka siapa?" tanya Pak Hudri sambil menyerahkan kotak p3k berukuran kecil dari dalam tas ranselnya.


"Si Jok Pak, eh maksud saya Juki," jawab Daren meralat.


"Ohh."


"Makasih Pak saya obatnya." ucap Daren sebelum pergi kembali ke kursinya.


"Sorry Jok, Gue bener-bener nggak sengaja dan nggak sadar." ucap Daren menyesal sambil mengobati luka di lengan Juki.


"Sans bos, Gue tahu kok ketua orangnya kayak gimana. Jangankan nyakitin kita nyakitin semut aja ketua nggak bakal tega hehehe." saut Juki diselingi canda.


"Tapi kalau boleh tahu sebetulnya ketua lagi mimpi apa sih, kelihatannya sangat ketakutan sampai wajah ketua pucat dan keluar keringat." jiwa kepo Juki mulai meronta.


"Hutfff..." Daren menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan sangat pelan.


"Mimpi buruk yang selalu saja menghantui hidup gue Jok." ucap Daren terdengar sedih.


"Tentang nyokap ketua ya." saut Juki dengan suara hampir berbisik.


"Iya gue nggak tau kenapa mama tega ninggalin gue di tempat istimewa kita berdua." ucap Daren bersandar sambil memejamkan matanya.


"Maksud ketua tempat yang nanti kita kunjungi? Pasti berat ya Bos balik datang ke sana." timpal Juki menatap Daren prihatin.

__ADS_1


"Sudahlah jok, lupain. Gue cuma pengen happy today ma ayank lobar. Dia lagi ngapain ya sekarang Jok, kira -kira dia lagi mikirin gue gak ya Jok?" Daren menerawang menatap keluar lewat jendela dengan senyum di kedua sudut bibirnya.


__ADS_2