Off Bucin

Off Bucin
Best Friend forever


__ADS_3

Kelas Lola mengambil ruang perpustakaan sebagai latar tempat untuk pengambilan foto atau video BTS. Begitu langkah Lola memasuki perpus tanpa sengaja di pintu masuk Lola berpapasan dengan Angga yang hendak keluar dari ruang perpus, hampir saja keduanya bertabrakan


"Sorry." Angga langsung mundur kebelakang menyingkir memberi jalan kepada Lola.


Canggung itulah rasa yang kini ada pada keduanya.


"Lo duluan." ucap Lola tanpa melihat ke arah Angga sambil menggeser tubuhnya ke samping pintu.


Angga diam menatap Lola, sementara Lola sendiri menoleh ke arah samping. Sikap Lola membuat Angga sedikit kesal karena diacuhkan.


"Ikut gue sekarang." suara Angga terdengar memaksa.


Lola diam tak menyahut, dia masih memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.


Angga menggamit lengan Lola dan menariknya paksa.


"Lepasin!" dengus Lola menatap Angga tajam dengan bibir mengerucut.


"Oke gue lepasin tangan Lo tapi jangan salahin gue kalau gue gendong." balas Angga mengancam tak mau kalah sambil membalas tatapan tajam mata Lola.


"Kalian ngapain sih pagi-pagi udah ribut." lerai Juwi menyudahi ketegangan keduanya tapi diacuhkan Angga.


"Gimana? lu mau jalan sendiri atau gue gendong?" kembali Angga mengeluarkan kata-kata ancamannya.


Lola hafal sekali karakter Angga, jika Angga menginginkan sesuatu tidak ada yang tidak mungkin dia lakukan untuk mendapatkannya. Lola mungkin barbar, cuek dan masa bodoh dalam banyak hal, tapi Lola tidak pernah memaksakan sesuatu kepada orang lain, beda sekali karakternya dengan Angga.


Angga apabila menginginkan sesuatu dia tidak akan pernah pantang menyerah sampai apa yang dia mau dapat bahkan Angga tidak segan untuk melakukan hal bodoh atau memalukan sekalipun.


"Kalau gak di turutin bisa kolaps nih si Ucup." batin Lola dengan bibir mengerucut.


"Duluan Lo," perintah Lola pada Angga untuk berjalan di depannya.


Angga pun berjalan lebih dulu meninggalkan Lola.


"Wi, gue ikutin dia dulu. Lo tau kan kalau dia punya mau kayak gimana kalau nggak diturutin bisa runyam urusannya ntar." Lola mengusap lembut pundak Juwi sebelum pergi berlalu meninggalkan Juwi.


Lola mengikuti langkah Angga dari belakang menuju taman belakang sekolah. Saat keduanya berjalan melewati lapangan upacara yang merangkap lapangan basket di tengah tengah gedung sekolah Daren yang sedang duduk di bangku koridor menatap curiga kearah mereka berdua tanpa sepengetahuan Lola.

__ADS_1


"Anjirrr, Mau apa lagi tu ANGGota ragunAn?" geram Daren sambil melempar permen kaki di mulutnya yang baru saja dia ****.


Daren pun beranjak berdiri bergegas menyusul mereka berdua sambil menjaga jarak.


Di bawah pohon Pinus Angga menghentikan langkahnya begitu juga dengan Lola.


"Sok atuh, mau ngomong apa?" tanya Lola langsung pada intinya.


"Gue masih sayang Lo ndol. So, please, can we start over?" pertanyaan sekaligus permintaan Angga kepada Lola.


Angga menatap redup manik mata Lola tampak sekali penyesalan dari sorot matanya. Lola menatap lurus tanpa ekspresi ke arah Angga. Sesaat kemudian dia menelan ludah seperti sedang menelan kenangan pahit akan sikap Angga di masa lalu.


"Sorry, gue nggak bisa dan nggak akan bisa lu tau kan kenapa?" ucap Lola dingin.


"Sejak perpisahan itu, gue merasa hidup gue hampa tanpa Lo. Semua nggak ada yang bersinar semua jadi lebih redup, tak ada semangat untuk hidup. Gue ingin Lo kembali pulang ke hati gue dan buat hati gue terang La." ungkapan hati Angga tiba-tiba keluar tanpa bisa ia kendalikan perasaannya.


"Lo yang mau ini Cup dari awal, kenapa sekarang lu ngomong kayak gitu. Kenapa dulu saat hati gue masih utuh buat loh, lu hancurin dan lu buang seperti sampah yang sangat menjijikkan. buat apa? Apa Lo pengen permainan perasaan gue untuk yang kesekian kali? Lo salah Cup, Lu tahu kan saat gue menerima perasaan seseorang dan juga hati dia, gue tipe cewek yang sangat setia dan nggak akan berpaling sedikitpun sampai orang itu ninggalin gue seperti Elu." kata kata yang meluncur dari mulut Lola begitu tenang dan dingin.


"Maaf, please maafin gue ndol," Angga berkata memohon sambil tertunduk lesu.


"Gue udah maafin lu Cup, tapi itu bukan berarti gue mau kita balikan lagi, kita cukup jadi teman yang saling dukung mungkin itu yang terbaik buat hubungan diantara kita." saut Lola tenang dan terdengar bijak.


"Gak salah calon makmum gue emang gak ada tanding gak ada banding kalau nyangkut kesetiaan, Lo cowok paling bloon yang nyia nyiain kesetiaan hati Lola selama hampir 6 tahun AnGGota ragunAn xixixi." gumam Daren sambil cekikikan dengan mengacungkan dua jempol ke arah Lola.


Angga menelan ludah dan menarik nafas panjang lalu dia membetulkan posisi berdiri tegak dan menatap Lola..


"Boleh gue minta satu permintaan sama lo? Anggap saja ini permintaan terakhir gue sebagai mantan Lo." kata Angga dengan suara mulai tenang dan bisa mengontrol emosinya.


"Apa? Kalau gue bisa lakuin gue bakal lakuin." jawab Lola tanpa ragu.


"Jangan berubah sikap lo ke gue dan juga keluarga gue, tetap lah seperti Cendol Item yang dulu gue pernah kenal dari bocil." pinta Angga terdengar tulus.


Lola tak menjawab pertanyaan Angga dengan kata-kata tapi senyum terkembang di wajahnya sambil mengangguk.


"Best Friend forever." kata Angga sambil tersenyum.


"Best Friend forever." sahut Lola membalas.

__ADS_1


"Gue cabut dulu cup, nggak enak lama-lama di sini kalau dilihat orang." ucap Lola pamit meninggalkan Angga sambil berbalik badan mulai melangkahkan kaki


"Cendol tunggu!" seru Angga tiba-tiba menghentikan langkah Lola.


"Kalau dia macam-macam ada gue yang selalu siap nunggu lo kapanpun dan dimanapun." ucap Angga tersenyum tipis.


"Siap," balas Lola tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah Angga, dia pun kembali berbalik badan melangkah pergi.


Angin semilir pagi jelang Dhuha begitu sejuk menerpa wajah Angga di tengah hatinya yang teriris karena rasa patah hati yang dalam.


"Kenapa waktu yang kita punya, hanya sedikit waktu lu untuk gue karena ego gue dan jarak yang memisahkan kita Ndol." batin Angga merana dan menyesali keegoisannya saat bersama dengan Lola dulu.


"Kenapa sekarang gue harus liat lu sama dia, ini rasanya seperti terluka tapi tak berdarah." Semua kata-kata kegalauan seperti berkecamuk di hati dan pikiran Angga saat ini.


Angga menyandarkan tumbuhnya di batang pohon pinus sambil memejamkan mata merasakan kepedihan hati dan juga rasa sakit patah hatinya.


"Ajarin gue cara tuk melupakan lu Ndol, enggak mungkin gue ngebenci lu karena rasa itu gak akan pernah bisa bikin gue lupa sama Lo hiks." Angga tak mampu menahan tangis hingga dua titik bening meluncur di pipinya.


"Luka hati lu sama seperti yang gue alami karena kehilangan Daren." suara Nabila tiba-tiba membuat dari yang tersentak yang cepat-cepat menghapus air matanya.


"Siapa Lo?" tanya Daren heran melihat kehadiran Nabila yang dia tidak kenal.


"Gue Bila teman sekelas Daren orang yang mencintai Daren sejak SD, gue sama dia sama-sama satu sekolah dari SD sampai sekarang. Gue tahu apa yang lo rasain pasti sama seperti apa yang gue rasain sekarang. Merasa kehilangan dan sama sama ingin memiliki kembali apa yang sudah hilang itu." Bila mulai memprovokasi perasaan Angga.


Angga menatap Nabila tajam dan mulai mengerti maksud dari perkataan Nabila.


"Apa lu punya rencana buat misahin mereka?" tanya Angga to the point membuat Nabila menyunggingkan senyum penuh arti.


"Sorry gue memang patah hati dan ingin dia kembali lagi ke sisi gue, tapi gue bukan tipe orang yang suka bermain kotor untuk mendapatkan apa yang namanya cinta. So kita nggak sepaham," ucap Angga sinis sambil berjalan pergi berlalu meninggalkan Nabilah.


"Apa lu pikir gue juga bakal bermain kotor untuk mendapatkan Daren? Lo terlalu naif." seru Nabila membuat dari menghentikan langkahnya lalu berbalik badan kembali menatap kearah Nabila.


"Terus maksud lu apa bicara seperti itu?" Angga berkata tak paham dengan maksud perkataan Nabila.


"Bukan apa-apa. Lupakan." jawab Nabila semakin membuat Angga penasaran dan bingung.


Angga mendekati Nabila dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"ngomong yang jelas gue nggak suka berbelit-belit." dengus Angga mulai kesal.


Nabila hanya tersenyum tipis.


__ADS_2