
Markas BABIBU CEK COK.
Daren berdandan rapi tak seperti biasanya, hari libur ini dia khusus ingin meluangkan waktu untuk jalan bersama Lola, karena sejak ada tugas Kelompok kerja drama hampir seminggu Daren tidak ada waktu untuk bertemu langsung dengan Lola.
"Anjayy! Bos kece badai mau ke mana nih? Apel ke rumah princess Lobar ya?" tanya Joni kepo sambil senyum-senyum dan mengangkat kedua alisnya.
"Emang tujuan hidup gue ke mana lagi kalau enggak ke Ayang Beb gue." Daren terus menyisir dan merapikan rambutnya berulang kali dengan gaya yang berbeda-beda.
"Gimana? Manjiw gak gaya rambut gue cocok kan sama setelan gue?" tanya Daren Minta pendapat Joni.
"Top markotop Bos," Puji Joni sambil mengangkat kedua jempolnya ke arah Daren.
"Jangan lupa lo lo pada makan, ambil tuh Doku di brankas!" pesan Daren sambil menaiki motor trail nya.
Tak kurang dari setengah jam Darren sudah memasuki wilayah Perumahan tempat tinggal Lola. Sebelum menuju rumah Lola Daren mampir di sebuah minimarket yang tak jauh dari rumah Lola.
Tak kurang dari 10 menit Daren sudah keluar dari minimarket sambil menenteng kantong plastik putih penuh dengan jajanan berisi makanan atau minuman, dan semua yang dibeli Daren adalah makanan dan minuman favorit Lola.
"Casing unik ala artis turki, rambut oke dan buah tangan sudah siap sekarang tinggal melaju ke hati Ayang beb." Daren berkata sambil berkaca lewat spion motornya dibalik kacamata hitam..
Begitu sampai di depan rumah Lola yang sekaligus merangkap toko Milik Mamanya, Daren disambut oleh Hamid yang sedang nongkrong Mabar FF di depan toko bersama 2 orang temannya Akbar dan Sahar.
"Assalamualaikum Kemit!" sapa Daren akrab pada Hamid yang sudah seperti Adiknya sendiri.
"Waalaikumsalam. Anjay! Keren banget bang! Tumben rapi mamat. Bang Duren mau kondangan ya Bang?" tanya Hamid sambil mengacungkan jempol ke arah Daren.
"Kondangan? Gue datang mau ngelamar kakak lu Kemit." jawab Daren sambil memegang kerah kemejanya sambil mendongakkan dagunya.
"Bang Duren tumben lama baru kelihatan, Bang mana aja Weh?" tanya Hamid beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati motor Daren sambil menepuk jok belakang.
"Lagi sibuk Kerkom gue." jawab Daren.
"Nih mid buat ramean." kata Daren sambil menyerahkan kantong kresek putih berisi makanan dan minuman.
Hamid mengambil kantong itu dari tangan Daren dan mengangkatnya ke atas dengan senyum mengembang di bibirnya sambil mengangkat alisnya.
"Woii Cok! Calon kakak ipar gue Sultan, dermawan pulak." puji Hamid sambil menepuk pelan pundak Daren dengan bangga.
Ting ting ting ting
__ADS_1
Dari ujung Gang jalan rumah Lola, seorang tukang bakso Malang masuk sambil memanggil pembeli dengan membunyikan sendok yang dipukul ke mangkok.
"Bang laper nih." Hamid Berkata sambil mengangkat alis naik turun.
Daren mengeluarkan dompetnya lalu mengambil selembar uang 100.000-an dan menyerahkan kepada Hamid. Saat tangan Hamid hendak mengambil uang 100.000-an yang ada di tangan Daren, tiba-tiba Daren menjauhkan uang itu dari jangkauan tangan Hamid.
"Wait, Kakak lo suruh keluar dulu." kata Daren memberi syarat.
"Teteh enggak ada di rumah Bang, dari tadi pagi udah jalan bawa gendolan tas gede. Kayaknya nginep deh," ucap Hamid memberitahu.
"Hah? pergi ke mana Doi?" tanya Daren penasaran.
"Nggak tahu Bang, sama Mama juga nggak ngomong mau pergi ke mana. Kabur gitu aja tuh orang." jelas Hamid dengan wajah terlihat tak tenang saat kang bakso Malang sudah mulai melewati rumahnya sementara uang 100 ribuan masih ada dalam genggaman Daren.
"Hadeh! Kenapa lu kagak ngomong dari tadi. Kalau Teteh lu kagak ada di rumah." sungut Daren kecewa.
"Lah, kan Abang nanyain nya barusan." kilah Hamid.
"Bang itu uang 100 ribuan jangan berkibar kek bendera napa, gak takut kebawa angin dan Kang baksonya keburu jauh?" kode Hamid agar Daren emberikan uang 100.000-an yang ada di tangannya.
Daren melirik uang Rp100.000 yang ada di tangannya lalu dia terkekeh.
"Ups, sorry Kemit." jawab Daren sambil mengulurkan uang Rp100.000 kepada Hamid.
Daren melajukan motornya meninggalkan komplek perumahan Lola, Arah tujuannya sekarang satu yaitu ke rumah Ari. Dia berpikir mereka pasti sedang berlibur dan menginap di rumah Ari.
Tak sampai 15 menit motor Daren sudah berhenti di depan rumah yang memiliki halaman luas dengan pagar tembok dari batu alam setinggi satu setengah meter, rumah yang terkesan tertutup dari Jalan Raya.
Setelah membuka pintu pagar yang jarang terkunci kalau siang Daren masuk ke halaman rumah Ari dengan mengendarai motornya.
pandangan mata dan langsung tertuju pada rumah pohon yang terlihat ditutup rapat dari luar, dan tak ada 1 pasang sepatu pun atau sendal yang ada di bawah pohon Trebesi tempat dimana rumah pohon itu berada.
"Ke mana mereka pergi?" gumam Daren bertanya pada diri sendiri.
"Assalamualaikum Nyak Ipah!" seru Daren menyapa dari teras.
"WAALAIKUMSALAM!" saut suara cempreng Saripah dari dalam.
"Nyak." Daren langsung menghampiri Saripah sambil mencium punggung telapak tangan.
__ADS_1
"Kok sepi Nyak, pada kemana ciwi-ciwi?" tanya Darren sambil matanya celingukan.
"Emang lu kagak dikasih tahu ape ma tuh bocah, kalau mereka pada mau ke pulau?" Nyak Saripah memberi tahu sambil balik bertanya.
"Kagak Nyak, kutu kupret emang mereka semua Nyak. Ya udah Nyak Daren jalan dulu." pamit Daren kembali mencium punggung telapak tangan kanan Saripah.
"Duren pake helm tuh kelapa ehh kepala," seru Saripah saat motor Daren mulai distarter.
"Kagak bawa Nyak." saut Daren baru ingat kalau dia tidak membawa helm dari markas.
"Hadeuh tar lo kena razia Duren. Pan daerah bandara banyak polisi." Saripah mengingatkan.
"Iya juga Nyak. Nyak ada helm nganggur kagak?" tanya Daren kembali turun dari motornya.
"Ada helm Nyak. Tar Nyak ambil." Saripah lalu masuk kedalam rumah untuk mengambil helm miliknya yang ada di rak di ruang tamu.
Tak lama kemudian Saripah keluar membawa helm miliknya. Daren yang berdiri membelakangi pintu tersentak kaget saat lengannya di senggol dengan sesuatu dan langsung berbalik badan.
"Tong, pake nih!" kata Saripah dengan logat betawi nya mengulurkan helm di tangannya yang menyenggol lengannya.
"Nyakkkk, yang benar aja masa Daren pake helm kek gini tar yang liat pada julid ke Daren." keluh Daren merajuk.
"Kagak apa daripada lo kena razia. Dah buruan pake gih daripada ntar lu ketangkep sama polisi!" saran Saripah.
Daren memandang helm yang ada di tangan Saripah dengan kerutan wajah mengumpul di tengah.
"Kalau cuma helm jangankan hiji se tokonya gue mampu, tapi yang nggak mampu gue beli perhatian dan ketulusan Nyak Ipah. Udahlah buat nyenengin hati Nyak gue pakai aja helm Nyak." batin Daren sambil tangannya mengambil helm Saripah.
Daren lalu memakai helm itu, begitu helm Saripah Daren pakai tawa Saripah langsung pecah.
"Tuh kan, Mak mulai duluan yang julid ke Daren," protes Daren cemberut.
"Hahaha, kagak Duren mak kagak ngetawain kamu. Nyak cuma lagi ngetawain helm Nyak, ternyata helm ini kalau lu pakai beda banget." ucap Nyak Saripah.
"Beda gimana Nyak?" tanya Daren kepo.
"Lu ganteng tapi jadi cantik juga hahaha." ucap Saripah.
__ADS_1
"Hilih, Nyak itu sama aja tu julid juga." protes Daren.
Daren lalu menyalakan motornya untuk pergi menyusul Lola.