
Hujan yang mengguyur kota Tangerang semalam menyisakan udara pagi yang sejuk dengan tetes-tetes embun di dedaunan dan juga rerumputan. Suasana pagi yang begitu bersih udaranya dengan kicau burung menjadi penyemangat tersendiri bagi banyaknya jiwa yang mulai beraktivitas.
Daren memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi di jalan lengang kota Tangerang untuk menuju ke SMA kumbang, waktu tempuh yang biasanya membutuhkan sekitar 45 menit bahkan terkadang satu jam, kali ini Daren hanya cukup membutuhkan 15 menit untuk sampai di tempat tujuan.
"Hmm, masih di gembok." ucap Daren saat dia berdiri di depan pintu gerbang yang masih terkunci dengan gembok besar yang menggantung.
"Mending Gue manjat tembok aja, Gue yakin bapak itu pasti tinggal di sini." monolognya.
Daren mulai mengambil ancang-ancang untuk memanjat gerbang pagar sekolah. Saat kakinya hendak memanjat pagar teralis, manik matanya menangkap kamera CCTV yang terpasang jelas di gerbang pintu sekolah.
"Haiisshhh, bisa dikira maling Gue." dumel Daren mengurungkan niatnya.
Entah dorongan dari mana tatkala kaki Da
ren melangkah mengitari pagar sekolah dan berhenti di kebun pisang samping SMA kumbang di mana ada pohon mangga besar yang yang tumbuh dan dahannya menjuntai ke pagar sekolah.
Dengan sangat mudah Daren memanjat pohon mangga, dan sekarang posisinya berada tepat di atas ujung pagar tembok sekolah setinggi 2 meter. Dengan sangat lincah duren melompat ke bawah tapi malang ada sebuah batu yang lumayan besar terinjak kakinya hingga membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh cukup keras hingga kepalanya membentur pot yang terbuat dari bahan semen.
DUK
"Aaaaww! Setan lu Sueb, ngagetin gue aja!" pekik Lola kaget setengah mati saat melihat Daren jatuh tepat disampingnya sambil memegang pundak Lola untuk menahan nya agar tidak tersungkur ke tanah.
"Salah sendiri Lu masih ada di bawah, masih untung cuma pundak lu yang kepegang. Coba jatuhnya sambil meluk lu bisa-bisa nggak mandi gue seminggu hahaha," canda Daren gak jelas membuat Lola mendelik ke arahnya.
"Sarap!"dengus Lola sambil menunjuk ke Daren lalu meletakkan telunjuknya di jidat dengan posisi miring.
Lola berbalik badan lalu pergi meninggalkan Darin mengejar Angga yang sudah jauh di depan.
Ingatan setahun yang lalu tiba-tiba tergambar jelas di memori Daren, saat dia dan Lola terlambat dan pintu gerbang sudah digembok membuat keduanya mengambil jalan yang sama seperti yang Daren lakukan saat ini.
Deg
__ADS_1
"Lola, ya dia Lola." ucap Daren ada debar di jantungnya
"Gue coba ungkap tabir ini kisah antara Lo dan Gue, walaupun sudah terpisahkan oleh ruang dan waktu Gue yakin akan bisa ungkap semuanya," ucap Daren yakin dengan kedua sudut mata berembun begitu juga pelipisnya mengucur darah tanpa dia rasa sakit sedikitpun.
Daren melangkahkan kaki berjalan menyusuri koridor sekolah untuk sampai di sebuah rumah kecil dekat dengan gudang yang dipakai oleh penjaga sekolah sebagai tempat tinggal yang disediakan oleh pihak sekolah.
"Be," Panggil Daren lirih saat melihat Abidin sedang duduk di sebuah bangku panjang sambil menghisap rokok dengan secangkir kopi di depannya.
"Sawit? Ngapain Lo pa-" belum sempat Abidin menyelesaikan kalimatnya dari sudah memeluknya dengan erat sambil terisak.
"Hiks...hiks.... Maafin Daren Be, maafin Daren." ucap Daren penuh penyesalan hingga pecah tangisnya.
"Udah berhenti nangisnya, Babe maafin. cowok Bader kek Lo, kalau ketahuan nangis apa kata dunia. Terutama di depan Lola mau di taruh di mana muka lo, Wit." kata Abidin meledek.
Daren melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua sudut matanya sambil berusaha tersenyum ada rasa malu yang hinggap di hatinya.
"Lola. Bantu Daren nemuin semua ingatan tentang Lola be." pinta Daren terdengar sedih.
Daren menggeleng lemah.
"Baru sedikit be," ucap Daren lirih sedih sekali.
Daren lalu menceritakan semua kejadian sejak terjadinya kecelakaan tanpa ada yang terlewatkan, Abidin tampak serius menyimak cerita dari sesekali wajahnya tampak sedih dan tangannya menyentil kepala Daren.
Sepanjang perjalanan menuju Lembang tempat di mana kecelakaan itu terjadi menimpa Daren, Abidin tak berhenti bercerita tentang Lola. Sambil menyetir Daren menyimak baik-baik setiap hal yang diceritakan oleh Abidin, sesekali dia mengusap kedua sudut matanya yang berembun.
"Rasanya minta maaf gak bakal cukup jika Gue ingat gimana Gue menyudutkan Lo dan lupa sama Lo selama ini Yang." batin Daren penuh sesal saat mengingat sikapnya selama ini pada Lola.
Begitu jelang dhuhur mobil yang Daren kendarai memasuki kawasan Lembang tempat di mana Daren mengalami kecelakaan. Dengan hati-hati keduanya menyusuri jalan setapak yang licin. Abidin menunjukkan kepada Daren tempat di mana dia jatuh sebuah tebing di pinggir sungai tempat di mana sebuah batu berada.
"Ini batu tempat di mana Lo jatuh Wit." ucap Abidin memberitahu.
__ADS_1
Daren melangkah perlahan, matanya menatap lurus batu di depannya. Dadanya mulai bergemuruh, saat tangannya terulur menyentuh batu, terlihat sekali tangan itu gemetar.
"Astagfirullah." bisik Daren saat telapak tangannya menyentuh batu di mana dia jatuh sambil memejamkan mata.
Klise memorinya seperti terbuka dengan loading yang sangat cepat bergantian lewat dipikirannya, hampir semua bayangan itu berisi Lola dan dirinya dalam beberapa kejadian yang berbeda.
"Yangggg! Maafin Gueeee!" teriak Daren tak mampu berdiri menelungkupkan tubuhnya di atas batu.
Tangis Daren pecah ada sesak yang menyeruak dadanya, kenangan masa lalunya seperti potongan puzzle yang terangkai jelas dalam mozaik cinta bersama Lola.
"Huuuu.....huuuu...hiks hiks...maafin Gue beb, Gue merasa telah kehilangan Lo. Cinta tulus yang Lo berikan tak pernah Gue anggap. Gue telah membuang Lo dengan cara yang menyakitkan yangg. Huuu ...huuu...!" Daren menangis meraung menyesali sikapnya selama ini pada Lola.
Abidin mengusap lembut punggung Daren.
"Cara terbaik buat Lo saat ini adalah datang dan minta maaf pada anak bungsu Gue Lola.
Satu yang harus Lo tau, biarpun anak angkat Gue si Lola barbar urakan tapi hatinya bagai sutra." pesan Abidin menenangkan Daren.
"Iya Be, sekarang juga Daren akan temuin Ayang beb buat minta maaf kalo perlu Daren akan lakukan apapun agar Ayang beb bisa balikan lagi sama Daren Be." saut Daren sambil mengusap air mata yang banjir di kedua pipinya.
"Ya udah sekarang kita balik aja ke Tangerang mumpung hari masih siang Wit." ajak Abidin merangkul pundak Daren meninggalkan tempat di mana awal memori Daren hilang dan ketemu.
"Tunggu Gue beb, rasa cinta Gue yang terdalam akan bisa menyakinkan Lo untuk ada lagi buat Gue. Lope you Lola Anggraini cuma Lo satu-satunya cewek yang Gue peluk erat dengan cinta." batin Daren sebelum mobil melaju meninggalkan Lembang.
...Asmara mengisahkan kita...
...Mengingatkanku pada dirimu...
...Gelora mengingatkanku...
...Bahwa cintamu telah merasuk jantungku...
__ADS_1
...~Daren~...