Off Bucin

Off Bucin
Koceng Garong Apa Han...


__ADS_3

Sesaat mereka diam saling pandang dan menatap, sementara tanpa sepengetahuan mereka Daren sedang memperhatikan keduanya dari balik jendela samping kelasnya.


postur jangkung Daren membuatnya dengan mudah memperhatikan mereka dan menguping pembicaraan keduanya.


"Lup bales kagak?" tanya Lola yang tak seperti biasanya cuek dan tak banyak pikir.


"Balas aja hmm." jawab Palupi yang punya segudang pengalaman tentang cowok.


"Masa hmm." saut Lola dengan wajah heran.


"Ya udah kalau gitu jawab Hai aja, tapi pakai i nya satu aja jangan dua. Btw tadi dia pakai i 1apa 2?" tanya Palupi sambil melihat HP Lola.


"Tuh dua," saut Lola.


"Nah kalau gitu lu jawab pakai i satu aja jangan dua, biar kelihatan lu tuh nggak butuh butuh banget sama dia." tutur Palupi.


"Oke, jaim dikit ya?" tanya Lola memastikan.


Lola mengetik balasan untuk Darren, saat hendak menekan tombol kirim tangan Palupi mencekal lengan Lola, membuat Lola menatap Palupi dengan mata membulat dan mulut terbuka.


"Jangan dikirim sekarang! Keliatan banget sih lu kangennya." tegur Palupi mengkritik sikap Lola.


"Lah terus kapan?" tanya Lola kurang paham dengan jalan pikiran Palupi yang cowoknya bejibun penuh pengalaman putus nyambung cinta.


"Haiisstt, lo mah emang Bener-bener Lola," dengus Palupi menilai sahabatnya yang benar-benar polos dalam hal cinta.


"Sueb tuh perlu di kasih pelajaran potek hati kalau dia dah kek koceng garong gitu Lomuttt." ujar Palupi mulai terpengaruh dengan kata-kata Lola.


"Bener juga bestie, Nggak sangka gue juga. Kok bisa dia berubah jadi Garong gitu." imbuh Lola.


"Hadeuh! Tuh ciwi berdua ghibahin gue gak jelas, kapan gue jadi kucing garong, garong sama siapa juga." dumel Daren mulai uring-uringan.


"Fithonah mereka berdua udah bikin reputasi gue anjlok gara-gara ini." lanjut Daren menggerutu sambil mengepalkan tangannya dan meninju tembok di depannya.


"Lagian ngapain juga tuh palu, pengen gue palu mulutnya biar gak jadi kompor buat zezenk gue. Gregetan banget gue sama mulut tu cewek." geram Daren sambil mengepalkan tangannya dan mengayun-ayun di samping kepalanya.


"Ya udah Lup, gue balas nya sejam lagi ya?" tanya Lola.


"Jangan bestie, 7 jam lagi aja biar dia merasa kek cacing kepanasan hahaha." usul Palupi sambil tertawa terbahak.


"Kenapa gak sekalian besok aja dibales, biar kesannya gue jual mahal dikit lah hehehe." saut Lola terkekeh.


"Boleh juga. Biar dia semalaman overthinking mikirin, Kenapa lu nggak bales chat-an dia hahaha." imbuh Palupi ikut bersemangat.


TEEETTTT.


"Dah lah, panggilan otak dah berbunyi. Bay Lup Lup cantik se kumbang." pamit Lola sambil melambaikan tangan keluar dari kelas Daren.

__ADS_1


"Beb, lu tuh Bener-bener bikin gue stress cinta, Lola lo kelewatan. Hati ma perasaan lu tuh dibuat jaman purbakala kali ya." Daren mengacak rambutnya geregetan dengan sikap Lola yang benar-benar enggak peka dengan perasaannya.


"Lagian siapa yang pacaran woiiij!!" teriak. Daren sambil berjongkok lemas bersandar di di dinding menjambak rambutnya berulang kali.


Palupi yang mendengar teriak Daren tersenyum sinis.


"Cuihh! Koceng garong mana ada yang ngaku nyolong hati."


***


Rumah Angga.


malam ini adalah hari ketiga setelah kematian Hengky Omnya Angga.


"Anterin rantang makanan ke tante Lia mumpung hari belum gelap sayang." perintah Saroh kepada Lola.


"Suruh Hamid aja kali mah, kalau nggak Azzam aja. Kan dia juga udah bisa naik motor Lola lagi banyak tugas Mah." tolak Lola masih sibuk menulis tugas biologi dari Bu Ajengi di meja ruang tamu sambil duduk di lantai.


"Gak ada sayang, Hamid belum pulang sekolah Azzam nggak tahu ke mana dia, main dari habis ashar sampai jam segini belum pulang. Pasti kelayapan." keluh Saroh sudah berdiri dengan rantang di tangannya di depan Lola.


"Sebentar doang sayang, keburu magrib Neng." bujuk Saroh kembali.


Lola menarik nafas panjang lalu menatap rantang yang ada ditangan Saroh, Lola meletakkan pulpen di tangannya di atas meja lalu dia berdiri mengambil rantang dari tangan Saroh.


"Makasih anak mamah yang paling cantik." puji Saroh.


Jarak rumah Angga dan rumah Lola tidaklah jauh hanya sekitar 500 meter dan apabila ditempuh dengan jalan kaki kurang dari 10 menit sudah sampai.


"Assalamu'alaikum." teriak Lola dari luar pagar sambil tangannya meraba selot pintu pagar untuk membukanya.


Lola melangkah masuk ke dalam rumah Angga, rumah ini tampak sepi dan sedikit berantakan beberapa lipatan karpet dan tikar tertumpuk di salah satu sudut teras di atas kursi.


"Tantee... "


Lola terus masuk ke dalam rumah melewati ruang tamu yang tampak sepi dengan suasana remang, di mana lampu belum di nyalakan menjelang magrib membuat rumah sedikit horor bikin Lola merinding apalagi mengingat kematian Om Hengky yang baru 3 hari.


Bahkan bau kapur barus pun masih tercium menusuk tajam di indra penciuman Lola.


"Aduh, kok perasaan hawanya dingin gini. Jadi berasa horor rumahnya, kek anaknya yang punya rumah." Lola mengusap tengkuknya yang terasa berdiri bulu-bulu halusnya tiba-tiba.


Lola terus berjalan melewati ruang keluarga.


"Tan, tante Lia, Bi Mus." Lola memanggil nama satu per satu penghuni rumah.


"Pada kemana ya kok sepi." gumam Lola sambil matanya mencari-cari penghuni rumah Angga.


Lola terus berjalan melewati ruang makan menuju dapur lalu ke pintu penghubung halaman belakang. Dia berharap siapa tahu penghuni rumah ada di halaman belakang.

__ADS_1


"Kok sepi kagak ada orang, pada kemana ya mau magrib gini?" tanya Lola bingung pada diri sendiri.


Lola celingukan di pintu belakang, suasana di taman belakang sudah sedikit gelap ditambah lampu taman yang belum dinyalakan.


"Papa nganterin nyokap berobat." kata Angga sambil berjalan ke arah kulkas.


"ASTAGHFIRULLAH! BISA NGGAK LO GAK NGAGETIN GUE CUP!" bentak Lola kaget setengah mati sehingga dia sampai melompat sambil berbalik.


Angga hanya bersikap datar dan cuek, ia meraih gelas yang ada di atas kulkas dan mengambil botol air dingin dari dalam kulkas lalu menuangkan dalam gelas kosong dan membawanya berjalan duduk di kursi makan


"Orang, tapi dah kek han..." Lola tak meneruskan ucapan nya.


"Apa? Kenapa nggak diterusin?" tanya Angga sengaja memojokkan Lola.


"Gak ada," saut Lola.


"Nih, gue cuma nganterin kiriman nyokap buat tante Lia." ucap Lola meletakkan rantang di atas meja makan.


Angga mendekatkan hidungnya ke arah rantang aroma harum masakan langsung tercium indra penciumannya.


"Buat gue juga gak?" ucap Angga datar sedikit menggoda.


Mata Lola langsung menatap wajah Angga yang juga sedang menatapnya. Lola tak menjawab dia berjalan meninggalkan Angga sendiri di ruang tamu.


"Item, mau gue anter gak?" teriak Angga dari ruang makan.


"Terserah kalau mau sekalian Wakuncar Ma Anggi." saut Lola tetap berjalan ke luar rumah Angga.


"Dasar Cendol item cemburu kok sama ******." gumam Angga tersenyum simpul.


Assalamualaikum!" teriak Lola dari teras terdengar jelas bersamaan dengan suara adzan maghrib berkumandang.


"CENDOL SEKALIAN TUTUP PAGARNYA!" teriak Angga menggema


Mata Angga berkeliling ruang makan yang sepi lenggang dan senyap membuat bulu kuduk Angga bergidik.


"Haiisstt! Kenapa juga kemarin gue kasih cium perpisahan ke om Hengky mana habis di pocong lagi. Iihh mending gue cabut ke kamar aja." Angga langsung beranjak dari duduknya dan berlari menuju tangga untuk ke kamarnya.


..."Pisau tumpul hendak diasah...


...Beri air hingga basah agar mudah di asah...


...Katanya lebih baik kita berpisah...


...Tapi Kenapa sekarang kamu masih gelisah"...


...~Lola~...

__ADS_1


__ADS_2