
Senin pagi awal pekan yang sulit banget untuk semangat, khusus buat Lola yang sejak dari hari Sabtu dia sibuk mengurus rumah adik dan Saroh yang sedang sakit serta membantu keluarga Angga yang sedang berduka.
"Ma! Assalamualaikum teriak Lola dari garasi samping sambil melaju dengan motor beat kesayangannya.
Bendera Kuning masih berkibar di depan rumah Angga, begitu juga dengan tenda yang masih berdiri di sebagian bahu jalan. Untuk beberapa menit Lola menghentikan motor matic nya, pandangan matanya tertuju pada rumah berlantai 2.
"Pasti Ucup nggak masuk hari ini." gumam Lola dengan pandangan mata tertuju pada jendela lantai atas tempat kamar Angga berada.
Lola men- starter kembali motornya melaju meninggalkan rumah Angga. Sementara itu dibalik jendela riben lantai atas Angga terlihat berdiri memandang keluar jalan di mana Lola tadi berhenti menatap ke arah kamarnya.
"Huff...kenapa lu selalu peduli sama gue Ndol." gumam Angga sambil meniupkan udara dari mulutnya.
Di Sekolah.
Waktu bel tinggal 5 menit lagi saat Lola tiba di depan pintu gerbang sekolah ada yang beda dan hilang pagi ini. Saat melewati gerbang pintu sekolah Lola sempat melirik dengan ujung matanya ke arah pos jaga hingga dia tidak fokus dan...
BRUK.
Motor Lola tanpa diduga menabrak motor di depannya yang dikendarai oleh seorang siswi sedang berboncengan. Untung saja benturan itu tidak terlalu keras hingga tidak ada bekas yang parah di motor keduanya, hanya saja menimbulkan kaget yang luar biasa membuat beberapa mata reflek menatap ke arah mereka.
"Maaf, maaf!" seru Lola sambil menangkap kan kedua tangannya di depan dada dan mengangguk.
"Gimana sih matanya! Kalau bawa motor jangan meleng dong! Orang macet gini ditabrak!" bentak cewek yang membonceng menoleh menatap Lola sambil melotot tajam.
"IYA MAAF, NAMANYA JUGA GAK SENGAJA!" bentak Lola tak mau kalah.
" HEH, LO YANG SALAH NGAPAIN LO YANG NYOLOT!" hardik siswi berkuncir turun dari motornya.
Lola memarkirkan motornya di pinggir dekat dengan pintu gerbang sekolah.
"Sialan pagi-pagi dah ngajak gelut." dengus Lola terpancing emosinya.
Lola melangkah mendekati dua siswi yang berkuncir dan satunya berhijab.
"Gue kan udah minta maaf, yang nyolot duluan siapa lo apa gue!" balas Lola dengan mata melotot ke arah mereka.
"Tapi kan lo yang nabrak! Berarti lu yang salah Kenapa malah lu nyolot." bentak cewek berkuncir tidak mau kalah.
Berapa siswa yang baru masuk ke gerbang sekolah tak sedikit yang memperhatikan dan menonton pertikaian mereka.
"Gue kan udah minta maaf! Tuh telinga emang gak dengar. Itu telinga apa pegangan panci!" sungut Lola mulai emosi.
__ADS_1
"Hai Lemot lu berani ya ngehina gue!" tantang cewek berkuncir.
"Iya kuda! Lu mau apa? mau gelut sekarang?" balas Lola tertantang.
"Heh! Ada apa kalian pagi-pagi sudah ribut!" teriak pak Susilo dari kejauhan keluar dari gedung sekolah.
"BUBAR YANG LAIN BURUAN MASUK KELAS!" bentak Pak Susilo kepada semua siswa yang yang ada di sekitar pos gerbang sekolah.
"Lola Kenapa kamu pagi-pagi sudah bikin ribut." tuduh Pak Susilo yang selalu sensi terhadap Lola.
"Saya kan nggak sengaja Pak nyenggol motor mereka dan saya juga minta maaf Pak tapi mereka malah yang ngegas." ucap Lola membela diri.
Pak Susilo menoleh kearah dua siswi itu seperti ingin mencari klarifikasi.
"Bener apa yang Lola katakan?" tanya Pak Susilo dengan tegas ke arah keduanya.
Keduanya Saling pandang melihat tatapan pak Susilo yang tajam membuat kedua siswa itu jadi salah tingkah dan gugup. Berbeda sekali dengan Lola yang masih tetap tenang.
"Jawab jangan diam saja!" entah Pak Susilo terlihat kesal.
"I-ya pak tadi Lola udah minta maaf, tapi kan saya kesel Pak motor saya ditabrak." ucap siswi berkuncir membela diri.
TEETTTTTT
Setelah memarkirkan motornya Lola berjalan dengan santai menuju kelasnya, padahal waktu masuk kelas sudah berlalu bahkan beberapa guru sudah mulai berjalan di koridor untuk menuju kelas sesuai jadwal mereka. Suasana koridor pun sudah tampak sepi.
"Anjirr gara-gara Sueb pagi-pagi gue dah gelut aja ama orang," batin Lola masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Lola jalannya jangan kayak putri siput," tegur Bu Ajeng tiba-tiba berjalan di belakangnya sambil merangkul bahu lola.
Lola menoleh dan langsung tersenyum memberi salam.
"Pagi Bu bio cantik," sapa Lola dengan senyum manis tanpa basa-basi.
"Kamu ini ya dari dulu kalau manggil ibu selalu saja Ibu bio cantik," ucap Bu Ajeng tersenyum sambil memencet hidung Lola gemas.
"Lah pan Ibu emang cantik dan juga guru biologi, masa Lola panggil pak bio cantik hehehe." saut Lola sambil tertawa hingga gigi putihnya terlihat rapi mengintip.
"Dasar ya kamu ini kalau debat sama ibu gak mau kalah." Ajeng melirik tajam pura-pura kesal.
"Harus lah Bu, kan dari sisi casing ibu udah menang dari Lola masak yang lain mau menang juga itu namanya apa coba Bu?' tanya Lola sambil memainkan alisnya naik turun.
__ADS_1
" Iyain. Ayo buruan, keburu demo teman-teman satu kelas mu." ajak Bu Ajeng mempercepat langkahnya menarik lengan Lola.
"La, untuk persiapan pameran biologi gimana udah kamu susun laporan rencana rinciannya?" tanya Bu Ajeng tiba-tiba ingat sesuatu yang menjadi tanggung jawab Lola.
"Siap Bu bio cantik, semua rebes." jawab Lola sambil membuat tanda Ok dengan jempol dan telunjuk nya.
"Rebes apa La?" tanya bu Ajeng yang sering bingung dengan kata-kata gaul anak didiknya.
"Beres ibu bio cantik."
Saat keduanya hampir sampai di depan kelas Lola langsung mengambil tumpukan buku yang ada ada di tangan Bu Ajeng.
"Ups, sorry Bu bio cantik. Maafkeun murid ibu yang durhakim ini karena kurang peka alias Lola hehehe," ucap Lola menahan terkekeh.
"Hilih Lola Lola," saut Bu Ajeng.
Di antara sekian banyak guru, Bu Ajeng adalah guru yang paling sayang dan dekat dengan Lola. Usia mereka yang berjarak 5 tahun membuat mereka terkadang seperti kakak beradik.
"Assalamu'alaikum anak-anak, ada yang nggak sarapan pagi ini?"
Begitu masuk dalam kelas Bu Ajeng menyapa murid-muridnya dengan gaya khasnya, ramah dan penuh senyum. Tak heran kalau Bu Ajeng menjadi di guru favorit di SMU kumbang. Lola meletakkan buku-buku bu Ajeng di meja guru lalu Dia berjalan ke Bangkunya disambut dengan senyum Juwi.
"Telat mulu lo Mut." bisik Juwi begitu Lola mendudukkan bokongnya di sebelah dia.
"Gak bisa tidur gue semalam." sahut Lola sambil tangannya mengeluarkan buku paket biologi dan beberapa alat tulis.
"Kenapa? Tumben, biasanya lu kan kang molor." kata Juwi setengah berbisik.
"Di rumah Ucup pengajian ampe malam, udah gitu pas mau tidur kebayang terus wajah om Hengky. Jadinya ampe pagi baru bisa tidur. Hoaammmm," jelas Lola sambil menguap lebar.
"Iiihhh tutupin napa tuh mulut dah kek buaya aja." kata Juwi menutup hidungnya sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Kadal, kenapa ya dia gak chat gue pagi ini," gumam Lola tiba-tiba ingat Daren.
"Kadal siapa?" Juwi bertanya dengan ekspresi wajah kepo.
"Gak ada, gak siapa-siapa," jawab Lola tak mau membahas nya.
Juwi menatap Lola dengan wajah bingung dan penasaran.
..."Kamu tahu gak, kalau kamu gak chat aku tuh rasanya hilang separuh semangat haluku:v"...
__ADS_1
...~Lola~...