Off Bucin

Off Bucin
Di Hukum


__ADS_3

Daren berjalan bolak-balik di depan kamar Lola, wajahnya tampak kecut dan juga khawatir dengan keadaan Lola, begitu juga dengan isi kepala dan hatinya.


Dari wajahnya Daren benar-benar tampak kacau, sesekali dia berjalan bolak-balik tak tenang sambil mengacak rambutnya.


"Sialan, si kuburan itu bener-bener nggak mau nyerah buat dapetin ayank beb gue, dasar penggacor!" geram Daren sambil meninju dinding di sampingnya.


"Aaauuu!" jerit Juki tertahan melihat apa yang dilakukan Daren.


Daren menoleh ke arah Juki yang berdiri mematung disebelahnya dengan wajah meringis menatap kepalan tinju tangan Daren.


"Siapa yang koruptor bos?" tanya Juki penasaran.


'Diem gak tuh bacot!" bentak Daren membuat Juki seketika tersentak kaget dengan mulut terkatup rapat.


"Upss, sorry ketua," saut Juki sambil memberikan isyarat melakban mulutnya dengan jempol dan telunjuknya.


Cekle.


Begitu melihat Pak Lukito dan Bu Angel keluar dari kamar Lola, Daren buru-buru berjalan menghampiri mereka berdua.


"Pak Bu, gimana keadaan my princess, apakah dia baik-baik saja? atau perlu kita bawa ke rumah sakit. Pak Bu?" suara Daren yang terdengar cemas dan gugup.


Pak Lukito dan Bu Angel saling memandang sambil tersenyum tipis.


"Lukanya lumayan parah, tapi tidak perlu dibawa ke rumah sakit paling untuk beberapa hari wajahnya tidak enak dipandang mata itu semua karena ulah kalian berdua." Pak Lukito sinis menatap Daren.


Daren langsung tertunduk lesu ada penyesalan besar akibat ego nya yang membabi buta.


"Di mana Angga?" tanya Pak Lukito sambil matanya berputar ruangan mencari sosok Angga.


"Keluar dia Pak." Juki buru-buru menjawab.


"Juki, cari dia! Suruh temui saya di kamar pembimbing. Kamu ikut saya sekarang." perintah Pak Lukito pada Juki lalu menatap ke arah Daren.


Dengan langkah tegap berwibawa Pak Lukito berjalan diikuti Bu Angel keluar dari vila Lola.


Daren tampak ragu, langkah nya berat meninggalkan vila Lola sebelum tahu keadaan Lola sekarang. Pandangan matanya terus tertuju pada pintu kamar Lola.


"Gue harus minta maaf sama ayank dan melihat langsung keadaan ayank beb." gumam Daren mulai mengangkat kaki kanannya melangkah menuju pintu kamar Lola.


"DAREN! KAMU TIDAK DENGAR APA PERINTAH SAYA!" bentak Pak Lukito membuat Daren seketika memutar badan dengan kaki mengayun di udara.

__ADS_1


"Haiisstt." geram Daren mengikuti Pak Lukito dan Bu Angel.


Begitu sampai ruang santai di salah satu villa yang ditempati oleh khusus guru pembimbing dan pengawas study tour Angga sudah terlihat berdiri di salah satu sudut ruang dengan cueknya sambil memasukkan satu tangan di saku celananya.


Lirikan tajam langsung Angga lemparkan ke arah Daren dengan menarik salah satu sudut bibirnya.


"Berdiri kalian di sini." titah Pak Lukito dengan ujung mata melirik tepat di depannya.


"Hukuman apa yang pantas buat pembuat onar seperti kalian?" pertanyaan sinis meluncur dari bibir Pak Lukito.


Kaki kanan Daren berayun seperti menendang angin dengan wajah cuek memandang ke luar jendela, sementara Angga menatap datar lurus ke depan.


Beberapa guru yang ada di ruangan itu sibuk merapikan barang atau dengan hp nya, sesekali mereka melirik ke arah mereka bertiga.


Tok tok tok.


"Masuk!" suara Pak Lukito mempersilahkan si pengetuk pintu ruang mereka.


Pak Abidin terlihat muncul dari balik pintu dengan wajah terlihat panik.


"Maaf Pak izin ganggu. Saya cuma mau menyampaikan kalau air bersih di dapur tidak keluar kata pengelola vila ada pipa yang bocor dah blm ada teknisi yang datang buat benerin." lapor pak Abidin yang di beri tugas tanggung jawab urusan dapur dan umum.


"Air bersih untuk masak dan cuci-cuci di dapur tidak ada Pak."jawab pak Abidin.


"Lah terus?" tanya Pak Lukito mulai kesal.


"Kamu datang ke sini untuk nyuruh kita cari air?" suara Pak Lukito bertambah kesal.


"Bukan begitu maksud saya pak." sanggah pak Abidin sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Saya cuma laporan dan kalau bisa minta tolong beberapa siswa untuk bantu mengambil air di sungai belakang villa pak." lanjut Pak Abidin mulai ke inti maksud kedatangannya ke ruang guru dan pengawas.


Bola mata Pak Lukito refleks berputar menatap Daren dan Angga bergantian.


"Kalian berdua ambil air di sungai dan bantu di dapur selama acara kita di sini sampai selesai sebagai hukuman untuk kesalahan kalian." suara Pak Lukito tegas cukup membuat Daren dan Angga berubah ke posisi serius hendak menolak.


"Saya tidak menerima penolakan atau bantahan, jadi kerjakan tugas itu sekarang juga." ujar Pak Lukito membuat Angga dan Daren berjalan lemah keluar pintu mengikuti Pak Abidin.


"Lah Ren, Napa tuh muka lu di tekuk kusut kek baju nak di jemur?" goda Pak Abidin saat mereka bertiga sampai di dapur utama di salah satu bangunan yang ada di kawasan villa itu.


"Apes bener nasib gue beh gegara si cunguk itu." dumel Daren menatap ke arah Angga yang berjalan di depan mereka.

__ADS_1


Angga cuek tak menghiraukan atau menanggapi ucapan Daren dia tetap berjalan lurus menuju dapur.


"Gue heran dan gak habis pikir, kenapa si cendol sampai bisa jatuh cinta sama cowok tengik yang gak ada adab sama sekali. Apa istimewanya cowok tengik kek dia." gumam Angga sambil geleng kepala.


Pendengaran Daren yang tajam masih bisa menangkap gumaman yang keluar dari mulut Angga.


"Brengsek lu! Lu yang tengik bukan gue njirrr!" hardik Daren siap-siap mengepalkan tinju nya ke arah Angga.


"Hadeuhhh! Kalian ini apa masih kurang hukuman yang dikasih Pak Lukito buat kalian? Awas kalau sampai kalian berantem di depan babe, babe yang akan ngasih hukuman sama kalian." ancam pak Abidin membuat daring dan Angga seketika menjaga sikap.


Pak Abidin terkenal di sekolah bukan hanya sebagai seorang kepala penjaga sekolah tapi beliau juga seorang guru silat hingga membuat murid-murid segan kepadanya. Walaupun begitu Pak Abidin adalah sosok yang sangat humoris dan juga pandai memasak.


Daren dan geng babibu cekcok sering bermalam dan bergadang di sekolah hanya untuk sekedar menikmati ikan bakar dan nasi liwet plus sambel matan khas Pak Abidin.


Dengan komando Pak Abidin Daren dan Angga serta satu orang siswa mengambil air di sungai dengan menggunakan ember yang berukuran sedang. Kondisi sungai yang tak jauh dari Curug dengan airnya yang bening dan banyaknya bebatuan menjadi daya tarik tersendiri buat siapapun yang datang ke sungai itu untuk menikmati kejernihan dan kesegaran airnya.


"ANJIRRR SEGERNYAAAAA!" teriak Daren langsung membasuh kepala dan wajahnya dengan air sungai.


"Norak kok laki bini, tar kalau punya anak jadi anak sableng." cetus Angga sinis ke arah Daren sambil mengambil air dengan ember.


"Pait pait! Kuburan jangan ganggu!" balas Daren tak mau kalah.


" Ogeb!" teriak Angga.


"Nantang lu? Lu pikir gue takut ancaman pak Lukito sama babe? Gak sama sekali! Ayo kita lanjut! Gue eneq dengerin lu nyindir Mulu kek cewek!" tantang Daren.


Byuurrrrr


Angga membuang kasar ember di tangannya ke sungai dan ember itu mengambang hanyut di bawa arus.


Mereka berdua berjalan saling mendekat dengan posisi siap tarung. Saat keduanya hendak saling tinju.


BYURRRR


sebuah batu berukuran cukup besar di lempar seseorang dan jatuh tepat di tengah-tengah mereka berdua hingga air sungai pun menciprat membasahi wajah keduanya.


Angga dan Daren menoleh ke asal batu itu dilempar dan begitu melihat siapa yang melempar batu mata mereka berdua pun membulat sempurna dengan mulut ternganga.


"Aku tak ingin melihat orang yang ku sayangi terluka, bisakah ego di simpan dalam lemari es aja"


~Lola~

__ADS_1


__ADS_2