Off Bucin

Off Bucin
Jodoh Takkan Tertukar


__ADS_3

Langit malam pekat dengan taburan bintang yang jumlah meiliaran begitu indah memanjakan setiap mata orang yang belum terpejam karena kantuk yang belum kunjung datang seperti yang dialami oleh Lola dan Angga.


"Pulang yuk Ndol, udah malam," ajak Angga pada Lola yang masih duduk di teras rumah pohon dengan kaki menggantung ke bawah.


"Guee nginep di sini, lu pulang aja," saut Lola menatap langit malam tanpa menoleh ke arah Angga.


Angga bukannya beranjak dari tempatnya untuk turun ke bawah tapi dia malah mendudukkan bokongnya tepat di sisi Lola.


"Kalau lihat langit tengah malam seperti ini gue ingat saat kemah dulu di pulau cangkir. Lo Masih ingat nggak?" tanya Angga mata menatap langit dengan taburan bintan-bintang dan sinar bulan.


Ada senyum tersungging di bibir berbentuk hati sedikit tebal milik Lola, tatapannya yang jauh ke langit seperti kembali ke masa lalu saat mereka masih duduk di kelas 6.


"Coba seandainya gue nggak pernah pindah ke Jepang mungkin kita masih-" ucapan Angga langsung berpotong kala telunjuk kanan Lola hampir menempel di bibirnya.


"Masa lalu biarkanlah menjadi kenangan Cup, lu hanya perlu maju dan menatap ke depan lalu menata lebaran baru lu. Semangat move on Cup. Ada banyak cinta yang lebih baik dari cinta kita dulu yang akan hadir di kehidupan lu nanti, salah satunya cinta Ari. Cobalah lu berusaha untuk membuka hati, gue yakin lo akan lebih bahagia dibanding sama gue. Fighting Cup, lu harus menemukan cinta itu!" ucap Lola memberi semangat buat Angga untuk bisa move on dari dia.


Angga hanya merespon dengan menghela nafas dalam tentang apa yang dikatakan Lola padanya.


"Lu tau Ndol, semakin keras gue pengen ngelupain lu, semakin gue menyadari betapa gue sungguh menginginkan lu buat kembali sama gue." kalimat move on itu meluncur begitu saja dari bibir Angga.


"Keinginan yang gak mungkin terwujud. Cinta memang layak diperjuangkan, tapi menjadi tak layak jika lu yang berjuang sendirian. Itu semua hanya akan menguras waktu dan tenaga lu. Mo sampai berapa lama? Sampai lu merasa lelah dan bosan sendiri yang akhirnya bikin lu akan frustasi?" balas Lola tersenyum kecut.


Jleb. Kata-kata Lola yang begitu tegas membuat Angga menoleh ke arahnya dan menatap Lola sambil menelan ludahnya yang terasa pahit.


"Apa itu artinya nggak ada lagi tempat buat nama gue di hat lu?" tanya Angga ingin memastikan perasaan Lola.


Lola menoleh ke arah Angga sambil tersenyum tipis.


"Ada, tempatnya sebagai sahabat gak akan pernah lebih. Lu tahu kan sifat asli gue, gue nggak akan pernah kembali ke tempat yang sama," ucap Lola dengan tatapan datar.

__ADS_1


"Hhhff! Iya gue tau. Itu artinya kita akan selalu menjadi best friend forever." kata Angga lirih tak bersemangat.


"Cakep bro gak salah lagi hehehe." ucap Lola sambil memberikan acungan jempol.


"Ndol, lu masih ingat si Nando nggak?" tanya Angga.


"Nando ketua kelas yang paling pinter tapi medit, yang kalau ulangan sampai ditutupin ama mukanya tuh kertas ulangan dan beraninya cuman sama anak cewek and atu lagi, dia saingan lu di kelas." Jawab no Lola begitu komplitnya tentang teman SD mereka.


"Yupz, betul sekali. Kemarin gue ketemu sama dia waktu gue lagi jalan ke tempat futsal. Lo kalau ketemu dia pasti lu kaget banget." kata Angga memancing rasa penasaran Lola.


"Kaget kenapa?" Tanya Lola penasaran sambil mengernyitkan dahi.


"Lo tau kan dia dulu seperti apa gaya hidupnya sok paling pintar di kelas selalu rangking 1 dia juga selalu menyombongkan kekayaan keluarganya. Tapi ternyata roda kehidupan berputar, gue lihat kemarin dia jualan cilok di depan sekolah kita." jawab Angga membuat Lola membelalakkan matanya tak percaya.


"What! Lo gak boong Cup?"tanya Lola masih tak percaya.


Angga hanya mengangguk menjawab pertanyaan Lola tanpa menoleh ke arahnya.


Suara langkah kaki menaiki tangga rumah pohon orang itu tak lain adalah Ari yang membawa tiga cangkir kopi di atas nampan.


"Nih ngopi dulu, biar bisa ngerasain kalo hidup itu gak cuma manis kadang juga pait kaya kopi." seloroh Ari meletakkan nampan berisi 3 cangkir kopi di lantai rumah pohon yang langsung di ambil oleh Lola dan Angga.


"Iya seperti mencintai dia, banyak paitnya daripada manisnya ya Ar wkwkkk." celetuk Lola pada Ari i sambil melirik ke arah Angga.


Angga tetap stay cool menyeruput kopinya sambil menikmati bintang-bintang di langit, sementara Ari hanya tersenyum kecut.


"Cup, impian lu jadi dokter bedah kan?" tanya Lola mulai jail.


"Kenapa emang?" tanya Angga menoleh ke arah Lola.

__ADS_1


Ari yang duduk di sebelah Lola sambil menyeruput kopinya melirik heran ke arah Lola.


"Pantesan aja lu gak pernah bisa bedain orang yang ada di samping gue empedu atau berlian. Harusnya lu alih minat jadi penambang Cup biar mata lu jeli liat permata dari pada liat jarum suntik hehehe." kelakar Lola sambil terkekeh.


"Apaan sih Mut, gajee lu." celetuk Ari gemas dengan candaan Lola untuk nya.


"Ri, emang lu mau jadi pacar gue?" Pertanyaan spontan Angga membuat Lola dan Ari membelalakkan matanya.


"AAWWWW..... KEYEN CUP, AKU PADAMU!" seru Lola langsung teriak girang dengan mulut menganga dan mata membulat penuh.


Sementara Ari masih membelalakkan matanya tak percaya dengan mulut terbuka dan dada turun naik. Lola mengambil telapak tangan kanan Ari.


"Astoge Cup! Langsung keluar keringat dingin tau." ucap Lola kaget bercampur senang.


"Ri, jawab iya mauuuu! Jan bengong aja." kata Lola ikut gemes tapi tak di dengar Ari yang masih terlihat shock dengan pertanyaan Angga.


"RI, ARI SUSANTI!" bentak Lola menyadarkan Ari dari keterkejutannya.


Ari menarik nafas dalam lalu bola matanya berputar-putar ke segala arah. Dia terlihat bingung.


"Sorry gue ngantuk." suara Ari lirih lalu letakkan gelas kopinya dan beranjak dari duduknya dan berjalan menuruni rumah panggung.


"RI! JAWAB DULU! JAN KABORR WEEHHH!" teriak Lola yang tak direspon oleh Ari terus berjalan dan masuk ke dalam rumahnya.


"Dudul! Kenapa lu diem aja sono kejar!" seru Lola pada Angga yang terlihat masih santai dan stay cool.


"Walau gue ngejar dia dan gue genggam kuat, kalau dia bukan pemilik hati gue, dia bakal terlepas juga. Walau gue tolak ke tepi, kalau Ari untuk gue, dia akan datang juga. Itulah namanya jodoh Ndol." saut Angga membuat Lola melongo mendengar kata-kata bijak yang Angga ucapkan.


Angga menyandarkan tubuhnya di dinding rumah pohon sambil melipat kedua tangan di depan dada dan mulai memejamkan matanya. Lola hanya sekilas menatap Angga dengan senyum tipis lalu dia kembali menyeruput kopinya sambil menatap cakrawala malam penuh bintang dari rumah pohon.

__ADS_1


..."Jangan mengejar jodoh karena dia tak akan tertukar"...


...~Angga~...


__ADS_2