
Keempat sahabat Lola saling memandang dengan tatapan penuh tanda tanya, apa sebetulnya yang terjadi dengan Lola. Karena selama ini Lola tidak pernah bercerita apapun dan tidak biasanya Lola bersikap seperti itu.
"BEB! TUNGGU!" teriak Daren segera melangkah mengejar Lola.
Tangan Juwi dengan sigap mencekal lengan Daren dan menahannya hingga membuat Daren tidak bisa bergerak.
"Lepasin Cumi!" mata Daren melotot ke arah Juwi.
"KASIH TAU KITA APA TERJADI ANTARA KALIAN BERDUA!" tandas Juwi marah dengan suara tertahan melotot ke arah Daren.
Daren membalas tatapan tajam Juwi, telapak tangan kirinya mencekal tangan Juwi yang ada di lengannya.
"Kita udah jadian sejak dua bulan yang lalu. Paham Lo." tandas Daren sambil melepaskan cekalan tangan kiri di lengannya.
Ita, Ari, Palupi dan Juwi dibuat melongo dengan perkataan Daren, untuk sesaat suasana seperti sedang mengheningkan cipta.
"Daebak." ucap Palupi sambil tersenyum penuh arti.
"Omegot! Aku terkena serangan hati." ita menimpali.
"Tak terduga di luar harapan." celetuk Ari.
Sementara Juwi dengan bibir mengerucut langsung meninggalkan kantin tanpa berkata-kata, jelas sekali terlihat ada kekecewaan besar di wajahnya.
"Ahhh, kejadian apa lagi yang akan terjadi." gumam Ita memandang punggung yang makin menjauh.
"Dia shock menerima berita ini gays, karena di antara kita berempat Doi sama Lomut jomblo lovers paling deket." Palupi menatap sedih kepergian dua sahabatnya.
"Kita pulang bestie, selera makan gue langsung goib dengar berita ini." Ari beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh kita dan Palupi.
***
Air mata bercucuran di pipi putih Lola, air itu sepertinya tak mampu dia tahan untuk tidak keluar dan mengalir begitu saja. Semakin air mata itu ditahan semakin sesak dada Lola.
"Dudul brengsek!" umpat Lola sambil berjalan setengah berlari menyusuri koridor gedung sekolah dengan wajah tertunduk.
Bruk
"Kalau jalan jangan sambil mulung recehan." suara khas Angga terdengar jelas di telinganya saat tubuh Lola menabrak tubuh tinggi kekar di depannya.
Lola tak menghiraukan ucapan Angga, bahkan menengok ke arahnya pun tidak dia kembali berjalan setengah berlari sambil terisak.
"Tumben gak biasanya cendol drama kek gitu." gumam Angga menatap punggung Lola.
Angga hendak melangkah mengejar Lola tapi langkah itu tertahan saat lengannya dicekal kuat oleh seseorang.
"Jangan buang perhatian Lo pada orang yang salah." kata-kata Daren membuat Angga menelan ludahnya.
__ADS_1
Angga menepis kasar cekalan tangan Daren, bibirnya mengerucut tatapan matanya melotot tajam ke menatap Daren.
"Sekali lagi gue lihat lo bikin air mata dia keluar gue akan tempuh cara apapun untuk kembali ngedapetin dia Camkan itu!" ancam Angga sebelum menghempaskan kasar cekalan tangan Daren.
Bibir Daren mengerucut dengan hidung kembang kempis, saat ini yang ada di kepalanya adalah emosi dan kekhawatiran akan Lola.
"GUE NGGAK AKAN PERNAH NGEPASIN APA YANG SUDAH JADI MILIK GUE! PAHAM LO!" bentak Daren melotot tajam ke arah Angga sebelum berlalu pergi meninggalkan Angga yang terdiam menatap sinis ke arah Daren.
Daren mempercepat larinya menyusul Lola yang sudah sampai di parkiran sekolah lebih dulu. Lola mulai memakai helm dan duduk di jok depan siap melajukan motornya keluar dari parkiran.
"Turun Yank." dengan lembut Daren memohon sambil menahan stang motor Lola.
"Kita akan kencan kan hari Yank? Lo bilang kemarin pengen liat langit cerah tanpa mendung di alam terbuka. Sekarang nggak ada mendung yank, kita jalan ya." bujuk Daren sambil membungkuk menatap wajah Lola yang persis ada di hadapannya.
Lola menyalakan motornya tanpa membalas tatapan Daren dengan wajah dingin dan bibir terkatup. Air mata masih menggenang di kedua sudut matanya.
"Sayang, please jangan ngambek kaya gini, gue takut nanti matahari berubah jadi mendung karena takut kamu jadi tambah marah. Maafin aku ya sayang. Love you." bujuk Daren untuk meluluhkan hati Lola.
"Kita bisa kan Yank ngomongin masalah kita dulu biar nanti gak ada ganjalan. Kamu boleh kok Yank marahin aku atau kalau perlu kamu pukul aja pantat aku pake gagang sapu, tapi please kita bicara dulu ya Yank?" Daren memohon dengan wajah memelas.
Walaupun Lola urakan dan barbar tapi dia pribadi yang sangat mudah untuk di luluhkan jika sedang kesal.
Daren tersenyum saat Lola mematikan mesin motornya dan menggeser duduknya ke belakang.
"Makasih cantik, gue akan ajak Lo liat matahari tanpa mendung." janji Daren tersenyum manis pada Lola lewat kaca spion.
Tebing Koja, itulah nama lokasi wisata alam terkemuka di area Tangerang. Tempatnya memang sangat artistik secara alamiah. Bebatuan tebing curam hasil pahatan alam berpadu harmonis dengan liukan sungai dan hijaunya sawah.
Mulut Lola terbuka saat pandangan nya menikmati keindahan taman Godzilla di daerah solear Tangerang yang baru pertama kali dia datangi.
"Kok gue baru tau ada taman yang indah dan artistik di Tangerang." batin Lola kagum dengan keindahan taman Godzilla.
"Kita Duduk di sana Yank. Tapi pakai dulu topinya biar gak kebakar wajah cantik lu Yank." dari melepas topi yang dia pakai dan memakaikan di kepala Lola.
Mereka berdua duduk di atas salah satu tebing yang tepat menghadap ke arah persawahan dan juga sungai yang mengalir di bawahnya. Langit yang cerah berwarna biru dengan awan putih berarak benar-benar membuat lukisan sang pencipta yang luar biasa indah.
"Minum ini dulu Yank, marah juga butuh tenaga," Daren mengulurkan susu kotak coklat dingin kesukaan Lola.
Lola mengambil susu kotak itu lalu menyeruput isinya dan hanya dalam hitungan menit kotak susu itu sudah kosong.
"Kenapa lo gak bilang, apa gue nggak punya arti buat Lo?" tanya Lola dengan suara serak.
Sejenak hening Daren tidak langsung menjawab pertanyaan Lola, dia seperti sedang mengatur perasaannya untuk mencari kata yang tepat menyampaikan apa yang menjadi beban di hatinya.
"Lo tau Yank saat tadi gue bilang di depan mereka untuk jaga Lo, mungkin gue terlihat baik-baik saja, tapi gue sama sekali tak merasa begitu. Hati gue terasa teriris, pedih rasanya." ucap Daren lirih penuh kesedihan.
Lola mulai terisak mendengar ucapan Daren yang terdengar berat.
__ADS_1
"Maaf selama ini gue nggak buru-buru cerita sama lu yank, itu karena Gue nggak mau hari-hari kebersamaan kita akan dibalut dengan kesedihan." lanjut Daren menengok ke arah Lola yang terisak dengan pipi basah oleh air mata.
"Hhhfffff!" Daren menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara kasar.
Rasa sedih bukan hanya milik Lola tapi juga miliknya, bahkan rasa itu menggunung hampir saja ingin dia ledakan dengan menentang kemauan sang papa.
Tapi dia kembali berpikir untuk membahagiakan tidak cukup hanya dengan cinta karena itulah dia mengikuti apa yang menjadi keputusan sang papa untuk menempuh pendidikan di luar negeri dan mempersiapkan diri menjadi penerus keluarga Bastian.
"Lu tahu kan semua ini gue lakukan untuk siapa dan untuk apa Yank?" pertanyaan Daren yang mudah di tebak dan dijawab tapi sulit untuk di iyakan oleh Lola.
Untuk sekian kali Lola menghapus air matanya dengan jari jemarinya dia memejamkan mata berharap agar air mata itu bisa berhenti.
"Iya gue tau kalau waktu perpisahan diantara kita pasti terjadi. Tapi perpisahan semanis apapun, seindah apapun, tetaplah berpisah. Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan hiks hiks." ucap Lola di sela isak tangis nya.
Daren sedikit memutar duduknya, kali ini dia persis menghadap ke arah Lola.
"Yank, please tersenyumlah dan berhentilah menangis, karena air mata yang lu teteskan hanya akan membuat kaki ini sulit untuk melangkah." pinta Daren.
"Gue janji, walaupun jarak jauh memisahkan kita tapi tangan kita akan terus saling bersentuhan lewat benda ini untuk saling memberi kabar, menjaga hati dan juga melepas rindu." ucap Daren sambil angkat telepon tepat di antara wajah mereka.
"Kalau gue kangen?" tanya Lola.
"Kita vc sepuasnya ampe kangen lu terobati." jawab Daren.
"Yank, untuk saat ini LDR adalah pilihan terbaik buat kita. Karena LDR bentuk pacaran yang sehat agar kita bisa terhindar dari zina. Lo paham kan?" tanya Daren meyakinkan Lola.
Dengan berat Lola mengangguk.
"Sekarang hapus air mata Lo biar wajah cantik di depan gue gak jadi bendungan yang luber dan ganti dengan senyum manis." pinta Daren sambil tersenyum.
Lola berusaha tersenyum sebisa mungkin di antara kesedihan hatinya.
"Yank, kek nya kalau jauh dari kamu aku bakalan gendut deh." kata Daren serius.
"Kok bisa, bukannya kalau jauh dari orang yang disayang itu nggak selera makan?" kata Lola balik bertanya.
"Lah, orang gue kalau dekat Lo tuh harus diet kolesterol Yank." jawab Daren tersenyum.
"Kok bisa, emang kenapa?" kembali Lola bertanya serius.
"Kan gue kalau deket sama cewek cantik dan punya senyum manis kaya kamu gampang jantungan Yank." jawab Daren sambil menatap Lola penuh kagum.
"Dihh, gombal banget sih. Dah lah gue mau pulang takut kalau di sini lama-lama khilaf sama wafer hahaha." Lola beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Daren dengan tersipu malu.
Daren menatap Lola tersenyum lega.
"Gue yakin kita akan baik-baik saja Beb."
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️♥️♥️♥️♥️❤️❤️