Off Bucin

Off Bucin
My Memory


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Nabila, Daren yang biasanya bercanda dengan Nabila kini hanya diam saja wajahnya terlihat kusut dan sedikit tegang seperti dia sedang memeras isi kepalanya untuk memikirkan sesuatu.


Dengan sangat mudah Nabila bisa membaca pikiran Daren.


"Lagi mikirin apa Ren?" tanya Nabila tapi tak mendapat respon Daren.


"Hmm, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya." gumam Nabila dalam hati.


Nabila mengeluarkan tangannya memegang lembut lengan Daren hingga membuat Daren tersadar tiba-tiba.


"Apa beb." ucap Daren spontan buat Nabila membelalakkan matanya terkejut.


"Beb?" tanya Nabila ingin memastikan apakah Daren tidak salah mengucapkan itu.


"Sorry Bil, Gue lagi nggak konsen." jawab Daren seperti orang bingung.


"Oh... kirain." ada nada kecewa diantara kalimat yang keluar dari bibir Nabila.


"Apa ada yang mengganggu pikiran mu Ren? Kamu seperti orang banyak pikiran." tanya Nabila hati-hati.


"Kok lu tahu, apa muka gue kelihatan banget ya kayak orang lagi banyak pikiran?" balik tanya Daren tanpa menjawab pertanyaan Nabila.


"Jelas banget Ren, hahaha." jawab Nabila tertawarannya.


"Cewek itu bukan Bila." batin Daren saat menyimak suara tertawa Nabila.


"La, kita dulu sekolah di mana sih waktu SMU?" tanya dari tiba-tiba memecahkan keheningan.


"SMA Kusuma bangsa. kenapa apa ada sesuatu yang muncul di ingatan tentang sekolah itu?" tanya Nabila mulai penasaran.


"Lu bisa nganter gue ke sono?" tanya Daren meminta.

__ADS_1


"Sekarang?" tanya Nabila memastikan.


"iya. Bisa kan?" tanya Daren kemarin meminta.


"Oke, kalau gitu kita langsung ke sana." jawab Nabila tak bersemangat.


Sepanjang perjalanan menuju SMA kumbang Nabila dan Daren sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ada kekhawatiran besar dalam diri Nabila seandainya Daren mulai ingat tentang masa lalunya, apakah Daren tetap ingin ada untuk mendampingi dia.


"Aku memang egois, tapi aku mohon jangan kembalikan ingatan Daren Tuhan." bisik Nabila dalam hati sambil memejamkan matanya.


Nabila memalingkan wajahnya memandang keluar jendela, ada embun di kedua sudut matanya. Entah mengapa kesedihan tiba-tiba membalut hatinya setelah beberapa bulan kebahagiaan menerangi hidupnya dengan hadirnya Daren dalam sosok yang baru.


"Kenapa Aku ingin mencoba ikhlas dari suatu kehilangan akan dirimu suatu hari nanti tapi gak sanggup Ren?" batin Nabila meratap.


"Bagaimana seandainya lu benar-benar pergi suatu Hari nanti dan kembali sama Lola, Apa yang harus Gue lakukan tanpa lu, rasanya Gue nggak ingin hidup lebih lama lagi." batin Nabila.


Tes


Tepat memasuki waktu maghrib mobil mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah SMU kumbang. Daren langsung turun dari mobil berjalan menuju pintu gerbang.


Gedung berlantai 2 dengan halaman yang sangat luas di mana ada lapangan basket di bagian depannya di kelilingi pohon-pohon akasia di sepanjang jalan terasa begitu sepi dan tenang. Tampak beberapa siswa dan siswi yang masih ada di pinggir lapangan sambil bercanda setelah bermain basket.


"Ya Allah, bukakan kenangan 3 tahun di sini agar aku bisa menemukan cinta sejatiku." bisik Daren lirih hampir tak terdengar.


"SAWITT!!" teriak suara laki-laki membuat Daren yang terkejut dan menoleh ke arahnya.


Daren berdiri diam mematung bingung melihat seorang laki-laki paruh baya berjalan dari dalam halaman sekolah sambil melambai ke arahnya.


"Siapa sawit?" tanya Daren pada dirinya sendiri.


"Dia Pak Abidin penjaga sekolah ini," jawab Nabila tiba-tiba sudah berdiri di depan Daren tanpa Daren sadari.

__ADS_1


Daren menengok sekilas ke samping menatap Nabilah lalu kembali memandang Pak Habibie yang berjalan tergopoh ke arahnya.


"Hhhffffff, hhhfffff...." nafas Pak Abidin terdengar jelas terengah begitu berhenti di depan Daren dan Nabila.


Abidin menarik nafas dalam sebelum mulai bicara, sementara Daren menatap lekat Wajah pria paruh baya di depannya seperti ingin menemukan ingatannya tentang sosok pria yang sekarang ada di depannya.


"Alhamdulilah Wit, Lo udah sehat sekarang." seru Abidin langsung ya memeluk Daren erat-erat melepaskan rasa rindu dan juga khawatir kekhawatirannya selama ini akan nasib Daren.


"Untung Allah masih sayang sama lo Sawit!" ucap Abidin dengan suara bergetar.


Daren hanya bersikap diam tanpa membalas pelukan Abidin tangannya ragu saat ingin mengusap punggung tua Abidin, tapi entah dorongan dari mana semenit kemudian Daren membalas pelukan Abidin. Ada rasa nyaman saat mereka berpelukan itulah yang dirasakan Daren.


"Gue kira Lo udah mati Sawit, tapi gue yakin lu itu anak muda yang kuat nggak mungkin mati segampang itu walaupun elu terluka parah saat itu. Pasti anak Gue Lola demen liat Lo seger buger kek gini." ucap bersyukur spontan penyebut nama Lola.


Daren seketika tertegun mendengar nama Lola, hatinya semakin berdebar. Bayangan wajah Lola, gadis yang selama beberapa bulan dia acuhkan tiba-tiba menari seperti sedang mengejek di pikirannya.


"Pak, bisa antar saya ke tempat kecelakaan itu terjadi besok pagi?" bisik Daren di telinga Abidin agar Nabila tidak mendengarnya.


Abidin menarik tubuhnya dan perlahan melepaskan pelukannya, menatap aneh ke arah Daren saat mendengar Daren memanggilnya Pak.


"Wit, Lo-"


"Permisi Pak, kami pulang dulu," potong Daren sambil berpamitan dan menggandeng telapak tangan Nabila berjalan menuju mobil mereka.


Abidin menatap aneh ke arah Daren.


"Ada apa sama si Sawit, kayak lain gitu." monolognya penasaran.


Bagaimana perjalanan Daren menemukan ingatannya kembali ikuti episode berikutnya


..."Perlahan tapi pasti aku akan menemukan siapa diriku dan siapa kamu saat itulah aku tahu ada apa di antara kita"...

__ADS_1


...~Daren*~...


__ADS_2