
Pengunjung akan semakin betah menikmati hidangan di kedai Bubur Bakar Bang Aslan ini karena tempatnya yang bersih, suasana kedai yang teduh ditambah dengan iringan live musik setiap pagi yang membawakan aneka lagu santai seperti keroncong dan lagu Sunda.
Daren mengambil tempat di sebuah bangku panjang di bawah pohon akasia.
"Ehem," Lola pura-pura batuk berdeham untuk mencairkan suasana ketegangan di antara keduanya.
Tangan Daren langsung terulur meraih sebotol air mineral yang berjejer rapi membentuk sebuah lingkaran kecil di atas meja tempat mereka duduk memesan bubur bakar. Tangan kanannya dengan udah membuka tutup botol lalu tanpa menoleh ke arah Lola menyerahkan botol itu pada Lola.
"Haiisstt, kalau ngambek kayak anak perawan lagi PMS aja nih dudul." batin Lola melirik ke arah Daren dengan senyum terukir di sudut bibirnya.
Lola meminum beberapa tepuk air mineral untuk melegalkan tenggorokannya yang terasa gatal.
"Yang, boleh nanya gak?" tanya Lola membuka suasana hening dan kecanggungan di antara keduanya.
"Hmm." Hanya deham yang keluar dari mulut Daren sebagai tanda mengiyakan.
"Kamu tahu nggak artinya besar pasak daripada tiang?" tanya Lola sambil menatap serius wajah Daren dengan Mimik sok imut yang di buat-buat.
"Lebih besar pengeluaran daripada pendapatan." jawab Daren cepat tanpa titik dan koma.
"Bukan yang itu artinya sayang, ini tuh seperti perasaanku saat ini yang sedang aku alami," balas Lola dengan wajah ditekuk dan tertunduk.
"Emang kamu banyak cek out minggu ini?" tanya Daren mulai sedikit memberikan perhatiannya pada Lola karena dia tau Lola gila olshop.
__ADS_1
"Besar pasak daripada tiang ku bukan yang itu, tapi..... Aku udah sesak pengin dipanggil 'Sayang," ucap Lola masih dengan wajah tertunduk sambil cemberut berpura-pura sedih.
Ucapan Lola tak pelak membuat Daren berusaha menahan senyumnya, saat amarah ada di puncak siap meledak tiba-tiba rasa itu terjun payung bebas di pelabuhan hati yang ternyaman yaitu Lola.
"Njirr, gombalan maut ayang Lola bikin hati gue ingin bersorak girang seperti benderang menang perang tapi gue nggak boleh lemah ." batin Daren menguatkan hatinya.
Karena saking bahagianya mendapat gombalan Lola Daren menahan senyum membuat dia tiba-tiba merasa mulas dan seperti ingin buang angin.
Daren beranjak dari duduknya ingin pergi menjauh sebelum gas beracun itu mengeluarkan bau tak sedap yang akan mengganggu kenikmatan sarapan orang-orang di kedai bubur bakar itu.
"Mau ke mana Yang?" tanya Lola sambil memperhatikan wajah Daren yang meringis menahan sesuatu.
"Gue, aku ma-." jawab Daren tergagap karena panik sambil mengapit kedua kakinya.
"Tuuuttttt," bunyi suara gas yang keluar dari lubang pantat Daren membuat wajah dari langsung memerah karena malam dan hampir sebagian besar pengunjung menoleh ke arahnya.
Lola tertawa geli cekikikan sementara Daren perlahan kembali menundukkan bokongnya di kursi dengan wajah tertunduk malu.
"Wah, pagi ini varian rasa bubur bang Aslan nambah jadi varian buryam bakar aroma vanilla tutttt hahaha," celetuk seorang pengunjung sambil tertawa terbahak dan membuat gerr tawa para pengunjung lain yang mendengarnya.
Lola masih tertunduk sambil tertawa cekikikan.
"Sialan nih perut gak bisa amat di ajak bersekongkol buat ngambek." gerutu Daren makin membuat Lola tambah terbahak.
__ADS_1
Daren pura-pura sibuk dengan benda pipih di tangannya untuk menutupi rasa malu. Lola menarik nafas dalam untuk menghentikan tawanya. Setelah tawanya reda Lola memajukan wajahnya lebih dekat ke arah Daren.
Menatap dengan binar cinta di matanya dan menelisik wajah tampan di depannya itu dengan seulas senyum manis.
"Yang, kamu tau nggak salah satu yang bikin aku lega?" Pertanyaan Lola membuat Daren menatap ke arahnya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Mendengar kamu kentut saja aku sudah bahagia. Karena itu tandanya kamu baik-baik saja" ucap Lola membuat rona merah di kedua pipi Daren.
"Ayang tau, kalau Abang dalam hidup ini sekarang cuma pengen berkecukupan. Cukup liat senyum Ayang tiap hari." balas Daren membuat debar di jantung Lola hingga senyum merekah dengan barisan gigi putihnya terlihat indah.
"Maaf pagi ini bikin kamu marah, Gue gak akan pernah bikin marah Lo lagi," ucap lirih Lola dengan sorot mata penuh sesal.
"Ayang tau gak kalau tatapan mata Ayang memanglah sederhana, namun dapat mengalihkan dunia Abang." balas Daren menatap manik mata hazel pujaan hatinya.
"Lain kali jangan tidur sembarangan ya Yang" pinta Daren lebih seperti perintah.
Lola mengangguk dengan senyum bahagia karena kesalahpahaman di antara keduanya kini telah mencair.
"Ayang gue mana bang Aslan?" tanya Dito salah satu pelanggan bubur yang satu sekolah waktu SD dengan Lola.
"Bukannya masih Lo kandangin ayam Lo dit," saut Bang Aslan sambil tersenyum di sela-sela kesibukannya menyiapkan bubur buat pelanggan.
"HADEHH! AYANG BANG AYANG BUKAN AYAM YA ELAHHH." seru Dito di sambut tawa pengunjung dan bang Aslan.
__ADS_1