
Juwi menatap tajam ke arah Ari seperti hendak menghakimi.
"Please cumi jangan lihat gue kayak gitu, serem tahu." Ari merasa tak sanggup melihat mata kucing Juwi yang seolah hendak menerkam nya dan dia pun memalingkan wajahnya.
"Sampai kapan lu akan seperti ini? Sudah lebih dari 7 tahun Lo simpan rasa sama Ucup, apa lu nggak merasa lelah atau capek? Gue aja ngelihat udah capek tahu Ri. lu sia-siain masa muda lu cuman untuk memendam rasa sama cowok yang nggak pernah memandang Lo sedikit pun." cecar Juwi begitu tajam menohok perasaan Ari.
Ari tetap menghindari bertatapan Juwi, kaki kanannya terus bergerak tak bisa diam. Begitu juga dengan jari-jari tangannya saling mencubit, sementara kedua sudut matanya mulai berembun.
Apa yang dikatakan Juwi bukan sebuah kebencian kepada dirinya tapi lebih pada rasa iba terhadap perasaannya. Ini adalah sebuah bentuk rasa sayang karena sahabatnya itu tidak mau melihatnya terus berada dalam kegalauan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Ada sesuatu yang terjadi sama Ucup yang Lola sembunyikan dari kita dan itu bikin gue kepikiran. Lu tahu kan Wi, selama ini gue selalu berusaha untuk tidak pura-pura bahagia melihat begitu besarnya perasaan Ucup sama Lola. Buat gue selama gue bisa melihat Ucup dan bisa dekat dengan dia serta tahu kabarnya kalau dia baik-baik saja itu sudah bikin gue bahagia." Ari mulai tak kuasa menahan perasaannya dan berbicara apa yang ada di benaknya saat ini.
"Kenapa sama Ucup?" pertanyaan sama Juwi lontarkan seperti yang ada di benak Ari.
Ari menggeleng lemah, kini air matanya sudah tidak mampu dia tahan dengan sikap tenang yang biasa dia perlihatkan.
"Apa Lola yang bilang kalau Ucup tidak baik-baik saja?" tanya Juwi makin penasaran.
"Dia tidak sempat mengatakan apapun kecuali satu kata terpotong, gue sendiri yang nebak kondisi Ucup saat." jawab Ari tampak khawatir.
"Satu kata? Apa itu Ri?" tanya Juwi begitu serius.
"Entahlah. Tapi saat tadi dia ketauan Ngerokok sama lo Lo langsung marahin dan dia bilang udah tahu punya A-." jawab Ari bingung karena hatimu yang saat ini.
"A?" tanya Juwi membulatkan matanya.
Kini keduanya sama-sama bingung saling bertatapan.
Krucukkk
"Dah Jan pikirin itu sekarang bestie. Tuh cacing sudah pada demo di perut kita, maksi yuk." ajak Juwi sambil merangkum pundak Ari.
Mereka berdua pun kembali ke meja berbaur bersama sahabat-sahabatnya, saat melewati sebuah gazebo seketika langkah Juwi berhenti sambil tangannya menarik lengan Ari manakala manik matanya menangkap dua sosok yang tak asing lagi sedang makan siang bersama begitu mesra.
Bagaimana tidak dikatakan mesra saat itu terlihat tangan si cowok sedang mengusap sisa saus yang menempel di salah satu sudut bibir si cewek, dan di balas dengan senyum manja si cewek
"Bang keee!" maki Juwi dengan mata melotot dan bibir mengerucut serta tangannya mengepal..
"Apa Cumi?" Ari tersentak kaget mendengar Juwi memaki sambil menarik tangannya hingga sedikit terpelintir.
__ADS_1
"Dasar cowok brengsek!" Emosi Juwi udah pada puncak, kepalanya rasanya mau meledak melihat pemandangan yang ada di depannya.
Juwi melepas kasar tangan Ari lalu bergegas berjalan menghampiri Gazebo yang membuat darahnya mendidih. Begitu dia berdiri tepat di depan kedua pasangan yang sedang duduk menikmati makan siang.
Juwi menyambar dan gelas berisi jus strawberry dengan kasar membuat sebagian isinya berceceran di atas meja dan beberapa menu di atas meja terkena cipratannya, hingga membuat kedua pasangan itu kaget.
Ari bergegas mengikuti Juwi, betapa kagetnya saat dia melihat apa yang membuat Juwi marah dan seketika Ari juga ikut memuncak emosinya melihat pemandangan yang ada di depan mereka berdua.
"Apa-apaan Lo!" bentak si cowok melotot sambil bangun dari duduknya yang tak lain adalah Daren.
Byuurr
"A***ng Lo! Dasar buaya Lo!" maki Juwi setelah menyiramkan segelas jus strawberry tepat ke muka Daren sehingga tumpahannya mengenai kaos putih yang dia pakai.
Betapa terkejutnya Nabila melihat Apa yang dilakukan Juwi, dia menutup mulut dengan kedua tangannya sambil matanya melotot hampir keluar.
"M***us Lo!" maki Ari sambil berkaca pinggang.
Daren memejamkan matanya dengan dada turun naik dia seperti sedang mengontrol emosinya atau mungkin dia akan meluapkan emosinya kepada dua cewek yang ada di depannya saat ini.
Nabila buru-buru mengambil beberapa lembar tisu lalu membersihkan wajah Daren yang terkena jus strawberry tapi Daren menepisnya dengan pelan.
Beberapa mata pengunjung langsung beralih melihat pemandangan bak sinetron yang ada di depan mereka, cerita tentang perselingkuhan cowok yang ketahuan oleh pacarnya. Itulah yang ada di pikiran para pengunjung saat ini.
Daren masih diam dia sibuk membersihkan wajah dengan tisu dan juga kaos putihnya. Dia terlihat mengacuhkan semua makian Juwi dan juga Ari.
"Ren, Lo nggak papa kan?" Nabila yang terlihat cemas mencoba hendak menyentuh Daren, tapi Daren memiringkan tubuhnya seperti tidak ingin disentuh oleh siapapun.
"HAII, BUAYA TENGIK! LO BUDEK YA!" teriak Juwi meledak sambil menyenggol kasar meja tempat makanan disajikan.
BRAKKK.
Nabila melotot tersentak kaget menatap Juwi.
"Ren, kita pergi aja." ajak Nabila sambil menarik lengan Daren tapi langsung ditepis oleh Daren.
Mulut Daren tertutup rapat dengan rahang mengeras dan terdengar giginya gemeretak tanda marahnya akan segera meledak.
Sementara tak jauh dari tempat kejadian di mana Lola sedang membeli telur gulung tampak si Abang pembuat telur gulung kepalanya celingukan membuat Lola heran.
__ADS_1
"Lihat apaan Bang?" tanya Lola penasaran sambil menoleh mengikuti arah mata Abang telur gulung.
"Kayaknya ada drama keributan neng." jawab Abang telur gulung sambil menyerahkan telur gulung yang sudah selesai dia buat kepada Lola.
"Paling juga labrakan Bang." balas Lola kalem sambil menyerahkan uang 20.000 an.
Suasana cafe sekitar situ Cipondoh tiba-tiba ramai beberapa orang tampak berdiri memperhatikan tempat terjadinya pertengkaran.
"Astaghfirullah! Gaesss bukannya yang lagi gelut tuh sohib kita cumi sama Ari" seru Palupi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat menuju tempat di mana Juwi dan Ari sedang bertengkar.
Ita yang sedari tadi asik sedang bermain game pun tiba-tiba langsung beranjak berdiri diikuti oleh Angga dengan wajah tegang menghampiri Juwi dan Ari.
"Sueb? Bila?" seru Ita dan Palupi bersamaan dan mulut sedikit terbuka karena keterkejutannya.
"Huh" geram Angga dengan wajah masam sambil mencibir.
Daren mengangkat wajahnya menatap tajam ke arah Juwi dengan mulut tertutup rapat mengerucut sambil mengepalkan tangannya.
"CEWEK GILA! SIAPA KALIAN! KENAPA BIKIN MASALAH SAMA GUEE!" bentak Daren melotot.
Deg
"By," gumam Lola tersentak kaget tangannya tak sadar melepaskan telur gulung yang ada dalam genggamannya jatuh di jalan.
Lola berlari menuju tempat pertengkaran dari kejauhan dia melihat Daren yang berdiri di sisi Nabila berhadapan dengan dua seorang cewek yang sedang bertolak pinggang ke arahnya.
"Cumi?Ari?" seru Lola saat melihat kedua cewek itu adalah sahabatnya.
Lola lalu mempercepat langkahnya.
"HEH! DASAR BUAYA GILA! BISANYA CUMA MAIN SELINGKUH! CUIH KUNYUK LO!"
Daren marah bercampur bingung dengan kejadian yang sedang terjadi.
"Lo bilang gue budek! Lo tuh yang budek! Gue tanya siapa Lo kenapa gak Lo jawab malah mencaci maki gak jelas! Dasar cewek gila preman pasar!" balas Daren memaki tak mau kalah.
"WHAT! BRENGSEK LO!" umpat Juwi menyambar sisa kopi di meja dan menyiramkan air kopi panas itu ke tubuh Daren.
Tapi bukan Daren yang kena cipratan air kopi panas itu melainkan Lola yang menarik tangan Juwi menyambar cangkir kopi panas di tangan Juwi hingga kopi panas itu tumpah mengenai sebagian wajah, tangan dan bajunya.
__ADS_1
"Lolaaa!" keempat sahabatnya serempak berteriak terkejut dan menoleh ke arah Lola.
To be continued.....