
Suasana pagi hari, di taman tengah kampus sangat sejuk. Kicau burung bersahut-sahutan. Semilir angin sepoi-sepoi menambah sejuknya udara pagi. Warna-warni bunga yang ada di taman tengah kampus membuat betah orang yang duduk di taman yang dihiasi pepohonan itu.
Taman itu dihiasi beberapa patung bangau putih. Patung-patung itu sangat unik. Di tengah taman terdapat kolam, di tengah kolam terdapat air mancur dan aneka bangku antik dari beragam jenis turut melengkapi Taman tengah kampus di mana Lola kuliah.
Senyum tipis mengembang di bibir Lola sebagai ungkapan kagum akan keindahan yang disuguhkan untuk memanjakan netranya pagi itu, tapi saat pandangannya beralih pada deretan bangunan yang mengelilingi taman kampus dengan beberapa ruang kelas membuat hati Lola seketika anjlok menjadi bad mood.
"Hhhffff." Lola menghembuskan nafasnya dengan kasar hingga dadanya terlihat turun naik.
"Tuh muka kenapa kaya cucian habis keluar dari pengering?" ledek Angga tiba-tiba sudah berdiri di belakang Lola.
Lola menoleh sekilas sambil melempar senyum kecut ke arah Angga yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya lalu wajahnya kembali menatap lurus ke depan menikmati taman.
"Mager gue rasanya Cup." keluh Lola lalu berjalan duduk di salah satu di dekatnya.
Kembali ke kelas dengan hampir semua mata kuliah yang tidak Lola pahami dan sukai membuat Lola terasa malas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.
"Masih sakit Lo? Letoy amat keliatan nya" ucap Angga
Lola menoleh sambil melirik Angga dengan ujung matanya tersenyum masam.
"Kenapa Lo? Kayak mau dipaksa nikah aja tuh muka." seloroh Angga membuat Lola menatap judes ke arah Angga yang dibalas dengan senyum simpul Angga.
"Hari ini akutansi ya Cup?" tanya Lola dengan wajah serius.
"Iya, Kenapa?" tanya Angga kepo.
"Pala gue tiba-tiba puyeng Cup, perut juga mules." Lola memasang wajah meringis kesakitan.
"Serius Lo sakit Ndol? Wajah Lo kok tiba-tiba berubah gitu?" tanya Angga cemas menelisik wajah Lola.
"Hooh. Gue kayaknya mau ijin gak masuk kelas deh Cup." saut Lola sambil memegangi pelipisnya dengan memasang wajah pura-pura sakit.
"Harusnya kalau sakit jangan berangkat istirahat aja dulu di rumah, bandel amat sih Lo jadi orang." ucap Angga kesal bercampur cemas.
__ADS_1
"Kelas Akutansi yang bikin gue sakit tiba-tiba Cup," sahut Lola meringis bercampur menahan tawa.
"Hilih, dasar dudul Lo." balas Angga merasa di prank oleh Lola lalu mereka berdua pun tertawa.
Deg.
Jantung Lola berdetak kencang saat netral nya menangkap sosok Daren yang berjalan dari ujung koridor sambil merangkul Nabila, wajah Nabila tampak begitu bahagia full senyum dan sesekali mereka saling tatap mata mesra melempar senyum.
"Cup, titip ini ya. Tolong Lo kasih ke Ari, gue cabut dulu." pamit Lola sambil menyerahkan paper bag kecil ke arah Angga.
"Wait, jangan kabur!" cegah Angga mencekal lengan Lola hingga membuat Lola menoleh ke arah nya menatap kaget.
"Lepasin gak!" seru Lola dingin terlihat kesal.
"Gak!" ketus Angga melotot ke arah Lola.
Lola balas menatap tajam Angga lalu pandangannya beralih ke arah Daren dan Nabila yang semakin mendekat, wajah Lola mulai nervous dan dengan jelas Angga bisa melihatnya.
"Sampai kapan Lo menghindari hal bullshit kek gini hah?" pertanyaan Angga membuat Lola terkejut tak menyangka kalau Angga tahu sebab kegugupan nya.
Perlahan Angga melepaskan tangannya dari lengan Lola, sementara Daren dan Nabila makin dekat membuat jantung Lola makin tak karuan. Lola dan Nabila saling bertemu pandang sekilas lalu keduanya menghindar.
Saat Daren dan Nabila melewati Angga dan Lola mereka berjalan berlalu begitu saja bahkan tanpa sapa, membuat Lola menelan ludahnya. Menjadi asing setelah dicintai bukan hanya menyedihkan atau menyakitkan tapi lebih dari itu, hati Lola benar-benar hancur. Begitu juga dengan harapannya akan cintanya pada Daren.
"Lihat gue di sini Eb, Lo udah buat hati gue menangis. Gue ingin menyerah tapi tetap tak menyerah. Gue mencoba lupa sama Lo tapi gue terus bertahan untuk bisa kembali dapatin cinta lu. Kenapa lu jadi yang terindah dalam hidup gue. Tapi gue bisa apa untuk bisa memiliki Lo lagi." batin Lola makin terpuruk dengan cinta diam yang makin menjauh dari nya.
Tak terasa kristal bening menggumpal di kedua sudut matanya dan siap meluncur jatuh di pipi putih Lola membuat Lola tertunduk berusaha agar kristal bening itu tidak jatuh.
"Kita cabut, Tii." ajak Angga menggamit lengan Lola menariknya pergi menyusuri koridor tanpa ada penolakan dari Lola.
Angin pagi menjelang Dhuha berhembus semilir menyapa dedaunan membuatnya menari elok gemulai. Sapuan angin terasa lembut mengusap wajah Lola yang terpejam duduk di jok belakang motor Angga.
Sementara di taman depan mushola para night owl sedang berghibah kecuali Lola. Juwi terlihat celingukan sedang mencari Lola yang tak terlihat dari pagi. Dalam pencarian Lola bukan Lola yang dia temukan tapi hadirnya Dua sejoli sedang berjalan mesra menuju ke arah mushola.
__ADS_1
"Cuih! Dasar buaya peak! Pengen gue tampol kepalanya pakai tongkat bisbol tuh kepala biar gak usah mampus sekalian!" maki Juwi hingga dia mengeluarkan kata-kata kasar nya
Ketika sahabatnya menoleh ke arah mana mata Juwi tertuju.
"An**Ng! ****** tuh si sawit sama Ba BI berbulu ular, manusia lucnut!" tak kalah kasar Ita mengumpat sambil mengepalkan kedua tangannya menatap sinis ke arah Daren dan Nabila.
"Teganya Lo Eb Eb, Menyelingkuhi cewek baik seperti Lola itu sama saja lo udah buang berlian hanya untuk mendapatkan sebuah batu." ucap Palupi menatap Daren dan Nabila sambil geleng-geleng kepala dan mengelus dada.
Ari memandangi satu persatu sahabatnya dan mencerna setiap kalimat umpatan yang keluar dari mulut mereka, dadanya tiba-tiba turun naik matanya menjadi merah amarahnya terasa ingin meledak begitu melihat Nabila dan Daren yang tak jauh dari mereka dan sedang beradegan mesra.
Ari menyambar botol air mineral yang ada di atas bangku taman yang sedang mereka duduki lalu dia beranjak dari duduknya berjalan tegak dengan langkah pasti ke arah Daren dan Nabila yang sedang tertawa dan bercanda ria. sementara ketika sahabatnya mengatur duduk tegak serius menantikan apa yang akan dilakukan Ari dengan wajah tegang dan penasaran.
"Ehmmmm!" Ari mengeluarkan batuk jaim nya.
Seketika membuat Daren dan Nabila langsung menoleh ke arahnya, Ari tersenyum menyeringai saat tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Daren, lalu berjalan mendekat ke arah Daren dan berhenti tepat di sampingnya.
Perlahan tapi pasti Ari membuka tutup botol air mineral lalu dengan gerakan seakan-akan hendak meminum, Ari mengangkat botol air mineral itu, tapi bukan untuk meminum melainkan menuangkan isi botol itu tepat di atas kepala Darren hingga membuat si pemilik kepala basah kuyup kepalanya sambil memejamkan mata karena rasa dingin yang tiba-tiba membasahi rambut dan kulit kepalanya serta sebagian wajah dan juga pundaknya.
"Pengen banget rasanya gue pukul kepala lo atau gue jedotin kepala lu ke tembok atau gue dorong lu dari lantai 17 sampai Lu sadar, tapi sayang tangan Gue nggak sanggup melakukan itu karena Gue nggak mau hidup gue di penjara dan gue harap guyuran air dingin itu mampu menyegarkan kembali semua memori lu yang udah tumpul, bahkan untuk mengingat satu nama LO...LA!" dengus Ari geram.
Ari meremas botol air minum itu sekuat tenaga hingga botol air itu menjadi sebesar genggaman telapak tangannya, dia berbalik badan dan pergi dengan langkah tegap penuh kepuasan meninggalkan Daren dan Nabila yang menatapnya terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.
"Lo.. LA?" tanya Daren pada dirinya sendiri penasaran dengan satu nama yang baru saja disebut Juwi.
...Tik, tik, air mataku...
...Biar terjatuh dalam hati...
...Mauku tak penting lagi...
...Biar ku buat bahagiamu...
...Kamu tak tahu rasanya hatiku...
__ADS_1
...Saat berhadapan kam...