
"Kenapa kalian datang ke sini?" panggil Nabila memasang wajah terkejut.
"Lah lu sendiri kenapa ada di sini dan sejak kapan lu ada di sini?" Juwi balas bertanya dengan nada meninggi.
"Gue di sini sejak kemarin gue ikut mobil ambulans yang membawa Daren ke rumah sakit ini." jawab Nabila tenang tapi dari suaranya tampak jelas sekali Nabila tidak menyukai kedatangan mereka bertiga terutama pada Lola.
"Nggak penting sejak kapan lu ada di sini. Gue cuman pengen tahu apa kepentingan lu disini? Emang lu keluarga Sueb?" tanya Palupi ikut sewot sambil mencibir.
"Gue...gue...." Nabila setengah hidup saat menjawab pertanyaan Juwi dan Palupi.
Lola yang sedari tadi diam hanya memperhatikan ketiga orang sahabat dan temannya mulai timbul perasaan curiga dengan keberadaan Nabila di rumah sakit ini.
"Bila sayang, apa operasinya sudah selesai?" tanya seorang perempuan yang sudah cukup berumur tapi masih terlihat cantik dan elegan menghampiri mereka tepatnya Nabila.
Nabila menoleh ke belakang dengan wajah langsung berubah sedhi bahkan sambil berlinang air mata.
"Belum ma, belum ada dokter atau perawat yang keluar dari kamar operasi hiks hiks hiks." saut Nabila sambal terisak.
Wanita cantik yang dipanggil "ma" itu langsung memeluk Nabila. Lola Juwi dan Palupi saling memandang penuh tanya, Palupi merapatkan tubuhnya ke arah Lola.
"Gue pernah lihat mamanya Nabila tapi bukan itu Beb." ucap Palupi berbisik di telinga membuat elang lirik ke arah palupi dengan ujung matanya.
Drama pelukan pun usai, Nabila terlihat mengusap beberapa kali pipi putihnya. Sementara Lola masih diam dan dibuat bingung dengan drama yang baru saja dilihat di depannya.
"Gue yakin Mamud itu mamanya Sueb dan si culas Nabila lagi caper di depan mamud nya si Sueb. Tii, Lo jangan diam aja sapa mamud itu." desak Juwi sambil menyenggol lengan Lola.
Lola diam saja tak bergeming bingung, apa yang dia pikirkan dan harus dilakukan saat ini tidak ada di kepalanya. Yang ada di kepalanya hanya keinginannya untuk melihat keadaan Daren dan ingin ada di sampingnya.
"Dasar Lola." Palupi tampak gregetan melihat sikap Lola tak ada reaksi apa-apa.
"Pagi Tante, kami bertiga sahabat Sueb eh maaf Tan maksud saya Daren Tan." sapa Palupi ramah sambil tersenyum kepada ibu muda itu.
"Oh, mereka teman-temanmu juga ya sayang?" tanya ibu muda itu pada Nabila.
Nabila hanya menjawab dengan senyuman yang dipaksakan.
"Itu orang yang Bila ceritakan kemarin Tan," bisik Nabila sambil menunjuk ke arah bawah dengan ujung matanya.
Karlina langsung melirik tajam ke arah Lola sejenak mereka berdua saling bertatapan. Lola menundukkan kepala sambil memberi senyum, tapi Karlina membalasnya dengan membuang muka.
__ADS_1
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Karlina dengan nada sinis seketika berubah tidak suka dengan kehadiran Lola dan kedua sahabatnya.
"Kami..kami...." ucap Lola terhenti saat melihat lampu di atas pintu operasi padam.
"Operasi nya udah selesai." seru Lola sambil berjalan mendekat ke arah pintu keluar ruang operasi.
Juwi dan Palupi juga ikut mendekat, sementara Karlina dan Nabila saling berpelukan untuk menguatkan. wajah mereka hampir semuanya tampak cemas menunggu dibukanya pintu ruang operasi.
"Ya Allah, semoga Sueb baik-baik saja dan operasinya lancar sukses." gumam Lola di Aamiiin oleh kedua sahabatnya.
Sreekkkk
Begitu pintu ruang operasi terbuka tanpa sebuah bed pasien yang di dorong oleh dua orang perawat. kepala dari yang sudah diperban. Ada beberapa kabel menempel di dada dan juga kepalanya yang terhubung ke sebuah alat medis untuk mengetahui detak jantung.
Begitu juga dengan selang oksigen dan selang infus di tangan kanan, melihat Daren dalam kondisi seperti itu Lola tak mampu menahan tangisnya.
"By ... bangun by.... hiksss hiksss hiksss." ucap Lola sambil mengusap kaki Daren yang terbungkus selimut.
"Jangan sentuh putra saya! Lebih baik kamu pergi dari sini saya tidak ingin putra saya celaka untuk yang kedua kali!" ujar suara pria dari belakang Lola berdiri tegak dengan wajah penuh amarah.
"Kamu dengar apa yang suami saya katakan jangan sekali lagi kamu mendekati putra kami kalau bukan karena kamu dia tidak akan menderita seperti." sambung Karlina.
Lola hanya bisa menangis menatap kepergian ranjang pasien yang membawa Daren didampingi Bastian, Karlina dan Nabila beserta juga para perawat serta dokter. Hatinya benar-benar hancur dan sedih, apa yang diinginkan dia untuk menjenguk Daren dan ada di sisi Daren ternyata mendapat halangan yang besar dari keluarga Daren.
"Ucapkan selamat tinggal untuk Daren La."
batin Nabila saat menengok ke belakang melihat Lola yang tertunduk lesu menangis.
"By...... hiksss hiksss hiksss huuuuuu hiksss." tangisnya pecah tubuhnya masih jatuh ke lantai.
Juwi dan Palupi langsung memapah tubuh lelah untuk berdiri lalu membawanya duduk di salah satu sudut koridor depan ruang operasi.
"Sabar beb." bisik Juwi sambil memeluk tubuh Lola dengan mata menggenang.
"Lu udah lihat keadaan dia, dia masih hidup la dan gue yakin dia akan cepat pulih dan pasti dia akan segera cari lo jangan putus berharap dan berdoa beb," ucapan sambil ikut memeluk Lola dari sisi lain memberi Lola ketenangan dan juga semangat.
"Kita pulang beb, masih ada perjalanan panjang terbentang di depan kita. Jangan menyerah untuk hari esok." ajak Juwi menggamit lengan Lola untuk pergi meninggalkan rumah sakit.
Pagi jelang Dhuha mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan hati dan perasaan yang bercampur, da rasa tenang saat melihat operasi Daren berhasil tapi juga ada perasaan sedih karena mereka tidak bisa ada di samping Daren terutama perasaan Lola yang tak bisa lagi digambarkan.
__ADS_1
***
Hampir seminggu Lola berdiam diri di rumah berkutik di kamarnya dan melihat layar HPnya berharap sewaktu-waktu Daren menelepon atau mengirim pesan di wa-nya. Dia bahkan menolak ajakan beberapa sahabatnya untuk healing atau sebatas kumpul di markas owl night.
Saroh hanya bisa menghela nafas panjang mengintip kamar putrinya saat dia ke atas untuk menjemur baju.
"Neng, makan dulu yuk. Mama masak ayam goreng cabe ijo kesukaan kamu." bujuk Sorah lembut mengintip dari pintu kamar Lola.
"Nanti aja ma, belum lapar." tolak Lola sambil terus menatap layar hp-nya bolak-balik nggak jelas.
Saroh membuka pintu kamar putrinya lalu berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang, kamu hari ini ke kampus loh buat registrasi ulang kalau kamu nggak makan, Mama takut nanti kamu pingsan. Ini hari kedua loh kamu nggak makan sayang." bujuk Saroh lembut.
Saroh membelai lembut rambut putrinya yang lurus tebal panjang sepunggung.
"Nanti aja mah di luar kalo pas keluar." Lola bangun dari tidurnya lalu berjalan keluar kamar sambil menyambar handuk yang ada di kapstok belakang pintu.
"Hufftt. Kenapa harus ada patah hati." Saroh bergumam sambil bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar Lola menyusul putrinya.
***
sementara di sebuah rumah sakit besar di Jakarta Daren masih dalam kondisi komanya di sebuah ruang ICU yang terus dijaga ketat oleh para dokter dan perawat. Di samping nya duduk seorang gadis cantik yang selalu setia sepanjang hari menemani Gadis itu adalah Nabila.
"Ha..us." suara lirih Daren masih dalam keadaan terpejam.
"Daren! Dokter Daren sadarr!" teriak Nabila girang dengan wajah tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Syukurlah! Ren lu dah sadar!" seru Nabila.
begitu melihat manik mata Daren mulai terbuka sedikit.
"Lo siapa?" tanya Daren lirih setelah itu dia kembali memejamkan mata.
"Daren! Daren!" pekik Nabila sambil mengguncang lengan Daren.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Kembang sepatu kembang sederhana
__ADS_1
welcome drink Bambang Daren yang mempesona