
Malam mulai larut tapi entah kenapa mata Lola sulit sekali terpejam, Lola berbaring menatap langit-langit kamarnya. dia mengangkat tangan kanannya menatap bekas luka bakar kopi panas yang sudah mengering dan tidak meninggalkan bekas hitam.
"Apa kabar by." ucap Lola sambil tangan kirinya mengusap lekas luka itu.
Setiap kali melihat bekas luka itu ingatan Lola selalu tertuju pada Daren. Rasa rindu makin memenuhi ruang hatinya tanpa ampun. jari jemari lentiknya meraba tiap sudut tempat tidur untuk mencari benda pipih tempat dia menyalurkan hasrat rindu yang ada dalam hatinya.
"By, lu lagi ngapain sekarang? Apa Lo masih gak ingat gue?" monolog Lola dengan mata berembun sambil mengusap layar LED hp nya di mana wajah Daren full memenuhi layar itu dengan senyum cool dan tatapan mata hazel nya.
Tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat Lola cepat-cepat mengusap kedua sudut matanya.
"Masuk." suara Lola mempersilahkan si pengetuk pintu yang tak lain adalah Anjal kakak nya.
"Nih neng, Aa kasih flash disk masih baru. Kebetulan aa punya dua jadi buat kamu satu bisa kamu pakai buat save data tugas-tugas kuliah kamu nantinya." saran Anjal sambil menyerahkan flash disk.
"Makasih Aa." ucap Lola sambil mengulurkan tangannya mengambil flash disk yang ada di tangan Anjal.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Anjal basa basi.
Diantara keempat saudaranya yang semua cowok, Anjal adalah yang paling jarang ngobrol dengan Lola. Hubungan keduanya begitu dingin, sekali mereka bertegur sapa kalau sedang ada sesuatu yang dibutuhkan.
Anjal adalah sosok cowok yang irit ucap beda dengan Hamid atau Zaidan yang hampir tiap hari selalu ada saja masalah dan keusilan yang Lola lakukan atau sebaliknya
"Jam 5 A," jawab Lola singkat.
"Ohh, dah tidur Jan gadang besok hari pertama Ospek jaga stamina mu. Biasanya kalian sampai sore di jemur di lapangan." pesan Anjal mengingatkan karena dia alumni di kampus tempat Lola sekarang menimba ilmu.
"Iya, makasih Aa flash disk-nya." ucap Lola sedikit berteriak saat keluar dan menutup pintu kamarnya.
Sejenak Lola menatap flash disk yang ada di tangan sambil mengulum senyum, matanya melirik jam dinding yang ada di kamarnya di mana waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Lola kembali berbaring di atas ranjangnya saat matanya hendak terpejam,
"Jan lupa beb ambil air wudhu kalau mau bobo."
Pesan Daren tiba-tiba terngiang di kepalanya, Lola kembali turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Good night by, Assalamualaikum." ucap Lola menatap foto profil Daren sebelum mematikan layar hp nya dan memejamkan mata.
***
"Xixkxi, ayo kejar gue!" tawa seorang gadis dengan setelan jeans di padu hoodie warna putih yang menutupi kepalanya menggoda Daren berlari menjauh.
__ADS_1
Suara lembut dan tawa renyah gadis itu membuat taman yang begitu indah dengan pemandangan bunga di sana-sini semakin mempesona.
Hati Daren berbunga menatap punggung gadis berhoodie putih itu, rasa bahagia memenuhi seluruh benak dan pikirannya. Rasa nyaman juga degup jantung yang berlomba membuat Daren seperti berada dalam puncak bahagia.
"La, Tunggu!" teriak Daren bersemangat mengejar gadis itu.
Gadis berhoodie putih itu hanya tertawa dan terus berlari menjauh dari Daren. Tiba-tiba senyum Daren menjadi kecemasan saat melihat gadis berhoodie itu semakin menjauh dan akhirnya menghilang.
"LAAAA!!" teriak Daren sekuat tenaga
Gadis berhoodie itu hilang entah kemana, Daren kehilangan gadis berhoodie itu kepalanya berputar menyapu taman bunga seketika berubah menjadi Padang rumput hingga tidak terasa air mata Daren menetes.
"LAAA!"
Buk
Daren jatuh telungkup ke lantai, benturan kepala dan tubuhnya di lantai membuatnya tersadar dari mimpi. Yah Daren baru saja bermimpi bertemu dengan gadis yang memiliki suara sama dengan mimpinya di rumah sakit saat itu.
Buk
"Sial, kenapa gue nggak bisa lihat wajah dia?" geram Daren penasaran sambil memukul lantai yang beralas permadani.
"La? Ahhh! Apa mungkin dia Nabila. Iya gadis itu pasti Nabila." monolog Daren menarik tubuhnya bersandar di tepian ranjang.
"Iya ma." saudara yang beranjak dari duduknya di lantai dan berjalan mendekati pintu kamar lalu membukanya.
"Hari ini kamu sudah siap untuk mulai kuliah nak? Kalau belum siap biar Mama telepon Om Gunawan rektor Di mana tempat kamu akan kuliah." kata Karlina penuh perhatian dan kasih sayang.
"Siap ma, kalau di rumah juga malah boring." saut Daren tersenyum tipis.
"Baiklah sayang, kalau gitu sekarang kamu mandi dan dandan sekeren mungkin. Mama akan siapkan sarapan kamu." ucap Karlina tersenyum lalu berbalik badan meninggalkan Daren.
Saat Daren turun ke lantai bawah Dia melihat kedua orang tuanya sedang sarapan di temani Nabila, mereka tampak begitu akrab dan dekat bahkan Nabila seperti putri mereka sendiri tidak sungkan kepada kedua orang tuanya.
"Kesini sayang," ajak Karlina begitu sosok Daren terlihat memasuki ruang makan.
"Duduk dekat papa sayang." ucap Karlina menuju salah satu bangku tepat berada di samping Bastian dan Nabila yang mengelilingi meja makan berbentuk lingkaran
"Liliput udah berangkat ya ma?" tanya Daren menyebut nama adiknya Lilian sapaan akrab yang diberikan oleh dia.
Karlina dan Bastian saling memandang, wajah Karlina tampak terkejut hingga mulutnya terbuka, sementara Bastian masih tampak tenang. Nabila juga sama terkejutnya menoleh
__ADS_1
"Sayang, apa kamu mengingat sesuatu yang lain selain Lilian?" dengan suara lembut dan hati-hati Karlina bertanya.
"Ingat? ingat apa mah?" Darren balik bertanya heran pada Karlina.
"Bukan apa-apa sayang. Sekarang kamu makan dulu, biar kamu nggak terlambat ke kampus." kata Karlina mengalihkan pertanyaan dari setelah mendapat isyarat dari Bastian agar dia tidak mengusik masalah ingatan Daren lewat kedipan mata.
"Iya Ren buruan sarapan hari Senin biasanya apalagi arah ke kampus kita." timpal Nabila.
Setelah selesai sarapan Nabila dan Daren berangkat ke kampus menggunakan mobil Nabila. dengan senang hati Nabila siap menjadi sopir pribadi Daren selama Daren masa pemulihan.
Begitu mobil Nabila memasuki area kampus suasana sudah ramai terutama banyaknya mahasiswa dan mahasiswa yang memakai baju hitam putih dan almamater kampus dengan caping sebagai topinya sambil membawa umbul-umbul yang terbuat dari tali rafia.
Visual Maba Ospek
"Apa mereka mahasiswa baru seperti kita?" tanya dari Daren kenapa dia tidak berpakaian seperti para Maba yang lain.
"Karena kamu spesial, Jadi mereka tidak mengikutkan kamu untuk mengikuti ospek seperti Maba yang lain." jawab Nabila sambil tersenyum simpul.
"Huh, spesial apa diskriminasi?" cetus Daren sinis.
"Om Bastian meminta izin sama Om Gunawan agar kamu tidak mengikuti ospek karena kondisi kamu belum sepenuhnya pulih Ren, Itu alasan utamanya." ucap Nabilla.
Penjelasan Nabila membuat Daren tersenyum kecut memandang kumpulan para mahasiswa baru yang berkumpul di lapangan tengah kampus baru mereka bersiap memulai pembukaan ospek.
Di antara barisan mahasiswa Itu tampak Lola dan para sahabatnya tertawa dan saling bercanda saat acara baru akan dimulai. Begitu juga dengan Angga yang selalu stay cool memasang wajah datarnya.
"Beb, luka Lo dah kering ya?" tanya Juwi yang masih saja mengkhawatirkan luka bakar Lola.
"Udah say, don't worry be happy hehehe." keceriaan kembali menghiasi wajah kita juga dengan celotehannya.
"Pokoknya gue bakal jadi babu loh sampai luka Lo hilang beb," janji Juwi ingin menebus rasa bersalahnya.
"Dih ngapain lagi Lo jadi bubu gue, emang gue anak sultonah apa Xixixi." saut Lola tertawa renyah.
"La?" Daren yang berdiri tak jauh membelakangi bawa dan teman-temannya tersentak mendengar tawa Lola.
Daren langsung membalikan badan meneliti setiap mahasiswa cewek yang ada di sekitarnya untuk mencari tahu siapa pemilik tawarnya renyah itu.
"Permisi, permisi!" Daren menyibak satu persatu kerumunan mahasiswa untuk mencari sumber suara.
__ADS_1
Apakah Daren bisa menemukan nya?
to be continued....