Off Bucin

Off Bucin
Kepergok


__ADS_3

..."Hal yang aneh saat aku chat sama kamu itu, notifnya di HP tapi getarnya di hati."...


...Daren...


Berjalan menyusuri lorong kampus dengan perasaan campur aduk membuat Lola tak bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat kesal tapi juga bingung.


"Sialan, dasar Ucup peak. Bisa-bisanya dia bicara kayak gitu, emang dia tahu apa perasaan gue. Sok ngehakimin gue seenaknya sendiri." gerutu Lola kesal.


"Ndol! Tunggu!" seru Angga mengejar Lola.


Lola langsung menghentikan langkahnya, matanya terpejam dengan urat wajah mengumpul semua di tengah. Tampak jelas sekali kekesalannya. Lola berbalik badan langsung menatap Angga hingga membuat Angga kaget dan menghentikan langkahnya tepat di depan Lola.


"Huuhhh!! Bisa nggak sih Lo panggil nama Gue dengan benar Ucup peak!" bentak Lola geregetan hingga terdengar giginya gemeretak dan kedua telapak tangannya mengepal.


"Lah, kan emang gue bener manggil nama Lo. Cendol." sahut Angga tanpa rasa bersalah.


"Astaghfirullah! Nama Gue Lola Anggraini dudul!" bentak Lola sambil mendelik ke arah Angga.


"Tau Gue, gak usah Lo nyewot gitu." balas Angga melotot ke arah Lola.


Keduanya tampak seperti sedang siap berperang.


"Ya udah kalau gitu Lo panggil sesuai nama Gue! Jangan Ndal Ndel Ndol!" perintah Lola kesal sambil menghentakkan kaki dan kembali berjalan meninggalkan Angga.


"Haiisstt! Tuh Doi lagi PMS apa ya ngegas mulu." cetus Angga bingung dengan perubahan sikap Lola yang biasanya slow respon.


Angga mempercepat langkahnya mengejar Lola hingga kini mereka berjalan beriringan. tangan Angga merogoh saku tas ranselnya kalau dia mengeluarkan botol minuman yogurt rasa leci dan menggenggam kan di telapak tangan kiri Lola.


"Nih minum dulu, biar nggak darting Lo pagi-pagi." perintah Angga tanpa menoleh ke arah Lola dan setelah itu dia berjalan mempercepat langkahnya meninggalkan Lola.


"Dasar Ucup peak kang ngambek." gumam Lola memandang punggung Angga dengan seulas senyum.


Begitu langkah ringan Lola memasuki kelas tatapan matanya menyapu ruang kelas yang masih terlihat sepi dan hanya ada beberapa mahasiswa yang terlihat duduk di bangku kelas dan tatapan mata hasil itu berakhir pada sosok yang duduk paling belakang dekat jendela yang tak lain adalah Angga.


"Coba seandainya hati Lo bisa kebuka buat Ari Cup, gue yakin kalian akan bahagia. Dan mulai hari ini Gue akan nyatuin kalian berdua gimanapun caranya." janji Lola pada dirinya sendiri saat matanya tak sengaja bersitatap dengan mata Angga.


Lola menghela nafas panjang, kakinya melangkah mendekati sosok cowok yang pernah singgah dan menetap di hatinya selama berapa tahun. Cinta masa kecilnya yang selalu membuat dia bersemangat menjalani hari-hari di masa lalunya, di mana sosok itu kini hanya menjadi seorang sahabat seiring memudarnya perasaan dan rasa cinta yang ada di hatinya.


"Geser." perintah Lola saat dia sampai tepat di meja Angga.


"CK," decak Angga jaim mengangkat bokongnya dan memindahkan di kursi sebelah.


"Tie, ntar pulang ngampus kita nonton film yuk. Ada film horor baru loh." ajak Lola mengawali pembicaraannya untuk memancing Angga.

__ADS_1


"Hmm." sahut Angga malas tanpa menoleh ke arah Lola tidak seperti biasanya yang selalu perhatian.


"Hmm, hmm, hmm. Sariawan apalagi sableng Lo." gerutu Lola kesal.


"Serah." saut Angga singkat sambil mata dan jempol kanannya asik pada layar ponsel di tangannya.


"Ohyeh, Gue bilang ke yang lain." balas Lola bersemangat lalu menghubungi sahabat-sahabatnya untuk Mabar sore ini sehabis pulang kuliah.


"Hai semua." sapa Nabila dengan ramah pada seisi kelas sambil berjalan menggandeng lengan Daren.


Lola hanya tersenyum tipis lalu pandangannya kembali pada layar HP di tangannya.


Tatapan mata Daren menatap Lola dengan binar cinta bercampur cemburu manakala melihat cowok yang duduk di sebelahnya bukan dirinya melainkan Angga.


"Harusnya Gue yang ada di bangku itu bukan si nisan kuburan. Menyebalkan." gerutu Daren dalam hati.


"Duduk di sini aja ya Ren." ajak Nabila dengan suara manja sambil menarik dan mengusap lembut lengan Daren.


"Hmm." saut Daren sedikit malas.


Sesekali Daren menoleh sedikit ke belakang sambil melirik dengan ujung matanya ke arah Lola dan Angga yang sedang berbincang dengan santai diselingi tawa.


"Nyebelin, bahas apaan sih mereka bikin darah tinggi aja." sungut Daren kesal.


"MUT!" panggil Ita dengan suara cemprengnya begitu memasuki kelas Lola.


"Tiket online udah gue beli ya. Lu jangan pesen lagi. Ucup ngikutkan?" kata Ita sambil bertanya.


"Siipp, thanks bestie." saut Lola sambil mengacungkan jempolnya ke arah Ita.


"Tiket? Apa mereka mau Mabar?" tanya Daren yang mendengar percakapan mereka dalam hati.


Daren langsung menyalakan layar hp-nya dan mengetik pesan buat Lola.


My Princess


Mo Mabar ya Yank?


Daren kembali menengok sedikit ke belakang memperhatikan bahwa apakah sudah membuka pesan wa-nya.


"Sitt! Ayang malah asik ghibah ma nisan kuburan bukannya baca wa Gue." geram Daren dalam hati dengan bibir mengerucut.


setelah 3 menit pesannya tidak dijawab dan diabaikan oleh Lola, Daren nekat menelepon Lola

__ADS_1


Drett Dreettt Dreettt


Lola meraih HP yang ada di atas meja di depannya lalu seulas senyum tersungging di bibirnya. Lola bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar meninggalkan kelas.


"LA!" seru Angga tapi hanya dibalas dengan lambaian tangan.


"CK, telpon dari sapa ya?" pikir Angga penasaran sambil mengerutkan dahi.


Melihat Lola keluar tak lama kemudian Daren beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan kelas menyusul Lola mengambil arah yang berlawanan


"Assalamualaikum sayangnya Abang." sapa Daren mengawali percakapan telepon.


"Hahahaha. Waalaikumsalam Abang sayang punya akoh wkwkkk." balas Lola ikutan alay.


"Dih kenapa pakai ngakak Yang?" tanya Daren terdengar heran.


"Belum terbiasa aja by, hehehe." balas Lola.


"Biasain lah yang," pinta Daren sambil berdiri bersandar di tiang koridor menatap ke arah Lola yang duduk di taman tengah menghadap arahnya.


"Iya tar Gue biasain by." saut Lola tersenyum manis ke arah Daren.


"Subhanallah, senyum ayang bikin hati Abang berasa sejuk serasa hembusan angin surga di hati Abang," ucap Daren mulai gombal gembel sambil melempar senyum manis ke arah Lola.


Mendengar kata-kata rayuan mesra Daren tak pelak membuat rona merah di wajah Lola.


"By, Kamu tadi sarapan sandwich campur apa? Kok manis banget kata gombalannya bikin Aku melayang kayak kupu-kupu di taman." tanya Lola menatap Daren sambil mengangkat kedua alisnya.


"Campur kangen dan sayang kamu yang." jawab Daren tersenyum membuat rona merah bersemu di wajah Lola.


"Ayang, Kalau boleh tahu tadi Ita ngomongin soal tiket. Tiket apaan ya?" tanya Daren mulai mengungkapkan niatnya menelepon Lola.


"Iya By, mo Mabar film Qorin." jawab Lola.


"Apa nisan kuburan juga ikut?" tanya Daren membuat Lola mengernyitkan dahi.


"Iya, emang kenapa?" tanya Lola heran.


"Batalin." pinta Daren menatap lurus wajah Lola serius.


"Lah, gak bisa gitu lah. Lagian kita kan perginya rame-rame nggak cuma berdua sama dia." tolak Lola memprotes.


"Pokoknya Abang nggak mau Ayang nonton bareng dia, kalau Ayang tetep nekat Abang akan bilang sama Nabila semuanya." ancam Daren.

__ADS_1


"Apa yang akan Lo bilang ke Gue Ren?" suara Nabila tiba-tiba sudah berdiri di belakang Daren membuat Daren langsung berbalik ke belakang dengan wajah terkejut


Bagaimana cerita selanjutnya yuk next episode.


__ADS_2