Off Bucin

Off Bucin
Debat


__ADS_3

Dengan berlari centil Palupi memasuki gerbang kampus.


"Astaga naga kenapa juga mama gak bangunin gue, jadi gagal cantik kan di hari pertama Ospek." gumam Palupi kesal.


"BERHENTI!" suara Bass cowok menghentikan langkah Palupi yang sedang berjalan menuju lapangan tempat mahasiswa baru berkumpul.


Palupi berdiri tegak tanpa menoleh ke asal sumber suara itu yang ada di belakangnya.. Seorang senior cowok dengan wajah yang ganteng berpostur tinggi tegap mendekatinya. Senior itu memutari Palupi dengan memasang wajah galak menelisik Palupi dari ujung rambut sampai ujung kaki .


"Ckckck, ini baru cecan." batin senior itu memuji sambil memegang dagu dengan salah satu tangannya.


"Kamu tahu sudah jam berapa ini?" tanya senior itu.


"Jam setengah sembilan kakak." jawab Palupi dengan suara manjanya.


"Duh Gusti, suaranya bikin hati nyesss." batin senior itu mulai tampak nervous tapi tetap jaim.


"Kenapa kamu bisa datang kesiangan? Padahal kamu tahu hari ini ospek mulai jam berapa?" bentak senior itu pura-pura galak.


"Maaf kak, rumah saya jauh." saut Palupi.


"Emang di mana rumah kamu?" tanya senior itu tetap dengan suara galak.


"Di Tigaraksa kak, semalam saya menginap di rumah nenek saya Karena nenek kurang sehat jadi untuk beberapa hari saya yang menemani kak." jawab Palupi memberi alasan.


"Jauh juga ya? Ya udah mulai besok saya akan yang akan jemput kamu biar kamu tidak terlambat lagi." ucap senior cowok itu sebelum ngeloyor pergi meninggalkan Palupi yang dibuat bengong.


"Dihh, modus. Dasar cicak kiprit bikin gue senam jantung aja pagi-pagi" gerutu Palupi menatap kepergian senior itu sebelum dia bergabung dengan teman-temannya di lapangan.


Sementara itu berbeda dengan Ari yang bersiap hendak meninggalkan area kampus saat tiba-tiba langkahnya terhenti oleh sebuah tangan yang mencekal lengannya.


"Siapa yang suruh kamu ninggalin acara ospek?" tanya Rasyad menatap Ari tajam.

__ADS_1


"Ga ada. Aku cuma nggak mau rugi di sini, walaupun aku tahu ancaman kamu itu bullshit banget. Dan Kaka perlu ingat kalau aku bukan maba yang gampang Kaka bodoh-bodohin hanya untuk alasan senoritas." jawab Ari tenang tanpa ekspresi.


"Jangan berasumsi sendiri tujuan daripada ospek adalah mengenalkan mahasiswa pada lingkungan kampus dan segala aturan-aturannya serta membuat mahasiswa lebih disiplin dibandingkan saat dia masih di SMA." debat Rasyad diplomatis tak mau kalah.


"Heh, nggak salah kakak bicara masalah disiplin dan membandingkan dengan kedisiplinan masa SMA? Lihat kerumunan mahasiswa di luar padahal jam kuliah sudah mulai tapi mereka cuek saja begitu juga pintu gerbang tidak digembok, beda dengan kita waktu SMU kalau kita masuk ke sekolah jangankan telat setengah jam telat 5 menit saja kita harus nongkrong di luar sampai guru BP datang dan bukakan pintu dengan segala syarat untuk kita. Dan coba perhatikan penampilan mahasiswa itu yang baru datang hanya memakai pakaian ala kadarnya sementara kita di SMA kalau seragam kita tidak mengenakan ikat pinggang saja, kita disuruh menyapu halaman atau memunguti sampah yang ada di sekitar sekolah. Jadi mahasiswa di kampus itu lebih bebas dibandingkan dengan masa waktu kita SMA." balas Ari mendebat tak mau kalah.


"Kamu ini bener-bener cewek keras kepala dan dan gak punya sopan santun sama senior." geram Rasyad emosi.


"saya merasa sudah sopan saat tadi saya salah langsung minta maaf lalu apakah dikatakan sopan kalau saya juga harus menerima hukuman yang terkadang nggak masuk akal? Apa itu yang kakak anggap sopan?" jawaban dan juga pertanyaan Ari yang membuat Rasyad terdesak.


"Kamu ini ya!" ujar Rasyad sambil mengepalkan telapak tangan seperti hendak meninju.


"Maaf saya permisi kak," ucap Ari ngeloyor pergi meninggalkan Rasyad yang dalam keadaan kesal


"Dasar cewek psiko ," geram Rasyad memandang punggung Ari yang makin menjauh menuju parkiran.


***


Tak jauh dari kampus di sebuah cafe ternama Daren dan Nabila sedang menikmati secangkir kopi dan coklat panas sambil menikmati lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang sibuk memulai aktivitasnya pagi menjelang siang ini.


"Kalau gue kangen?"


"La," panggil Daren tiba-tiba saat suara cewek itu muncul kembali dalam ingatannya


"Ya," saut Nabila melihatnya heran sambil mengernyitkan dahi.


"Shitt!" geram Daren saat tidak bisa mengingat suara siapa itu.


"Ren, Lo gak papa kan?" tanya Nabila tampak cemas sambil memegang lengan kekar Daren.


Daren perlahan membuka mata lalu menoleh ke arah Nabila yang terlihat mencemaskan dirinya.

__ADS_1


"Ada apa Ren?" Nabila kembali bertanya penasaran.


Sesaat Daren terdiam tidak menjawab pertanyaan Nabila, dia malah menatap wajah cantik yang ada di depannya. Tampak dari sorot mata Daren ada sesuatu yang ingin dia cari dari cewek yang sekarang ada di depannya.


"Apa gue ada salah sama lu ya, sampai ngelihatnya kayak gitu?" tanya Nabila mulai tidak nyaman di tatap seperti itu oleh Daren.


"Boleh gue tanya sesuatu dari Lo?" Daren balik bertanya.


"Apa?" tanya Nabila kembali mulai nervous ditatap seserius itu oleh Daren.


"Seberapa dekat hubungan kita sebelum kecelakaan itu?" tanya Daren serius ingin tahu tentang masa lalunya.


Nabila mengatur duduknya senyaman mungkin dengan menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada persis seperti apa yang dilakukan Daren.


"Dari sejak kita masih SD kita dekat, bahkan gue ingat banget waktu kita di kelas 3 kita sering berbagi bekal. Lu juga selalu nolong gue kalau ada anak-anak cowok yang jahil dan gangguin gue. Ditambah lagi Mama kamu adalah sahabat baik mamaku sejak mereka sama-sama di SMA." cerita Nabila bersemangat hingga wajahnya berseri-seri mengingat masa kecilnya bersama Daren.


"Lanjut " Daren terlihat serius menyimak cerita nabi.


"Begitu juga waktu SMP kita selalu pulang dan pergi ke sekolah bersama karena kita nggak pernah nggak satu sekolah. Dan saat kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan kamu yang selalu nemenin aku, waktu kita masih di kelas 2 SMP." suara sedih langsung terdengar dari mulut Nabila.


"Maaf gue lupa semua itu, pasti Lo mengalami masa-masa sulit saat itu terjadi." ucap Daren bersimpati.


"Iya, tapi untungnya kamu selalu ada buat aku Ren. makasih ya untuk itu semua." balas Nabila berterima kasih sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan dada.


Di luar awan hitam sudah berganti menjadi hujan yang turun dengan derasnya, Daren mengalihkan pandangannya ke jendela menatap hujan yang turun dari langit seperti ditumpahkan membasahi tanah.


"Kasihan." monolog Daren tiba-tiba teringat pada para mahasiswa yang sedang Ospek di kampus.


"Siapa?" tanya Nabila penasaran.


"Nothing." ucapkan Daren menyudahi pembicaraan.

__ADS_1


...Usai hujan mereda, matahari pasti akan muncul menerangi bumi kembali. Seperti masalah di titik nadir akan hilang berganti bahagia...


...~Kasih/author ~...


__ADS_2