
Lola duduk termenung di meja belajarnya. Jam dinding menunjuk angka 4 pagi. Pagi buta ini, Ia berniat belajar semaksimal mungkin. Karena hari ini akan diadakan UTS atau ujian tengah semester akan dilaksanakan serentak di seluruh mahasiswa di kampusnya.
Lola tampak bingung mau mulai belajar darimana, dia mulai membuka laptop dan mencari beberapa soal ujian semester tahun lalu di Mbah Google.
"Matematika yang terhormat, mohon tumbuh dan selesaikan masalahmu sendiri, aku lelah memecahkannya untukmu."
"Gue heran sama para pendidik itu, kalau kita ngadain ujian di negara kita diperlukan 15 pohon untuk menghasilkan jumlah kertas yang kita gunakan untuk satu ujian." gumam Lola serius berpikir sambil menahan dagu dengan kepalan tangan kanannya.
Lola lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di depan cermin dengan tegak lalu dia mengacungkan satu tangannya ke atas sambil jari jemarinya mengepal bak seorang pejuang demo di depan kantor dewan.
"Wahai para pelajar dan mahasiswa!Bergabunglah bersama kami dalam mempromosikan tujuan mulia menyelamatkan pohon. Katakan tidak pada ujian!!" teriak Lola berorasi dengan suara lantang di depan cermin.
Ceklek
"Ckckck. Padahal baru ujian tengah semester ya, bukan ujian hidup. Namanya juga mahasiswa, ujian bakal terus menjadi lawan eh kawan yang bakal nemenin teteh sampai lulus nantinya. Bahkan, setelah lulus nanti nggak ada yang menjamin kalau hidup teteh akan terhindar dari ujian karena masih ada ujian hidup yang mau nggak mau ujian emang harus dihadapi Teteh Lola paling cantik seRT." celetuk Hamid tiba-tiba muncul di pintu kamar dengan kata bijaknya.
Lola berjalan mendekati Hamid lalu dia menempelkan telapak tangannya di jidat adik kandungnya yang beda 3 tahun dengannya.
"Perasaan suhu badan normal kenapa mulut lo tiba-tiba seperti mulut suhu?" ucap Lola memasang wajah bingung.
"Dasar ego lu teh, di kasih nasehat malah gak jelas. Emang di kira gue gak waras kali ya," ucap Hamid sambil menepis tangan Lola dari jidatnya.
"Omongan Lu sungguh penuh dengan
kata-kata benar dan bijak tapi tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya sendiri." sindir Lola sambil mengangkat sudut bibir kanannya.
"Maksud lu apa teh?" tanya Hamid mendengarkan wajah ke arah Lola terlihat mulai kesal.
"Lu tuh! Baru juga diuji masalah cinta dah galon 7 hari 7 malam kagak keluar kamar dan cuci muka pakai air mata cuman gara-gara lu diputusin sama si Tika yang matre abis, wekk!" ledek lalai sambil menjulurkan lidah ke arah Hamid.
__ADS_1
"Siapa juga yang kayak gitu gue kagak tuh,. Gue kemarin kagak keluar kamar bukan karena gue galau gara-gara diputusin cinta sama Tika teh, tapi gara-gara gue kagak punya duit. Males lah kagak punya duit keluar rumah emang keluar rumah kagak modal apa," jawab Hamid ngeles sambil berkacar satu pinggang.
"Sokorrrrrrr!! Lo tuh kalau sama keluarga pelit giliran sama cewek aja lo gampang banget dibodohin, makanya syukur aja duit lu abis cuman buat manjain cewek doang yang ujung-ujungnya juga dia selingkuh kan sama cowok lain? Kurma itu Dudul!" umpat Lola kesal melihat kebiasaan adik kandungnya yang suka bucin sama pacar.
"Lah, gue kan cowok sejati teh. Wajar kan kalo Gue berkorban nyenengin hati mbeb gue wehh," ucap Hamid sambil menepuk dan membusungkan dadanya.
"Gayanya cowok sejati, pretttttt. Lu tuh barisan para pacar yang takut diputusin makanya mau berbuat apa aja bahkan jadi kacung cewek juga mau. Dasar calman mlempeng kerupuk alot!" ledek Lola makin menjadi.
"Kakak kagak punya akhlaq, Ade sendiri di-,"
Belum sempat hamil menyelesaikan kata-katanya telapak tangan Lola refleks menutup mulut pamit dengan telapak tangan kanannya saat ada panggilan telepon masuk di hpnya.
"Halo, Lup-"
"Hikss, gue boleh kan nginep tempat lu Mut?" potong Palupi sambil terisak.
"I-iya boleh. Lu dimana sekarang?" tanya terdengar cemas.
Lola buru-buru menutup teleponnya dan berjalan menuju balkon yang tepat berada di depan kamarnya, saat mitranya jatuh ke bawah Dia melihat Palupi sedang berdiri tertunduk dalam.
"Tie! Naik sini!" terak Lola dari balkon lantai atas.
Pak Lupi mendongakkan kepalanya lalu mengangguk dan berjalan masuk dalam rumah Lola. Lola bergegas kembali ke kamarnya lalu dia merapikan tempat tidur yang berantakan.
"Muttt, hiksss." ucap lirih Palupi dengan mata sembab berlinang menghambur memeluk lola.
"Why?" tanya Lola lirih di telinga Palupi dengan dada berdegup lebih cepat.
"Ryan Mut, hiksss," jawab Palupi sambil terisak.
__ADS_1
"Hhhfff, dari awal harusnya Lo udah tahu kalau kejadian ini bakal terjadi cepat atau lambat Lup." Lola melepaskan pelukan Palupi.
"Tapi gue nggak rela, dia lebih memilih Keke daripada gue, hiksss." ucap Palupi kecewa.
Lala melirik sahabatnya dengan ujung matanya lelah Hati ada rasa kasian bercampur kesal pada Palupi salah satu sahabatnya yang paling mudah diperdaya dan tergoda oleh para buaya.
Palupi yang cantik sambel dan mudah jatuh cinta seperti menjadi magnet tersendiri dari para cowok ganteng untuk mempermainkan perasaan dan dia entah coba yang ke berapa yang sudah membuatnya patah Hati.
Lola menarik nafas dalam lalu dia menguasai pundak Palupi lembut.
"Udah jangan dipikirin belajar terima nasib lu, lagian dari awal kan kita udah bilang sama lo jangan pakai hati sama cowok apalagi cowok modelan buaya kayak si Ryan." ungkit Lola pada sahabatnya.
"Tapi kali ini beda Mut perasaan gue sama dia, gue sayang banget cinta gue dulu sama dia." bantah Palupi.
"Terus lu maunya apa Lup lup? Gue kagak ngerti deh harus gimana ngasih saran supaya lu ngebuka mata dan juga hati lu kalau dia bukan cowok yang baik buat cewek sesempurna lu. Elu tuh cuma dimanfaatin sama dia, dan dan yang bikin gue kesal lu mau diduain sama buaya comberan kaya dia." tandas Lola mulai terpancing emosi.
"Please Mut, jangan jelekin dia terus. Gimana pun juga gue masih sayang sama dia." pinta Palupi tetap membela Ryan.
"Terserah lu deh, gue bingung mau ngomong apa. Lho kalau mau tidur sini silakan tapi gue nggak bisa temenin lu ngobrol karena Gue mau fokus buat ujian besok." ucap Lola sebelum pergi meninggalkan kamarnya.
"Hikss huhuhuuu hiksss huuuu." Tangis Palupi semakin tak terbendung tanpa rasa malu.
Saat Lola hendak turun dari tangga, lengan kirinya dicekal oleh Hamid.
"Mo kemana?" tanya Hamid penasaran.
"Kamar Zidan." jawab Lola acuh.
"Dihh temen gak solider, masa teman lagi sad ditinggal sendirian," cela Hamid dengan mimik tak suka.
__ADS_1
"Lo aja deh temenin dia, sama-sama kan bucin yang lagi galon akut gue mo belanja buat ujian besok." saut Lola menarik tangannya dari cekalan Hamid yang melongok bingung melihat ke arah kamar Lola.
"Hah! Masa gue," gumam Hamid sambil garuk-garuk kepala.