
Setelah menjemput Juwi 40 menit kemudian Lola sudah sampai di kampus perpanjangan motor dengan keduanya langsung menuju tempat nongki mereka bersama sahabat yaitu di depan mushola.
Jika mahasiswa lain sebelum memasuki kelas lebih suka ke kantin, ke toko waralaba atau ke cafe yang ada di sekitar kampus untuk sekedar sarapan atau menyapa. Hal ini berbeda dengan Lola dan teman-temannya mereka lebih senang menghabiskan waktu menunggu jam kuliah berkumpul di depan taman mushola.
"Assalamualaikum epribadeee!" teriak Lola sambil melambaikan tangannya ke arah Ita, Ari dan Palupi yang sudah lebih dulu datang.
"Waalaikumsalam Bu ustad!" jawab ketiganya kompak yang disambut dengan tawa terkekeh Lola.
"Udah pada nyarap belum nih?" tanya Lola yang selalu care kalau untuk urusan makan.
"Bau-baunya, Bu ustad kayaknya habis bikin catering nih." tebak Palupi sambil menilik paper bag yang ada di tangan kiri Lola.
"Lup lup paling cantik, khusus hari ini Lola bikinin kamu bola-bola kornet kesukaan kamu, ini Lola bikin dari jam 04.00 loh buat kalian semua. Anggap aja ini syukuran kita pertama kali masuk kelas di kampus ini." kata Lola sekali tarik nafas.
"YESS BABY, LOMUT EMANG THE BEST!" teriak keempat sahabatnya sambil memberi acungan jempol ke arah Lola yang tertawa cekikikan.
Hal itu membuat perhatian beberapa mahasiswa yang lalu lalang di sekitar taman depan mushola menoleh ke mereka. Lola mengeluarkan kotak bekal yang lumayan besar dan meletakkan di atas meja taman yang terbuat dari batu.
"SERBUUUU!" serentak keempat sahabat Lola berebut mengambil bola-bola kornet yang ada di dalamnya.
"Ckckck, kalian ini mahasiswi apa pemburu minyak sih?" celetuk Angga yang tiba-tiba muncul.
"Hilih, bilang aja lu mau cup." saut Ita sambil mencibir ke arah Angga.
"Gak tuh, tak level lagi makan bareng kalian apalagi barbar kayak gitu." balas Angga sambil memalingkan wajahnya ke arah Lola.
"Gue gak ada jatah Ndol?" tanya Angga setengah berbisik.
Lola membalas dengan senyum lalu dia mengeluarkan kotak bekal warna biru tosca dan mengulurkannya kepada Angga
"Ini bikinan Mama khusus buat lo." ucap Lola.
Angga membuka tutup bekal, dan begitu manikmatannya melihat martabak mie kesukaannya wajahnya langsung berubah penuh dengan senyum bahagia.
"Mamah emang selalu yang terbaik." puji Angga dengan senyum mengembang.
Sementara teman-temannya sedang menikmati sarapan yang bawanya, mata Lola celingukan mencari sosok yang sangat ingin dia temui pagi ini yaitu Daren.
__ADS_1
Angga melirik Lola dengan ujung matanya sepertinya dia tahu Lola sedang mencari siapa.
"Dia masih ada di parkiran." ucap Angga sambil menyantap martabak yang Lola berikan padanya.
Mendapat jawaban itu membuat Lola menoleh ke arah Angga sambil tersenyum sebagai ungkapan terima kasih sudah diberitahu.
"Kesayangan...gue mlipir bentar ya mau anu." ucap Lola malu-malu.
"Iya ...dah sana, kita paham kok Bun." usir Palupi yang di iyakan oleh sahabat Lola dengan mengibaskan isyarat tangan agar Lola menjauh.
Lola berjalan dengan sedikit mempercepat langkahnya, sedikit senyum menghias bibirnya berbentuk hati yang di poles lipstik warna peach yang memberikan kesan tampilan di bibirnya lebih segar.
Beberapa cuitan godaan dan pujian saat berpapasan atau melewati beberapa kerumunan mahasiswa tak direspon Lola sama sekali, Lola tetap cuek dan santai berjalan menuju parkiran.
Langkah kakinya terhenti saat manik matanya menatap tubuh tinggal berpostur atletis duduk membelakanginya di bangku semen yang ada di bawah pohon akasia.
"By....," panggil Lola lirih hampir tak terdengar.
Mata Lola menunduk menatap kotak nasi berwarna orange di dalam paper bag yang ditentengnya. Lola menarik nafas panjang dengan sekali tarikan lalu mulai melangkah mendekati Daren.
Suara Lola yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Daren tanpa di sadari membuat Daren menoleh ke arahnya.
"Raini?" Daren sedikit terkejut hingga alisnya ikut terangkat.
"Iya, eemmmm....gue cuma mau kasih sesuatu sama lo," saut Lola dengan suara setenang mungkin.
Kegugupan tiba-tiba menyergap berhadapan dan dekat dengan Daren saat ini, Lola yang biasanya cuek, barbar dan sangat percaya diri tiba-tiba berubah melow dan grogi.
"Apa?" tanya Daren singkat.
Lola menunduk melirik paper bag yang ada di tangannya, Daren kelihatan tampak heran dan sedikit bingung.
"Apa itu?" kembali Daren bertanya sambil mengintip isi dari paper box yang diulurkan kepadanya.
"Sarapan buat Lo." jawab Lola sambil menelan ludah.
Daren mengambil paper bag yang lelah ulurkan padanya lalu dia mengeluarkan box bekal warna orange dengan kening berkerut tanpa sekali dia penasaran apa isi di dalam kotak box itu.
__ADS_1
Begitu membuka tutup kotak makan Mata Daren tampak bersinar senang.
"Yummy, ini favorit gue banget," ucap Daren bersemangat matanya fokus pada bola bola udang tanpa melihat ataupun melirik sedikitpun ke arah Lola.
Lola tersenyum melihat betapa senang Daren menerima bekal sarapan darinya.
"Gue makan ya Ri, kelihatannya enak. kok lu tahu sih makanan favorit gue?" tanya Daren sambil tangannya mengambilnya sebuah bola bola udang dari kotak makan.
"Ri? Dudul sangka gue Meri apa ya, kalau bukan karena dia lagi amnesia dia manggil Ri, gue getok kepalanya." batin Lola geram dengan wajah tetap tersenyum di paksakan.
"Ren." suara lembut Nabila menghentikan tangan Daren yang memegang sebuah bola-bola udang dan siap masukkan ke mulutnya.
Daren menoleh ke kiri di mana nabila berdiri sambil menenteng kantong kertas makanan dari sebuah cafe kopi terkenal. Daren kembali meletakkan bola-bola udang di box makanan pemberian Lola tanpa menutup nya.
Daren beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Nabila sambil tersenyum.
"Kirain Lo nggak ke kampus. Kata Om Gunawan hari ini ada jadwal kontrol lu ke rumah sakit jadi tadi gue nggak jemput Lo." ucap Daren menatap wajah cantik Nabila hingga dia lupa pada Lola.
Lola menunduk menatap bola-bola udang pemberiannya untuk Daren yang tergeletak di atas bangku taman tanpa ditutup hingga ada seekor lalat terbang yang menghinggapinya.
Lola menggigit bibirnya sambil terpaksa menelan ludah yang terasa getir.
"Itu kopi buat gue ya La?" tebak Daren menelisik kantong kertas di tangan kiri Nabila.
"Iya, tapi aku liat kamu baru saja sara-"
"Keberuntungan gue butuh itu, semalaman kepala gue sakit bat dah." kata Daren langsung mengambil alih kantong kertas dari tangan Nabila.
"Kita ke kantor Om Gunawan aja La." ajak Daren menggenggam telapak tangan Nabila dan membawanya pergi tanpa menoleh atau berkata pada Lola.
Nabila masih sempat menoleh ke belakang menatap Lola sekilas.
"Maaf La gue egois." batin Nabila berkedip pelan.
..."Seperih bagaimanapun perasaan ku saat ini.. Kuterima rindu ini sebagai hukuman atas cintaku padamu."...
...~Lola~...
__ADS_1