
Lola menunduk melihat kaos putihnya berubah warna jadi merah cabe setan dengan bibir mengerucut, tampak sekali dia kesal dan juga merasa tidak nyaman dengan penampilannya saat ini.
"Gue ke toilet dulu lah," dengan wajah lesu Lola beranjak dari duduknya.
"Sueek itu emang si jamet kelakuannya, awas aja kalo sekali lagi rinso berulah bakal gue tampolin tuh muka dia pakai air comberan." geram Juwi jika mengingat kejadian tadi.
"Rinso?" tanya Palupi tak paham maksud ucapan Juwi.
"Iya, Rinso alias Riska jamet." saut Juwi dengan alis terangkat dan mata membulat ke arah Palupi.
"Dia emang biang resek di kelas kita juga, paling caper sama Sueb mungkin karena itu gue rasa dia dendam sama Lola. Pan kita semua tahu gimana bucinnya sawit ma Lomut." kata Palupi sambil menyendok soup buah kesukaannya.
"Jealous maksud Lo Pal?" tanya Juwi mulai tau maksud Palupi.
"Gitulah." jawab Palupi singkat.
Sementara di kamar mandi Lola berusaha membersihkan kan noda saos tapi ternyata noda itu tidak mudah hilang bahkan sekarang kaod basah sehingga bagian dadanya terlihat agak transparan.
"Issstt, nyebelin banget sih nenek lampir." dumel Lola kembali kesal apabila teringat ulah Riska padanya.
Melihat usahanya tidak membuahkan hasil Lola terlihat lemas bercampur kesal, dia menyandarkan tubuhnya nya di dinding dekat wastafel.
"Masa iya gue keluar dengan baju gini mana kelihatan lagi bra gue, bisa jadi tontonan anak satu sekolahan," keluh Lola bicara sendiri.
Lola membuka hijab pashmina nya lalu dia membuat hijab itu panjang menjulur ke bawah, sehingga bagian dada yang basah bisa tertutupi. Yang jadi kendala Lola tidak membawa serep jarum pentul, hingga hijab itu harus terus dipegang ujungnya.
"Mending lah daripada tadi." gumam Lola menghibur dirinya.
Lola hendak keluar dari toilet saat tepat didepan pintu toilet, dia berpapasan dengan Nabila yang terlihat berantakan. Mereka berdua saling menatap.
"Buat apa lu bersikap kek tadi?" pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Lola karena rasa penasaran.
Nabila mengangkat dua sudut bibirnya ke atas.
"Nggak buat apa-apa, gue cuma nggak suka ngelihat orang songong kek dia." datar Nabila menjawab.
"Misi," ucap Nabila membuat Lola menggeser tubuhnya.
"BTW apapun alasan lu, gue ucapin makasih Bil. Sorry, gara-gara kejadian tadi lu dipanggil sama pak Lukito."ucap Lola merasa tidak enak.
"Sans La, pertemuan perpisahan gue sama guru killer itu lumayan kan bisa jadi kenangan terakhir. Kalo Lo kan udah terlalu sering ketemu ma dia." balas Nabila tersenyum tipis ke arah Lola.
"Hahaha, ternyata lu curang ya nikung saat saat terakhir gue sama pak Lukito." celetuk Lola sambil tertawa.
"Jan jealous La ma gue, kalau dibukukan kisah pertemuan dan hukuman yang diberikan pak Lukito sama Lo mungkin lebih tebel dari buku tahunan sekolah," ledek Nabila tampak santai.
"Betul juga sih, mungkin kalau boleh dibilang pak Lukito udah muak kali melihat wajah imut gua Bil hehehe." seloroh Lola terkekeh.
__ADS_1
"Eh Bil, lu ternyata orangnya asik juga ya. Gue kira selama ini lu orangnya-"
"Introvert." potong Nabila datar tersenyum kecut.
"Sorry Bil, maksud gue-"
"Gak papa La, kenyataannya gue emang nggak bisa deket begitu saja dengan sembarang orang, tapi biasanya kalau hati gue udah klik sama seseorang n gue ngeraa nyaman gue juga bisa kebawa asik kok." kembali Nabila memotong perkataan Lola.
"Kalau menurut Lo, kita klik nggak?" tanya Lola memancing.
"Kalau gue sih yes, entahlah kalau buat lu." jawab Nabila melirik Lola dengan sudut matanya.
"Gue yes juga. Hmm, gimana kalau kita sekarang bestie-an." ajak Lola sambil mengulurkan tangannya.
"Sapa takut?" Nabila menyambut uluran tangan Lola.
"Sorry ya Bil, gue tinggal. Lu nggak parno an kan?" mengelola dengan pupil mata melebar.
"Gue udah biasa sendiri urat takut gue udah mati." jawab Nabila santai.
"Baru tempe gue kalo takut punya urat hehehe. Ya udah Bil papay." mengapa mid kemudian dia langsung keluar dari toilet.
"Awal yang sempurna." gumam Nabila tersenyum sinis.
***
Daren menatap Lola yang sedang berjalan menunduk sambil memegang ujung jilbab. Daren menatap sayu tak biasanya Lola berjalan seperti itu.
Daren melepas kemeja motif kotak yang dia pakai dan kini dia hanya melindungi kulit tubuhnya dari sengatan matahari dengan rompi jeans tanpa kancing.
"Pakai ini Yank." ucap Daren sambil mengulurkan kemejanya kearah Lola sehingga membuat Lola kaget dan langsung mengangkat wajahnya.
Lola menatap manik mata Daren lalu dia menengok ke kanan dan kiri seperti sedang memperhatikan apakah ada orang yang melihat mereka berdua.
"Kenapa? Takut ketahuan kalau kita pacaran? Bukan nya ini yang kemarin kamu bilang Beb?" bertubi-tubi Daren mencecar pertanyaan pada Lola.
"Mana ada gue takut." tepis Lola.
"Terus itu kenapa mata kayak penari Pendet, putar sana putar sini Yank. Jangan bilang kelilipan ya, lagu lawas tuh Yank." balas Daren membuat Lola seketika diam mematung lurus menatap Daren dengan hati berdebar.
"Jangan takut kemeja gue bau Beb, toh Lo juga nyaman kan waktu di pantai nyium aroma kasturi keringat gue hehehe." goda Daren membuat wajah Lola seketika memerah antara malu bercampur dengan marah.
"Ihhh, gajeee!" pekik Lola tertahan sambil melotot ke arah Daren.
Lola langsung menyambar kemeja yang ada di tangan Daren dan hendak berjalan kembali ke toilet, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti kemudian dia kembali menghadap Daren yang berdiri tegak dengan dada sebagian terbuka
"Kenapa Yank, belum juga semenit udah kangen ya?" Daren semakin menjadi menggoda Lola hingga membuat Lola jengkel tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Kalau bukan di sekolah dah gue lempar pakai sepatu si sawit." geram Lola dalam hati sambil mendengus.
"Dah jangan lama-lama natap gue Yank, tar keburu masuk angin tuh pake kaos basah kek gitu." kata Daren penuh perhatian.
Ucapan Daren seketika membuat hati Lola yang jengkel surut seketika berganti senyum tertahan hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas.
Daren sedikit membungkuk sekarang dengan jelas dia bisa melihat wajah cantik Lola dengan kedua lesung pipi tepat berada di depan wajahnya.
"Subhanallah, sekarang gue bener-bener tau kenapa kedua orang tua lu ngasih Lu nama Lola." ucap Daren membuat Lola mengerutkan dahi sambil menarik tubuhnya ke belakang menjauh dari Daren.
"Jangan sotoy jadi orang. Coba kalau lu tau emang kenapa Eb?" tanya Lola ingin tahu.
"Karena LO terLAlu cantik." ucap Daren tatapan nya penuh kagum dengan wajah cantik di depan nya.
Blushing
Rona merah kembali memenuhi wajah Lola karena tatapan dan kata kata Daren yang lucu tapi bikin hati Lola berdetak tak karuan.. Lola langsung berbalik badan sambil tersipu malu, dengan langkah cepatnya Lola meninggalkan Daren yang tersenyum puas memandangi punggungnya makin lama makin menjauh.
"Untung bentar lagi lulus, kalau nggak tiap hari ketemu kek gini bisa jantungan mendadak gue.":gumam Lola tersenyum sendiri.
Saat langkah kaki Lola memasuki toilet, Nabila tiba-tiba hampir bertabrakan dengannya.
"Kalau jalan sambil cari recehan ya freind." suara datar Nabila mengagetkannya.
"Bukan Bil, tapi lagi ngukur jalan gue Bil hehehe." saut Lola menimpali candaan Nabila.
Deg.
Dada Nabila tiba-tiba merasa sesak saat dia menunduk dan manik matanya menatap kemeja di tangan Lola milik Daren. Untuk sepersekian detik Nabila terpejam mengendalikan emosinya.
"Lu nggak papa kan Bil?" tanya Lola khawatir melihat perubahan wajah Nabila yang tiba-tiba.
"Emang kenapa gue?" Nabila balik bertanya.
"Sorry, gue liat wajah Lo tiba-tiba pucat. We kirain Lo sakit." kata Lola dengan perhatian.
"Baru Lo la, yang perhatian ma gue ampe bisa nebak gue sakit. Makasih ya freind." ucap Nabila terdengar tulus.
"Lo serius sakit Bil? Lo sakit apa?" tanya Lola tampak khawatir.
"Kanker hati." jawab Nabila tenang tapi membuat dada Lola tersentak Kaget.
to be continued
"Kamu seperti bunga matahari walaupun mekar sendiri dalam satu tangkai tapi pesona mu memancarkan keindahan penuh percaya diri"
~Daren~
__ADS_1