Off Bucin

Off Bucin
Titip Rindu Senja


__ADS_3

Angga sedang sibuk membongkar bufet yang ada di ruang keluarga tempat di mana album kenangan disimpan oleh Lia sang mama. ada lebih dari 20 tumpuk album foto yang tertata rapi di dalam bufet laci bagian bawah. ada beberapa album yang berserakan di lantai.


"Yang mana sih." gumam Angga tangan dan matanya memeriksa satu persatu album foto foto yang ada.


"Cari apa sayang?" tanya Lia tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya menatap Angga dengan dahi berkerut.


"Angga nyari album foto yang waktu ulang tahun Angga ke-10 itu loh Ma.Mama tau nggak yang mana albumnya?' tanya Angga kepada Lia.


Lia duduk berjongkok di sebelah angka lalu dia mengamati tumpukan album foto, lalu di tengah tumpukan itu Lia menarik salah satu album berwarna biru langit dengan motif kue ulang tahun.


"Ini sayang, Kok tumben pengen lihat album sayang? Apa ada yang lagi mau dicari?" tanya Lia penasaran mengingat Angga tidak pernah peduli akan hal seperti itu selama ini.


Angga melirik wajah Mamanya dengan senyum tipis, Angga kembali merapikan album foto yang berserakan di lantai lalu dimasukkan ke dalam laci dan menutup laci itu kembali dengan rapi.


"Kangen pengen lihat kenangan lama Ma," saut Angga sambil kembali berdiri dengan salah satu tangan memegang album foto.


"Ohh, kirain Mama mau buat perlu apa. Ya sudah kalau gitu Mama ada perlu mau ke rumah mama Saroh, nanti kalau Papa balik kamu bilang ya Mama ada di rumah Mama Saroh." pesan Lia kepada Angga.


"Apa perlu gue ikut ya? Biar ada alasan ketemu cendol," batin Angga bertanya dalam hati.


Angga lalu bergegas menyusul Lia yang sudah mengeluarkan kan motornya keluar dari pintu pagar.


"Sial, Mama dah pergi."dengus Angga kesal saat keluar dari pintu sudah tak melihat Lia dan motornya.


Angga lalu masuk kembali ke dalam dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya begitu sampai kamarnya nggak langsung merupakan tubuhnya sambil tengkurap di atas kasur. Tangannya mulai membuka album foto ulang tahunnya yang ke-10.


"Lucu, cantik" gumam Angga saat menatap foto Lola waktu hadir di pesta ulang tahunnya saat itu


"Jika gue gak bodoh nolak lu waktu itu pasti gue akan selalu tertawa saat ini karena cuma lu yang mampu bikin gue tertawa di saat gue tak ingin tersenyum. Gue bener-bener nyesel, harus nya gue jangan pernah lepasin diri lu." ucap Angga ada sesal yang dalam dari kalimat yang keluar lewat bibirnya.


***


Dibawah terik matahari dan juga udara panas Kota Tangerang Daren melajukan motornya dengan kecepatan tak lebih dari 70 km per jam. Jalanan lumayan padat bahkan di beberapa. lampu merah menuju daerah bandara terlihat macet.


Saat motor Daren berhenti di salah satu lampu merah, hampir semua orang pengendara yang melihat kearah Daren tersenyum. Bahkan ada salah satu mobil yang tepat berhenti sejajar dengan motor Daren membuka kaca mobilnya dimana tampak tiga orang gadis muda menoleh ke arah Daren sambil tersenyum.


"Bang keren kali helmnya, boleh gak pinjam hatinya buat adek masukin. Liat Abang manis banget kaya coklat rainbow hehehe." celetuk cewek yang duduk di bangku depan deket sopir.


Mendapat cuitan seperti itu Darren bersikap cuek saja, hanya sepintas dia melirik dengan ujung mata kearah cewek itu tanpa memberikan respon apapun. Sikap Daren membuat para cewek makin Geregetan sekaligus tertantang untuk lebih menggoda Daren.

__ADS_1


"Abang termasuk laki takut istri ya? Sampai helm bini aja mau dipakai biar ketahuan di jalan Abang udah punya gandengan." ucap cewek yang duduk di bangku penumpang baris belakang.


Tatapan Daren tetap lurus kedepan tanpa menoleh sedikit ke arah mobil yang ditumpangi oleh cewek-cewek di sebelahnya.


"Unyu sih, tapi sombong si abang pink lecinya," ucap cewek yang di depan.


Lampu lalu lintas berwarna kuning tanda semua kendaraan persiapan, saat hendak melaju Darin menoleh ke arah mobil para cewek dan tangan kanannya memberi tanda love dengan jari Telunjuk dan jempol ke arah para cewek.


Begitu lampu hijau motor Daren mendahului ada di depan mobil para cewek dengan jelas penumpang mobil itu bisa membaca tulisan kaos lengan panjang yang yang Daren pakai.


JANGAN DI GODA SUDAH BERISTRI KECUALI MAU JADI YANG KEDUA


"Anjiirr tuh cowok bikin pinisirin wehh, Hesti salip dia," perintah Luna cewek yang tadi menggoda Daren.


Begitu mobil Hesty bisa sejajar dengan motor Daren Luna langsung berteriak dengan kencang sambil membuat moncong dengan kedua telapak tangan di mulutnya.


"Gemoyyy! Mau dong Luna jadi yang kedua! Muach!" teriak Luna sambil memberi kiss jarak jauh.


Daren tetap fokus, pandangannya lurus ke depan.


"TARR! TUNGGU LEBARAN GAJAH!!" teriak Daren lalu menggas motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan mobil para cewek.


"Iya, habis manis terus lo lepehin ya beb hahaha," saut Dila yang duduk di belakang terbahak.


"Kalau dari tampangnya sih kayaknya dia masih sekolah atau kuliah lah, mungkin seumur kita kita. Dunia ini kan sempit beb, Siapa tahu suatu hari nanti kita bakal ketemu lagi sama tuh cowok gemoyy." ucap Hesty menimpali.


***


Hari sudah menjelang sore, Lola dan keempat sahabatnya sedang duduk di tepi Dermaga melihat indahnya senja di pantai pulau Untung Jawa.


TEETTTTTTTT


Bunyi klakson kapal terdengar jelas saat sebuah kapal akan berlabuh ke tepian dermaga.


"Gaes, jika lu merindukan seseorang, lu tatap tuh matahari sore. Terus lu kirimkan pesan rindumu untuknya lewat senja." ucap Palupi sedikit romantis dengan serius.


Lola menatap serius matahari yang ada di depannya, seperti sedang mencari sesuatu.


"Lup lup, emang bener senja bisa kirim pesan rindu kita? Ada ilmu telepati nya ya?" tanya Lola sambil memikirkan ucapan Palupi.

__ADS_1


Ari tepuk jidat sementara Ita geleng kepala mendengar pertanyaan Lola.


" Lola Anggraini kalau lu kirim rindu lo lewat senja ampe jaman kuda makan tanah juga gak bakal nyampe," kata Juwi geregetan dengan cara berpikir Lola yang lemot parah.


"Juwi, mana ada kuda makan tanah. Yang ada kuda makan mi ayam," protes Lola.


"Mulai gelo kalian berdua," Ita bersuara sambil geleng-geleng kepala melihat dan mendengar keolengan dua sahabat.


"Ngaco lo, mana mau kuda makan mi ayam Mut." balik Juwi protes.


"Ada. Pemain kuda lumping hehehe." jawab Lola bercanda.


"Hilih, dasar Lo mut gak mau ngalah." ucap Palupi.


"Gaes, apa cuma perasaan gue aja ya liat senja kali ini tak indah seperti biasanya?" tanya Lola sambil menatap langit senja dengan dahi berkerut.


"Buat penikmat senja, senja selalu indah. Kecuali orang yang melihatnya sedang patah hati kek lu." jawab Ari dengan tatapan menerawang menatap senja.


"Hadeuh, salah dah gue ngomong." Lola berkata sambil tepuk jidat.


"Hahaha, senjata makan tuan tuh Mut." Juwi terlihat girang menyahut ucapan L'ola.


"Kacian yang lagi potek hatinya, sambung gih beb pake lem power glu hahaha." timpal Ita.


"Kalian teman apa bukan sih hiks." L'ola pura-pura sedih.


"Kita temen bestie, temen julid hahaha." saut Palupi ikut menggoda L'ola.


"Ga ada akhlak kalian semua benar-benar jahara hiks," ucap L'ola di sambut tawa temen-temannya.


Mereka berempat semangat menggoda Lola dan Lola menyahuti dengan candaan sambil berpura-pura menangis. Memandang Senja di tapi Pantai sambil bercanda dengan sahabat adalah suatu kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan


"Senja mengajarkan kita bahwa menanti itu tidak mudah, berjuang pun juga sama susahnya. Apalagi harus berjuang menunggu seseorang dalam ketidakpastian tapi memperjuangkan cinta Lobar adalah sebuah keharusan untuk gue." kata-kata bijak Daren penuh makna membuat Lola dan keempat sahabatnya berbalik badan dengan mata membulat terkejut melihat kedatangan Daren tiba-tiba kaya siluman.


"SUEBBB!" teriak mereka berlima.


..."Selama nafas masih menyatu dalam tubuhku, selama itu juga rasa cintaku akan makin bertambah dan terus bertambah"...


...~Daren Putra Pratama~...

__ADS_1


__ADS_2