Off Bucin

Off Bucin
Aku Berjuang Dia Bahagia


__ADS_3

Srett srettt tuk tuk srett tuk..,


Bunyi sepatu dan juga sendal setengah diseret saling bersahutan di koridor Rumah sakit menuju ruang IGD.


"Astagfirullah... ini sih gara-gara kebiasaan Neng yang suka makan mie mulu tiap hari. udah Mama bilangin lho yah, jangan makan mie jangan makan mie! tapi ngeyel, dasar maniak mie tuh anak. Kalau udah kayak gini kan bikin susah dia sendiri." Saroh tak berhenti mengoceh sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit bersama suaminya.


Sementara Dadang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, wajahnya tampak cemas seperti halnya Saroh. Begitu keduanya sampai di ruang IGD di tempat Lola sementara di rawat Saroh berjalan cepat mendahului suaminya.


Air mata tak mampu Saroh bendung saat melihat wajah putrinya yang pucat meringis menahan sakit terbaring lemah di atas bankar sudah dalam keadaan sadar. Saroh menghambur memeluk Lola sambil menciumi wajah dan pucuk kepala putrinya sambil terisak.


"Tuh kan, apa Mama bilang sama kamu. Berhenti makan mie neng berhenti, jangan makan mie Mulu. tapi kamu selalu saja enggak dengar apa nasehat mama. Yah akhirnya kayak gini kan jadinya." gerutu Saroh sambil terisak.


"Sakittt mamaaa huuuu huuuu." rintih Lola terus menangis walaupun dokter sudah menyuntikkan obat penghilang nyeri lewat infus.


Daren hanya bisa memandangi Lola dari jauh lewat jendela kaca kecil yang ada di pintu masuk IGD.


"Semoga Lo baik-baik aja Ri." ucap Daren lirih sebelum berbalik badan pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah semua prosedur operasi diurus dan ditandatangani oleh Dadang, siang itu juga Lola langsung menjalani operasi usus buntu. Ruang tunggu operasi bertambah rame saat keempat sahabat Lola dan Angga datang ikut menunggu berlangsungnya operasi Lola di ruang tunggu.


Suasana ruang tunggu benar-benar hening, semua mata selalu melihat ke arah benda bulat berwarna merah menyala yang tertempel di atas pintu ruang operasi. Menunggu dengan cemas dan penuh doa kapan lampu itu padam.


Hp menjadi satu-satunya tempat pelarian untuk kondisi menanti kecemasan seperti ini.


TETTT.


Bunyi lampu operasi bersamaan dengan padamnya lampu operasi membuat semua mata reflek beralih menatap penuh harap ke pintu ruang operasi dengan detak jantung tak karuan. Begitu pintu terbuka kedua orang tua Lola dan sahabatnya langsung berdiri menanti cemas keluarnya bankar Lola dari ruang operasi.


"Keluarga Lola Anggraini!"panggil perawat yang mendorong bankar Lola.

__ADS_1


"Iya dok, saya ayah nya." saut Dadang mendekat pada perawat yang memanggil.


"Oh ya pak, ini tolong dibawa barang-barang Putri bapak. Kita bawa masuk Putri bapak ke ruang perawatan ." ajak perawat pria yang mengantarkan bankar Lola menuju ruang perawatan.


"Mut, bangun Mut hiksss hiksss hiksss." ucap Ari dan Juwi memegangi tangan Lola yang terkulai lemas masih belum sadar sepenuhnya karena efek obat bius.


Lola terlihat mengedipkan matanya lemah dan menyungging senyum tipis sebelum kemudian dia terpejam kembali. Ita dan Palupi memegangi lengan dan telapak tangan Lola di sisi satunya sementara angga berjalan di belakang menatap Lola prihatin.


"Selama hidup baru hari ini sedih Ndol, sangat menyakitkan bagi gue saat melihat Lo sakit. Gue nyesel banget ama penyakit Lo , Ndol gue berharap gue dapat melakukan sesuatu yang ajaib untuk ngilangin semua rasa sakit yang Lo alami saat ini. Cepetan sembuh Tii, gue bakal kehilangan lo beberapa hari." batin Angga tak lepas netranya menatap cewek yang jadi cinta pertama dan mampu membuat debar hebat meruntuhkan keegoisannya.


***


Semilir angin sore menerpa wajah cantik Nabila dengan polesan make up natural memberi kesan remaja yang segar bertolak belakang dengan keadaannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai hingga angin dengan sukacita mempermainkan rambut hitam legamnya.


"Ma pa, Bila akan berusaha untuk tetap hidup dan Bila yakin akan ada donor yang cocok buat Bila dan Bila akan bahagia karena ada Daren di samping Bila." gumam Nabila lirih menatap langit cerah tanpa mendung sore ini di balkon apartemennya yang berada di pusat kota Serpong.


Suara bell membuat Nabila menoleh ke arah pintu di mana tampak mbak Sri berjalan cepat menuju pintu apartemen.


Ceklek


"Bila ada?" tanya suara khas cowok yang tak lain adalah Daren.


senyum langsung terkembang di bibir tipis Nabila, tak percaya rasanya cowok yang baru saja ada di lamunannya tiba-tiba hadir mengetuk pintu apartemennya membuat jantung Nabila terasa ingin copot dan dia setengah melompat dari duduknya beranjak menuju ruang tamu.


"Ren?" panggil Nabila tak percaya dengan sorot binar di matanya.


"Ganggu nggak?" tanya Daren tersenyum manis.


deg deg deg deg

__ADS_1


Nabilah berusaha mengkondisikan jantungnya, cowok di depannya benar-benar telah membuat hatinya berbunga-bunga, membuat hatinya selalu merindu, membuat hatinya selalu berharap untuk selalu bisa bersama menikmati setiap hari setiap detik. Tampak terasa bola kristal bening jatuh di kedua pipinya.


Melihat pipi putih Nabila bersimbah air mata membuat Daren bingung hingga kantong kertas makanan yang di tenteng nya jatuh di lantai.


"Lo kenapa nangis? Sorry gue tadi gak nunggu Lo karena ada orang yang pingsan dan gue- nggak tega ningga-lin La." jelas Daren sedikit terbata.


Penjelasan dan kata-kata Maaf Daren membuat Nabila tidak mampu untuk menahan semua rasa haru dan bahagia dalam hatinya. Nabila menghambur memeluk Daren, menumpahkan semua rasa bahagia di dada bidang cowok yang paling dicintainya.


"La, jangan nangis please. Gue gak bohong, maafin gue ya La." ucap Daren bingung.


"Hiksss hiksss hiksss, gue tau Lo gak boong Ren. Gue nangis karena gue bahagia, gue nggak nyangka Lo bakal ke sini dan minta maaf cuma untuk jaga hati gue. Makasih Ren hiksss hiksss hiksss." saut Nabila tersedu-sedu.


Daren memeluk erat tubuh Nabila, mencium pucuk keningnya membuat Bila memejamkan mata menikmati setiap kecupan dan hembusan aroma mint sel nafas Daren yang menyegarkan menerpa sebagian wajahnya.


"Astaga, Jan nangis gini lagi ya La, bikin gue panik tau," pesan Daren mengusap punggung Nabila.


"Kayaknya gue gak bisa janji Ren." balas Nabila manja.


"Kenapa? Apa Lo udah bosan deket sama gue?" tanya Daren heran bercampur cemas.


"Karena gue sekarang punya tempat ternyaman di banding bantal buat nangis.' jawab Nabila malu menyusupkan lebih dalam wajahnya dalam dekapan Daren.


"Hahaha serius nyaman? Jangan terlalu nyaman tar kalau gue ilang Lo bakal susah cari gantinya." goda Daren.


Nabila merenggangkan pelukannya lalu wajahnya menengadah menatap wajah Daren yang tepat berada di depannya.


"Apa Lo akan ninggalin gue, kalau ingatan Lo pulih?" satu kalimat pertanyaan yang keluar dari bibir Nabila dengan tatapan sorot iba membuat Daren diam tak menjawab.


..."Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa aku mengharapkan mu ada untuk ku"...

__ADS_1


__ADS_2