Off Bucin

Off Bucin
Yakinkan Dia


__ADS_3

Wajah Daren memerah dengan mata yang berkobar melihat pemandangan di depannya hati siapa yang tidak panas mana kala melihat orang yang paling dicintai tidur bersama mantan pacarnya. Tangan Daren mengepal siap untuk meninju.


BRAKK


Satu tinju Daren menghantam sisi dinding kayu dekat pintu hingga membangunkan Angga ketika.


"Bangun brengsek!" Bentak Daren sambil mencengkeram dan menarik kerah baju Angga hingga posisi tubuhnya berdiri.


Keributan di rumah pohon itu tidak membangunkan Lola sama sekali dia masih terlelap dalam tidurnya. Daren lalu menyeret Angga keluar dari rumah pohon.


Wajah Angga terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Daren karena nyawanya baru saja ngumpul.


"Lepasin Gue! Apa-apaan sih Lo!" balas Angga membentak sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Daren di kerah kemejanya.


"Mau mati Lo? Hah!!" bentak Daren semakin kuat mencengkeram kerah kemeja Angga hingga Angga merasa sesak nafas.


"Le-pas aahhkkk." Suara Angga tersekat di tenggorokan.


Darren sudah tak mampu mengendalikan emosinya rasa amarahnya benar-benar siap meledak sehingga dia mulai mengacungkan tinjunya di udara tepat di depan wajah Angga.


BUK BUK BUK BUK BUK


Wajah Angga babak belur terkena bogem mentah dari tinju Daren tanpa kesiapan untuk melawan.


"STOPPPP!!!!" teriak Ari dari bawah rumah pohon sambil berkacak pinggang dengan mata melotot tajam ke arah keduanya.


Seketika Daren menghentikan aksi liar tinjunya. Wajahnya tampak memerah karena amarah dengan hidung mendengus dan mulut terkatup rapat hingga urat lehernya tampak jelas menonjol terlihat sangar, di tambah lagi dengan sorot mata berkobar merah menyala.


"Cuih! Brengsek Lo!" maki Daren mendorong tubuh Angga hingga membentur dinding kayu rumah pohon sambil meludah.


"Anjing Lo! Dasar gila! Gak jelas! Main hajar orang sembarangan. Cuih!" balas Angga juga meludah lalu jempolnya mengusap darah yang keluar di sudut kanan bibirnya.


"TURUNN!!" bentak Ali memerintah kepada Angga dan Daren masih dengan mata melotot tajam ke arah keduanya.


Daren lebih dulu turun dari rumah pohon diikuti oleh Angga. Begitu keduanya sudah sampai bawah saling berhadapan menatap penuh kebencian dan kemarahan dengan mata melotot satu sama lain dan geraham yang mengeras.


Ari melirik ke arah keduanya bergantian dengan tatapan tajam bercampur kesal.

__ADS_1


"Ckckck, kek bocil aja pagi-pagi berantem di rumah orang kalian berdua itu mahasiswa tapi nggak punya adab!" omel Ari pada keduanya.


"Bukan gue mulai! Tapi si duren busuk itu yang mulai duluan!" Protes Angga sambil menunjuk kasar ke arah wajah Daren.


"Eh b****** Lo nisan kuburan! Lo nggak nyadar Apa kesalahan Lo? Hah!!" lawan Daren menepis kasar lengan Angga.


"APA?" tanya Angga masih belum menyadari kesalahannya.


"LO TIDUR SAMA PACAR GUE ANJING!!" teriak Daren melengking karena kesalnya sambil menunjuk muka Angga.


Setelah Angga mengerti duduk permasalahannya dia menghela nafas dalam lalu melipat kedua tangan di depan dadanya.


Angga terdiam sejenak seperti sedang memikirkan perkataan Daren, lalu tiba-tiba wajahnya berubah kecut.


"Oh, jadi karena itu lo kayak orang gila mukulin gue?!" tanya Angga geram melotot tajam ke arah Daren.


"STOP! GAK ADA YANG BOLEH BICARA SELAIN GUE!!" bentak Ari sambil mengayunkan kedua tangannya.


"Ini pasti cuma salah paham, gue yakin mereka nggak punya maksud buat tidur berdua. Sekarang gue tanya sama lo Cup, Apa Lomut tau Lo sengaja mau tidur di sebelah dia?" tanya Ari pada Angga dengan wajah sangat serius.


"Bokis lu! Gue tahu lo pasti cari kesempatan! Dasar otak mesum!" maki Daren masih tak percaya dengan penjelasan Angga.


"Tapi itu kenyataannya, terserah Lo percaya apa nggak!" balas Angga sewot tak mau kalah.


"Gue percaya sama dia." ucap Ari begitu yakin dengan alasan Angga.


"Dan buat lo Eb. Seandainya lu nggak percaya sama kata-kata Ucup paling enggak lo harus percaya sama imut kalau memang benar lu mencintai dia dan kenal bagaimana karakter dia." kata Ari menegaskan kepada Daren.


Daren tak menjawab bibirnya tertutup diam karena emosinya yang masih mendidih. Tanpa pamit Angga berjalan menuju pintu gerbang meninggalkan Daren dan Ari yang masih saling tatap.


"Gue akan bangunkan Lomut." ucap Ari sebelum pergi naik ke rumah pohon.


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.10 saat Lola keluar dari rumah pohon sambil menggeliat badannya.


"Astaghfirullah kesiangan subuh gue!" pekik Lola langsung bergegas turun dari rumah pohon.


Daren berdiri dengan melipat tangan di depan dadanya memperhatikan Lola tanpa berkedip.

__ADS_1


"Bih?" sapa Lola heran melihat Daren pagi-pagi sudah berada di rumah Ari.


Lola merapikan hijabnya dan menutup mulutnya karena wajahnya baru bangun tidur merasa tak sepantasnya terlihat oleh Daren dan itu membuatnya malu.


"Hmm." jawab Daren berdeham.


Lola merasa heran dengan sikap Daren, tapi karena waktu subuh yang sudah kesiangan Lola dan penampilannya yang berantakan membuat dia terpaksa melangkah pergi meninggalkan Daren masuk ke dalam rumah Ari.


Tak kurang dari 10 menit orang setelah keluar dengan penampilan lebih fresh setelah dia mandi bebek dan salat. Dalam balutan celana jeans dipadu dengan blouse Navy model Tulip membuat membuat penampilan Lola begitu modis tapi sederhana.


"Subhanallah cantiknya ayang gue." gumam Daren lirih terpesona lupa sejenak akan marahnya.


"Njirr, lemah banget hati gue ma ayang, inget Ren Lo lagi mode marah. Lo harus punya wibawa." Batin Karin sambil kembali memasang wajah cueknya.


"Assalamualaikum Cinta." sapa Lola setengah berbisik saat mereka berdua sudah berdiri berdampingan.


"Waalaikumsalam." jawab salam Daren seperlunya tak seperti biasa.


"Lagi pms ya bih?" tanya Lola langsung tahu kalau Daren sedang kesal.


"Kita ke tempat bang Aslan." ucap Daren sambil berlalu mendahului Lola.


"Iya, Gue pamit dulu sama Nyak." saut Lola kembali berjalan masuk ke rumah Ari.


Sementara Daren menunggu Lola di atas jok motornya. Di ruang makan rumah Ari Lola merangkul leher Ari dari belakang yang sedang duduk menikmati goreng pisang bikinan Saripah.


"Beb, dia kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lola berbisik diterima Ari.


"Dia baru saja gelut sama Ucup karena lihat Lo tidur berdua di rumah pohon." dengan santai Ari memberitahu Lola sambil mengunyah pisang goreng di mulutnya.


"Hah?" tanya Lola bingung tak mengerti.


"Gak usah hah, dah sana yakinin sawit kalo Lo tuh Bucin abis ma dia." kata Ari menyuruh Lola untuk segera pergi.


Lola masih menoleh bingung ke arah Ari. Tapi Ari mengibaskan tangannya untuk menyuruhnya segera pergi.


"Go go go!" bisik Ari sambil tersenyum melihat mimik Lola yang kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2