
"Astaghfirullah!" teriak ke empat sahabatnya saat melihat Lola tersiram air kopi panas.
"Aaauuuwww! Panas!" teriak Lola kesakitan sambil meniup lengannya.
"La, maaf la!" seru Juwi panik berlinang air mata.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" seru Angga terlihat panik wajahnya.
Saat mereka hendak menuntut Lola menuju parkiran, Lola menolak sambil menahan tangis dan rasa sakit akibat luka bakar.
"Jangan di sentuh, sakit." ucap Lola merintih.
Daren menatap Lola bingung bercampur kaget juga cemas.
"Lo nggak papa kan?" tanya Daren menatap lengan Lola yang tersiram kopi panas miliknya.
"Nggak papa mata Lo Soak!" geram Angga mendorong tubuh Daren hingga tubuhnya terhuyung beberapa langkah ke belakang.
"Anjjrr! Gue gak ada urusan sama Lo! Jangan cari masalah sama gue!" geram Daren mengepalkan tangan siap meninju.
Angga melangkah mendekati Daren lalu dengan kasar Dia mencengkeram kerah kaos Daren.
"Denger Lo njing! kalau bukan gara-gara lu main selingkuh sama tuh cewek, semua gak bakal terjadi!" ujar Angga memerah wajahnya karena emosi yang siap dia ledakan.
"CUKUP! KENAPA KALIAN BUKAN NOLONGIN LOLA MALAH BERANTEM!" teriak Ari menarik lengan Angga.
Angga seperti tersadar, dia buru-buru berbalik badan menghampiri Lola.
"Ayo Ndol, lu bisa kan jalan sampai parkiran?" tanya Angga sambil sedikit membungkuk memandang wajah Lola yang menahan sakit hingga air matanya mulai jatuh.
"Panggil taksi online aja Lola nggak mungkin dibawa pakai motor." seru Ita panik sampai tangannya gemetaran. Begitu juga dengan suaranya.
Daren menyambar botol air mineral yang ada di atas mejanya lalu bergegas menghampiri Lola.
"Tahan sebentar sakitnya." suara Daren tenang sambil menggulung kaos panjang Lola dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Lola menggigit bibirnya menahan sakit saat Daren mengguyurkan air dingin dari botol air minum mineral itu.
"Apa dada lu juga panas atau perih?" tanya Daren saat matanya melihat kaos bagian depan dada Lola sedikit basah.
"Sedikit hiks." saut Lola terisak.
Entah mengapa rasa sakit akibat luka bakar itu seketika berkurang saat Lola mendapatkan perhatian Daren, ada rasa bahagia yang menyusup di relung hati Lola. Mulutnya bergetar terbuka, ingin rasanya Lola memanggil nama Daren tapi entah kenapa ada sesuatu dalam hatinya menahan untuk tidak melakukan itu.
Walaupun Daren tidak pernah aktif menjadi anggota UKS, tapi masalah soal mengobati luka Darin adalah ahlinya karena kebiasaannya suka tawuran dan berkelahi antar sesama gang yang tak jauh dari luka.
"Ren, kita ntar aja dia ke rumah sakit terdekat." saran Nabila kepada Daren.
"Iya. Lebih baik lo kita antar aja ke rumah sakit, nggak mungkin lo ke rumah sakit naik motor kalau nunggu taksi juga bakal lama. lu bisa kan jalan sendiri." saut Daren seperti sedang berbicara dengan orang asing.
Lola mengangguk lemah.
"Gue ikut Dia." selalu berjalan beriringan di samping Lola.
"Ayo guys, kita ikutin." ajak Ari bergegas jalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Begitu juga dengan yang lain.
"Maaf beb, hiks," ucap Juwi penuh penyesalan.
Juwi terisak sambil menunduk karena rasa bersalah yang menggunung dan juga panik membuat tangannya saling meremas rasa panik, marah dan juga penyesalan bercampur aduk dalam benaknya. melihat hal membuat Lola merasa sedih dan tak nyaman
"Sudah beb, jangan kayak gitu. Lo nggak salah nggak ada yang salah, ini musibah yang bisa menimpa siapa aja. Lagian ini lukanya nggak seberapa kok." Lola berkata lembut menenangkan Juwi agar Juwi tidak terus merasa bersalah.
Daren yang duduk di sebelah Nabila yang sedang menyetir melirik ke kaca spion memandang Lola kagum.
"Salut gue, masih ada cewek seperti itu. Dalam keadaan sakit pun dia lebih memperdulikan temannya daripada rasa sakitnya." batin Daren memuji sikap Lola.
Jarak rumah sakit yang lumayan dekat ditambah lagi tidak adanya kemacetan karena lalu lintas siang hari membuat mobil yang dikemudikan Nabila hanya membutuhkan waktu kurang dari seperempat jam.
Begitu tiba di depan pintu IGD seorang security langsung mempersiapkan kursi roda untuk Lola. Security dan Juwi langsung membantu Lola duduk di kursi roda.
"Dokter tolong sahabat saya terkena tumpahan kopi panas." seru Juwi berlinang air mata sambil menarik lengan seorang dokter yang sedang memeriksa salah satu pasien di bagian IGD.
__ADS_1
Dokter muda itu sempat kaget lalu melepaskan pegangan tangan Juwi Di lengannya dengan pelan.
"Iya dek iya, sabar ya saya tangani pasien ini dulu habis itu baru teman kamu." tolak dokter itu penuh pengertian.
Nabila mendekatkan Lola yang sedari tadi terus menatap Daren dengan seribu tanda tanya.
"La, Daren amnesia." tiga kata yang membuat jantung Lola terasa berhenti mendadak lalu tiba-tiba berdegup kencang.
Air mata mengalir begitu saja di pipi putih Lola hingga membuat pandangannya sedikit kabur. Lola mencoba menahan tangis dengan cara menggigit bibirnya sambil memejamkan mata.
"Sakit ya?" suara familiar Daren yang tidak pernah berubah membuatnya buru-buru menghapus air matanya dengan tangan kirinya.
Lola memalingkan wajahnya menghindari tatapan Daren.
"Sedikit." lirih suara serak Lola menjawab.
"Sabar ya." ucap Daren menyemangati Lola.
Tak berapa lama seorang dokter dan perawat mendorong troli rak medis datang untuk memeriksa dan mengambil tindakan luka bakar Lola.
"Kalian semua silahkan tunggu di luar." perintah dokter pada Daren Nabila dan Juwi.
Lola menelan ludah melihat punggung Daren yang makin menjauh menuju pintu keluar ruang IGD.
"By, Lo pernah jatuh hati sama gue sepenuh hati, bahkan apapun akan Lo lakuin buat bikin gue jatuh hati sama lu.Tapi tak pernah gue bermimpi, lu lupa semua kenangan itu." batin Lola dengan linangan air mata.
"Tiba tiba sekarang Lo datang dengan dia bikin hancur hati gue. Seandainya bisa gue juga pengen pura pura lupa. by" kembali kegalauan mengusik hati Lola.
"By, gue akan ngejar cinta Lo seperti dulu Lo ngejar cinta gue karena jauh dilubuk hati gue cuma ada nama Lo yang terukir indah hiksss, selama paru-paru gue masih bernapas cuma Lo yang ada di dasar hati gue. Lo boleh lupa sama gue saat ini. Tapi di hati gue, Lo masih kekasih gue hiksss hiksss hiksss." tangis Lola pecah tak mampu dia tahan.
Bukan luka bakar yang membuat Lola menangis tersedu-sedu tapi kabar amnesia lah yang menorehkan luka dan sakit di hati Lola di ruang IGD di saat dokter dan perawat mengobati luka bakar nya.
Suara pilu tangis Lola menghentikan langkah Daren tepat berada di pintu keluar masuk ruang IGD hingga membuat Daren menoleh ke belakang menatap Lola sambil tersenyum tipis mengepalkan tangan di depan dada untuk memberi semangat.
...Aku mau hidup dengan mu, Aku mau di sisa umur ku bersamamu...
__ADS_1
...Love you my love...
...~Lola ~...