
Hijau pepohonan yang menari diterpa angin dan kicau burung bersahut-sahutan dengan permukaan danau yang tenang juga bening menjadi pemandangan menyegarkan di tengah kejenuhan menghadapi hiruk-pikuk rutinitas kota Tangerang. Keindahan makin sempurna melihat pantulan kilau sinar matahari siang ini bagai kilau berlian di atas permukaan Situ Cipondoh.
Lola dan sahabat-sahabatnya bersepakat untuk menghabiskan makan siang bersama di salah satu resto favorit langganan mereka yang ada di sekitar situ Cipondoh. Begitu motor yang mereka tumpangi memasuki kawasan parkir situ Cipondoh canda tawa mulai terdengar.
"Segernya..." Ita merentangkan kedua tangannya berdiri di tepi Danau
"Kalian duluan ya, gue ke toilet bentar." pamit Lola perjalanan menuju toilet.
"Yuk Gaesss kita cari tempat Instagrammable buat gue post maksi kita di sini," seru Palupi heboh mulai jeprat jepret dengan kamera hp-nya sambil berfoto ria bak selebgram.
mereka akhirnya mendapatkan meja yang persis tepat di pinggir danau.
Angga berdiri di pinggir danau menatap jauh ke depan dimana batas danau tampak beberapa gedung pencakar langit berdiri. salah satu gedung itu adalah sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Tangerang kota.
Gleg.
Angga menelan ludahnya, ada rasa kecewa saat keinginannya untuk masuk fakultas kedokteran harus terhenti karena permintaan sang papa yang menyuruhnya masuk kuliah mengambil jurusan manajemen. Untung ada Lola yang sama satu kampus dan jurusan hingga rasa kecewanya bisa terobati.
Tangan kanan Angga merogoh saku jaket kanannya mengambil sebungkus rokok merk luar negeri dan mengeluarkan satu batang lalu memasukkan kembali sisanya ke dalam saku jaket.
"Sejak kapan Lo udut Cup? setahu gue Lo orang yang paling benci sama yang namanya asap rokok dari sejak kecil." suara Ari tiba-tiba muncul tepat di belakang Angga.
Ari maju selangkah kini dia berdiri tepat di samping Angga menatap permukaan danau bergelombang kecil karena tiupan angin. Sekilas Angga melirik Ari dengan ujung matanya sambil menyalakan rokok dengan pemantik api gas.
"Apa gue masih gak pernah Lo anggap sampai saat ini?" kata-kata baper meluncur begitu saja keluar dari bibir Ari.
"Ngomong apa sih lu? Gue nggak paham." saut Angga ketus tanpa menoleh ke arah Ari.
"Hhfff!" Ari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
Rasa suka yang tersimpan dalam hati Ari kepada Angga sejak mereka masih SD begitu sulit untuk ditepis bahkan sampai kini mereka sudah menjelang dewasa dan mau memasuki bangku kuliah,
Cinta dalam diam dan bertepuk sebelah tangan membuat Ari bersikap dewasa dan selalu lapang dada, tapi terkadang perasaan itu masih tetap mengusiknya.
"Lo tau kan perasaan gue sama lu selama ini? Apa lu masih punya tenaga untuk mengejar perasaan lu sama Lola? Lo tahu Cup, hati Lola buat siapa." ucap Ari tenang, berbeda dengan Ari 7 tahun lalu yang akan menghindar saat berhadapan dengan Angga apalagi mengutarakan perasaan.
"Gue orang yang percaya ada kesempatan kedua dalam hidup, dan sepertinya gue sedang memperjuangkannya, yaitu mendapatkan cinta cendol lagi." saut Angga di sela-sela dia menikmati rokoknya sambil membuat bulatan kecil yang keluar dari mulutnya.
Ari melirik Angga dengan ujung matanya, guratan kecewa di sudut bibirnya tampak jelas
"Ternyata kita sama-sama berada dalam zona perjuangan pada Cinta Pertama," ucap Ari terdengar miris terhadap perasaannya dan juga perasaan Angga.
"Awas aja kalo gue ngeliat Lo Ngerokok lagi!" ujar Lola kesal tiba-tiba datang menyambar puntung rokok yang sedang Angga hisap dan membuangnya ke tanah sambil menginjak puntung itu.
Ari kaget melihat apa yang Lola lakukan, sementara Angga hanya mengulum senyum melihat sikap Lola terhadap dirinya. "Perhatian* itulah hal yang selama dia rindukan dari Lola.
"Iya, gak lagi tii." ucap Angga tepat di telinga Lola sebelum berlalu pergi meninggalkan kedua gadis yang saling menatap heran ke arahnya.
"A- apa Mut? Asma?" tebak Ari wajahnya seketika berubah cemas.
Lola diam. Hampir saja dia keceplosan tentang kondisi Angga yang selama ini Angga tutupi dan hanya keluarganya serta keluarga Lola saja yang tahu.
"Yuk beb, dah laper nih." ajak Lola menarik lengan Ari yang terlihat bingung penuh tanda tanya.
"Apa yang terjadi dengan Ucup, apa dia mempunyai penyakit yang serius kenapa lomut gak pernah cerita selama ini dan ada apa sebenarnya dengan Ucup?" 1000 macam pertanyaan tiba-tiba berkecamuk dalam benak dan pikiran Ari tentang Angga.
Saat sedang berjalan menuju meja owl night dimana Juwi, Palupi, Ita dan Angga sedang duduk bercengkrama, langkah Lola terhenti saat melihat ada penjual telor gulung yang mangkal di salah satu sudut kawasan situ.
"Beb, Lo duluan gih gabung sama mereka gue pengen beli telur gulung dulu." Lola mendorong tubuh Ari berjalan menjauh dari nya.
"Tapi gue pengen tanya-"
__ADS_1
"Tar aja tanyanya, dah Lo duluan dulu gih." usir Lola agar Ari menjauh darinya.
Ari sebetulnya sangat penasaran tentang kondisi Angga, Tapi saat menangkap ada gelagat Lola mengelak dan mengalihkan pertanyaannya, Ari lebih memilih pergi meninggalkan Lola dan bergabung bersama teman-temannya.
"Hhhfffff..., Untung Untung nggak keceplosan." gumam Lola lega sambil mengusap dada.
sementara Lola membeli telor gulung para sahabatnya yang berkumpul di salah satu meja pinggir danau terlihat sedang berbicara sambil bercanda.
"Aih, senangnya dalam hati kita satu kampus, gak punya cuan gak bisa jajan pasti di traktir teman 🎶🎶," Juwi mendendangkan lagu madu tiga by triad yang dia rubah syairnya sambil menabuh alas meja dengan sendok dan garpu.
"Hilih ngarep Lo cumi." potong Ita mencibir.
"Ogah banget dah kalau gua mah traktir lu, rugi bandar ya Ta." sela Palupi menimpali.
Juwi menghentikan aktivitas menabuh alas meja lalu menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Jan pelit tar kuburan Lo berdua sempit mau?" balas Juwi sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Dihh, malak bawa kuburan hahahaha." celetuk Ita terbahak.
"Ya iyalah, kan lu berdua paling parno ma kuburan di antara kita wekk." saut Juwi tak mau kalah sambil menjulurkan lidah ke arah Palupi Dan Ita.
Angga hanya tersenyum tipis melihat para sahabat Lola yang konyol jika sedang bersama. Tak lama kemudian Ari datang berbarengan dengan seorang pria pelayan kafe. Ari duduk persis di hadapan Angga, tatapan matanya tak lepas memandang Angga dengan seribu satu tanya di hatinya.
"Angga, gue tau mungkin ini memang jalan takdir gue yang cuma bisa mengagumi lu tanpa lu cintai. Insya Allah tak masalah bagi gue asal lu juga bahagia, gue rela kalau hati lu buat Lola karena buat gue mencintai Lo adalah kebahagiaan gue. Ya Allah hamba cuma minta satu hal padamu berilah pujaan hati hamba kesehatan selalu agar hamba selalu bisa melihatnya dan mendengar kabarnya." tanpa terasa mata Ari berembun.
"Kenapa beb?" tanya Juwi berbisik heran menepuk lembut Ari sambil bergantian memandang ke arah Angga dan Ari.
"Hah," Ari tersentak kaget hingga dia yang biasanya tenang jadi terlihat gugup.
Juwi langsung tahu kalau saat ini Ari sedang galau dengan perasaannya pada Angga. tanpa berkata Juwi menarik tangan Ari dan mengajaknya menjauh dari meja mereka di mana Angga hanya bersikap cuek.
__ADS_1
To be continued....,