Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Terungkap


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, vote dan komen ya🙏 Happy Reading Gaes 😘


*****************


Setelah Pak Dwitama dimakamkan, Vino beserta tamu-tamu yang telah melayat bergegas pulang.


Hari sudah menjelang malam, Asisten Pribadi Pak Dwitama, yaitu Pak Dimas mengumpulkan semua keluarga besar yang berada di dalam rumah.


Khanza, Ibunya, Yuda, Nanda, Tiara dan Mamanya Nanda telah duduk manis di di atas sofa di ruang tengah.


"Sebelum meninggal, Pak Dwitama sempat menulis surat wasiat. Rencananya surat tersebut akan dibacakan besok pagi. Jadi untuk malam ini, Khanza dan juga Ibunya sebaiknya menginap disini" ucap Pak Dimas.


"Aku tidak setuju. Kenapa mereka harus menginap disini ? Surat wasiat seharusnya dibacakan untuk keluarga yang akan menerima wasiat kan ? Kenapa orang luar seperti mereka harus ikut campur ?" ucap Bu Rahma, Mamanya Nanda.


"Maaf, Nyonya. Mereka diminta hadir karena memang nama mereka ada di surat wasiat tersebut !" ucap Pak Dimas.


"Apa ?" teriak Mama Nanda dan Tiara yang shock mendengarnya.


"Baiklah, karena hari sudah larut sebaiknya kita semua tidur. Bu Sarah dan Khanza, kamar kalian telah disiapkan. Nanti pelayan akan mengantar kalian" ucap Pak Dimas.


"Baik, makasih Pak" ucap Khanza.


Aku sebenarnya tidak begitu tertarik dengan isi surat wasiat tersebut. Tetapi, dengan beradanya aku disini. Aku dapat dengan mudah membongkar kebusukan yang dilakukan Tante Rahma !


Batin Khanza.


Kumpulan orang-orang yang berada di ruang tengah telah membubarkan diri. Mereka telah naik ke atas, Memasuki kamar masing-masing.


Khanza yang telah berganti baju tidur yang telah disiapkan pelayan, melangkah keluar kamar. Meninggalkan Ibunya yang sudah tertidur.


Khanza menuruni tangga dan berjalan sambil mengendap-endap. Dia melihat Asisten Pribadi papanya, Pak Dimas sedang memberi arahan untuk para pelayan menyiapkan tempat untuk pembacaan surat wasiat besok.


Setelah selesai memberi arahan kepada para Pelayan, Khanza langsung menghampiri Pak Dimas.


"Pak Dimas, boleh kita mengobrol sebentar ?" ucap Khanza.


"Nona Khanza ? Kenapa belum tidur ? Apa kasurnya kurang nyaman ? Anda bisa mengganti kamar yang lain kalau tidak sesuai dengan selera anda kamar yang anda tempati sekarang" ucap Pak Dimas.


"Oh, tidak Pak. Kamarnya nyaman kok. Saya memang sengaja turun ke bawah untuk mencari anda" ucap Khanza.


"Ya, Baiklah Kalau begitu. Ayo kita mengobrol di ruang tengah" ajak Pak Dimas.


"Bagaimana kalau di teras belakang saja Pak. Di dekat kolam renang. Soalnya pembicaraan ini agak sedikit privasi" ucap Khanza.


Pak Dimas agak terkejut dengan permintaan Khanza. Tapi mau tidak mau, dia mengikuti keinginan Khanza.

__ADS_1


"Hal penting apa yang akan Nona bicarakan ?" tanya Pak Dimas setelah mereka duduk di kursi teras belakang.


"Saya ingin tanya sama Pak Dimas, Apa selama ini papa enggak ke dokter untuk memeriksakan kondisi kesehatannya ?" tanya Khanza.


"Tuan Besar selalu memeriksakan kondisinya ke dokter kok. Tetapi memang tidak ke Rumah Sakit. Saya rasa anda tahu kan Nona, dari dulu Pak Dwitama tidak suka dengan hiruk pikuk dan suasana di rumah sakit yang bising. Jadinya, Tuan memanggil Dokter untuk rawat jalan dirumah saja" ucap Pak Dimas.


"Papa juga dapat obat dari dokter itu ?" tanya Khanza.


"Iya, dapat. 1 tablet untuk malam hari dan 1 sendok dalam bentuk sirup untuk pagi hari" ucap Pak Dimas.


"Apa seperti ini bentuk obat dalam kemasan sirupnya ?" ucap Khanza mengeluarkan botol hijau kecil yang dia temukan di dalam kotak sampah. Khanza sangat berhati-hati mengeluarkan botol tersebut dengan sebuah tisu. Dia takut sidik jarinya tertempel disana.


Pak Dimas mengamati botol obat tersebut.


"Sepertinya bukan, botol obat Pak Dwitama bewarna coklat dan isi cairannya bewarna putih kental" ucap Pak Dimas.


"Darimana Nona Khanza mendapatkan botol ini ?" tanya Pak Dimas.


Khanza lalu menceritakan semua kecurigaannya pada Pada Pak Dimas. Mulai dari menemukan botol itu sampai gelagat bibi Atin yang mencurigakan.


"Jadi bisakah saya meminta tolong pada Pak Dimas untuk segera mengecek isi kandungan obat dalam botol ini ? Saya juga membawa sample jus yang diperdebatkan Bibi atin dengan anaknya tadi" ucap Khanza mengeluarkan bungkusan jus tersebut.


"Baiklah, Nona. Mungkin besok hasilnya sudah bisa keluar. Saya akan coba bawa ke lab untuk diperiksa malam ini juga" ucap Pak Dimas.


Khanza mengangguk.


"Dimana Nona mendapatkan foto ini ?" tanya Pak Dimas.


"Aku mengambil foto ini secara diam-diam saat mereka lagi di hotel Cozy. Mereka masuk ke dalam kamar secara bersama. Dan laki-laki ini juga yang memberikan botol hijau yang sama dengan botol ini" ucap Khanza sambil menunjuk botol yang ada di hadapan mereka.


"Lelaki ini seperti mencurigakan. Baiklah saya akan menyuruh orang membawa botol dan cairan jus ini untuk diperiksa ke lab. Dan foto laki-laki yang bersama Nyonya di hotel tadi, tolong Nona Khanza kirim ke saya via pesan whatsapp. Saya juga akan menyuruh orang mencari tahu tentang dirinya" ucap Pak Dimas.


"Oke, Pak" ucap Khanza.


Setelah mengirim gambar tersebut, Khanza lalu izin pamit pada Pak Dimas untuk pergi tidur.


************


Keesokan harinya, Semua Keluarga Dwitama kembali berkumpul di ruang tengah. Tetapi hari ini Pak Dimas tidak kelihatan sama sekali.


Ternyata hari ini Pak Agung, Sekretaris Pribadi Pak Dwitama yang akan menjadi saksi sekaligus memgawasi pembacaan surat wasiat yang akan dibacakan oleh pengacara kepercayaan keluarga Dwitama di hadapan keluarga dan juga Notaris.


"Saya yang bertanda tangan di bawah ini, atas nama Dwitama menghibah wasiatkan harta kekayaan saya pada Yuda Dwitama selaku anak kandung saya untuk sebuah Apartemen di kota Y, Satu buah hotel di kota Y, Satu buah Mall di kota Y, Beberapa tanah dengan sertifikat hak milik, Dan Beberapa rumah yang tersebar di kota Y. Dan Pak Dwitama juga meminta, Yuda Dwitama meneruskan jabatan Pak Dwitama sebagai Presiden Direktur di Dwitama Group" ucap sang pengacara.


Bu Rahma, Mamanya Nanda tersenyum puas mendengarnya.

__ADS_1


Pak pengacara kembali membacakan isi surat wasiat tersebut. Dia membacakan bagian pembagian harta untuk Nanda, Tiara, Nona Sarah, Ibunya Khanza serta Khanza yang mendapatkan Harta kekayaan hampir sama dengan yang diperoleh Yuda. Hanya Mamanya Nanda yang mendapatkan harta warisan dengan nilai yang amat kecil dibanding mereka. Mungkin hanya beberapa persen saja dari harta kekayaan Pak Dwitama.


"Ini gila ! Bagaimana mungkin aku sebagai istrinya hanya mendapatkan secuil. Sedangkan Sarah yang telah diceraikannya dan juga Khanza yang juga anak dari hasil perceraian mendapatkan pembagian harta yang hampir sama dengan Yuda" ucap Mamanya Nanda.


"Ini tidak adil. Aku akan menuntut isi surat warisan itu. Ini tidak sah !" teriak Mama Nanda yag sudah seperti orang gila.


"Apa yang tidak sah ?" tiba-tiba Pak Dimas datang beserta 6 orang polisi di belakangnya. beserta dua orang pria dengan tangan terborgol. Satu orang pria yang bersama Mamanya Nanda saat di Hotel dan satunya lagi Pak Erwan yang merupakan sopir pribadi yang pernah bekerja di rumah ini.


Seorang Polisi yang berada di depan mengeluarkan satu borgol kembali.


"Nyonya Rahma, anda ditetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan berencana terhadap Pak Dwitama. Dengan cara memasukkan racun ke dalam makanan dan minumannya selama satu bulan ini. Anda juga ditangkap atas tuduhan penipuan dan pencemaran nama baik terhadap Ibu Sarah, karena telah bekerja sama dengan Pak Erwan untuk memfitnah Ibu Sarah. Anda juga di dakwah dengan pasal perselingkuhan dengan Pak Albert selaku apoteker yang


selalu memberikan racun tersebut" ucap Polisi itu.


"Kami juga menetapkan Ibu Atin sebagai tersangka, karena telah bekerja sama dengan Ibu Rahma melakukan pembunuhan berencana" ucap Pak Polisi tersebut.


"Tidak... Ini tidak mungkin. Apa buktinya ?" teriak Mama Nanda.


"Alat bukti telah kami bawa. Botol minuman beracun yang memililki sidik jari anda dan Ibu Atin beserta hasil labnya. Dan juga pengakuan dari Pak Erwan dan Pak Albert yang telah mengaku membenarkan kejadian tersebut" ucap Polisi itu.


Mama Nanda tertunduk lemas. Dia tidak percaya bahwa kejahatan akan segera terbongkar.


Yuda, Nanda dan Tiara tak kalah kaget atas perbuatan Ibunya yang telah membunuh Ayah kandung mereka sendiri.


"Aku kecewa pada Ibu ! Selama ini aku memdukung Ibu. Tapi Ibu membunuh Papa !" teriak Tiara yang berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Tak lama terdengar tawa yang sangat keras dari Mamanya Nanda.


"Semua harta ini akan menjadi milikku ! Milikku ! Hahahaha.." ucap Mama Nanda sambil tertawa.


Nanda menangis melihat perilaku Mamanya begitu juga dengan Yuda yang merasa iba pada mamanya.


"Kenapa dengan Mama, Pak ?" tanya Nanda.


"Sepertinya Bu Rahma tidak siap untuk ditahan dan kehilangan semuanya. Mungkin dia mengalami stress yang berlebihan dalam satu waktu sehingga gangguan jiwanya mulai terguncang. Hal ini sering kami dapati sewaktu kami menangkap tindak kejahatan" ucap Pak Polisi.


"Baiklah, kalau begitu kami akan membawa Ibu Rahma ke rumah sakit dulu untuk diperiksa gangguan kejiwaannya" ucap Pak Polisi.


Pak Polisi lalu membawa Mama Nanda yang masih terus tertawa pergi dari rumah itu.


Khanza lalu memeluk Nanda untuk membantunya menenangkan diri.


"Sabar ya Nan" ucap Khanza memeluk Nanda.


"Makasih Za. Disisi lain aku sedih Ibu ditangkap dan mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi disisi lain, aku juga kaget dengan perilaku ibu yang sudah sangat keterlaluan. Atas nama Ibu kami meminta maaf ya Za" ucap Nanda.

__ADS_1


Khanza mengangguk.


Sorry baru up 🙏.. sebagai gantinya hari ini double up ya.. up bab ini enggak ada romantis-romantisnya dulu. Di bab berikutnya baru ada ya 🤭 Pokonya banyak hal yang aku suka dari kaliannnn.. termasuk cara kalian membuatku tertawa membaca komen-komen kalian 🤭 Jangan lupa like, vote dan komen ya.. Saranghaeyo😘


__ADS_2