
Jangan lupa memberi like, komen, dan vote ya.. 🙏 Happy Reading Gaes 😘
***********************
Khanza melangkahkan kakinya menuju ruangan Pak Vino dengan gontai. Terdengar suara teriakan kecil yang lebih terdengar seperti bisik-bisik dari deka, Vira dan Zia.
"Semangat Khanza" Ucap mereka yang prihatin dengan nasib Khanza nanti.
Khanza mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan Vino.
Terlihat Vino yang sudah duduk di mejanya, dengan raut wajah yang kesal memandang ke arah Khanza yang berdiri dihadapannya sekarang.
Aduh kira-kira dia dengar ga ya ucapan aku tadi.. (Batin Khanza).
"Saya dengar, kamu bilang tadi kalau saya kurang kerjaan. Apa benar saya terlihat seperti itu ?" Tanya Vino, masih dengan raut wajah yang kesal.
Bagaimana ini. Ternyata Dia benar-benar mendengarnya. Terus aku mau jawab apa ini.. Masa iya aku bilang "Benar". Bisa-bisa dia tambah marah lagi.
Khanza masih diam tidak menjawab.
"Kenapa tidak menjawab ? Bukankah tadi kau sangat lancar berbicara di hadapan mereka ?" Tanya Vino.
Khanza menunduk. Dia mencoba mengambil nafas panjang.
"Maafkan Saya, Pak Vino" Ucap Khanza.
"Maafkan Saya, yang terdengar kurang sopan dengan kata-kataku barusan. Sebenarnya, Saya hanya menimpali saja tadi. Saya orangnya memang suka berbicara apa adanya. Apa yang terlintas dipikiran saya saat itu, langsung saya utarakan saat itu juga. Maaf kalau ini terdengar kurang nyaman. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sebisa mungkin, Saya akan mengontrol diri saya, agar kejadian ini tidak terulang lagi" Ucap Khanza.
Vino hanya diam tidam bergeming.
"Hmm.. Sebenarnya kisah Pak Vino mengingatkanku pada ucapan Ibuku. Kata Ibuku, Kita harus menjadi orang yang menghargai sesama. Jangan sakiti orang lain, hanya karena kau mencintai pasangannya. Cinta itu pada dasarnya tidak memaksa dan juga tidak merebut" Ucap khanza.
Vino kaget mendengarnya. Dia mencoba mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Khanza.
Huft.. Vino menarik nafas panjang.
"Baiklah, untuk kali ini Saya memaafkanmu. Saya anggap, Kamu sedang khilaf. Tapi lain kali, jangan mengulanginya lagi. Dan jangan mencampuri urusan Saya lagi !" Ucap Vino.
Sekarang raut wajah Khanza yang seperti terkejut mendengar ucapan Vino barusan.
"Baiklah, Kau boleh pergi sekarang" Ucap Vino.
Khanza masih mematung ditempatnya.
"Saya sudah bilang, Kamu sudah bisa pergi sekarang. Saya sudah memaafkanmu" Ucap Vino.
Khanza mendongakkan wajahnya.
"Sepertinya Pak Vino salah paham. Maksud saya disini, Saya memang minta maaf atas ucapan saya, yang bilang kalau Pak Vino kurang kerjaan. Tapi Saya tidak meminta maaf untuk ucapan Pak Vino yang bilang, kalau saya suka mencampuri urusan orang lain. Karena saya bukan orang yang seperti itu. Saya tidak tertarik dan berminat dengan urusan orang lain" Ucap Khanza.
Vino terkejut mendengarnya.
"Baiklah, Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, Saya keluar dulu Pak" Ucap Khanza smabil menundukan kepala sebagai isyarat memohon izin keluar dari ruangan Vino.
Khanza lalu bergegas melangkah keluar, meninggalkan ruangan Vino.
Hah ? Apa-apan itu ?
Batin Vino.
__ADS_1
Khanza yang keluar dari ruangan Vino, langsung diserbu oleh Deka, Zia dan Vira. Mereka langsung menarik tangan Khanza untuk menanyakan keadaannya.
"Kamu ga apa-apa kan, Za ? Ada yang memar ga bagian tubuhmu ?" Ucap Vira yang memegangi lengan Khanza dan mengitari sekeliling tubuh Khanza seperti seorang polisi yang menggeledah tersangka.
"Aku ga apa-apa kok, Vir" Ucap Khanza.
"Iya nih, Vira. Mana mungkin ayang beib aku melakukan tindak kekerasan. Apalagi sama cewek" Ucap Deka membela Vino.
"Idih, kumat lagi nih anak" Ucap Zia.
"Jadi gimana ? Pak Vino marah ga tadi di dalam ?" Sambung Zia.
"Hmm.. Aku tadi sudah meminta maaf sih. Dia juga bilang sudah memaafkanku. Tapi ga tahu deh kalau soal masih marah atau enggaknya" Ucap Khanza.
"Oh.. Pak Vino sudah memaafkanmu, Za. Itu berarti Pak Vino sudah ga marah lagi sama kamu, Za. Pak Vino bukan orang pendendam kok" Ucap Deka.
"Ya, semoga saja" Ucap Khanza.
***************
Jam telah menunjukkan pukul 16:00 Sore. Jam pulang bagi karyawan Perusahaan. Khanza yang telah bersiap-siap untuk pulang, bergegas menuju lift untuk turun ke bawah. Dia melangkah keluar dari lobby kantor dan bersiap mau menyebrang jalan menuju halte di seberang sana. Tapi tiba-tiba, Khanza mengurungkan niatnya saat melihat anak laki-laki berusia sekitar 7 tahunan yang mau menyebrang jalan malah di serempet oleh sebuah motor yang sedang melintas. Untungnya, anak itu sempat mengelak. Sehingga tubuhnya terhempas ke aspal. Jadi luka yang dideritanya tidak begitu parah. Hanya lecet dan muka memar di lutut dan lengannya.
"Apa kau tidak apa-apa ?" Tanya Khanza.
"Huhuhuhu.." Tangis Anak itu.
"Hei, Sudah.. Jangan menangis. Setidaknya Kau selamat sekarang" Ucap Khanza.
"Dimana rumahmu ? Nanti kakak antar pulang kerumahmu" Ucap khanza.
Anak itu makin menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa tidak bicara ? Apakah terasa sakit luka memarnya ?" Tanya Khanza.
Oh, Lututnya berdarah. Pantas dia menangis. Sedikit sih, tapi untuk anak seusia dia itu pasti terasa perih..
"Abi tidak mau pulang. Ibu pasti memarahi Abi kalau tau Abi terluka begini. Abi juga tadi tidak izin sama Ibu sewaktu keluar.. Huhuhu" Ucap anak yang bernama Abi itu.
"Ya, Sudah. Sini Kakak gendong. Kita duduk dibangku taman itu dulu. Kakak bersihin lukamu dulu, biar Ibu Abi tidak marah nanti, ketika Abi pulang" Ucap Khanza membujuknya.
Akhirnya Abi menghentikan tangisannya. Dia mengangguk tanda setuju.
"Bisa berjalan, tidak ?" Tanya Khanza.
Abi menggeleng.
"Masih sakit" Ucap Abi.
Akhirnya Khanza menggendong Abi di belakang punggungnya. Dia terus berjalan menuju bangku taman sambil menggendong Abi. Semua orang yang kebetulan lewat sempat memandang heran ke arah Khanza dan Abi. Bagaimana tidak, Semua orang pasti berpikir, tidak mudah bagi Khanza yang menggunakan rok pendek dan sepatu hak tinggi menggendong seorang anak dibelakang tubuhnya sepanjang jalan. Tapi Khanza tetap berjalan dengan cueknya.
Tiba-tiba sebuah klakson mobil membuat langkah Khanza terhenti. Dia terpaksa menoleh kebelakang, untuk mengetahui asal suara klakson mobil.
Vino menurunkan kaca mobilnya. Khanza terkejut saat mengetahui bahwa Vino yang berada di dalam mobil.
Vino yang kebetulan lewat karena mau pulang ke rumahnya, terkejut melihat seorang gadis memakai setelan blazer dan sepatu hak tinggi menggendong seorang anak dibelakangnya. Terlebih lagi, gadis itu adalah Khanza.
"Adikmu ?" Tembak Vino langsung.
"Oh, Bukan" Ucap Khanza.
__ADS_1
Vino lalu turun dari mobilnya, setelah memarkirkan mobilnya menepi.
"Kakinya berdarah ? Kenapa ?" Tanya Vino.
"Dia korban tabrak lari sepertinya. Tapi, untungnya dia bisa mengelak tadi. Jadi lukanya tidak parah" Ucap Khanza.
"Kenapa tidak ke Rumah Sakit ?" Tanya Vino.
Anak itu langsung menangis kembali.
"Abi tidak mau ke Rumah Sakit. Abi tidak mau disuntik. Abi juga tidak mau pulang ke rumah. Kata kakak tadi kita cuma mau ke bangku taman, membersihkan luka" Ucap anak itu.
Vino seolah paham, apa yang terjadi setelah mendengar ucapan anak tadi.
"Sini, Oom yang gendong kamu. Kasihan kan, Kakak ini kalau gendong Abi. Soalnya dia pakai sepatu tinggi" Ucap Vino.
Anak itu mengangguk. Akhirnya, Vino yang menggendong Abi sampai di taman kota. Vino mendudukan Abi di bangku taman.
"Hmm.. Pak Vino. Apa saya bisa minta tolong jagain Abi sebentar. Saya harus membeli kapas dan betadine di minimarket untuk membersihkan lukanya Abi" Ucap Khanza.
"Dimana minimarketnya ?" Tanya Vino.
"Diseberang sana, Pak" Ucap Khanza.
"Sini, biar saya saja yang beli. Kamu yang jagain Abi" Ucap Vino.
"Hmm.. Sekalian air mineral dan hansapl*st juga ya pak" Ucap Khanza.
Vino mengangguk.
Ternyata benar kata orang, dia memang orang yang peduli dengan sekitar
Batin Khanza
Selang beberapa lama, Vino kembali membawa kantong kresek yang isinya sesuai pesanan Khanza tadi.
Khanza mulai membersihkan luka di lutut dan dilengan Abi menggunakan air mineral tadi. Lalu mengelapnya dengan kapas. Setelah kering, Khanza mulai menempelkan Betad*ne pada luka Abi. Terdengar rintihan dari mulut Abi. Dia meringis
"Aduh, sakit kak. Stop. Abi ga mau lagi diobati" Ucap Abi.
Khanza tersenyum.
"Ah, Abi cengeng ah. Kakak aja seusia kamu, jatuh dari pohon dan berdarah, tapi ga nangis. Padahal kakak perempuan loh. Masa' Abi yang cowok, kalah dari kakak" Ucap Khanza.
Abi berhenti menangis. Dia menahan tangisnya.
Khanza berbisik pada Vino.
"Aku yang obatin lukanya, kamu yang membujuknya ya. Ajak ngobrol supaya dia ga fokus sama lukanya" Bisik Khanza.
Vino mengangguk.
Akhirnya Vino mulai bercerita tentang masa kecilnya, dan Khanza mulai mengobati lukanya Abi. Sesekali Khanza tertawa kecil, mendengar cerita Vino yang dianggapnya lucu, walaupun tangannya masih sibuk membersihkan lukanya Abi.
Vino yang melihat Khanza tertawa sambil mengobati lukanya abi dengan telaten, merasa kagum pada Khanza.
Ternyata dia bisa tertawa juga. Dan yang tidak aku sangka, ternyata dia punya sisi penolong seperti ini juga. Coba dia terus senyum seperti ini setiap hari, mungkin orang tidak akan pernah tahu kalau dia gadis yang galak dan keras kepala. Dia malah terlihat manis sekarang.. (Batin Vino).
#Ini hari minggu, Kalian tau ga sih Aku Rindu.. Eaaak..😜 Nantikan terus cerita selanjutnya ya, Dan jangan lupa titipin like, vote dan komen kalian, biar aku tambah semangat nulisnya 🤗 Saranghaeyo dan semangat kaka😘
__ADS_1
Jangan lupa baca juga novel sahabatku dibawah ini ya