Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Dasar Buaya


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya🙏 Happy Reading Gaes 😘


*******************


Keesokan paginya, Khanza kembali masuk ke kantor untuk bekerja. Ditemani Vira, Deka, dan Zia yang sudah mengelilingi meja resepsionis. Tim rumpi sudah siap tempur memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi, pada Khanza yang tidak masuk bekerja kemarin.


"Za, elo kemana sih ga masuk kerja kemarin ? Pak Vino bilang kamu izin bekerja. Kamu sakit ?" Tanya Zia yang mulai bertanya.


"Iya, aku ga enak badan kemarin" Ucap Khanza berbohong.


"Tapi kenapa kaki kamu penuh dengan hansaplast ?" Tanya deka yang matanya sedari tadi melihat Khanza dari atas sampai kebawah. Sudah seperti tatapan lelaki hidung belang.


"Ini, karena ga sengaja jatuh terpeleset di kamar mandi" Ucap Khanza kembali berkilah.


Ya, terpaksa berbohong saja pada mereka. Nanti kalau aku cerita kejadian sebenarnya, ketahuan deh ntar, kalau Vino yang mengantarku pulang. Lagipula Pak Ahmad, ga cerita apa-apa kayaknya. Pasti Pak Ahmad sudah dikasih ultimatum sama kayak satpam di lobby.


Batin Khanza.


"Za, elo tau ga nenek lampir sudah dipecat ? Ya, ampun gila kita senang banget !" Ucap Deka berapi-api.


"Oh, ya ? Ya, syukur deh" Ucap Khanza yang menjawab biasa saja.


"Dih, Khanza. Terkejut napa ? Kok ekspresinya biasa aja" Ucap Vira.


Khanza tersenyum mendengarnya.


"Jadi sekarang yang gantiin Rahel, Sekretaris dari lantai 6. Namanya Indri. Dia sudah terbiasa bekerja dalam tim. Orangya juga asyik. Gue sudah beberapa kali pelatihan bareng dia. Hari ini dia mulai masuk ke ruangan kita" Ucap Zia.


"Ya, memang lebih baik Indri deh dari pada nenek lampir itu" Ucap Deka.


"Betewe, ayang beibku kok belum datang-datang ya ? Enggak ada pemandangan menarik yang lewat deh, buat cuci mata" Ucap Deka dengan mimik wajah yang dibuat seolah-olah sedih.


"Pak Vino maksudmu ? Dia ada di lantai 8. Dia ada jadwal meeting dengan Perusahaan kolega di ruang rapat. Jadi dia langsung datang ke sana" Ucap Vira.


"Yaelah, pantes. Dari tadi nungguin Pak Vino enggak lewat-lewat, malah Mas Agus nih yang sudah mondar-mandir beberapa kali. Udah kayak gosokan aja. Bikin sepet mata !" Ucap Deka.

__ADS_1


"Wah, bener-bener elu ya Dek ! Gue enggak tau apa-apa dan enggak ada salah sama elu, elu bilang bikin sepet mata ! Gue bilangin bini gue loh biar dijambak" Ucap Mas Agus yang kebetulan lagi lewat di meja Resepsionis.


Mendengar Mas Agus yang bilang akan melaporkan ucapannya pada istrinya. Deka langsung berubah kalem. Siapa yang tidak kenal dengan istri Mas Agus. Seorang Ibu Rumah Tangga dengan kekuatan samson dan level kecemburuan tingkat Dewa. Vira pernah menjadi korban kecemburuan istri Mas Agus, gara-gara Vira nebeng pulang, naik mobilnya Mas Agus. Keesokan harinya, istri Mas Agus langsung mendatangi Vira di kantor dan mengamuk.


"Ah, jangan dong Mas Agus. Mas Agus kan, Ganteng, baik hati, rajin menabung dan hafal pancasila. Mirip artis Bollywood lagi. Jangan dibilangin ke bininya ya" Ucap Deka yang tiba-tiba menjadi sopan.


Sontak ucapan Deka membuat semua yang berkumpul diruangan itu tertawa.


*****************


Jam menunjukkan pukul 12:00 siang. Jam istirahat para pegawai kantoran. Tidak terkecuali dengan para tim rumpi penghuni lantai 15 yang sudah beranjak dari mejanya dan bersiap pergi ke kantin. Sebenarnya Khanza membawa bekal makan siang untuk hari ini. Tetapi karena Indri yang baru masuk perdana di ruangan ini, bermaksud mentraktir semua pegawai di lantai 15 itu. Jadi, Khanza harus menutup kembali kotak bekal makanannya dan ikut makan di kantin kantor.


*************************


Sementara itu di ruang rapat, Vino memimpin rapat yang sedang berlangsung. Kurang lebih 2 jam, rapat telah selesai dan berlangsung sukses. Nanda yang merupakan perwakilan dari Dwitama Group dalam rapat ini, menghampiri Vino yang baru saja selesai menandatangani dokumen keputusah hasil rapat.


"Sekali lagi terima kasih ya Vino. Proyek kerja sama ini, tak akan berhasil tanpa campur tanganmu" Ucap Nanda.


"Itu terlalu berlebihan. Perusahaan Dwitama Group, juga ikut andil kok" Ucap Vino.


"Kalau begitu apa kita bisa makan siang bersama ?" Tanya Nanda.


"Baiklah. Kalau begitu kita makan disini saja. Di kantin Perusahaanmu" Ucap Nanda.


Vino diam tidak menjawab. Dia tampak sedang berpikir.


"Jangan bilang tidak mau ya, Vin. Sudah dua kali aku berkunjung ke sini. Tetapi belum pernah mencicipi makanan di kantin Perusahaanmu" Ucap Nanda terus memaksa.


Vino kembali terdiam. Akhirnya, setelah cukup lama berpikir dia membuat keputusan.


"Ya, baiklah. Aku selesaikan dokumen ini sebentar ya" Ucap Vino.


Nanda mengangguk.


Setelah selesai memeriksa dokumen, Vino dan Nanda akhirnya bergegas menuju ke kantin.

__ADS_1


Mereka berdua sudah duduk di sebuah meja kantin, dengan posisi saling berhadapan. Mereka memesan menu makanan favorit mereka masing-masing dan mulai menikmati makanan mereka.


Khanza dan rombongan modis alias modal diskon, Deka, Vira, Zia, Tina, Mas Agus dan yang tidak boleh ketinggalan Anggota barunya Indri, baru saja tiba di kantin. Kenapa dibilang tidak boleh ketinggalan Indrinya. Karena dia yang akan membayar semua pesanan makanan yang akan di pesan oleh tim rumpi. Jadi Indri agak dispesialkan disana.


Mereka yang sudah memilih meja di dekat pintu kantin mulai memesan dan menulis menu makanan yang akan mereka pesan.


"Eh, bukankah itu Pak vino ?" Ucap Zia sambil menunjuk meja yang berada disudut. Tampak posisi Vino membelakangi mereka. Sehingga Vino tidak bisa melihat mereka.


"Oh iya, itu ayang beibku. Dengan siapa ya?" Tanya Deka.


Khanza melirik ke arah meja Nanda dan Vino.


Nanda ? Sedang apa dia disini ? Kenapa dia bersama Vino ?


Batin Khanza.


"Oh, itu kan Manager proyek PT. Dwitama Group. Nanda namanya" ucap Zia menjawabi pertanyaan Deka.


"Cantik banget ya, yang namanya Nanda. Melihat mereka berdua seperti pasangan yang serasi saja. Yang satu cantik, yang satu ganteng. Sama-sama dari strata atas semua. Kita yang cuma remahan kerupuk ini lebih baik mundur teratur deh" Ucap Tina.


"Tadi, waktu ke kamar mandi. Aku sempat melihat Nona Nanda beberapa kali membetulkan riasannya di kamar mandi. Berulang kali dia memegangi dadanya. Seperti orang yang grogi gitu" Ucap Indri.


"Ya, pasti dia gugup berhadapan dengan Pak Vino ayang beibku. Sudah kaya, ganteng, dan baik hati lagi. Cuma orang yang ga waras, yang ga suka sama Pak Vino" Ucap Deka.


Khanza refleks menoleh mendengar ucapan Deka.


Tidak waras ?


Batin Khanza.


"Sudah-sudah ayo kita makan dulu. Entar lagi bahas masalah Pak Vinonya. Bahas masalah Pak Vino yang perfect di depan gue. Turun harga diri gue sebagi laki-laki berkharisma" Ucap Mas Agus.


Mereka semua tertawa mendengar lawakan Mas Agus. Kecuali satu orang diantara mereka, yang tidak lepas mengalihkan pandangannya sedari tadi. Dia terus menatap meja di sudut sana. Ada perasaan sedikit terluka saat melihat dua orang yang duduk di meja sana, sedang makan bersama. Tangannya terus mengepal geram melihat Vino dan Nanda yang duduk dalam satu meja.


Dasar Buaya !

__ADS_1


Batin Khanza.


#Ada yang panas, tapi bukan cuaca.. Apa yak ? 🤭 Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. komen kalian selalu aku baca loh, tapi belum sempat dibales aja 🙏 Terus beri semangat ya.. dan tunggu episode selanjutnya besok 😊


__ADS_2