
Jangan lupa memberi dukunganmu melalui like, komen dan vote makasih 🙏 Happy Reading gaes 😘
**********************
Pagi hari ini, Khanza telah masuk kantor kembali. Sebenarnya dia masih enggan untuk bekerja, karena masih ingin menemani ibunya di Rumah Sakit. Tetapi, karena ada Bu Hetri tetangga di sebelah rumahnya yang menunggui Ibunya hari ini, maka Khanza bisa tenang meninggalkan Ibunya di Rumah Sakit. Lagipula, Khanza kadang merasa tidak enak sendiri. Sebagai pegawai yang baru bekerja selama beberapa minggu, sudah izin terlalu sering.
"Khanza, sudah masuk kerja kamu hari ini ? Bukannya, kamu meminta izin selama tiga hari ?" Tanya Vira yang baru saja datang.
"Iya nih Vir, Ga jadi. Aku izin 2 hari aja. Ga enak kalau lama-lama izin" Ucap Khanza.
Vira mengerenyit.
"Lah, jadi Ibumu siapa yang jaga ?" Tanya Vira.
"Ada tetangga, yang memang sahabat dekat Ibu. Hari ini, dia yang jagain Ibu" Ucap Khanza.
"Ooh.. Tapi Ibumu sudah agak mendingan kan ?" Tanya Vira lagi.
"Iya" Ucap Khanza.
Tiba-tiba Deka dan Zia yang baru saja datang. Langsung menghampiri Khanza dan Vira.
"Khanza ? Kok sudah masuk kerja ? Padahal hari ini rencananya kami mau membesuk Ibumu di Rumah Sakit" Ucap Zia.
"Iya, aku ga enak nih kalau kelamaan izin. Secara masih pegawai baru" Ucap Khanza.
"Yaelah, Khanza. Padahal aku sudah seneng banget, hari ini bakalan besuk Ibu kamu. Jadi ada kesempatan ga perlu kerja selama beberapa jam deh" Ucap Deka.
"Dasar ya Deka, itu sih maunya elu !" Ucap Vira.
Merekapun tertawa berbarengan.
"Eh, aku sama Deka masuk ke dalam ya. soalnya sudah mau masuk jam kerja nih, kami berdua belum pada ngabsen" Ucap Zia.
Khanza dan Vira mengangguk.
Tak lama, semua pegawai di dalam ruangan itu mulai berdatangan. Mereka mulai mengerjakan pekerjaan rutin mereka masing-masing. Seperti halnya yang dilakukan Khanza. Dia sibuk menyusun arsip yang berhubungan dengan resepsionis.
Tiba-tiba telepon di meja Resepsionis berdering. Khanza lalu mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Samudera Group disini. Dengan saya, Khanza. Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Khanza.
"Saya sedang mencari seseorang" ucap suara seorang pria di seberang sana.
"Maaf Pak, anda sedang mencari siapa kalau boleh tahu ? Biar saya bisa hubungkan ke telepon meja tersebut" Ucap Khanza.
"Saya sedang mencari orang yang mencuri hati saya" Ucap Pria itu.
Jleb !
Khanza merasa orang di telepon itu sedang mempermainkannya.
"Maaf sepertinya anda salah sambung" Ucap Khanza lalu menutup teleponnya.
Tiba-tiba telepon berdering kembali. Khanza kembali mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo, Samudera Group disini. Dengan saya, Khanza. Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Khanza lagi.
"Iya, ada kok yang bisa kamu bantu. Tolong cariin menantu buat Mama saya. Kalau ga ada, kamu juga boleh" Ucap suara di seberang telepon.
Kali ini kesabarannya benar-benar sudah habis.
Siapa orang ini ? Pagi-pagi sudah bikin naik darah !
Batin Khanza.
"Maaf anda ini sebenarnya siapa ya ? Kalau memang tidak ada hal yang penting untuk dibicarakan, lebih baik tutup teleponnya atau saya yang akan selalu menutup telepon setiap anda menelepon !" Ucap Khanza.
"Eits, jangan dong Khanza. Aku minta maaf ya. Ini aku Aldi. Habis kamu ga mau ngasih nomor ponselmu sih. Jadi aku cuma bisa menelepon ke telepon mejamu" Ucap Aldi.
"Tolong, jangan menelepon ke sini lagi. Aku benar-benar merasa terganggu. Aku harap kamu mengerti" Ucap Khanza.
Khanza lalu menutup teleponnya. Tetapi telepon kembali berdering. Kali ini, Khanza tidak mau mengangkat telepon. Dia meminta Vira untuk mengangkatnya. Ternyata benar saja, yang menelepon tetap saja Aldi. Sesuai arahan Khanza, Vira menjawab kalau Khanza sedang pergi.
Awalnya Aldi tidak percaya, namun Vira berusaha meyakinkannya berulang-ulang. Pada akhirnya, barulah Aldi mau mengerti.
"Astaga Khanza, kamu kasih pelet apa ini anak. Kok bucinnya kebangetan" Ucap Vira yang ikut kesal meladeni Aldi.
Khanza hanya tersenyum mendengar ucapan Vira.
Tiba-tiba, ada pegawai dari lantai 7 mengantarkan dokumen untuk Vino.
"Tolong titip untuk Pak Presdir ya, Mbak" Ucap Pegawai itu.
Akhirnya Khanza meneruskan dokumen itu untuk diserahkan kepada Vino.
Khanza masuk ke dalam ruangan Vino, setelah mengetuk pintu.
Vino lalu mengambil dokumen yang diserahkan Khanza.
"Kenapa ngantor ? Ibumu siapa yang jaga ?" Tanya Vino.
"Ada tetangga yang menjaga Ibu hari ini. Lagipula saya merasa tidak enak, bila izin terlalu lama. Saya masih baru disini" Jawab Khanza.
Vino tidak bertanya lagi. Dia hanya diam menatap Khanza. Lalu dia kembali menandatangani dokumen yang ditunggu oleh Khanza. Dan setelah selesai, Vino menyodorkan dokumennya kembali kepada Khanza. Khanza yang sudah mau beranjak pergi dari ruangan itu, tiba-tiba teringat sesuatu.
"Maaf PaK Vino, apa saya boleh bertanya ?" Tanya Khanza.
"Panggil Vino saja" Ucap Vino.
"Tapi ini dikantor, saya merasa..." belum selesai Khanza meneruskan kata-katanya tapi Vino menyela ucapannya.
"Tapi tidak ada orang diruangan ini. Panggil aku Vino saja" Ucap Vino.
"Baiklah. Apakah Aldi itu temanmu Vin ?" Tanya Khanza tanpa bertele-tele.
Aldi ? mengapa dia bertanya mengenai Aldi ?
Batin Vino.
"Iya. Dia temanku sewaktu kuliah. Kami dekat sewaktu kuliah, karena sama-sama berasal dari Indonesia" Ucap Vino.
__ADS_1
Bagaimana ini, aku ingin bertanya apakah Aldi ada keterbelakangan mental sehingga mengangguku setiap saat. Tapi bagaimana cara bertanyanya ya ? Dia tersinggung ga ya kira-kira. Kan Aldi itu temannya..
Batin Khanza.
"Hmm.. Aldi itu orang seperti apa ?" Tanya Khanza yang akhirnya memilih kosakata itu untuk bertanya.
"Seperti apa ?" Vino mengerenyit.
Kenapa dia terlihat tertarik sekali mengenal Aldi. Aku jadi kesal mendengarnya !
Batin Vino.
"Apa kau menyukai Aldi ?" Tanya Vino dengan tatapan matanya yang tajam.
"Aku ? Mana mungkin !" Ucap Khanza.
Untuk sesaat Vino bernafas lega.
"Karena dia temanmu, bisakah kau menyuruhnya untuk tidak terus mengangguku ?" Ucap Khanza.
"Dia menganggumu ? Bukannya dia di luar kota untuk mengurus bisnisnya ?" Ucap Vino.
"Pagi ini, dia sudah beberapa kali menelepon ke telepon meja aku, Vin. Pekerjaanku jadi terganggu. Bisakah kau bilang padanya untuk berhenti mengangguku" Ucap Khanza.
Vino baru mengerti maksud Khanza.
"Maafkan temanku yang satu itu. Dia memang agak kekanak-kanakan. Tapi sebenarnya dia orang yang baik kok" Ucap Vino.
Baik ? Dia itu mengerikan tahu !
Batin Khanza.
"Aku tidak perduli, dia baik atau tidak. Tolong bilang padanya aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang lelaki saat ini. Baik itu sebagai teman maupun kekasih" Ucap Khanza.
Vino yang mendengarnya merasa terkejut.
"Kenapa ?" Tanya Vino tanpa sadar.
"Kenapa ?" Khanza mengerenyit.
"Kenapa kau tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang laki-laki ?" Tanya Vino mengintimidasi.
Walaupun sempat bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Vino, akhirnya Khanza menjawabnya.
"Karena aku tidak punya waktu untuk itu.. Aku harus menjaga Ibuku dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. Bahkan weekend, aku harus membantu Ibu di wartegnya. Jadi, aku benar-benar tidak ada waktu untuk itu" Ucap Khanza.
"Walaupun untuk berteman ?" Tanya Vino kembali.
"Berteman dengan pria, aku takutnya terlalu nyaman. Ujung-ujungnya aku jadi baper, dan terpuruk saat dia meninggalkanku. Aku tidak mau hidupku semakin terpuruk karena ditambah masalah yang aku buat sendiri. Lebih baik begini. Aku sudah bahagia, hanya dengan bersama Ibuku" Ucap khanza yang tersenyum.
Vino hanya bisa terdiam mendengar jawaban Khanza.
"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku permisi keluar ya Vin. Jangan lupa, untuk menyampaikan pesanku pada temanmu" Ucap Khanza yang bergegas pergi meninggalkan Vino diruangannya.
Huft.. Itulah yang memberatkanku untuk bergerak lebih jauh. Aku takut, bila aku bergerak maju.. Kau akan mundur secara perlahan.
__ADS_1
Batin Vino.
#Jangan lupa juga jaga kesehatan ya... Kayak aku dong, kesehatan aja aku jaga, apalagi perasaan eaaa 🤭 Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. makasih 🙏