Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Penurut dan lemah lembut


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya🙏 Happy reading gaes 😘


*****************


"Tidak saling kenal ? Oh, berarti pikiran saya yang terlalu jauh. Maaf ya Pak Vino" Ucap Bu Ulik.


"Ya, Tidak masalah Bu Ulik" Ucap Vino.


"Kalau begitu kami permisi dulu Pak Vino. Saya juga harus bekerja sekarang" Ucap Bu Ulik.


"Tunggu. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bu Ulik. Dan Kamu..." Vino seperti berpikir mengingat sesuatu.


Bu Ulik yang mengerti dengan apa yang dipikirkan Vino, langsung menyela.


"Khanza. Khanza Pak namanya tadi" Ucap Bu Ulik.


"Oh, iya. Dan kamu Khanza, boleh kembali bekerja" Ucap Vino.


"Terima kasih, Pak" Ucap Khanza sambil berlalu pergi.


"Pak Vino, ingin berbicara masalah apa Pak ?" Tanya Bu Ulik.


"Saya ingin tahu. Bagaimana Dia bisa tahu ada lowongan untuk resepsionis disini ? Apa dia melamar sendiri, atau Mila yang merekomendasikan sebagai gantinya ?" Tanya Vino.


Aduh kenapa Pak Vino ingin mengetahui masalah ini. Biasanya dia tidak mau mengurusi masalah kecil seperti ini. Apa benar mereka tidak saling kenal..


"Hmm.. Maaf Pak. Sebenarnya saya belum mengumumkan lowongan untuk posisi resepsionis yang kosong ini. Karena Mila juga baru memberitahukan bahwa dia resign, kemarin pagi. Harusnya hari ini saya posting pengumuman lowongan pekerjaan untuk posisi ini. Tapi karena kebetulan Khanza sangat membutuhkannya maka saya memberikan lowongan pekerjaan ini padanya" Ucap Bu Ulik.


"Apa Bu Ulik mengenal gadis itu ?" Tanya Vino.


"Ya, tentu saja. Dia guru les privat anak saya. Cuma karena dia baru saja kehilangan pekerjaan. Dan juga, dia tidak akan mengajari anak saya les lagi, karena anak saya akan segera masuk Asrama. Maka saya mencarikannya pekerjaan ini Pak. Saya harap Pak Vino memperbolehkannya bekerja disini karena Khanza sangat membutuhkan pekerjaan ini" Ucap Bu Ulik


Vino terdiam sejenak. Dia kelihatan berpikir serius.


"Ya, Baiklah dia boleh bekerja disini. Asal harus mematuhi aturan yang ada" Ucap Vino.


"Terima kasih, Pak Vino. Kalau masalah itu tenang saja. Dia tidak akan melanggar peraturan kedisiplinan Perusahaan kok. Saya sangat mengenalnya. Khanza anaknya sangat penurut dan lemah lembut" Ucap Bu Ulik.


Hah, Penurut dan lemah lembut ? tidak salah ? Galak dan keras kepala sih iya !


Batin Vino.


Vino hampir tertawa mendengarnya. Untung dia bisa menahannya di depan Bu Ulik.


"Baiklah, Bu Ulik bisa kembali ke ruangan Bu Ulik" Ucap Vino.


Bu Ulik lalu melangkah keluar, kembali keruangannya.


******************

__ADS_1


Sedangkan di meja Resepsionis, Khanza dan Vira telah duduk berdampingan seperti pengantin yang ada dipanggung.


Vira sibuk mengajari Khanza cara menyambungkan dan meneruskan telepon ke meja pegawai.


Tiba-tiba ada telepon yang masuk mencari Rahel. Sepertinya dari Perusahaan Kolega yang ingin mengatur jadwal dengan Presdir mereka.


Karena Rahel sibuk menerima telepon dari ponselnya, maka Khanza menghampirinya. Kebetulah Rahel baru saja selesai menerima telepon.


"Maaf Mbak Rahel, Ada telepon dari perusahaan vision group mencari Mbak Rahel" Ucap Khanza.


Rahel yang mendengar dirinya dipanggil Mbak merasa tidak terima.


"Siapa yang kamu panggil Mbak ? Panggil aku Nona Rahel !" bentak Rahel.


Khanza terdiam mendengarnya. Kalau saja dia tidak memandang Bu Ulik yang telah memberinya pekerjaan di perusahaan ini, dia pasti sudah membentak balik wanita dihadapannya ini. Apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja. Setidaknya harus memberikan kesan yang baik, pikirnya. Dia mengambil nafas panjang, dan mulai membuka suaranya.


"Maafkan saya, Nona Rahel" ucap Khanza.


Rahel hanya diam tidak menjawab.


"Aduh, Rahel.. Lebay banget deh. Kalau kami sih ga keberatan Za kamu panggil kayak gitu. Mau di panggil mbak kek, kakak atau adik juga boleh, hehehehe" ucap Deka mencairkan suasana.


"Iya, Rahel. Lagian kan, Khanza masih baru disini. Wajar kalau belum mengerti apa maunya kita" ucap Zia.


"Aduh, anak baru jangan dibela ntar ngelunjak lagi" Ucap Rahel sambil bergegas pergi menerima telepon ke meja Tina. Karena telepon di mejanya sedang bermasalah ditambah dia malas menanggapi Deka dan Zia yang lebih memilih membela Khanza ketimbang dia.


"Iya, nih. Aku juga, agak kurang cocok nih bekerja sama dengan Rahel. Kadang sering banget beda pendapatnya. Ya, terpaksa.. Aku yang ngalah biar gak cek-cok" Ucap Zia.


Khanza tersenyum mendengarnya.


"Terima kasih ya, Nona Zia dan Nona Deka. Sudah memaklumiku" Ucap Khanza.


"Eh, Jangan panggil Nona. Kita seumuran kan ? panggil aja Deka dan Zia" Ucap Deka.


"Apa tidak apa-apa, Kalau aku panggil begitu ?" Tanya Khanza ragu.


"Tidaklah. Kalau sama kami nyantai aja kok. Vira aja memanggil kami seperti itu" Ucap Zia.


"Baiklah, Terima kasih Deka dan Zia. Aku ke meja depan lagi ya" Ucap Khanza.


"Oke, Khanza" Ucap Zia dan Deka berbarengan.


********************


Sekarang, Jam telah menunjukkan pukul 16:00 Sore. Jam pulang para pegawai Perusahaan Samudra Group.


Para pegawai mulai membereskan berkas-berkas yang ada diatas meja mereka, dan bersiap pulang.


Satu-persatu dari pegawai di ruangan itu telah bergegas pulang.

__ADS_1


Khanza yang masih berkutat dengan buku panduan terus membaca dan mempelajarinya.


"Aku duluan ya, Za. Udah di jemput nih" Ucap Vira.


"Iya, ga apa-apa kok Vir. Bentar lagi, Aku juga pulang" Ucap Khanza.


Setelah selesai membaca buku pedoman, Khanza membereskan mejanya.


Vino yang baru saja keluar dari ruangannya untuk segera pulang, menghentikan langkahnya saat suara seorang perempuan menghentikannya.


"Tunggu !" Ucap Khanza.


Vino menoleh ke asal suara.


Khanza berdiri dari duduknya.


"Hmm.. Maksud saya. Saya minta maaf Pak Vino" Ucap Khanza.


Vino mengerenyit bingung.


Khanza melangkah mendekat. Sekarang posisi mereka saling berhadapan.


"Maafkan untuk kejadian kemarin-kemarin. Mungkin saya terlampau kasar kepada anda tempo hari. Tetapi itu karena suasana hati saya yang sedang kacau. Aku juga tidak menyangka, bahwa Anda menjadi atasanku sekarang" Ucap Khanza.


"Hmm.. Karena kedepannya, kita akan sering bertemu. Saya harap Anda dapat melupakan kejadian yang kemarin dan memaafkan saya" Sambung Khanza.


Khanza mengulurkan tangannya kehadapan Vino, sebagai permintaan maafnya.


Vino melirik tangan Khanza yang sedang terulur dihadapannya. Dia memandangi Khanza dengan lekat. Sorot matanya tajam memandang Khanza.


Tak lama Vino tersenyum. Dan menyambut uluran tanga Khanza. Mereka berjabat tangan.


"Baiklah, anggap tak pernah terjadi" Ucap Vino yang masih tersenyum dan memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.


Kenapa tangannya begitu hangat yah, seperti tangan ibu saja.


Batin Khanza.


Kenapa tangan gadis ini sangat halus dan lembut ya. Tidak melambangkan kepribadiannya yang keras kepala dan galak !


Batin Vino.


Akhirnya mereka tersadar telah bersalaman begitu lama. Mereka melepaskan tangannya masing-masing. Tiba-tiba mereka merasa canggung satu sama lain.


"Hmm.. Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu" Ucap Vino.


"Iya, Silahkan Pak. Saya juga mau pulang sebentar lagi" Ucap Khanza.


#tunggu terus update selanjutnya ya.. jangan lupa sisipkan komentar, like dan vote 🙏 Makasih ya sudah setia membaca, Aku padamu 😘

__ADS_1


__ADS_2