
Sekali kamu mengatakan kebohongan, Seribu kali kejujuranmu akan diragukan. (cz).
**************
Jam telah menunjukkan puku 20.00 malam. Vino dan Khanza sudah berada di tempat pesta. Pesta yang bertemakan outdoor ini memang terkesan mewah. Nuansa serba hijau dan bunga-bunga mendominasi ruangan pesta. Ya, walaupun pesta outdoor atau luar ruangan penuh dengan resiko. Seperti hujan, atau cuaca buruk lainnya. Vino lalu mengedarkan pandangannya di tempat tersebut. Dia sedang mencari keberadaan si empunya acara.
Setelah mendapat keberadaan Pak Surya, Vino lalu mengajak Khanza menghampiri Pak Surya yang berdiri di meja depan.
"Pak Surya, Selamat ya. Sukses terus buat Perusahaan Pak Surya" ucap Vino menyalami Pak Surya dan di balas salam balik oleh Pak Surya.
"Terima kasih Pak Vino sudah menyempatkan datang kemari. Ngomong-ngomong, anda datang kemari dengan siapa ?" ucap Pak Surya melirik Khanza yang disebelah Vino.
"Oh, ini kekasih saya Pak. Perkenalkan, namanya Khanza" ucap Vino.
"Saya Khanza, Pak. Salam kenal !" ucap Khanza yang menyalami Pak Surya.
"Khanza ? Seperti pernah melihatmu tapi sudah lupa dimana ya" ucap Pak Surya.
Khanza hanya tersenyum.
Lah ? kok sama. Saya juga merasa kenal nih sama si bapak. Tapi beneran lupa dimana gitu.
Batin Khanza.
Selesai menghampiri Pak Surya, Vino mengajak Khanza berkeliling ruangan pesta. Dia mengenalkan Khanza pada teman-temannya yang juga pengusaha muda.
Selesai berkeliling, mereka memutuskan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah.
Khanza mengambil beberapa jenis cake dan puding sebagai dessert. sedangkan Vino memilih steak sebagai menu utama makan malam mereka berdua.
"Disini aja ya sayang" ucap Khanza sambil meletakkan piring kuenya di meja yang paling sudut di dekat pintu masuk.
"Oke !" ucap Vino yang sudah duduk berhadapan dengan Khanza.
Mereka berdua tampak menikmati makanan yang mereka makan. Sesekali mereka juga bercerita tentang orang-orang dikantor. Terutama saat bercerita tentang Deka, Khanza tidak bisa menahan tawanya kalau ingat, ada saja hal aneh yang dilakukan gadis itu.
Tiba-tiba, suara seorang perempuan tengil yang sangat dikenalnya itu membuyarkan kesenangan mereka berdua.
"Khanza disini juga ? kebetulan banget !" ucap Tiara yang nada bicaranya seakan sudah menemukan harta karun yang bertumpuk.
Ternyata bukan hanya ada Tiara. Papa, Ibunya Nanda, Yuda dan Nanda juga sudah ada berdiri di samping Tiara. Mereka tampaknya baru datang.
"Di sini juga Pak Dwitama ?" ucap Vino yang sudah berdiri menyalami Pak Dwitama.
"Iya. Oom sudah berteman lama dengan Pak Surya. Makanya walaupun dalam keadaan sakit begini Oom paksakan datang" ucap Pak Dwitama.
Oh iya, aku baru inget. Pak Surya ini memang teman akrab papa. Dulu yang aku ingat sewaktu aku masih tinggal di kediamanan Dwitama, dia rajin berkunjung ke rumah walaupun sekedar makan siang atau makan malam. Pantas mukanya familiar.
Batin Khanza.
__ADS_1
"Khanza apa kabar ?" ucap Pak Dwitama mengulurkan tangan dihadapan Khanza.
Khanza terperanga. Dia terdiam untuk beberapa saat.
Khanza memandangi papanya. Papanya memang terlihat jauh lebih kurus sekarang. Wajahnya pucat. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang sedang sakit sekarang.
"Kabar baik, Pak" ucap Khanza yang merasa canggung harus memanggil papanya sendiri dengan sebutan Pak.
Vino melirik ke arah Khanza. Dia melihat tingkah Khanza yang gelagapan.
"Mumpung semua ada disini, Tia mau kasih kejutan buat kalian semua. Terutama buat kak Vino" ucap Tiara yang sudah mengeluarkan ponselnya.
Dia mulai memutar video yang pernah direkam oleh temannya tersebut. Video dimana Khanza mengakui perbuatannya yang memanfaatkan Vino sebagai alat balas dendam.
Sontak semua yang berdiri disitu kaget bukan main. Terutama Vino yang menjadi inti cerita di dalam video tersebut. Raut wajahnya sudah sarat akan emosi. Tatapan matanya yang tajam tidak henti-hentinya memandang ke arah Khanza. Khanza hanya bisa menunduk saat matanya dan mata Vino saling bertatapan. Dia merasa sangat bersalah.
"Ternyata Khanza memang benar-benar tahu ya, bagaimana caranya memanfaatkan wajah cantiknya !" ucap Tiara yang merasa menang telak telah mempermalukan Khanza.
Sedangkan Mamanya, cengar-cengir merasa bangga dengan apa yang telah diperbuat tiara.
"Khanza, aku benar-benar kecewa padamu" ucap Nanda.
Nanda lalu berlari ke arah pintu keluar.
"Nanda !" ucap Yuda, dan segera berlari mengejar Nanda.
"Diam !" ucap Pak Dwitama dan Vino berbarengan membentak Tiara.
Tiara yang dipandang sinis oleh Vino dan dibentak oleh Papanya sendiri, merasa sangat ketakutan sekarang.
"Tolong ajari anak bungsumu ini sopan santun, Nyonya Dwitama. Sepertinya ahlaknya sudah sangat buruk !" ucap Vino yang berbicara pada mamanya Nanda.
Mamanya Nanda hanya melongo tidak percaya mendengar ucapan Vino yang menghina anaknya.
Vino lalu menarik tangan Khanza keluar dari ruangan.
"Aku.. aku pulang sendiri saja" ucap khanza saat sudah berada di depan mobil Vino yang sedang terparkir. Khanza yang sudah berbalik, dan ingin bergegas pergi dari situ terpaksa menghentikan langkahnya, karena mendengar teriakan Vino.
"Khanza Dwitama !" bentak Vino.
"Masuk ke mobil !" ucap Vino.
Khanza terpaksa masuk ke dalam mobil, mengikuti perintah Vino.
Sepanjang perjalanan Khanza dan Vino saling terdiam satu sama lain.
Vino mengendarai mobil bak Lewis Hamilton, pembalap formula 1. Baru kali ini Khanza melihat Vino mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti ini.
Bagaimana ini, sepertinya dia marah besar
__ADS_1
Batin Khanza.
Tak lama kemudian, merekapun sampai.
"Terima kasih, karena sudah mengantarku" ucap Khanza.
Khanza sudah bersiap-siap ingin keluar dari dalam mobil tetapi sudah tiga kali dia mencoba membuka pintu mobil, tetap saja tidak terbuka.
"Vin, tolong buka pintunya. Pintu mobilnya terkunci" ucap Khanza yang menoleh ke arah Vino yang masih duduk di kursi mengemudi di sebelahnya.
Vino hanya diam tidak menjawab. Dia memandang Khanza dengan pandangan yang tajam.
"Vin.." ucap Khanza.
"Tolong bukakan" pinta Khanza.
Vino menghadap Khanza. Pandagan mata mereka bertemu.
"Kau benar-benar tidak mau menjelaskan maksud ucapanmu di video itu padaku ? Jadi benar, aku hanya sebagai alat balas dendam bagimu ? Bahkan sepatah katapun kau tidak mau membantahnya ?" ucap Vino yang akhirnya membuka suaranya. Suaranya sudah terdengar sangat kesal.
Khanza menarik nafas panjang.
"Untuk apa ?" ucap khanza.
Vino mengerenyit.
"Apakah kau masih percaya padaku, bila aku menyangkal video itu ? Apa kau akan mempercayaiku bila aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi ?" ucap Khanza.
Vino terdiam. Sedangkan pandangan matanya masih ke arah Khanza.
"Kau benar. Sepertinya aku butuh waktu untuk mempercayai ucapanmu kembali" ucap Vino.
Vino akhirnya membukakan pintu mobil yang dikuncinya secara otomatis. Mendengar pintu mobil yang tidak lagi dikunci, Khanza cepat-cepat keluar dari dalam mobil.
"Maafkan Aku" ucap Khanza lirih, di kaca jendela Vino yang terbuka.
Tapi Vino hanya diam tidak menjawab.
Vino melajukan mobilnya tanpa berbicara sepatah katapun. Khanza bisa merasakan, ada perasaan kecewa yang sangat mendalam yang tengah dirasakan Vino.
Khanza hanya bisa memandangi punggung mobil Vino yang perlahan-lahan mulai menjauh.
Tanpa terasa ada genangan air, di sudut matanya yang perlahan mulai mengalir membasahi pipinya.
Maafkan aku Vino. Aku menyesal..
Batin Khanza.
#Ntar malem baru up lagi ya jam 12an.. nah loh knapa mesti jam 12 coba.. 🤭 jangan bilang sekalian jaga lilin ya 😂 Jangan lupa kasih like, vote dan komen kalian ya🙏 Jangan lupa jaga kesehatan juga ya buat kalian. Cuaca lagi enggak stabil nih, kadang panas, kadang hujan, kadang kangen.. Eh🙊
__ADS_1