Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Kau Serius ?


__ADS_3

Jangan lupa untuk memberi like, vote dan komennya ya.. Happy Reading Gaes😘


**************


Khanza dan Ibunya yang telah keluar dari restoran cepat saji itu, berencana untuk segera pulang. Namun tiba-tiba, Khanza merasa kebelet untuk buang air kecil. Akhirnya dia segera meminta izin pada Ibunya untuk ke toilet yang berada di lantai bawah mall tersebut.


"Kalau begitu Ibu nungguin kamu di toko peralatan masak ya, penggorengan Ibu sudah jelek. Ibu mau membeli teflon" Ucap Ibu sambil menunjuk toko yang tidak begitu jauh dari toilet.


"Oke, Bu" Ucap Khanza yang segera pergi menuju toilet.


Di dalam toilet, Khanza yang telah buang air kecil dan berencana segera ingin keluar dari pintu toilet tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kedua suara wanita yang amat dia kenal terdengar sangat tidak asing ditelinganya. Apalagi tentang pembahasan mereka. Suatu nama yang sangat dikenalnya menjadi topik utama obrolan mereka. Khanza tertarik untuk menguping pembicaraan mereka dari dalam toilet.


"Gara-gara wanita sialan itu, Jadi kita tidak bisa cobain baju ini ke kakak kamu" Ucap Mama Nanda.


"Lagian kak Nanda , pake acara ngambek dan belain gadis kampung itu lagi" Ucap Tiara yang sibuk membetulkan bulu mata palsunya.


"Eh, Ma. Yang namanya Vino ganteng enggak sih ? Kenapa Papa dan Mama bersikeras buat menjodohkan kak Nanda sama Presdir Samudera Group itu?" Tanya Tiara yang sekarang mengeluarkan lipsticknya dan memakainya di bibirnya.


"Makanya kamu itu rajin nonton televisi. Jangan kelayapan enggak jelas. Yang namanya Vino itu perfect banget. Calon suami idaman dan incaran para mertua, yang ingin melebarkan sayap perusahaannya di dunia bisnis. Pokoknya kalau kakak kamu jadi menikah dengan Vino, Perusahaan kita akan semakin kuat posisinya" Ucap Mama Nanda.


"Kak Nandanya mau enggak sama si Vino ? Kalau enggak mau buat Tia aja" Ucap Tiara.


"Kakakmu selalu malu-malu saat ditanya soal kedekatannya dengan Vino sekarang. Baru kali ini dia sangat bersemangat untuk mendekati lelaki yang papamu pilih. Papa dan Mama juga tidak kalah antusiasnya mencari cara agar mereka selalu dekat. Besok malam, Papamu akan mengajak Vino makan malam dirumah kita. Makanya Mama membelikan kakakmu baju baru ini. Semoga Vino mau menerima ajakan makan malam dari Papamu, besok" Ucap Mama Nanda.


"Kamu, sudah belum sih benerin make-upnya, sayang ?" Tanya Mama Nanda.


"Sudah, Ma. Ayo keluar !" Ucap Tiara.


Tiara dan Mamanya lalu bergegas pergi keluar.


Khanza yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka mulai mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut mamanya Nanda.


Seringai mucul dibibirnya.


Aku salah tidak ya, bila melakukan itu. Tapi hanya itu cara satu-satunya agar aku bisa membalaskan rasa sakit hatiku dan Ibuku !


Batin Khanza.


***************


Malam ini Khanza dan Ibunya asyik menonton televisi. Mereka menonton acara lawak favorit Ibunya Khanza. Sesekali terdengar gelak tawa dari mereka berdua. Bagi mereka, beginilah cara mereka melupakan kejadian tak menyenagkan yang mereka alami siang tadi.


Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan gelak tawa mereka. Khanza bangkit dari duduknya dan membuka pintu.


Deg !


Dia benar-benar datang !


Batin Khanza.


"Hai, aku tidak menganggumu kan ? Sepertinya kau dan Ibumu sedang dalam suasana hati yang senang" Ucap Vino.


"Apa suara tertawa kami, terdengar dari luar ?" Tanya Khanza.


Vino mengangguk.


Khanza lalu mengajak Vino untuk duduk di kursi teras.


"Kita duduk disini saja ya, Vin. Ibu sedang asyik menonton televisi di dalam" Ucap Khanza.


"Ya, tidak masalah" Ucap Vino.


"Bagaimana berbelanja dengan Ibumu siang tadi ? Apa kamu senang ?" Tanya Vino memulai obrolan.


Khanza memasang wajah muram.


"Tidak jadi. Aku tidak jadi membelikan Ibu baju baru. Ibu minta pulang dari mall" Ucap Khanza.


"Oh, ya. Tapi kenapa Ibumu minta pulang ?" Tanya Vino.


Aku tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kan.


Batin Khanza.


"Ibu kecapekan" Ucap Khanza.

__ADS_1


"Oh" Ucap Vino.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mereka terdiam satu sama lain dan tidak tahu apa yang harus diobrolkan.


"Kau sudah makan malam ?" Tanya Vino.


"Belum" Jawab Khanza.


"Kalau begitu, kita makan malam di luar yok. Ajak Ibumu juga" Ucap Vino.


Oh, iya. Siapa tahu, Ibu mau. Sekalian mengajak Ibu jalan-jalan, supaya melupakan kejadian tadi siang.


"Tunggu, aku masuk dulu ya. Mencoba mengajak Ibu" Ucap Khanza.


Khanza lalu masuk ke dalam rumah. Dia mengajak Ibunya untuk ikut pergi makan malam bersamanya.


"Bu, Vino mengajak kita, untuk makan malam di luar. Ibu ikut ya ?" Ucap Khanza.


Ada hubungan apa antara mereka berdua ya. Kenapa Vino datang pada malam minggu, hanya untuk sekedar mengajaknya makan malam. Tetapi mengapa Khanza selalu bilang mereka hanya rekan kerja.


Batin Mama Khanza.


"Vino ? Dimana dia ?" Tanya Ibu.


" Diluar" Jawab Khanza


Ibu Khanza lalu keluar menemui Vino.


"Nak Vino, apa kabar ?" Tanya Ibu Khanza.


"Baik, Bu" Ucap Vino lalu menyalami Ibunya Khanza.


Dia anak yang sopan.


Batin Ibunya Khanza.


"Ibu tidak ikut ya makan malam dengan kalian. Ibu sudah makan tadi sore. Khanza sama nak Vino saja ya, yang pergi" Ucap Ibunya Khanza.


"Aku tidak mau pergi. Kalau Ibu tidak ikut" Ucap Khanza.


"Jangan seperti itu Khanza. Nak Vino sudah jauh-jauh datang ke sini. Ayo pergila, temani dia makan malam tapi ingat, jangan pulang terlalu malam" Ucap ibu Khanza.


Khanza melirik Vino yang duduk disampingnya. Vino terlihat sangat fokus menyetir mobilnya.


Kenapa dia tidak makan dari rumahnya saja sih.


Batin Khanza.


"Kau tidak senang ya menemaniku makan malam ?" Tanya Vino.


"Tidak.. Tidak.. Aku senang kok" Ucap Khanza.


Apa dia peramal ? Dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Ingin rasanya aku bertepuk tangan untuk dirinya yang sangat akurat menebak pikiran orang.


Batin Khanza.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya Khanza dan Vino tiba di sebuah restoran mewah.


"Ayo, turun" Ajak vino yang melihat Khanza masih terdiam memandangi restoran mewah dihadapannya.


"Kita makan disini ?" Tanya Khanza.


"Iya. Kenapa ?" Tanya Vino.


"Baju yang aku kenakan sepertinya tidak layak untuk makan disini" Ucap Khanza.


"Kenapa ? Kita kan mau makan. Bukan mau fashion show ?" Ucap Vino.


Khanza tertawa.


"Aku takut kau malu datang ke sini denganku" Ucap Khanza yang memandangi pakaian yang dia kenakan. Dia hanya mengenakan Baju kaos dan celana jeans panjang.


"Semua perempuan yang datang ke sini menggunakan dress, sedangkan aku..." Khanza menghela nafas.


"Aku tidak malu. Kau cantik ! kenapa aku harus malu" Ucap Vino.

__ADS_1


Vino lalu turun dari mobil dan menarik tangan Khanza untuk turun. Akhirnya, Khanza turun mengikuti kemauan Vino.


Di dalam restoran, mereka memilih menu makanan yang akan mereka pesan. Selang beberapa menit kemudian, Pelayan menghidangkan makanan di atas meja mereka. Mereka menikmati makanan mereka dengan lahap. Tetapi tiba-tiba, Vino memanggil pelayan kembali. Pelayan tersebut datang dengan membawakan beberapa bungkusan makanan.


"Za, aku keluar sebentar ya" Ucap Vino.


Khanza mengangguk.


Ekor mata Khanza terus mengikuti Vino yang sedang keluar restoran. Kebetulan dinding restoran yang terbuat dari kaca memudahkan, Khanza melihat Vino dari luar.


Vino mau ngapain ? Jangan bilang dia lari dari sini. Siapa yang mau bayar makanan segini banyaknya. Mana mahal-mahal lagi.


Batin Khanza.


Khanza terus mengamati pergerakan Vino dari dalam dinding kaca. Rupanya Vino menghampiri sekumpulan anak-anak yang dari tadi berdiri, mengintip di dinding kaca luar. Anak-anak tersebut berpakaian kumal dan lusuh. Mereka sepertinya anak-anak yang mengamen atau memulung di sekitaran restoran tersebut. Vino membagikan kantong makanan yang dia pegang, satu persatu pada anak-anak tersebut. Tanpa Khanza sadari, Bibirnya tersenyum melihat pemandangan tersebut.


Vino benar-benar orang yang baik.


Batin Khanza.


Vino yang kembali masuk ke dalam restoran, duduk kembali berhadapan dengan Khanza.


"Kamu dari mana tadi ?" Tanya Khanza.


"Dari luar" Ucap Vino.


"Ngapain ?" Tanya Khanza.


"Ada urusan sebentar" Ucap Vino.


"Aku melihatnya kok dari dalam sini. Kau memberi anak-anak itu makanan yang dibungkus pelayan tadi" Ucap Khanza.


"Kau melihatnya ? Berarti kau terus mengikutiku ya dari tadi ?" Ucap Vino.


"Iya, aku terus mengawasimu dari tadi. dari dalam dinding kaca ini. Aku takut, kamu keluar, lalu kabur mengendarai mobilmu. Meninggalkan aku sendiri disini. Aku tidak tahu harus bagaimana membayar semua makanan ini bila hal itu benar terjadi" Ucap Khanza.


Vino tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Khanza.


"Apa aku terlihat setega itu ?" Ucap Vino.


Sekarang Khanza yang tertawa terbahak-bahak.


Vino tersenyum melihat Khanza yang tertawa lepas seperti itu.


"Aku tidak mungkin setega itu, apalagi sama orang yang aku sayang" Ucap Vino.


Ucapan Vino sontak membuat Khanza gelagapan. Pipinya memerah seketika.


"Kau ternyata benar-benar orang yang baik ya. Mau berbagi pada orang yang kekurangan. Aku kadang masih tidak percaya, masih ada orang-orang sepertimu di dunia ini" Ucap Khanza mengalihkan pembicaraan.


Vino kembali tersenyum mendengar ucapan Khanza. Kali ini tatapannya nanar.


"Tetapi ternyata, orang baik sepertiku tidak cukup bagimu. Aku kadang sempat bertanya-tanya tipe lelaki seperti apa yang bisa meluluhkan hatimu. Kadang aku berpikir, apa aku terlalu kaku bagimu. Tetapi, melihat aldi yang begitu gesrek mendekatimu, ternyata itu juga tidak membuat hatimu luluh" Ucap Vino.


"Dan setelah aku pelajari, ternyata bukan pikiranmu yang rumit dalam memilih pasangan. Tapi kau memang sengaja tidak membuka hatimu untuk siapapun. Bahkan sampai saat ini, kau belum memberikan jawaban padaku" Ucap Vino.


Keadaan berubah hening. Vino menatap Khanza lekat. Untuk beberapa saat, Khanza sampai tidak dapat berkata apa-apa. Terdengar beberapa kali Khanza meneguk slavinanya.


"Aku.. aku sudah mulai membuka hatiku sekarang" Ucap Khanza terbata.


"Aku akan mencoba menjalin hubungan denganmu. Karena aku juga sudah mulai menyukaimu" Ucap Khanza seraya tersenyum.


Vino terperanga mendengarnya. Matanya terbelalak menatap Khanza. Seakan tidak percaya pada apa yang didengarnya barusan.


Vino menarik tangan Khanza dan menggenggamnya erat.


"Kau serius kan Khanza ? Apa ini artinya kau bersedia menjadi kekasihku ?" Tanya Vino.


Khanza mengangguk.


Vino tersenyum lebar. Hatinya berdebar kencang. Dia tidak pernah menyangka, Khanza akan menyambut cintanya.


Vino memeluk Khanza, dan mengusap kepalanya.


Vino orang yang baik, salahkah aku menggunakannya sebagai alat balas dendamku.

__ADS_1


Batin Khanza.


Ada yang singgah tapi tak sungguh🤭 Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. Janji up malem, taunya aku ketiduran. Sorry yak🤭 Saranghaeyo😘


__ADS_2