
Jangan lupa memberi like, vote dan komenπ Happy Reading Gaes π
*************
Pagi ini, semua orang kembali berkumpul di meja makan. Yuda dan Nanda yang telah selesai sarapan langsung menyalami Ibunya Khanza untuk segera berangkat ke kantor.
Sedangkan Tiara masih menggulung-gulung mie yang bergulung di garpunya tanpa menyenggolnya sedikitpun.
"Kenapa belum dimakan mienya, Tia ?" ucap Ibu Nanda.
"Tidak lapar !" ucap Tiara ketus.
Khanza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Tiara.
Tiba-tiba pelayan datang membawakan sepiring sup asparagus untuk Tiara. Tiara yang mencium aroma sup yang berada di depannya itu langsung mual seketika.
"Hoekk..." ucapnya seolah ingin muntah.
"Bawa kembali sup ini ! Bikin mual saja !" ucap Tiara.
"Maaf, Nona bukannya anda yang ingin dibuatkan sup asparagus ini tadi pagi" ucap pelayan itu.
"Iya, itu tadi pagi ! Sekarang aku sudah tidak ada nafsu lagi untuk memakannya. Sekarang buatkan aku jus jeruk !" ucap Tiara.
Lalu tiba-tiba perasaan mual kembali dirasakan Tiara, Tiara langsung lari berhamburan ke westafel yang berada di dekat dapur.
"Aneh ! Pagi-pagi kok minum jus jeruk. Enggak mules apa perutnya" ucap Khanza.
Ibu kelihatan panik. Dia melihat punggung Tiara dari kejauhan.
"Za, sepertinya Tiara sedang hamil sekarang" ucap Ibunya.
"Apa ? Ibu yakin ?" ucap Khanza.
Ibunya mengangguk.
"Tanda-tanda ini sama persis ketika Ibu mengandung kamu" ucap Ibu.
"Kalau begitu aku mau menemuinya dulu, ya Bu" ucap Khanza.
"Ya, lakukan pendekatan yang baik. Ibu hamil perasaannya sangat sensitif" ucap Ibu Khanza.
Khanza mengangguk.
Dia menyusul Tiara ke dapur. Tetapi Bu Ida, koki yang memasak di dapur bilang, Tiara sudah naik ke atas ke kamarnya.
Khanza lalu menyusul ke kamarnya. Dia mengetuk pintu kamar Tiara. Tiara yang membuka pintu kamar, terkejut mendapati Khanza yang telah berdiri dihadapannya.
"Mau apa ?" Tanya Tiara sewot.
"Apa kau baik-baik saja ? Apa kau sedang sakit ?" ucap Khanza.
"Enggak usah sok perhatian deh. Kalau aku sakit memangnya kamu mau apa ? mengobatiku ? Kamu kan bukan dokter" ucap Tiara.
Tetap judes seperti biasanya !
Batin Khanza.
"Kalau begitu boleh aku masuk ? Ada hal yang ingin aku bicarakan" ucap Khanza.
"Enggak boleh ! Aku mau tidur !" ucap Tiara.
Tidur di pagi hari ? Sepertinya memang beneran lagi hamil nih anak !
Batin Khanza.
Tiara yang akan segera menutup pintu kamarnya, tertahan karena Khanza mendorong kuat pintu tersebut dan memaksa masuk ke dalam kamar. Bukan Khanza namanya kalau tidak berhasil masuk ke dalam. Dan dia sekarang sudah duduk di atas pinggir kasur Tiara.
"Apa mau elo sekarang ?" ucap Tiara kesal.
"Sudah berapa bulan ?" tanya Khanza.
"Apa ?" ucap Tiara galak.
"Kandunganmu !" ucap Khanza.
Tiara terdiam. Matanya terbelalak tak percaya mendengar ucapan Khanza.
"Da.. Darimana kau tahu kalau aku sedang mengandung ?" ucap Tiara terbata.
"Itu tidak penting. Sekarang yang aku tanya, sudah berapa bulan usia kandunganmu ?" ucap Khanza.
"Sudah 2 bulan" ucap Tiara yang nada suaranya sudah mulai merendah.
"Tapi tolong jangan beritahu kakYuda dan Kak Nanda tentang kehamilanku. Apalagi kak Yuda. Dia pasti menghabisiku kalau tau aku hamil di luar nikah" ucap Tiara memohon.
__ADS_1
Khanza hanya diam.
"Siapa ayahnya ?" tanya Khanza.
Sekarang giliran Tiara yang diam. Matanya memerah. Air matanya mulai mengalir.
"Dia teman kuliahku, Ikbal. Dia hanya anak seorang petani. Di sini dia mengekost. Dia juga punya kerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena dia penerima beasiswa aku sering minta diajari beberapa pelajaran olehnya. Sampai kami menjalin kasih dan kebablasan menjalani suatu hubungan" ucap Tiara.
"Sekarang dia dimana ? Lari dari tanggung jawab ?" tanya Khanza.
Tiara menggeleng.
"Dia tidak lari dari tanggung jawab. Kami saling mencintai. Dia besedia bertanggung jawab saat aku memberitahunya bahwa aku mengandung anaknya. Tetapi Mama yang juga mengetahui kalau aku sedang mengandung, sangat marah saat mengetahui bahwa calon ayah dari anak yang aku kandung ini adalah orang yang tidak punya apa-apa." ucap Tiara.
Dasar memang perempuan yang haus uang !
Batin Khanza.
"Mama juga sempat mengajakku ke doktet kandungan dan meminta Dokter itu menggugurkan kandunganku. Tetapi Dokter itu menolak. Keesokannya, Mama membawa sebotol obat yang diracik oleh temannya yang bekerja sebagai apoteker, untuk aku minum. Dia bilang itu obat penggugur janin. Karena aku ketakutan dengan bahaya dari menggugurkan kandungan, aku berbohong pada Mama dengan telah berpura-pura meminumnya" ucap Tiara.
Khanza terkejut mendengar cerita Tiara.
Benar-benar Ibu yang kejam !
Batin Khanza.
"Tidak sampai disitu. Mama juga membuat Ikbal kehilangan beasiswanya di kampus. Pernah suatu hari Ikbal ke sini mencariku tetapi Mama mengusirnya. Mama mengancam akan menghancurkan keluarganya yang berada di desa bila dia datang ke sini lagi. Mama juga mendatangi Ikbal dan menyuruh Ikbal menjauh dari kehidupanku. Dia juga membeli tempat kost yang ditempati Ikbal dulu. Jadi Ikbal terpaksa mencari tempat tinggal baru. Dan aku juga tidak tahu keberadaan Ikbal sekarang dimana" ucap Tiara.
"Teman-teman yang lain tidak tahu keberadaannya ?" tanya Khanza.
Tiara menggeleng.
"Ikbal mengambil stop out sementara untuk kuliahnya. Nomor ponselnyapun tidak aktif sampai sekarang" ucap Tiara menangis sejadi-jadinya.
Khanza memeluk Tiara. Dia mengusap lembut punggung badan Tiara.
"Sudah jangan menangis lagi. Ayo ikut aku !" ucap Khanza.
"Kemana ?" tanya Tiara sambil mengelap air matanya menggunakan tangannya.
"Mencari Ikbal ! Apa kau mau, anak itu lahir tanpa Ayah ?" tanya Khanza.
Tiara menggeleng.
"Tapi, apa kau tahu Ikbal dimana ?" tanya Tiara.
Tiara mengangguk tanda setuju.
Akhirnya Khanza dan Tiara keluar dari rumah mencari Ikbal dengan menaiki mobil yang diantar oleh Mang Udin, Supir pribadi di rumah itu.
Pertama-tama, mereka mengunjungi tempat kost Ikbal dahulu yang pernah di datangi oleh Mamanya Tiara. Tetapi hasilnya nihil. tidak ada satu petunjukpun yang dapat mengetahui keberadaan Ikbal.
Akhirnya mereka ke tempat kerja Ikbal. Tetapi hasilnya sama saja. Teman kerjanya bilang bahwa Ikbal tiba-tiba di pecat dari tempat kerjanya itu setelah ada seorang Ibu-ibu glamour membuat keributan di sini.
"Itu pasti Mama" ucap Tiara.
Khanza miris mendengarnya.
Tiara yang mudah kecapekan karena kondisi tubuh yang sedang hamil, meminta di belikan minum pada Mang Udin di mini market terdekat. Mobilpun menepi.
"Aku saja yang beli, Mang Udin. Tia kamu tunggu di dalam mobil aja sama Mang Udin" ucap Khanza.
"Makasih Khanza" ucap Tiara.
Khanza tersenyum. Ini pertama kalinya Tiara bicara lembut kepada dirinya.
Khanza lalu masuk ke dalam minimarket, dan mengambil beberapa botol mineral dan roti.
Dia memberikan barang belanjaannya pada petugas kasir untuk membayarnya. Tiba-tiba dia melihat jam tangan yang dipakai petugas kasir tersebut. Sebuah jam Rolex hitam yang harganya sangat mahal.
Seorang petugas kasir memakai jam yang sangat mahal ? pasti dia mati-matian menabung untuk membeli jam ini. Tapi tunggu dulu jam ini tampak tidak asing. Dimana aku melihatnya ya !
Batin Khanza.
Khanza melirik petugas kasir yang masih menscan barang belanjaannya. Sekilas dia membaca nama yang tertera di tanda pengenalnya.
Ikbal ???? Oh, iya aku baru ingat. Tiara juga memakai jam tangan ini tadi. Mungkin ini jam tangan couple yang Tiara berikan pada Ikbal.
Semoga dia benar Ikbal yang kami cari.
Batin Khanza.
"Apa kau mengenal Tiara Dwitama ?" tembak Khanza langsung.
Ikbal yang mendegar nama Tiara Dwitama langsung gugup. Botol mineral yang dipegangnya jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Oh, Maaf Mbak botolnya terjatuh. Tiara ? Anda siapanya Tiara ya ?" ucap Ikbal sopan.
"Saya kakaknya" ucap Khanza.
Ikbal tambah gugup mendengar Khanza berkata bahwa dia kakaknya.
"Kau jangan gugup, Aku tidak sepertinya Mamanya yang akan menghancurkan hidupmu" ucap Khanza. Untung minimarket di jam segini masih sepi jadi Khanza bisa berbicara dengan nyaman disini.
Khanza mulai menceritakan keadaan Tiara sekarang sampai Mamanya yang telah berada di rumah sakit jiwa.
"Sekarang tidak ada lagi yang menjadi penghalang buat kalian berdua. Bagaimana, akankah kau bertanggung jawab atas perbuatanmu sekarang ?" tanya Khanza pada Ikbal.
Ikbal mengangguk.
"Aku memang ingin bertanggung jawab. Aku ingin Tiara melahirkan anak itu. Tetapi Mamanya selalu akan mengancam menghabisi keluargaku di kampung" ucap Ikbal.
"Sekarang dimana Tiara ?" tanya Ikbal.
Dia berada di parkiran mobil. Dia di dalam mobil. Temuilah Dia.
Khanza lalu mengantarkan Ikbal menemui Tiara. Tiara terkejut bukan main saat mengetahui Khanza datang bersama Ikbal.
Mereka saling berpelukan.
"Mengapa kau tidak menghubungiku. Aku juga tidak dapat menghubungimu. Aku mencarimu kemana-mana" ucap Tiara terisak.
"Maafkan aku. Mamamu membanting ponselku dan mengancam akan menghabisi seluruh keluargaku. Tapi sekarang, Kak Khanza telah menceritakan semuanya. Aku akan menikahimu. Kita akan membesarkan anak itu bersama-sama ya. Aku menginginkan anak itu. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang kedua kalinya dengan menelantarkan anak itu" ucap Ikbal.
Akhirnya mereka meluapkan kesedihan satu sama lain. Ada seburat senyum yang terpancar dari wajah Tiara. Khanza ikut tersenyum melihatnya.
"Jangan lupa bicara pada orang tuamu dan datang melamar Tiara besok" ucap Khanza saat pintu mobil sudah tertutup.
"Pasti, kak" ucap Ikbal sambil melambaikan tangan pada Tiara.
Mobilpun melaju.
Di dalam mobil Tiara mengobrol dengan Khanza panjang lebar.
"Kak Yuda bakal marah enggak ya kalau tahu aku hamil. Aku takut kak Yuda akan mengahajar Ikbal" ucap Tiara sedih.
"Kau jangan khawatir soal itu. Masalah itu biar aku yang urus. Aku yang akan bicara sama Yuda" ucap Khanza.
Tiara lega mendengarnya.
"Khanza.. Maafkan aku ya. Maafkan aku yang pernah mengahncurkan hubunganmu dengan Vino" ucap Tiara.
Khanza tersenyum.
"Lupakan yang dulu" ucap Khanza.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Kak Vino sekarang ?" tanya Tiara.
Khanza hanya tersenyum miris.
Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Vino sekarang. Terkadang aku merasa enggak enak sama Nanda. Dia sangat menyukai Vino. Padahal hubungan kekeluargaan kami baru mulai membaik.
"Kau menyukai kak Vino kan ?" ucap Tiara.
Khanza menarik nafas panjang.
"Siapa yang tidak menyukai Vino. Bahkan kak Nanda juga menyukainya kan ?" ucap Khanza.
Jawabannya gantung. Pasti ada apa-apa nih. Aku bakal cari tahu dan bantu kamu mendapatkan kebahagiaan kamu juga Za.
Batin Tiara.
"Udah ah jangan bahas aku melulu. Gimana kamu sudah lega sekarang sudah ketemu Ikbal ?" tanya Khanza.
Tiara mengangguk. Tiba-tiba dia langsung memeluk Khanza.
"Semua berkat kamu kakak !" ucap Tiara.
Khanza mengerenyit.
"Kakak ?" tanya Khanza.
"Iya... bolehkan kalau sekarang aku memanggil kamu dengan sebutan kakak ?" ucap Tiara yang masih memeluk Khanza dengan manjanya.
"Bayar !" ucap Khanza.
"Ogah... !" ucap Tiara yang masih bergelayut pada Khanza.
Mereka berdua lalu tertawa berbarengan.
# Ciye ada yang nungguin babang Vino ya ? tapi kagak keluar di bab ini π€ Babang Vinonya lagi di kerem, besok baru dikeluarin ya π Jangan lupa berikan dukunganmu ya.. dengan cara like, vote dan komen.. makasih π
__ADS_1
Jangan lupa juga baca novel dari sahabat aku kk "Yudhi Nita" yang judul novelnya "Terjebak Pernikahan" π