Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Kisah Kelam


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. makasih 🙏 Happy reading gaes..😘


********************


Hari sudah petang. Khanza gadis dengan hidung mancung dan rambut terurai panjang, melangkah masuk ke dalam rumah. Ibu yang sedari tadi menunggunya, langsung menyambut khanza dan mengajaknya makan malam.


"Khanza, Kamu sudah pulang, Nak ? Ayo makan dulu" Ucap Ibu.


"Khanza, Mandi dulu aja ya Bu. Habisnya gerah" Ucap Khanza.


"Oh, Ya sudah. Cepat mandi sana, biar nanti kita makan sama-sama" Ucap Ibu.


Setelah mandi, Khanza mengeluarkan kantong obat dari dalam tasnya. Ia melangkah keluar kamar, menghampiri Ibunya yang sudah duduk di meja makan.


"Bu, Ini obat Ibu. Hari ini obat Ibu sudah habis kan ? Nanti di makan ya bu, setelah makan malam" Ucap Khanza.


Ibu mengambil bungkusan obat tersebut dari tangan Khanza.


"Kau tidak perlu susah payah membelikan Ibu obat-obatan ini. Ibu sehat-sehat saja kok tanpa obat ini" Ucap Ibu.

__ADS_1


"Ibu, yang menganjurkan agar Ibu mengkonsumsi obat-obatan ini kan Dokter. Dokter bilang, penyakit Ibu bisa bertambah parah kalau tidak meminum obat-obatan ini" Ucap Khanza.


Ibu Khanza memang menderita penyakit jantung. Untuk bertahan hidup dia perlu meminum obat-obatan dan menjauhi makanan bekolestrol tinggi.


"Tapi, semua obat-obatan ini harganya mahal. Ibu tidak sanggup melihatmu bekerja keras dari pagi sampai malam begini hanya untuk biaya membeli obat-obatan Ibu" Ucap Ibu.


"Ibu tahu kamu pasti lelah. Hanya saja kamu tidak pernah menunjukkan wajah lelahmu itu didepan Ibu. Khanza... Maafkan Ibu ya. Karena Ibu, Kamu jadi begini" Ucap Ibu sambil meneteskan air mata.


"Ibu, Kenapa menangis ? Aku tidak pernah menyalahkan Ibu atas keadaan ini. Semua ini sudah takdir. Lagipula Aku senang bekerja. Pekerjaanku tidak begitu berat kok Bu. Hanya mengajar les dan mengantar kopi pesanan tamu" Ucap Khanza menghapus air mata Ibunya.


Hatinya terenyuh melihat Ibunya yang berurai air mata. Keluarga yang satu-satunya dimilikinya saat ini, sedang merasa sedih.


Saat Ibu Khanza mengandung Khanza, ternyata Pak Dwitama, Ayahnya Khanza. Telah diam-diam menikah siri dengan Sekretarisnya sendiri, Yaitu Ibunya Nanda. Awalnya Ibunya Khanza tetap berbesar hati menerima kehadiran Ibunya Nanda yang datang ke kediamanannya dengan perut yang juga sudah membesar. Karena merasakan perasaan sebagai seorang wanita yang sedang hamil besar, akhirnya Ibu Khanza mengizinkannya tinggal dirumah itu, berdampingan dengan mereka.


Siapa sangka, Orang yang selama ini dianggap sebagai saudara sendiri oleh Ibu Khanza akhirnya menunjukkan taringnya yang sebenarnya. Dia kerap memfitnah Ibu Khanza, dan sialnya, Sang Ayah percaya dengan ucapan Ibunya Nanda. Dia pernah memfitnah Ibu Khanza mendorongnya dari tangga saat Dia mengandung. Dan puncaknya, Ibunya Nanda benar-benar bertekad untuk mengusir Ibunya Khanza dan menjadikan dirinya, satu-satunya Nyonya rumah yang berkuasa dirumah itu.


Dia memfitnah Ibunya Khanza, telah berselingkuh dengan sopir pribadi mereka sendiri. Ibu Nanda, sengaja menjebak Ibu Khanza dengan memasukkan sopir itu ke dalam kamarnya pada siang hari. Dengan bayaran yang telah diterima, sopir itu memberikan pernyataan palsu tentang perselingkuhannya dengan Ibu Khanza. Khanza tahu benar Ibunya tidak seperti itu. Saat itu, usia Khanza 12 tahun. Bukan usia yang kecil untuk mengetahui sebuah kebenaran.


Ayahnya yang lebih percaya dengan apa yang dilihatnya didepan mata, menyeret Ibu Khanza keluar dari rumah. Dia melemparkan seluruh pakaian Ibu Khanza dan sebuah tas besar ke depan pintu. Ibunya Khanza memungut satu-persatu pakaian tersebut. Khanza menangis menyaksikan kejadian itu didepan matanya. Dia membantu Ibunya mengumpulkan pakaiannya.

__ADS_1


"Ayah, Aku mohon maafkan Ibu. Dia tidak bersalah. Ibu difitnah" Ucap Khanza Kala itu.


"Diam Kau ! Tidak usah membela Ibumu ! Kalau Kau ingin hidup susah dan lebih membela Ibumu, Kau juga silahkan keluar dari rumah ini !" Ucap Ayah Khanza.


Ibu Khanza awalnya, menyuruh Khanza untuk tetap bertahan dirumah itu. Tapi Khanza menolak. Dia lebih memilih bersama Ibunya.


Semenjak itu, Pak Dwitama, Ayahnya Khanza. Benar-benar lepas tanggung jawab dari menafkahi kebutuhan sehari-hari mereka.


Akhirnya Khanza dan Ibunya harus pontang-panting mencari uang untuk membiayai kehidupan mereka. Awalnya Ibu Khanza menjual semua perhiasan emas yang dipakainya saat itu, untuk mengontrak rumah dan sebagai modal membuka rumah makan sederhana yang menjual nasi dan lauk pauk yang telah masak. Karena rumah yang dia kontrak berada dipinggir jalan, jadi orang yang membelipun lumayan banyak. Tetapi semenjak banyak rumah makan yang membuka toko didekat mereka, jumlah pelanggan yang makan dikedai nasi merekapun tidak sebanyak dulu. Khanza juga sudah biasa mencari uang sendiri, misalnya saat dia masih sekolah dan masuk siang, Dia berjualan koran dipinggir jalan. Kadang dia menjadi pramuniaga, menjaga toko.


Keadaan kesehatan Ibu yang memburuk membuat Khanza harus mencari uang lebih. Tetapi dia tetap mencari rezeki dijalan yang halal. Pernah suatu ketika, Ibu khanza sempat dirawat di rumah sakit dan membuthkan biaya yang sangat banyak. Akhirnya dia berani merendahkan dirinya sendiri, datang kerumah kediamanan Dwitama. Dia memohon pada Ayahnya untuk memberikan biaya rumah sakit. Tetapi sang Ayah, tidak mau mengeluarkan biaya sepeserpun, dengan alasan itu bukan menjadi tanggung jawabnya lagi. Hati Khanza sangat hancur saat itu. Tempat terakhir yang menjadi harapannya mendapatkan biaya Rumah Sakit Ibunya juga tidak mendapatkan hasil. Dia berjanji tidak akan kembali menginjakkan kakinya disini lagi.


Khanza yang telah tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang cerdas, membuat dia mempunyai kerja sampingan mengajar les privat dari rumah ke rumah. Selain itu Dia juga bekerja sebagai pelayan yang mengantarkan pesanan dan membersihkan meja di sebuah coffee shop. Dia merelakan tidak melanjutkan kuliahnya. Bisa saja dia mengajukan beasiswa, tetapi beasiswa menuntutnya harus berkuliah pagi. Sedangkan, Pagi hari sampai petang, Dia harus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Kehidupan yang keras membuat pribadinya kuat dan tidak mudah cengeng. Baginya hanya sebuah masalah kecil tidak berarti apa-apa dibanding dengan dirinya yang telah mengami Kehidupan pahit yang datang berkali-kali.


"Aku belajar.. Bahwa cobaan itu pasti datang dalam hidupku. Aku tidak mungin berkata "Tidak, Ya Allah..!" Karena Aku tahu itu semua tidak melampaui kekuatanku... Allah memberikan semua cobaan itu, Karena Aku pasti bisa melewatinya..."


# Jangan lupa memberi dukungannya ya gaes.. dengan cara memberi like, vote dan komen... makasih 🙏*

__ADS_1


__ADS_2