Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
17. Biaya Operasi


__ADS_3

Keesokan harinya, di kantin kampus Pelita Mandiri.


"Aduh, pusing aku revisi melulu !" ucap dila sambil menyedot minuman green teanya.


"Mau gimana lagi, kalau memang masih ada salah ya memang harus diperbaiki nis, daripada saat sidangnya kita kelabakan " ucap fani.


"Fani sih enak, revisinya cuma sedikit. Kalau kami ga kehitung lagi saking banyaknya" ucap nisa lebay.


"Ah, itu bisa - bisa kamu aja nis. Makanya jangan kebanyakan nonton drama korea " ucap fani meledek nisa.


Nisa manyun.


Drrrttt.. tiba - tiba handphone fani berdering. Fani menatap nama di layar ponsel.


"Halo nek, ada apa ?" tanya fani.


"Halo fan, ini bik muna. Fan, nenekmu kecelakaan di tabrak motor. Sekarang lagi dilarikan ke rumah sakit ! " ucap bik muna, pemilik warung manisan tempat langganan nenek membeli bahan - bahan untuk membuat kue.


"Apa ?" seketika badan fani lemas. Tangannya memegang handphone sambil gemetar.


"Rumah sakit mana bik ?" tanya fani cemas.


"Rumah sakit Bakti Husada fan" ucap bik muna diseberang.


Tanpa fikir panjang fani langsung menutup telepon. Dan berencana segera pergi ke rumah sakit tersebut.


"Biar kami antar fan " ucap dila.


"Makasih ya teman - teman" ucap fani yang menahan tangis.


Mobilpun melaju menuju rumah sakit Bakti Husada.


*******


Sesampai di RS. Bakti Husada. Fani berlarian ke ruangan UGD, diikuti nisa dan dila. Fani melihat neneknya terbaring diatas tempat tidur. Wajahnya berlumuran darah. Bik muna berdiri disampingnya.


"Nenek...!!! " ucap fani.


"Ini fani nek, nek bangun...! " sambung fani dengan suara terisak.


"Sabar fani " ucap bik muna sambil menepuk - nepuk bahu fani dengan lembut.


"Tadi sewaktu nenek mau nyebrang ke toko bik muna, tiba - tiba ada anak - anak seragam sekolah bawa motor kebut - kebutan dijalan. Ketika nenek nyebrang motornya hilang kendali menabrak nenekmu" ucap bik muna


"Sekarang dimana orang yang menabrak nenek saya bik?" tanya fani.


"Setelah menabrak nenekmu dia langsung lari bersama motornya. Dia tidak menderita luka serius jadi sehabis menabrak dia langsung kabur " ucap bik muna.


"Ya Tuhan... orang itu..." ucap fani.


Ah, nanti saja aku mengurus hal itu. Sekarang yang terpenting aku harus fokus supaya nenek cepat sadar


"Bik muna kalau mau pulang, pulang dulu aja. Nanti fani aja yang jagain nenek " ucap fani.


"Ya udah bik muna pulang dulu ya fan. Kamu yang kuat ya. Besok bik muna ke sini lagi fan " ucap bik muna.


"Iya makasih banyak ya bik muna " ucap fani.


Tiba - tiba dokter datang memeriksa keadaan nenek.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan nenek saya ? tolong dia dokter, cuma nenek saya yang saya punya didunia ini " ucap fani dengan air mata menggenang.


"Nenek kamu banyak kehabisan darah dan harus segera dioperasi. Biaya operasi tidak murah. Setidaknya anda membutuhkan uang 120juta untuk biaya operasinya. Silahkan membayar di bagian pembayaran terlebih dahulu agar pasien segera ditindak lanjuti " ucap dokter itu.


"120 juta ? tapi saya tidak punya uang sebanyak itu dok. Bisa beri saya waktu 2 hari dok untuk mencari pinjaman ?" ucap fani.


"Tidak ada waktu nenek kamu harus segera dioperasi kalau tidak nyawanya tidak bisa tertolong " ucap dokter itu.


Fani benar - benar kebingungan darimana harus mendapatkan uang sebanyak itu.


"Nisa ingin banget bantuin fani. Tapi tabungan nisa cuma ada sekitar 5 jutaan fan. Habis nisa sering belanja fan, cuma ada segitu direkening. Dimana lagi ya kita cari sisanya " tanya nisa.


"Kalau aku cuma ada 7 juta di tabungan fan. Apa jual mobilku saja ya biar nenek bisa dioperasi " tanya dila juga.


"Jangan dijual mobilmu dila. Nanti mamamu marah. Lagipula kalau mau jual mobil membutuhkan banyak waktu. Sedangkan nenek harus dioperasi sekarang. Kalian tolong jagain nenek sekarang ya. Aku mau mencoba menelepon keluarga dari ayah dan ibuku diluar. Kalau disini takut menganggu pasien yang lain " ucap fani.


"Oke fan " jawab nisa dan dila berbarengan.


Nisa bergegas keluar ruangan.


Dia menelepon satu - persatu keluarga dari sebelah bapaknya dan ibunya yang merantau diluar kota. Tapi sayang hasilnya nihil. Mereka juga tidak mempunyai uang sebanyak itu.


Drrrt.. tiba - tiba handphone fani berdering.


"Halo nis ada apa ?" tanya fani cemas.


"Nisa kamu dimana ? buruan ke lantai 3 kamar nomor 4 ruangan Khadijah, dokter menunggumu "ucap nisa.


"Iya aku segera ke sana nis " ucap fani terburu - buru.


Fani berlarian menaiki lift menuju lantai 3 rumah sakit.


Bagaimana ini aku belum mendapatkan biaya rumah sakit, sedangkan nenek harus dioperasi. Kenapa nenek sudah dipindahakan ke dalam bangsal ya ?


Fani mengetuk pintu kamar. Dilihatnya perawat lagi membersihkan darah yang berlumur di wajah neneknya.


"Tolong tanda tangani surat izin operasi ini. Keluarga yang bersangkutan harus menandatangani ini untuk persetujuan dilakukannya operasi " dokter memberikan kertas itu.


"Tapi.. tapi.. dok saya masih belum menemukan uang sejumlah itu" ucap fani gemetar menerima surat yang akan ditanda tangani itu.


"Anda tinggal tanda tangan saja. Sudah ada donatur yang membiayai biaya operasi nenekmu "ucap dokter.


"Apa ?" tanya fani masih merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Betul itu mbak. Ada 7 orang dari ruang UGD tadi yang dibiayai operasinya oleh donatur itu. Donatur itu sudah lama menjadi donatur di rumah sakit ini. Dia menolong orang - orang yang dalam keadaan darurat tapi tidak mempunyai biaya untuk operasi " jelas sang perawat.


"Apa aku boleh mengucapkan terima kasih pada sang donatur ?" tanya fani.


"Sang donatur selalu menutupi identitasnya. Tidak ada yang tahu siapa dirinya. Yang mengetahui identitasnya hanya kepala rumah sakit dan kepala bagian Keuangan Rumah Sakit. Sudah banyak orang yang ingin melakukan hal serupa. Tetapi sang donatur tetap enggan bertemu dengan para pasien dan keluargs pasien yang dibantunya. Sepertinya dia ingin menolong orang tanpa pamrih. Dia tidak ingin perbuatan baiknya ini dipublikasikan " jawab perawat itu.


"Sungguh orang yang berhati mulia" ucap fani.


Fanipun menandatangani surat persetujuan operasi itu. Hatinya lega.


Nenek segera dilarikan ke ruangan operasi. Operasi sedang berlangsung sekarang. Dila dan nisa memeluk fani. Fani sangat bersyukur mempunyai kedua sahabat yang selalu ada dalam kondisi sulitnya.


"Sabar yah fani, operasi nenek pasti berhasil kok. Kita berdoa saja sekarang" ucap dila.


"Makasih ya teman - teman selalu menguatkanku. Kalian memang teman terbaikku " ucap fani memeluk kedua sahabatnya.

__ADS_1


Tiba - tiba ruangan operasi terbuka. Fani berlarian menghampiri dokter.


"Dokter bagaimana keadaan nenek saya ?" tanya fani.


"Operasinya berhasil. Mungkin sekitar 5 jam lagi nenekmu akan sadar kembali " ucap dokter itu.


"Alhamdulillah " ucap fani, nisa dan dila berbarengan.


"Pindahkan pasien ke kamarnya kembali" perintah dokter pada perawat.


"Baik dok " ucap perawat itu.


*********


Nenek sekarang sudah berada dikamar perawatan.


"Dila dan nisa kalau kalian mau pulang, pulang duluan saja. Nanti orang tua kalian cemas. Sekarang kondisi nenek sudah stabil. Biar aku yang menjaga nenekku " ucap fani.


"Tadi kami sudah menghubungi orang tua kami tadi fan. Jadi aman kok. Paling sebentar lagi kami pulang fan. Sekarang kamu pulang dulu sana mengambil keperluan buat menginap " ucap nisa.


"Iya ayo kita kerumahmu naik mobilku aja biar ga susah bolak balik kesini " ucap dila.


"Makasih ya buat kalian berdua" ucap fani tulus.


*******


Keesokan harinya kondisi nenek semakin membaik. Dokter menyatakan kalau seandainy besok tidak ada keluhan, nenek sudah bisa pulang. Fani sangat senang mendengarnya.


Hari ini banyak tetangga yang membesuk nenek dirumah sakit. Ada bik muna, bang agus, dan tetangga - tetangga dekat rumah. Fani merasa beruntung banyak yang memperhatikan nenek.


"Fan, kamu sudah makan belum ? kami tadi lupa bawa rantang yang berisi lauk dan nasi buat kamu. Cuma bawa roti dan buah - buahan ini aja yang keinget. Habis bang agus sih buru - buru banget " ucap bik muna.


"Siapa suruh kamu lama banget nyiapin semuanya bik muna " ucap bang agus diiringi tertawa yang lainnya.


"Ya udah biar aku makan ke kantin bawah aja bik muna. Fani minta tolong jagain nenek aja ya sekarang, mumpung ada kalian " ucap fani.


"Iya fan" jawab bik muna.


Fani segera turun ke lantai bawah. Dia berjalan melewati banyak ruangan internal rumah sakit. Di bacanya setiap nama ruangan, sambil berjalan menuju kantin. Sesampai di ruangan kepala rumah sakit, dia menghentikan langkahnya. Dia mendengar kepala rumah sakit menyebut nama orang yang dikenalnya.


"Terima kasih pak rendi sudah menjadi donatur tetap selama 5 tahun belakangan ini " ucap kepala rumah sakit. Silahkan tanda tangan disini pak untuk tanda jadi pembiayaan bulan kemarin. Total jumlah pasien yang anda biayai bulan kemarin sampai dengan saat ini sekitar 29 orang " ucap kepala rumah sakit.


Fani semakin penasaran siapa donatur yang selama ini sering digadang - gadang sebagai dewa penolong dirumah sakit ini.


Tiba - tiba rendi dan pak roy keluar dari ruangan kepala rumah sakit.


"Kamu ?" ucap rendi dan fani berbarengan. Mereka sama - sama terkejut.


Fani maju selangkah ke hadapan rendi.


"Rendi Mandala Putra. Ternyata kau donatur yang selama ini membiayai operasi pasien yang tidak mampu di rumah sakit ini. Kalau saja aku tidak menyaksikannya secara langsung, mungkin aku tidak tahu ternyata kamu punya sisi seperti ini juga " Ucap fani tulus.


Rendi memandang fani dengan sorot mata tajam.


"Apa yang kau lakukan disini ? Menguping ? Kalau sampai berita ini tersebar ke publik aku akan mencarimu ! " Ucap rendi yang buru - buru bergegas meninggalkan fani.


Fani mengejarnya.


"Tunggu !" ucap fani.

__ADS_1


Rendi menghentikan langkahnya.


#Minta likenya ya guys.. likemu sangat berharga bagi penulis. Membaca komentar dan melihat like dari readers buat author semangat buat nulis episode selanjutnya 🙏😘


__ADS_2