Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Tidak masuk akal


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, vote dan komen🙏 Happy Reading Gaes😘


*********************


Khanza merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Sebuah pernyataan cinta dari seorang Vino, Presiden Direktur tempatnya bekerja.


Apa dia sedang bercanda sekarang ? Aku selalu kasar padanya, tetapi mengapa dia bisa menyukaiku. Ini tidak masuk akal !


Batin Khanza.


Bukan jawaban yang didapat Vino, tetapi sebuah pernyataan yang mengejutkan dari Khanza.


"Ini benar-benar, tidak masuk akal !" Ucap Khanza dengan tatapan sinisnya pada Vino.


Khanza kembali berbalik, berjalan dengan tertatih-tatih menuju lift, untuk meninggalkan Vino.


Tiba-tiba sebuah lengan yang kokoh sudah memegangi lengan dan kaki Khanza. Akhirnya, Vino benar-benar menggendong Khanza ala bridal style.


Khanza terkejut bukan main. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan Vino padanya.


"Lepaskan Aku ! Lepaskan !" Khanza memberontak.


Vino menoleh ke bawah menunduk menatap Khanza.


"Kau benar-benar menguji kesabaranku. Aku sudah bilang kan, aku akan menggendongmu. Bila kau tak mau, aku memapahmu !" Ucap Vino.


Akhirnya Vino melangkah menuju lift dan turun ke bawah. Pintu lift-pun terbuka. Wajah Khanza merah padam. Walaupun ini sudah lewat jam kantor masih saja ada beberapa pegawai yang lembur menunggu jemputan di lobby bawah.


Karena malu dan takut orang-orang akan mengenali wajahnya, Khanza lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Vino dan menarik ke dua sisi jas Vino untuk menutup rapat wajahnya. Sehingga hanya rambut tampak belakangnya yang terlihat.


Astaga, sumpah ini memalukan sekali !


Batin Khanza.


Vino yang menggendong Khanza, berjalan dengan cueknya melewati kumpulan pegawai yang duduk di sofa lobby.


"Selamat sore, Pak !" Ucap para pegawai itu kompak memberi hormat.


Vino tidak menjawab. Hanya menganggukan kepala memberikan respon.


Terdengar bisik-bisik dari kumpulan pegawai itu.


"Wow, siapa perempuan yang digendong Pak Presdir ? Beruntung sekali" Ucap salah satu dari mereka.


"Sayang, wajahnya tidak terlihat" Balas temannya.


Vino lalu keluar melewati pintu lobby dan kedua satpam yang berjaga di depan. Seketika, dia menghentikan langkahnya. Seperti teringat sesuatu.


"Jangan menyebarkan berita yang tidak-tidak untuk kejadian hari ini, kalau kau tidak ingin mendapat Surat Peringatan, besok !" Ucap Vino memperingatkan kedua satpam itu.

__ADS_1


"Baik Pak !" Ucap kedua satpam itu yang sudah ketakutan melihat tatapan Vino.


Vino kembali melangkah menuju parkiran. Dia membuka pintu mobil canggihnya memakai sidik jari tangan sebelah kanannya. Vino membuka pintu mobil dan mendudukan Khanza dibangku depan sebelah tempat duduknya.


"Lepaskan aku. Aku bisa sendiri. Aku mau pulang, menemui Ibuku di Rumah Sakit" Ucap Khanza.


"Diam !" Teriak Vino. Sorot matanya penuh amarah.


Khanza ketakutan. Belum pernah dia melihat Vino semarah itu. Dia hanya bisa mengikuti kata-kata Vino yang menyuruhnya diam.


Vino melajukan mobilnya dengan kencang.


Mau kemana dia membawaku !


Batin Khanza.


Mobil terus melaju kencang, melewati jalan yang sering Khanza lalui.


ini kan jalan ke rumah sakit !


Batin Khanza.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mereka sampai di sebuah Rumah Sakit tempat Ibu Khanza di rawat.


Vino yang telah memarkirkan mobilnya, turun membanting pintu mobilnya perlahan. Dia membuka pintu mobil Khanza dan membantunya turun dari mobil dengan cara memapahnya. Mereka berjalan pelan menuju ruangan rawat inap Ibu Khanza.


"Hmm.. Terima kasih ya, telah mengantarku kemari" Ucap Khanza memulai obrolan agar tidak canggung. Vino masih memapahnya sambil berjalan.


Mereka akhirnya terus berjalan dan akhirnya sampai di ruangan Ibu Khanza.


Bu Hetri yang merupakan teman dari Ibu Khanza mengahampiri Khanza yang baru saja datang bersama Vino. Melihat Khanza yang datang dengan cara dipapah oleh Vino, membuat Bu Hetri khawatir.


"Khanza ada apa dengan kakimu ?" Tanya Bu Hetri dengan wajah yang cemas.


"Tidak apa-apa, Bu. Sudah tidak begitu sakit lagi" Ucap Khanza.


"Lalu ini siapa ? Pacarmu ya ? Ganteng ya kayak pemain film" Ucap Bu Hetri yang nyerocos panjang lebar.


Vino tersenyum mendengar ucapan Bu Hetri. Sedangakan Khanza menyangkal ucapan Bu Hetri dengan wajah yang merona malu.


"Bukan. Dia atasanku di tempatku bekerja, Bu Hetri" Ucap Khanza.


"Ooh.. Kirain kalian pacaran. Maaf ya" Ucap Bu Hetri.


"Ibumu baru saja tidur Khanza. Dia habis diberi obat oleh perawat. Karena kamu sudah disini, Ibu mau izin pulang ya. Soalnya mau nyiapin makan malam buat dirumah" Sambung Bu Hetri.


"Iya, terima kasih Bu Hetri sudah nungguin Ibu dari tadi. Maaf aku datangnya telat" Ucap Khanza.


Ibu Hetri lalu bergegas pulang.

__ADS_1


Karena tidak mau menganggu Ibunya yang tertidur pulas. Khanza dan Vino akhirnya memilih mengobrol di kursi depan ruangan rawat inap.


"Kenapa kau bisa terkunci di dalam gudang penyimpanan dokumen ?" Tanya Vino.


"Rahel memintaku membantunya mencarikan dokumen resepsionis. Dia ingin membuat surat undangan untuk kolega perusahaan katanya" Ucap Khanza.


"Rahel ?" Vino mengerenyit.


Vino lalu mengambil ponsel dari kantong jasnya. Dia menelepon petugas keamanan dikantornya untuk mengamankan cctv di rungannya, di lantai 15 itu. Dia akan membukanya besok saat akan masuk kantor.


"Besok, kau tidak perlu masuk kantor dulu. pastikan luka dikakimu sembuh dulu. Ingat kau harus patuh. Jangan membantah ! kalau kau tidak ingin melihatku memaksamu pulang dan menggendongmu di depan semua pegawai besok pagi" Ucap Vino.


Sepertinya aku harus mematuhinya kali ini. Dia orang yang tidak main-main dengan ucapannya.


Batin Khanza.


"Baiklah, besok aku tidak akan masuk kantor dulu" Ucap Khanza.


Vino tersenyum mendengarnya.


"Baiklah aku pulang dulu kalau begitu. Besok, sepulang kerja aku akan kemari lagi" Ucap vino yang sudah beranjak dari duduknya.


Khanza mengangguk. Dia sudah tidak berani lagi membantah ucapan Vino.


"Dan mengenai ucapanku yang dikantor tadi" Ucap Vino.


Deg !


Aku tidak mau membahasnya !


Batin Khanza.


Vino memegang tangan Khanza. Matanya menatap Khanza dengan penuh harap.


"Aku mohon kau mempertimbangkannya. Aku serius dengan perkataanku" Sambung Vino.


"Mungkin kau heran kenapa aku menyukaimu. Karena kita sempat ada selisih paham di awal pertemuan kita. Tapi, jangan tanyakan padaku, apa alasannya dan kapan aku mulai menyukaimu. Karena aku sendiri tidak tahu, kapan kau benar-benar sudah mulai menarik perhatianku dan mendominasi kehidupanku" Ucap Vino.


Mendengar ucapan Vino barusan, seketika hati Khanza merasa terenyuh. Belum ada pernyataan yang terdengar setulus itu sebelumnya.


"Aku butuh waktu Vin, untuk berpikir. Aku masih ragu" Ucap Khanza tertunduk.


"Kalau begitu aku akan menunggumu" Ucap Vino.


"Menunggumu sampai kau benar-benar yakin dan menyadari perasaanku yang sebenarnya" Sambung Vino.


Khanza mendongakkan wajahnya begitu mendengar ucapan Vino.


Aku takut Vin.. Aku takut kau hanya kasihan dan bersimpati kepadaku !

__ADS_1


Batin Khanza.


#Met malam minggu semua.. Ada yang remuk tapi bukan kerupuk ? Apa ya kira-kira🤭 Jangan lupa memberi like, komen dan votenya makasih 🙏


__ADS_2