
Jam menunjukkan pukul 17.00. Nisa sudah bersiap pulang dengan memesan taksi online.
Sebuah mobil minibus putih yang merupakan taksi online pesanan Nisa, datang menjemputnya di depan parkiran Samudra Group.
Sampai dirumah Nisa rebahan sebentar dikamarnya. Dia sangat capek berkeliling mencari kebutuhan ulang tahun Fani.
Masih ada yang belum aku cari. Tinggal kembang api untuk yang di udara dan yang dipegang ditangan. Nanti saja deh, sebelum ke rumah Fani kan ada toko kembang api yang searah. Nanti aku minta supir taksi onlinenya untuk berhenti sebentar saja.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Nisa bersiap menuju rumah Fani. Dia telah mandi dan berpakaian dengan rapi.
Begitu membuka pintu kamar dia dikejutkan dengan kehadiran Riko yang sudah duduk manis beserta Mama dan Papanya.
"Nah itu Nisanya, tante tinggal sebentar ya mau bikini minum buat Riko" Ucap mama Nisa.
"Papa juga ke belakang sebentar ya, kalian mengobrolah" Ucap papa Nisa.
Nisa memandang tajam ke arah Riko. Pandangannya terlihat tidak suka. Sedangkan yang dipandang terlihat cuek dan biasa saja. Riko malah tersenyum menatap Nisa, memamerkan gigi putihnya yang rapi. Semakin menambah kegantengan pada wajahnya.
Dia masih mengenakan kemeja putih untuk dalaman jasnya, sepertinya dia juga baru pulang lembur dari kantornya dan langsung ke sini
Nisa duduk bersebrangan dengannya. Dia duduk di kursi yang mamanya duduki tadi.
"Kenapa masih ke sini ? Aku sudah bilang kan jangan ke sini lagi !" Ucap Nisa.
Riko kembali tersenyum.
"Aku kesini bukan menemui, aku kesini menemui orang tuamu. Aku ada janji bermain catur dengan papamu" Ucap Riko.
"Oh, ya ? Bagus ! Kalau begitu kau mainlah catur dengan papaku. Aku mau pergi !" Ucap Nisa.
Nisa yang sudah berdiri dan mau beranjak pergi, ditahan oleh Riko. Riko memegang tangannya.
"Pergi kemana ? Biar aku antar !" Ucap Riko.
Nisa melihat tangannya yang dipegang Riko. Entah, kenapa hatinya merasa berdebar kembali. Ada perasaan hangat yang tiba - tiba mengalir di hatinya.
Segera dia tersadar dari lamunannya dan menepis tangan Riko.
"Aku naik taksi online saja !" Ucap Nisa.
Tiba - tiba mamanya Nisa datang membawakan teh hangat.
"Ada apa Nisa, kenapa bicara begitu sama Riko. Lagian kamu mau kemana malam - malam begini" Ucap mama Nisa.
"Aku mau menginap di rumah Fani, Ma. Fani ulang tahun malam ini. Barusan Nisa mau meminta izin sama mama dan papa" Ucap Nisa.
"Hmm.. Mama dan papa akan izini kamu kalau Riko yang mengantarmu ke rumah Fani. Jangan naik taksi online kalau sudah malam. Resikonya terlalu berbahaya" Ucap Papa Nisa yang tiba - tiba muncul.
"Tapi Pa..." Belum selesai Nisa menyelesaikan kalimatnya, mamanya langsung memotong ucapan Nisa.
"Tidak ada tapi - tapian, Diantar Riko atau tidak boleh pergi sama sekali" Ucap mama Nisa.
"Hmm.. Baiklah Ma" Ucap Nisa tidak ada pilihan lain.
Riko tersenyum lebar mendengarnya.
"Tapi kenapa papa dan mama menyukai Riko sih, padahal dia pernah bilang kalau perusahaan papa itu perusahaan kecil dan tidak berpengaruh untuk raksasa company-nya" Ucap Nisa.
Papa dan mama Nisa terkejut mendengarnya. Mata mereka terbelalak.
"Ah, tidak Om dan Tante. Saya tidak bilang begitu. Itu Nisa yang bilang duluan tante. Pokoknya saya akan jagain Nisa dan mengantarnya ke rumah Fani" Ucap Riko yang menyalami papa dan mama Nisa dan segera menarik tangan Nisa untuk segera naik ke mobil.
"Selamat Malam Om dan tante" Ucap Riko sambil menjalankan mobilnya.
"Dah, Nisa pergi dulu yah Pa, Ma" Ucap Nisa.
"Iya, hati - hati" Ucap Papa dan Mama Nisa berbarengan.
"Semoga mereka berjodoh ya Pa. Ah, Riko memang menantu ideal, sudah kaya, tampan, pekerja keras dan lagi anaknya sopan" Ucap mama Nisa.
"Papa juga menyukainya" Ucap Papa Nisa yang melihat mobil Riko yang sudah melaju jauh.
******
__ADS_1
Sedangkan didalam mobil Riko.
"Kenapa kau bicara begitu pada mama dan papamu ? bukannya kau sendiri yang bilang kalau perusahaan papamu perusahaan kecil. Aku hanya menimpalimu saja waktu itu !" Ucap Riko.
"Aku sengaja melakukannya. Biar mereka tidak menyukaimu" Ucap Nisa.
Riko terdiam mendengarnya.
"Aku takut mereka terlanjur menyukaimu dan berharap penuh padamu. Dan nyatanya kau akan pergi meninggalkanku begitu kau sudah bosan bermain - main denganku" Ucap Nisa.
Seketika mobil yang dilajukan oleh Riko berhenti seketika. Riko mengerem mendadak dan menepi. Untung tidak ada mobil ataupun motor di belakang mobil mereka ketika mobil mereka mengerem mendadak.
"Aku sudah bilang berapa kali padamu. Aku bukan orang seperti itu ! Aku serius mengejarmu !" Ucap Riko yang mulai marah.
Baru kali ini dia melihat Riko marah. Sorot matanya penuh kekesalan dan amarah.
"Mengapa susah sekali meyakinkanmu Nisa !" Ucapnya yang sedikit berteriak.
Nisa terdiam. Dia tidak berani memandang Riko yang sedang dipenuhi amarah.
Riko berusaha menguasai diri. Dirasanya dirinya sudah kembali tenang, dia kembali melajukan mobilnya.
Suasana hening dan canggung. Ada rasa bersalah yang Nisa rasakan dengan ucapannya.
Apa aku keterlaluan ya !
Batin Nisa.
"Hmm.. Bisa menepi sebentar ada plang toko kembang api disana" Ucap Nisa.
"Kenapa ? Apa kau mau kabur lalu naik taksi online disana ?" Tanya Riko yang nada suaranya terndengar kesal.
"Tidak..tidak.. Aku hanya mau membeli sesuatu disana. Rendi menyuruhku membeli apa yang disukai Fani. Salah satunya kembang api ini. Yang lain aku sudah dapat. Tinggal yang ini saja yang belum kubeli" Ucap Nisa yang takut Riko bertambah marah.
Riko dan Nisa turun dan membeli beberapa kembang api. Riko mengeluarkan uang untuk membayarnya.
"Hmm.. tidak perlu. Rendi sudah menitipkan kartu kredit tanpa limitnya padaku untuk membeli semua keperluan. Dia yang merencanakan semua ini" Ucap Nisa yang mengeluarkan kartu kredit tersebut dan menyerahkannya kepada kasir.
"Kenapa kau bilang begitu soal temanmu ? Padahal tadi siang dia berkata yang baik - baik tentangmu" Ucap Nisa.
"Tentangku ? Memang dia bilang apa ?" Tanya Riko.
"Dia bilang kau bukan orang yang seperti diberitakan" Ucap Nisa.
"Lalu kau percaya itu ?" Ucap Riko yang mulai melangkah keluar bersama Nisa karena mereka telah selesai membeli kembang apinya.
"Entahlah !" Ucap Nisa sambil mengangkat kedua bahunya..
Riko hanya diam, raut wajahnya muram.
"Tapi kau tahu, aku sangat senang kita sudah bisa mengobrol santai seperti ini. Tadi aku benar - benar ketakutan saat nada suaramu mulai tinggi dan sedikit berteriak" Ucap Nisa.
Riko refleks menoleh pada Nisa. Dia tersenyum.
"Maaf ya kalau aku membuatmu takut tadi. Aku hanya terbawa emosi. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" Ucap Riko sambil mengelus rambut Nisa.
Nisa bengong mendapat perlakuan mengejutkan seperti itu. Dia mencoba menenangkan hatinya. Saking bengongnya dia tidak sadar sewaktu mau
berjalan ke arah mobil Riko hampir tertabrak dengan pengemudi motor ugal - ugalan. Untung, Riko refleks menarik tangannya. Sehingga membuat Nisa terhempas ke pelukan Riko.
"Brengs*k ! Kau tidak bisa mengemudi dengan benar ya !" Teriak Riko emosi.
Sedangkan Nisa yang berada di pelukan Riko, tidak bisa menahan degupan jantungnya yang hampir berloncatan.
Ini kenapa ya ! Kenapa jantungku berdetak sangat kencang. Apa karena takut tertabrak tadi atau....
Pipi Nisa bersemu merah.
Merekapun tiba di rumah Fani. Sudah ada Fani dan Dila yang duduk di kursi teras depan.
Fani dan Dila menghampiri Nisa dan Riko yang baru turun dari mobil.
Mereka sangat terkejut melihat Nisa yang di antar oleh Riko.
__ADS_1
"Kok bisa barengan ? Kamu Riko presdir Buana Grup kan ? Jangan - jangan..." Ucap Dila yang belum menyesaikan kata - katanya tiba - tiba terpotong oleh ucapan Nisa.
"Jangan - jangan apa ? Jangan mikir terlalu jauh. Riko kenalin ini Dila temanku yang satu lagi. Asli dia ini resek banget, jadi kalau dia ngomong yang aneh - aneh anggap aja angin lalu !" Ucap Nisa.
Riko tersenyum mendengarnya.
"Hai Dil" Ucap Riko sambil mengulurkan tanganya dan diterima Dila dengan mengulurkan tangannya juga.
"Hai juga Riko, senang berkenalan denganmu" Ucap Dila.
Riko mengangguk.
"Apa kabar Fani ! Selamat ulang tahun !" Ucap Riko ramah.
"Ya, terima kasih" Ucap Fani.
"Apa aku boleh bergabung ? Rendi akan datangkan kata Nisa ? Sudah lama aku tidak mengobrol dengan sahabatku itu" Ucap Riko mencari alasan.
"Kau bisa pulang sekarang. Tadi kau bilang, kau kan hanya mengantarku kan ? Kalau mau mengobrol dengan Rendi kan bisa kapan saja" Ucap Nisa.
" Tidak apa - apa Nisa. Biarkan dia disini. Kau bisa duduk menunggu Rendi di kursi teras Rik. Aku akan membuatkan minum untukmu" Ucap Fani.
"Tapi Fan.." Belum selesai Nisa menyelesaikan ucapannya Fani memotongnya.
"Sudahlah, Ayo Nisa dan Dila kita masuk dulu. Ada yang ingin aku tanyakan padamu Nis" Ucap Fani menarik tangan Nisa.
"Apa yang ingin kau tanyakan Fan?" Tanya Nisa yang sudah berada di dalam rumah Fani.
"Kau lihat !" Fani menunjuk boneka, bunga yang memenuhi ruang tamunya yang sempit.
"Kenapa ? Ini kan kesukaanmu semua. Rendi yang membelikan ini untukmu. Aku hanya membantunya membelanjakannya saja" Ucap Nisa sambil tersenyum.
"Jadi kalau aku bilang aku suka mobil, kau akan membelinya juga ?" Tanya Fani.
"Bisa jadi, Soalnya dia menyerahkan kartu ini padaku" Ucap Nisa polos.
Fani dan Dila hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kelakuan Nisa.
"Coba sini aku lihat. Wah, Nis.. Ini sih kartu kredit tanpa limit yang cuma dipunyai sama orang - orang kelas atas. Rendi menyerahkan ini padamu Nis ?" Ucap Dila.
"Iya untuk membeli keperluan ulang tahun Fani saja. Dan kalau sudah memakainya, Dia bilang beri pada Fani kartunya. Sepertinya dia sangat mencintaimu, Fan. Sampai melakukan ini semua" Ucap nisa.
Entahlah dia melakukan ini semua untuk memantapkan aktingnya sebagai pacar pura - puraku agar terlihat sempurna atau memang seperti yang dikatakan Nisa. Banyak sekali hal yang ingin aku ketahui tentangmu Ren.. Tapi sedikitpun aku tidak berani bertanya..
"Eh, dimana anaknya sekarang ? Bukankah seharusnya dia sudah datang ?" Ucap Dila yang melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit.
*********
Sementara di Perusahaan Mandala Group.
Rendi yang telah mandi di kamar mandi ruangan kerjanya dan telah berganti baju hanya mengenakan kemeja dalaman jasnya bergegas pergi keluar dari lobby menuju parkiran.
Dia membuka pintu mobilnya. Seketika langkahnya terhenti. Handphonenya tiba - tiba berdering.
Drrtt.. drtt..
Dia menatap layar ponselnya. Sebuah nomor yang tidak dikenalnya. Sebenarnya Rendi paling malas mengangkat nomor yang tidak dikenalnya. Tetapi dia takut kalau itu adalah Fani yang menghubunginya. Rendi mengangkat telepon.
"Ya, Halo. Siapa ini ?" Tanya Rendi.
"Ren.. Hiks.. Ini saya mamanya Keyla. Bisakah kau ke rumah sakit sekarang" Ucap Mama Keyla.
"Maaf aku tidak bisa" Ucap Rendi yang akan segera menutup telpon tapi suara isak tangis mama Keyla menahannya.
"Ibu mohon.. Dia bukan saja mengancam tidak akan kemo pada jadwalnya hari ini. Tetapi dia juga mengancam akan memotong nadinya jika kau tidak datang sekarang juga. Tolong Ibu Ren.. Ibu tidak mau kehilangan anak ibu satu - satunya..Hiks.." Isak tangis mama Keyla.
Rendi sangat bimbang. Dia melihat jam ditangannya.
"Shit !!!" Ucapnya kesal.
Dia segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Keyla di rawat.
# Tolong jempolnya kembali ya gaes.. berikan like, komen dan vote. Saksikan terus update terbarunya nanti. Yang mana hubungan Rendi dan Fani semakin memanas dan hubungan Nisa dan Riko semakin membaik.. Makasih untuk dukungan kalian yang selalu menunggu novel ini update baik di komen maupun chat pribadi.. Maaf belum sempat membalasnya satu - persatu. Pokoknya buat para readers.. Saranghaeyo deh 😘
__ADS_1