
Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya gaes... 🙏 Happy Reading 😘
***************************
Pagi yang sibuk di Perusahaan Samudra group. Semua Pegawai bagian Proyek Perencanaan dan Pembangunan sudah berkumpul di ruang meeting. Karena pada pagi hari ini, Perusahaan Samudra Group akan mengadakan kerja sama dengan Perusahaaan Dwitama Group yang bergerak di bidang properti.
Sedangkan Perusahaan Samudra Group sendiri termasuk dalam perusahaan yang sedang berkembang pesat di Negara ini. Perusahaan yang bergerak dalam bidang kontruksi itu termasuk dalam jajaran Raksasa Company yang bersaing dengan perusahaan lainnya dalam segala aspek. Perusahaan ini juga memiliki 32 anak cabang yang tersebar di seluruh Provinsi.
Nanda Dwitama, Yang merupakan perwakilan dari Perusahaan Dwitama yang akan menghadiri rapat pagi ini, Berjalan melenggang turun dari mobil diikuti beberapa staff perusahaan bagian Perencanaan dan Pembangunan.
Sambil berjalan, Dia melamun memikirkan ucapan Mamanya sebelum berangkat tadi.
*********************
Flashback On
Nanda yang sedang memakai blush on dipipinya, Dikejutkan dengan kehadiran Mamanya yang memasuki ruang make-upnya.
Dia melihat anak gadisnya yang sekarang telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar.
"Ingat Sayang, kata Papamu. Kau harus berhasil mengadakan kerjasama kali ini. Kami menaruh besar harapan ini padamu. Lagipula Presiden Direktur dari Perusahaan Samudra Group, Masih muda dan juga tampan. Kau harus berhasil memikatnya. Alangkah baiknya, Jika Kau bisa menikah dengannya. Perusahaan Kita akan semakin berpengaruh dan tidak bisa digoyahkan" Ucap Mama Nanda sambil merapikan rambut anaknya di depan cermin rias.
"Presiden Direktur ? Bukankah biasanya yang menjadi Presiden Direktur itu sudah tua, botak dan gendut, Ma" Tanya Nanda.
"Dia ini masih 29 Tahun dan lajang. Dia juga lulusan Oxford sayang. Dia sama seperti Kakakmu, Seorang yang pekerja keras dan pebisnis yang handal. Tetapi karena usianya sudah cukup matang ditambah kerjanya yang bagus, Maka orangtuanya memberikan kepercayaan padanya untuk memimpin perusahaan. Pokoknya Kau akan menyesal bila tidak mendapatkannya. Menurut rumor, Selain Vino itu tampan, Dia juga berkepribadian baik. Sungguh paket yang lengkap, Bukan ?" Ucap Mama Nanda.
Nanda hanya bisa mengangguk dan menyetujui saran Mama dan Papanya. Sejak kecil Nanda sudah di didik menjadi anak yang penurut. Dia tidak pernah membantah apapun yang diperintahkan oleh Mama dan Papanya. Oleh karena itu, Papa dan Mamanya sangat menyukainya.
"Kabarnya Pagi ini, Dia baru saja pulang dari Aussie. Kalau bisa sesudah meeting nanti, Kau ajak dia makan bersama. Agar kalian bisa lebih dekat lagi" Ucap Mama Nanda.
"Ya, Baiklah Ma" Ucap Nanda.
*******************
Nanda yang turun dari mobil, Dan diikuti oleh staff Perencanaan dan Pembangunan masuk ke dalam lobby Perusahaan Mandala Group.
Sambil berjalan, Dia melamun memikirkan ucapan Mamanya tadi.
Kalau Aku bilang tidak ingin mendekati Presiden Samudra Group ini, Mama dan Papa pasti kecewa. Aku tidak mau mengecewakan mereka. Lagipula Aku belum mengenalnya sama sekali... huft..
Batin Nanda.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang membawa nampan berisi gelas-gelas teh dan kopi panas datang dari arah berlawanan. Dia berjalan dengan terburu-buru. Dia tidak sengaja menabrak Nanda yang juga sedang melamun.
"Aww.." Nanda hampir berbalik dan jatuh menyenggol nampan tersebut, Kalau saja sebuah tangan yang kekar dan kokoh itu tidak menahannya.
"Apa Kau tidak apa-apa ?" Tanya Pria tampan yang mengenakan setelan jas dan dasi itu.
Nanda memandang lekat Pria dihadapannya itu. Baru kali ini Dia melihat sosok pria kantoran setampan itu. Rahangnya yang tegas, wajahnya yang tampan, kulitnya yang putih bersih serta jangan lupakan postur tubuhnya yang sempurna semakin menambah daya pikat lelaki itu.
"Maaf, Nona. Aku bertanya dari tadi. Apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Vino yang telah melepaskan pegangan tangannya.
"Aku.. Aku.. Baik-baik saja" Ucap Nanda terbata.
"Maafkan Saya, Pak PresDir. Maafkan Saya, Juga Nona. Saya terburu-buru tadi. Saya salah. Maafkan Saya" Ucap Lelaki yang bekerja sebagai Office Boy itu.
Apa ? Presdir ? Jadi Dia yang bernama Vino, Presiden Direktur Samudra Group itu..
Batin Nanda.
"Maukah Kau memaafkannya. Aku rasa Dia juga tidak sengaja melakukannya" Ucap Vino.
Nanda hanya diam memandang lelaki yang membawa nampan tadi.
"Jangan meminta Aku memecatnya. Dia pasti membutuhkan pekerjaan ini untuk kelangsungan hidupnya. Dan untukmu, Lain kali hati-hati dalam bekerja. Ini bisa membahayakan bagi orang lain" Ucap Vino sambil melirik ke arah Office Boy itu.
"Baik Pak, Saya akan lebih hati-hati lagi kedepannya nanti" Ucap Office Boy itu.
"Tolong Maafkan Saya, Nona" Sambung Office Boy itu.
Nanda masih diam. Lama Dia menatap keduanya, Akhirnya Dia membuka suara.
"Baiklah, Aku akan memaafkanmu. Aku tidak masalah. Lagipula tidak terjadi apa-apa pada diriku" Ucap Nanda seraya tersenyum.
Terdengar bisik-bisik para pegawai.
"Wah, Siapa Nona itu ya. Sudah begitu cantik, Baik hati lagi" Bisik-bisik para penjaga meja resepsionis yang memandang kagum pada Nanda.
__ADS_1
"Baiklah, Kalau begitu masalah sudah clear ya.. Aku harus naik ke atas ada kepentingan mendesak. Terima kasih untuk kemurahan hatimu Nona" Ucap Vino seraya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Nanda mengangguk.
"Oke, Aku ke atas ya" Ucap Vino sambil bergegas melangkah diikuti Rido, Sekretaris Pribadinya meninggalkan Nanda dan para staffnya.
Benar-benar Pria yang sempurna. Sepertinya Aku terpesona pada pandangan pertama dengannya
Vino yang segera berjalan dengan langkah kaki yang agak cepat, Memasuki ruangan meeting.
Semua pegawai di dalam ruangan itu, Berdiri menyambut kedatangan Vino.
"Selamat datang, Pak. Bagaimana perjalananya ? Pasti sangat melelahkan, begitu sampai langsung ke Perusahaan untuk bekerja" Ucap Pak Robi, Manager Proyek Perancangan dan Pembangunan di Perusahaan Samudra Group.
"Tidak apa-apa. Karena ini sifatnya urgent jadi mau tak mau, Aku memang harus segera ada disini untuk memberi keputusan" Ucap Vino.
"Apa rombongan perwakilan dari Perusahaan Dwitama belum datang ?" Tanya Vino.
"Belum Pak, Mungkin..." Belum selesai Pak Robi menyelesaikan ucapannya tiba-tiba suara seorang wanita memotongnya.
"Selamat Pagi semua. Saya Nanda, Manager Project, Perwakilan dari Perusahaan Dwitama" Ucap Nanda.
Semua pegawai didalam ruangan itu kembali berdiri menyambut Nanda dan staff dari Perusahaan Dwitama Group.
Vino tersenyum melihat Nanda. Dia tidak menyangka bahwa orang yang ditolongnya tadi adalah manager project dari Perusahaan Dwitama Group.
Meetingpun segera dimulai, Pembahasan kerja sama berlangsung lancar. Akhirnya untuk proyek pembangunan Mall kali ini, Perusahaan Dwitama menggandeng Perusahaan Samudra Group sebagai mitra.
Setelah selesai meeting, Nanda menghampiri Vino.
"Apakah Pak Vino, Ada waktu pagi ini ? Aku ingin mengajak Pak Vino ke coffee shop untuk sekedar berbincang sambil meminum kopi" Ucap Nanda.
"Maaf bukan Aku menolak, Nona Nanda. Tapi, Saya agak kurang enak badan sekarang. Perjalanan tadi membuatku belum sempat beristirahat, Jadi kepalaku agak terasa sedikit pusing" Ucap Vino.
"Oke, Aku mengerti. Tapi lain kali Kau harus berjanji padaku untuk minum kopi bersama" Ucap Nanda.
"Atur saja waktunya, Aku akan datang" Ucap Vino.
Nanda tersenyum.
"Baiklah Pak Vino, Karena meeting sudah berakhir. Maka Saya beserta staff pegawai Saya mohon pamit" Ucap Nanda mengulurkan tangan.
Nanda tersenyum menatap wajah Vino lekat.
********************
Setelah kepergian Nanda dan timnya. Vino meminta Rido, Sekretaris Pribadinya menyiapkan mobil untuk mengantarnya pulang.
"Apa anda ingin Saya mengantarkan Anda pulang, Tuan ? Sepertinya Anda terlihat kurang sehat untuk mengendarai kendaraan sendiri" Tanya Rido.
"Tidak perlu. Kau disini saja menghandle seluruh pekerjaanku. Aku akan meminta Pak Eko mengantarku pulang" Ucap Vino.
Mobilpun melaju. Pak Eko yang menyetir mengendarai mobil, Mengantar Presiden Direkturnya pulang. Di tengah jalan, Vino meminta Pak Eko menepi ke sebuah Apotik di pinggir jalan. Dia meminta Pak Eko membelikannya obat pereda sakit kepala.
"Tolong belikan Saya obat sakit kepala ya, Pak Eko. Sama air mineralnya sebotol. Tanyakan saja pada petugas Apotiknya, Apa obat pereda nyeri sakit kepala yang bagus" Ucap Vino sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
Karena mengetahui Pak Eko hanya tamatan Sekolah Dasar, Vino takut Pak Eko kurang lancar membaca dan tidak tahu harus mengambil obat yang mana. Jadi Dia menyarankan Pak Eko langsung bertanya pada petugas apotiknya.
Tiba didalam Apotik, Pak Eko melihat keadaan Apotik yang cukup ramai. Beberapa petugas Apotik sibuk melayani pembeli yang jumlahnya tidak sedikit. Karena tidak mau Bosnya menunggu terlalu lama, akhirnya Pak Eko berencana memilih sendiri obat yang akan dibeli.
Dia menuju rak obat. Mencoba membaca satu persatu nama obat tersebut. Dengan susah payah Dia mengeja huruf demi huruf.
"O-bat, Obat. Pe-re-da, Pereda. Nye-ri, Ngeri" Ucap Pak Eko.
"Jadi, bacaannya Obat pereda Ngeri ! Eh, Seperti ada yang aneh. Mana ada obat seperti itu. Coba aku ulang baca lagi. Nye-ri, Nyeri. Oohh.. Nyeri. Apa aku bilang. Untung Aku baca ulang" Ucap Pak Eko.
Lalu dengan pedenya Pak Eko mengambil obat itu beserta sebotol air mineral dan membayarnya ke kasir.
Dia langsung bergegas masuk ke mobil dan memberikannya kepada Vino.
Vino yang sudah meminum air mineral dan bersiap memakan obatnya tiba-tiba terkejut membaca obat yang dibeli Pak Eko.
"Apa Kau teringat pada istrimu Pak Eko ?" Tanya Vino.
"Hmm.. Ada apa Tuan. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ?" Ucap Pak Eko.
"Kau salah membelikanku obat. Ini bukan obat pereda nyeri sakit kepala. Tapi obat Pereda nyeri Haid (datang bulan)" Ucap Vino.
__ADS_1
Pak Eko tampak tekejut mendengarnya.
"Maafkan Saya Tuan. Saya tidak membacanya sampai selesai" Ucap Pak Eko.
"Kau tidak bertanya langsung pada petugas apotiknya ?" Tanya Vino.
"Tadi kebetulan pembeli sedang ramai Tuan. Jadi saya memilih sendiri obatnya" Ucap Pak Eko.
"Baiklah. Biar Aku sendiri langsung yang membelinya. Pak Eko di mobil saja" Ucap Vino.
Vino langsung masuk kedalam apotik dan mengambil beberapa obat pereda sakit kepala. Dia langsung membayarnya ke Kasir.
Terdengar suara petugas kasir yang berbisik-bisik pada teman disebelahnya.
"Wah, ganteng sekali ya"
"Iya, Benar ganteng banget"
Suara mereka berbisik tetapi masih saja sedikit terdengar.
"Berapa semua ini mbak ?" Tanya Vino.
"Semuanya Rp.98.000,- Mas" Ucap Petugas Apotik itu.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang bernada kesal.
"Maaf Mbak, Saya yang duluan dari tadi disini Kenapa Anda melayani Dia duluan yang jelas-jelas baru datang" Ucap gadis berambut panjang itu.
"Hmm.. Maaf tapi sepertinya Tuan ini sedang membutuhkan obatnya sekarang, Mbak" Ucap Petugas Apotik itu.
"Tapi jelas-jelas barang yang saya beli sudah saya letakkan duluan diatas meja ini sebelum Dia. Apa karena dia tampan jadi Kalian lebih mendahulukan Dia daripada Aku yang sudah mengantri dari tadi !" Ucap Wanita itu.
Vino tersenyum mendengar wanita yang lagi marah-marah itu sempat memujinya tampan.
"Apa kalian tidak tahu Kalau semua lelaki tampan itu buaya ?" Ucap Wanita itu lagi, Menyambung perkataannya tadi.
Sontak Vino terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka setelah di puji tampan, Ia dibilang buaya.Ibarat, Habis dilambungkan diatas udara, Dia dihempaskan ke dasar lantai yang paling bawah.
Semua pembeli yang ada didekat mereka berbisik-bisik cukup keras.
"Sayang yah.. ganteng-gangteng tapi buaya" Ucap salah satu pembeli kepada Ibu disampingnya dan terdengar ditelinga Vino.
"Maaf Nona, Sepertinya Anda salah paham" Ucap Vino mencoba menjelaskan.
"Anda jangan ikut campur, Saya tidak berbicara kepada Anda" Ucap Wanita itu.
Bagaimana Aku bisa tidak ikut campur, Jelas-jelas Kau menjadikanku topik di pembicaraan Kalian.
Batin Vino.
"Lain kali jangan suka membeda-bedakan pelayanan seperti ini. Saya juga membeli disini. Membayar pakai uang. Bukan hanya meminta" Ucap Wanita itu.
"Dan Kau, Jangan suka memotong antrian. Budayakan tertib dalam mengantri !" Ucap Wanita itu.
Vino bengong mendengar ucapan Wanita itu.
"Maaf Nona, Dari tadi Aku ingin menjelaskan. Tadinya Aku kira, Kau berdiri disana bukan untuk mengantri tetapi.." Belum selesai Vino menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Wanita itu memotong ucapan Vino.
"Astaga, Sudah jam 9, Aku bisa terlambat kerja !" Ucap Wanita itu.
"Ini uangnya Mbak, Rp. 192.000 kan punyaku ?" Ucap Wanita itu mengeluarkan uang dari dalam kantong bajunya.
"Iya, Mbak" Ucap Petugas itu sambil menerima uang yang diberi wanita itu, Lalu memberikan bungkusan obatnya.
Wanita itu lalu bergegas melangkah keluar Apotik meninggalkan Vino yang masih heran dengan tingkah lakunya.
Kembali terdengar bisik-bisik dari pembeli yang berada disana.
"Ya, Ampun Kasian yah.. Sudah buaya, Dikacangin lagi oleh Wanita tadi, Hihihihi" Bisik-bisik pembeli.
Vino yang merasa malu bercampur kesal, Akhirnya membuka suara.
"Hmm.. Sepertinya Dia kehabisan obat, Jadi penyakitnya kumat" Ucap Vino kepada petugas Apotik dan pembeli disana, menutupi malu.
Vino merasa sangat kesal. Kejadian tadi, membuat sakit kepalanya yang tadinya hanya level 3, Tiba-tiba berubah menjadi level mematikan.
Semoga Aku tidak bertemu lagi dengannya, Wanita keras kepala !
__ADS_1
Batin Vino.
#Hai Readers semoga suka ya dengan awal ceritanya... tetap menanti komentar-komentar syantik dari kalian sebagai motivasi buat lanjut menulis..yuk ramaikan 🤗 Jangan lupa kasih like dan vote juga ya🙏 Saranghaeyo 😘