Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
63. Wanita Paling Bahagia


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen, rate dan Vote ya gaes... Happy Reading 😉


**************************


Part 21 Harap bijak dalam membaca


Disarankan bagi yang belum cukup umur, Jangan membaca


*******************


Seberkas sinar mentari masuk melalui sela-sela jendela. Menghantarkan cahaya kehangatan, Dan membangunkan dua sejoli yang habis melakukan pekerjaan yang melelahkan semalaman.


Nisa membuka matanya dengan perlahan. Mengamati Pria yang sedang berbaring disampingnya. Pipinya bersemu merah, mengingat kejadian semalam.


"Apa kau sudah puas menatapku" Ucap Riko yang tiba-tiba membuka matanya.


Nisa terkejut mendengarnya.


"Sayang, Kau sudah bangun ?" Tanya Nisa.


"Iya" Ucap Riko.


Riko mengelus puncak kepala Nisa dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang" Ucap Riko.


"Untuk apa ?" Tanya Nisa.


"Untuk jadi yang pertama di saat pagi, aku membuka mata" Ucap Riko.


"Idih, Udah kayak lirik lagu aja, Sayang" Ucap Nisa.


Riko tersenyum mendengarnya.


*******************


Hari terus berganti, Sudah Satu Minggu Nisa menjadi Nyonya Riko. Hari ini, Nisa sudah berdandan sangat cantik. Make-up Artis terkenalpun didatangkannya khusus untuk merias dirinya. Dengan polesan tangan dari ahlinya, Wajah Nisa menjadi semakin cantik.


Ditambah lagi, Nisa mengenakan gaun pesta selutut bewarna merah, milik perancang busana terkenal di Kota itu. Semakin menambah kesan glamour padanya.


Riko yang baru masuk ke ruang make-up Nisa, terpukau melihat penampilan Nisa.


"Wah, Istriku memang yang paling cantik" Ucap Riko.


Nisa tersenyum.


"Apa kita sudah bisa pergi sekarang, Sayang ?" Tanya Riko.


"Sudah, Sayang.. Ah, Aku ga sabar melihat Fani jadi pengantin. Pasti Dia sangat cantik mengenakan baju pengantin" Ucap Nisa.


"Ayo, Sayang ! Kita Berangkat" Sambung Nisa.


Mobilpun melaju pergi menuju Hotel Mandala.


*******************


Sesampai di tempat pesta, Nisa dan Riko langsung menghampiri pasangan pengantin yang sedang asyik bercengkrama dengan Dila, Fahri, Azzam beserta pasangan mereka.


Fani terlihatan cantik dalam balutan baju pengantin bewarna putih. Ditambah make-up yang digunakannnya sangat cocok dipadupadankan dengan pakaian yang dikenakannya saat ini.


Fani memang jarang sekali menggunakan make up. Jadi saat dirias untuk hari Pernikahannya seperti ini, Dia terlihat sangat menawan dan mempesona.


"Fani, Cantik banget" Ucap Nisa yang baru datang. Dia langsung memeluk Fani.

__ADS_1


"Selamat ya Fan" Ucap Nisa yang melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya pada Rendi.


"Selamat juga ya Mantan Bosku" Ucap Nisa memberi selamat pada Rendi.


Rendi tersenyum mendengarnya. Dia menjabat tangan Nisa.


"Fan, Elo ga bakal minta kita temeni elo tidur kan dimalam pertama elo nanti ?" Ucap Dila meledek Nisa.


Sontak saja ucapan Dila membuat semuanya tertawa.


"Apa sih Dila.. Ga penting banget deh !" Ucap Nisa dengan perasaan malu.


"Tapi sekarang sudah ga tak takut lagi kan Nis ?" Gantian Fahri yang meledek Nisa.


Nisa tidak menjawab dan hanya membenamkan kepalanya di dada Riko, Saking malunya.


"Kalian jangan menggoda istriku dong. Goda saja Rendi dan Fani yang sebentar lagi yang akan "bermain sepakbola" nanti malam" Ucap Riko yang membela istrinya.


Tak lama, Riuh suara tawa terdengar begitu gembira di malam itu.


Selesai acara, Fani dan Rendi tidak bermalam di Hotel tersebut. Mereka memutuskan pulang ke rumah Rendi. Karena Nenek Fani merasa kurang nyaman untuk menginap di Hotel dan Mama Fani yang lebih menyukai tidur diatas tempat tidurnya sendiri dibanding di Hotel.


Fani yang sudah berada di rumah Rendi, langsung bergegas berganti pakaian dan Mandi. Sedangkan Rendi masih asyik mengobrol dengan kedua orang tuanya dibawah. Setelah mandi, Fani langsung menuju kamar Nenek yang sudah dipersiapkan oleh Keluarga Rendi untuk menginap.


"Nenek, tidak apa-apa kan tidur disini ?" Tanya Fani.


"Tidak apa-apa Fan. Nenek suka tidur disini. Kamarnya besar sekali, Bahkan semuanya lengkap di kamar ini. Keluarga Mandala sangat baik terhadap Nenek. Jarang bertemu dengan orang seperti mereka, Yang tetap rendah hati walau memiliki segalanya" Ucap Nenek.


"Huft..Tidak terasa, Waktu cepat sekali berlalu. Gadis kecil Nenek sekarang sudah tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik dan pintar. Dan sekarang malah sudah menjadi istri orang" Ucap Nenek sambil mengelus puncak kepala Fani.


"Sampai kapanpun Aku akan tetap jadi gadis kecil Nenek kok" Ucap Fani memegang tangan Nenek.


"Nenek sangat bersyukur, Kamu sudah bahagia sekarang. Nenek merasa sudah tidak punya tanggung jawab lagi pada dirimu. Karena semua itu akan jadi tanggung jawab Rendi sebagai suamimu. Dan Nenek percaya, Rendi mampu melakukan tanggung jawab itu dan membahagiakanmu. Jadi sekarang Nenek sudah bisa tenang kalau suatu hari nanti, Nenek akan pergi meninggalkanmu" Ucap Nenek.


Fani merasa terharu mendengarnya. Tanpa terasa, Dia meneteskan air mata.


"Sudah-sudah jangan menangis lagi . Ini hari bahagiamu. Sudah seharusnya Kamu tersenyum. Sekarang susul Rendi dikamarnya. Nenek rasa Dia sudah menunggumu" Ucap Nenek sambil menyeka air mata Fani.


"Iya, Nek. Fani ke kamar dulu ya. Fani sayang Nenek" Ucap Fani sambil memeluk Nenek.


Rendi yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, duduk di sofa kamar sambil menonton televisi di hadapannya.


Suara pintu yang terbuka, Mengalihkan pandangannya.


"Sayang, Dari mana saja kamu ?" Tanya Rendi.


"Aku dari kamar Nenek, Sayang. Tadi mengobrol sebentar dengan Nenek" Ucap Fani sambil menutup pintu.


"Kau sedang apa, Sayang ?" Tanya Fani yang sudah duduk di sebelah Rendi.


"Aku sedang menonton televisi sambil menunggumu" Ucap Rendi.


Fani menyenderkan kepalanya di bahu Rendi.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena sudah mencintaiku" Ucap Fani.


Rendi tersenyum. Dia lalu mengelus puncak kepala Fani.


"Oh, ya.. Aku sungguh penasaran, Sayang. Sejak kapan Kau mulai menyukaiku ?" Tanya Fani.


Rendi kelihatan seolah berpikir.


"Hmm.. Kapan ya ? Aku lupa" Ucap Rendi.

__ADS_1


Fani manyun mendengarnya. Raut wajahnya penuh kekecewaan. Rendi melirik sekilas ke arah Fani. Dia sudah tidak bisa menahan tawanya. Seketika tawanya membludak.


"Hahahaha.. Jangan manyun begitu. Aku hanya bercanda" Ucap Rendi sambil mencubit gemas hidung Fani.


"Aku menyukaimu sejak Kau bisa mengambil hati kedua orang tuaku. Sangat sulit bagi kekasihku yang dulu untuk dekat dengan mereka, Dan kau melakukannya dengan mudah. Tetapi sebelum itu, Sepertinya Aku sudah mulai jatuh hati pada tingkahmu yang konyol dan ceroboh. Sejak saat itu Aku mulai memperhatikan semua tingkah lakumu" Ucap Rendi.


Fani tersentuh mendengarnya.


"Dan Kau sejak kapan mulai menyukaiku ?" Tanya Rendi.


"Sejak Kau mengajakku ke panti asuhan. Sejak saat itu Aku baru bisa melihat dirimu yang sebenarnya" Ucap Fani.


Rendi tersenyum mendengarnya. Dia mengambil tangan Fani dan menciumnya. Rendi lalu merapikan dan menyelipkan anak rambut Fani di sela telinga Fani. Rendi mulai memegang pipi Fani, Dan menciumi bibir Fani dengan lembut. Adegan ciuman mereka berlangsung cukup lama, Yang semula hanya sekedar ciuman lembut berubah menjadi ciuman panas. Rendi mulai mengeksplor ciumannya. Merambah kedalam mulut Fani, Menyusupkan lidahnya di sela-sela bibir Fani.


Setelah puas, Bibir Rendi mulai turun menelusuri leher Fani dan mengecupnya cukup lama. Sehingga meninggalkan tanda kemerahan disana. Tidak puas sampai disitu, Rendi mulai membuka jubah tidur Fani dan melemparkannya ke lantai. Dia mendapati Fani yang berpakaian tidur super minim bewarna peach. Pakaian tidur dengan belahan dada yang rendah itu semakin menyulut gairah Rendi untuk melakukan lebih. Rendi mulai menghisap dada Fani cukup lama, Sehingga membuat Fani menggelinjang, merasakan nikmat.


Namun tiba-tiba suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua.


"Sayang, Ayo minum vitamin dulu biar tubuh kalian tidak drop" Ucap Mama Rendi.


Rendi langsung berdiri dari posisinya. Sedangkan Fani segera merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan.


Mama Rendi tak kalah terkejutnya menyaksikan pemandangan yang baru saja dia lihat. Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Tapi bukan Mama Rendi namanya, Kalau tidak bisa mengelak dari keadaan terjepit.


"Aduh, Rendi sayang. Lain kali kunci dong pintunya kalau sudah mau mulai nyoblos !" Ucap Mama Rendi.


Pipi Fani bersemu merah. Dia merasa sangat malu.


"Lagian Mama sih, Kenapa Ga ketuk pintu dulu sebelum masuk" Ucap Rendi.


"Aduh, Sorry... Mama ga sengaja... Mama sudah kebiasaan keluar masuk kamar kamu tanpa mengetuk pintu. Mama lupa kalau sekarang jagoan Mama sudah menikah. Sepertinya Mama belum terbiasa saja" Ucap Mama Rendi.


Rendi cemberut.


"Ya, Udah. Ini vitamin buat kalian berdua biar tidak kecapek'an sehabis mengadakan pesta pernikahan tadi. Mama letakkin disini ya" Ucap Mama Rendi yang meletakkan vitamin dan dua gelas air minum di atas meja.


"Mama ga akan mengantar minuman atau makanan lagi kan sesudah ini ?" Tanya Rendi memastikan.


Mama Rendi tertawa.


"Enggak kok. Silahkan dilanjut membuat cucu untuk mamanya dan inget buat mengunci pintunya, Ren !" Ucap Mama Rendi.


Muka keduanya langsung memerah malu.


Setelah mengunci pintu, Rendi kembali melanjutkan aksinya. Kali ini bukan di sofa. Rendi menggendong Fani dan mengangkatnya ke kasur. Dia kembali menggerayangi Fani. Melum*t habis bibir Fani dan menyusupkan lidahnya kembali di sela-sela bibir Fani sambil kedua tangannya meremas payudar* Fani.


"Rendi... Ughh.." Fani mendesah.


Rendi mulai melepas pakaian Fani melewati kepala. Dia lalu membuka juga jubah tidur dan celana boxernya, Kemudian membuangnya ke sembarang tempat.


Rendi kembali menciumi bibir, leher dan juga telinga Fani dengan lembut. Sekarang bibirnya sudah turun ke tempat favoritnya, yaitu dua buah gundukan sintal milik Fani. Sebuah ukuran yang lumayan besar untuk ukuran payudar* seseorang.


Rendi melum*t payudar* Fani dengan rakus dan mulai membenamkan perlahan miliknya pada punya Fani.


"Ren.. Sakit.." Ucap Fani.


"Tahan ya sayang, Aku akan pelan-pelan kok" Ucap Rendi yang terus menghentakkan miliknya didalam kepunyaan Fani. Desahan dan lenguhan terus keluar dari mulut mereka berdua. Dengan peluh terus membasahi pelipis mereka.


"Aku mencintaimu Fani" Ucap Rendi yang mengecup kening Fani setelah mencapai pelepasannya.


"Aku juga sayang" Ucap Fani dengan raut wajah merona malu. Fani memeluk Rendi dan membenamkan wajahnya disana. Dia merasa, Menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia ini.


"Kehidupan itu seperti Hujan. Kita tidak tahu tetesan mana yang membawa berkah dan bencana.. Seperti pula orang yang datang dalam kehidupan kita. Seseorang yang kita tidak pernah tahu.. Bahwa kelak bersamanya lah.. Kita menghabiskan hidup untuk ibadah" 😊

__ADS_1


********** T A M A T ***********


#Jangan lupa memberi like, komen, rate dan Vote ya gaes... Aku padamu 😘


__ADS_2