Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Terbakar Cemburu


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. Happy Reading Gaes 😘


************


Keesokan harinya, Khanza kembali bekerja seperti biasanya. Kali ini Zia yang sudah sangat penasaran dan getol ingin bertanya, menghampiri meja Khanza sambil mengendap-endap keberadaan Vira yang belum datang.


"Za, kamu sama Pak Vino ada masalah ya ? Kenapa akhir-akhir ini aku melihat kalian seperti saling menjauh ?" tanya Zia tanpa basa-basi.


"Enggak ada apa-apa kok, Zia" ucap Khanza.


"Jangan bohong. Kelihatan banget kalau kalian lagi perang dingin" ucap Zia.


Khanza menghembuskan nafasnya kasar.


"Adik tiriku yang kita temuiin kemarin di parkiran ternyata merekam semua ucapanku. Rupanya dia sengaja memancingku kemarin" ucap Khanza.


"Astaga cabe-cabean itu ! sudah aku duga, dia pasti punya niat jahat" ucap Zia.


"Jadi gimana dengan hubungan kalian ?" Sambung Zia.


"Entahlah Zia... Sepertinya akan sulit" ucap Khanza.


Zia memeluk Khanza.


"Sabar ya, Khanza. Semoga masalahmu ini cepat selesai. Lagian Khanza sih, kenapa main iya-iya aja waktu dia bilang kamu memanfaatkan Pak Vino" ucap Zia.


Khanza hanya diam.


"Oh, ya Za. Kenapa Nona Nanda dari kemarin-kemarin main melulu ke ruangan Presdir ? Kamu enggak cemburu ?" ucap Zia.


Khanza terlihat sedang berpikir saat mendengar ucapan Zia barusan. Pandangan matanya nanar.


Teringat kejadian kemarin, saat dia mengantar dokumen ke dalam ruangan Vino dimana Nanda masih bertamu diruangannnya. Nanda meminta Vino untuk pergi dengannya ke cafe sore ini. Dengan alasan membahas pekerjaan. Vino yang terdengar agak berat menyanggupinya, akhirnya terpaksa memenuhi permintaan Nanda. Karena Nanda terus memintanya. Sepertinya Nanda sedang berusaha menimbulkan chemistry pada Vino di luar ruangan Kantor.


"Cemburu ? Iya, aku cemburu.. tapi mau gimana lagi Za... marahpun aku enggak bisa" ucap Khanza pada Zia.


Zia hanya bisa memandang iba pada Khanza.


Tadinya aku kira, aku hanya merasa belum terbiasa saja saat dia tidak ada disampingku. Ternyata aku salah.. saat melihat Nanda mendekatinya, aku merasa terbakar. Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh karena pernah menyia-nyiakan kepercayaan Vino.


Batin Khanza.


***********


Ternyata mengobrol dengan Zia tadi, sedikit membuat perasaan Khanza menjadi lega. Rasanya beban yang ada di dadanya terangkat sebagian.


Pingin sih ngobrol lebih banyak sama Zia dan curhat tentang masalahku. Karena Zia orangnya juga bisa dipercaya dalam menjaga rahasia. Tetapi, waktu kami terbatas di kantor. Karena pekerjaan masing-masing telah menunggu untuk dikerjakan. Lagipula, ngobrol juga kurang nyaman karena takut terdengar oleh pegawai yang lainnya.


Oh, Iya.. aku curhat sama Syifa aja. Pulang ini aku temuin Syifa di tempat kerjanya aja. Kalau dirumah kadang sama-sama sudah kecapek'an.


Batin Khanza.


Khanza melirik jam dinding di kantornya.Tinggal 5 menit lagi waktunya jam pulang kantor bagi pegawai. Khanza sudah tidak sabar untuk bertemu Syifa.


Selang beberapa menit kemudian, jam pulangpun tiba.


Khanza langsung menaiki bis menuju coffee shop tempat Syifa bekerja.


Seharusnya, ini sudah jam pulangnya Syifa juga kan.


Batin Khanza.


Akhirnya, Bis yang membawa Khanza tiba di Coffee Shop.


Khanza langsung melihat sosok Syifa yang sedang berdiri di depan sebuah meja dan berdiri membelakangi Khanza.


Itu Syifa, tapi kayaknya lagi ngobrol dengan seseorang. Apa pelanggan ya ? Aduh aku enggak kelihatan lagi.. karena tubuh Syifa menutupinya. Tapi aku sampirin Syifa aja deh, lagian ini kan jam pulang kerjanya Syifa dan Syifa juga sudah mengganti pakaiannya.


Batin Khanza.


"Syifa !" ucap Khanza sambil menepuk bahu sahabatnya itu seraya tersenyum.


"Khanza ?" ucap ketiga orang tersebut berbarengan.


Ternyata dua orang yang duduk dihadapan Syifa adalah Yuda dan Aldi.


Khanza kaget melihat dua orang yang dikenalnya sedang mengobrol dengan Syifa.


"Yuda kenapa kamu disini ?" tanya Khanza langsung ke inti.


Keningnya mengerenyit.


"Aku mengunjungi temanku disini. Aldi temanku di club mobil" ucap Yuda berkilah.


"Kenapa Kau mengobrol dengan mereka. Bukankah ini jam pulang kerja ? Suruh mereka memesan dengan pegawai yang lain saja" ucap Khanza.


"Eh, Khanza.. Pak Aldi ini bosku yang baru di Coffee shop ini. Dia baru kembali dari luar negeri" ucap Syifa.

__ADS_1


"Mohon maafkan teman saya ya Pak Bos. Ini Khanza, teman saya. Dia anaknya suka asal bicara emang, tapi sebenarnya maksudnya baik kok. Dia dulu pernah bekerja disini juga sebelumnya" Sambung Syifa.


Aldi tersenyum memandang Khanza.


"Ya, aku sudah tahu dia gadis seperti itu. Gadis cantik yang sangat galak" ucap Aldi.


"Hei ! Jangan bilang saudaraku galak. Kau mau aku hajar ya ?" ucap Yuda.


"Saudara ? kalian bersaudara ?" tanya Aldi tak percaya.


"Iya, kami saudara tiri" ucap Khanza.


"Kau tidak marah padaku, Yud ? Kau masih mau mengakuiku sebagai saudara tirimu ?" tanya Khanza.


"Kenapa aku harus marah. Ya Awalnya aku akui, aku memang kesal padamu saat itu. Tetapi pasti kau punya alasan untuk melakukannya. Seperti kata Aldi, aku tahu kau gadis seperti apa" ucap Yuda.


Khanza terharu mendengar ucapan Yuda. Yuda memang sosok yang sangat pengertian baginya.


"Pak Bos bisa kenal sama Khanza dimana ?" tanya Syifa bingung.


Yudapun tampak penasaran dan ingin tahu dengan jawaban Aldi.


"Dia pacar temanku, Vino" ucap Aldi singkat.


"Sayang ya.. cantik-cantik tapi sudah ada yang punya !" ucap Aldi yang mencoba bersikap santai dan berusaha melupakan kejadian yang dulu.


Masih sama seperti dulu.. suka ngebanyol..


Batin Khanza.


"Kamu mau ngapain, Za kemari ? Tumben banget ke sini" tanya Syifa.


"Aku.. aku cuma ingin nemuin kamu. Sudah lama kita enggak ngobrol" ucap Khanza berkilah.


Masa iya gue bilang mau curhat di depan kedua lelaki kepo ini. Bisa-bisa mereka mau ikut nimbrung lagi.


Batin Khanza.


"Oohhh.. Enggak dianter Vino nih ?" tanya Syifa.


Khanza terdiam. Pandangan matanya langsung beralih ke Yuda. Mereka bersitatap.


Khanza lalu menunduk.


Sepertinya kejadian itu membuat mereka bertengkar hebat.


Syifa dan Aldi yang melihat ekspresi di wajah Khanza juga bisa menebak kalau ada masalah yang terjadi antara Khanza dan Vino.


Sepertinya Khanza ke sini tadi mau curhat deh ! Enggak biasanya dia bela-belain ke tempat kerjaku kalau enggak penting-penting amat. Tapi masa cerita di depan dua lelaki penyamun ini sih ! Dia pasti kagak mau...


Batin Syifa.


"Za, Entar aku ke rumahmu aja ya. Aku harus ke toko langganan ayahku sekarang. Ada barang yang mau diambil buat ngisi toko" ucap Syifa.


"Biar aku antar ya !" ucap Yuda.


Pipi Syifa langsung merona.


Khanza yang merasa aneh pada gelagat Yuda dan respon yang diberikan Syifa merasa ada yang aneh.


"Kalian enggak pacaran kan ?" ucap Khanza tiba-tiba.


"Enggak !" ucap Syifa yang langsung ngebantah.


"Gue lagi PDKT Za sama Syifa" ucap Yuda.


"Elo enggak keberatan kan gue deketin sahabat elo ?" ucap Yuda meminta izin.


Khanza masih bengong tidak percaya.


"Apaan sih elo Yud. Main bilang aja ke Khanza kayak gitu. Emang siapa yang mau dideketin sama elo !" ucap Syifa.


"Udah gue mau pergi sendiri aja, Bye Khanza !" ucap Syifa yang sudah melangkah pergi dari situ.


Yuda langsung berdiri mengambil kunci mobilnya yang terkapar diatas meja dan berlari menyusul Syifa.


Khanza yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam, dia sudah bersiap menyusul Syifa dan Yuda. Tetapi suara Aldi menghentikannya.


"Mau kemana Za ? Mau jadi obat nyamuk lihatin mereka berdua yang lagi kasmaran ?" ucap Aldi.


Khanza bengong.


Aldi berdiri menarik tangan khanza untuk duduk kembali.


"Udah sini aja dulu. Jangan ganggu usaha Yuda buat deketin Syifa. Dia sudah beberapa hari ini, tiap pulang kerja pasti mampir ke sini dulu, buat ngajak Syifa pulang bareng" ucap Aldi.


"Pulang bareng ? Terus Syifanya mau ?" tanya Khanza.

__ADS_1


"Boro-boro ! Yang ada Yuda dijutekkin melulu !" ucap Aldi.


"Huft.." Khanza bernafas lega.


"Tega elo Za sama saudara sendiri" ucap Aldi.


"Yuda tu niat banget deketin Syifa. Setahu gue, dia enggak pernah seserius ini mengejar cewek !" Sambung Aldi.


"Gue bukan tega Al. Gue cuma enggak mau entar Syifa di labrak sama mamanya Yuda. Mamanya Yuda enggak bakal suka dapet menantu dari keluarga biasa-biasa aja. Jadi sebelum terlalu jauh sebaiknya dihentikan saja" ucap Khanza.


Aldi mangguk-mangguk kagak ngerti.


"Za, elo lagi ada masalah ya sama Vino ?" tanya Aldi.


"Sok tahu elu Al. Ya enggaklah !" ucap Khanza.


"Udah enggak usah bohong. Kelihatan lagi dari raut wajah elo waktu kita lagi bahas Vino. Emang apa sih masalahnya ?" Tanya Aldi.


Khanza hanya menunduk diam.


Enggak biasanya nih cewek galak jadi kalem. Duh, tambah manis aja. Tahan Aldi, udah punya orang !


Batin Aldi.


Tiba-tiba yang dibicarain datang. Vino dan Nanda yang baru saja tiba di coffee shop untuk ngopi bareng sekaligus membahas masalah pekerjaan, melihat Khanza dan Aldi yang sedang duduk berdua di satu meja dari kejauhan.


Panjang umur nih Vino !


Batin Aldi.


Aldi yang juga menatap Vino dari kejauhan balas menatap sinis. Hanya Khanza yang enggak bisa melihat keberadaan Vino dan Nanda karena duduk membelakangi mereka.


Tangan Vino mengepal geram melihat kedekatan Aldi dan Khanza.


"Vin, duduk yuk !" ajak Nanda.


Tapi Vino masih tetap berdiri, fokus melihat Aldi dan Khanza. Apalagi Khanza terlihat tertawa mendengar ucapan Aldi yang mencoba menghiburnya.


"Makanya kemarin-kemarin coba terima gue aja yang jadi pacar elo, Za. Sama makanan yang jatuh belum lima menit aja gue sayang, apalagi sama kamu !" ucap Aldi.


Khanza kembali tertawa.


Rasain elo Vin. Gue kerjain elo ! Pake sok jual mahal lagi sama Khanza. Entar gue ambil tahu rasa elo !


Batin Aldi.


Dilangkah berikutnya Aldi makin berani, dia mencoba mengusap puncak kepala Khanza. Tetapi tangannya langsung ditepis oleh Vino.


Vino segera menghampiri mereka berdua ketika melihat Aldi yang sudah ancang-ancang mau mengusap puncak kepala Khanza, dan meninggalkan Nanda yang berdiri sendirian.


"Kalau sekali lagi tanganmu mencoba menyentuh Khanza, Gue pites beneran elo !" ucap Vino mengancam Aldi.


Aldi hanya menyeringai.


"Ayo, ikut aku pulang !" Vino menarik tangan Khanza secara paksa.


Khanza memberontak.


"Ikut aku atau aku gendong sampai parkiran !" Bentak Vino.


Khanza langsung terdiam. Dia tahu Vino tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dia hanya bisa ikut saat Vino menarik tangannya kembali dan mulai melangkah meninggalkan Aldi.


Vino dan Khanza berjalan melewati Nanda.


"Maaf Nan, lain kali saja kita membahas masalah pekerjaannya. Aku harus mengantar Khanza pulang sekarang. Nanti, Sekretaris Rido yang akan mengantarmu pulang" ucap Vino.


Vino dan Khanza lalu bergegas pergi meninggalkan Nanda yang berdiri mematung.


Sementara di dalam mobil.


Khanza yang sudah duduk di kursi sebelah Vino, memandang Vino dengan raut wajah penuh kekesalan.


"Kenapa kau memaksaku untuk pulang denganmu ?" teriak Khanza di dalam mobil.


"Kenapa ? kau tidak rela aku mengusik kebersamaanmu dengan Aldi barusan ?" ucap Vino dengan nada menyindir.


"Lalu kenapa ? Apa pedulimu ?" ucap Khanza kembali, dengan nada yang mulai tinggi.


"Ingat Khanza, kau ini masih kekasihku ! Kau tidak boleh dekat dengan lelaki manapun !" ucap Vino.


"Semenjak kau mengacuhkanku dan butuh waktu untuk menerimaku kembali, Sejak hari itu, kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi" ucap Khanza.


"Jangan menguji kesabaranku Khanza Dwitama !!!!" Teriak Vino.


Kini sorot mata Vino berubah tajam. Raut wajahnya yang penuh dengan amarah membuat Khanza takut untuk berbicara lagi.


#Jangan lupa like, vote dan komennya yak.. Maaf untuk janji yang telat dipenuhi... πŸ™ Lain kali enggak pake janji lagi deh, takut ada kendala yang ternyata di luar dugaanπŸ™ Besok udah mulai lunak ya keduanya.. Enggak pake berantem kayak gini lagi πŸ€— Saranghaeyo 😘

__ADS_1


__ADS_2