
Jangan lupa memberi like,komen dan vote ya🙏 Happy reading gaes 😊
*********************
Khanza lalu berjalan menuju mejanya. Dia meletakkan tasnya, dan duduk di kursinya.
"Lama tidak bertemu, Khanza. Kangen enggak ?" Ucap Aldi dengan pedenya.
"Enggak !" Ucap Khanza.
Masih galak seperti biasanya !
Batin Aldi.
"Tapi, kok aku kangen ya" Ucap Aldi.
Khanza melotot.
"Jangan di pelototin gitu dong, entar Aldi sawan lagi pingin nikahin kamu" ucap Aldi.
Urat malunya udah putus kayaknya.
Batin Khanza.
"Pak Aldi enggak kerja kah ? Pagi buta sudah ada disini ?" Ucap Vira yang sedari tadi tidak tahan ingin bertanya.
Sama seperti yang pingin aku tanyain. Pinter nih Vira !
Batin Khanza.
"Udah ada yang urus kok. Sekarang lagi fokus ketemu calon istri dulu" Ucap Aldi.
"Siapa calon istrinya ?" Tanya Vira.
"Nih, cewek dihadapan aku sekarang" Ucap Aldi.
Vira tertawa mendengarnya.
"Aku sudah punya pacar" ucap Khanza.
"Apa ?" ucap Aldi dan Vira berbarengan.
************
Sementara di ruang meeting, ponsel Vino tidak berhenti berdering. Untungnya dia telah mengatur mode silent pada ponselnya. Karena kurang etis baginya di saat seperti ini, dia sibuk mengankat telepon.
Setelah memimpin rapat selama satu jam, Vino langsung mengusap layar ponselnya, untuk mengetahui siapa yang meneleponnya barusan.
Ada 3 panggilan tidak terjawab dari Yuda Dwitama, dan dua pesan whatsapp darinya.
Vino membuka pesan whatsapp dari Yuda dan membacanya.
✉ "Vin, sudah berapa lama kamu kenal dengan Khanza ? Dimana kamu mengenalnya ?"
Cih !
Batin Vino.
Vino lalu membuka pesan whatsapp ke dua dari Yuda.
✉ Kenapa tidak membalas pesanku ? Ada hal penting yang perlu saya tanyakan. Bisakah kita bertemu ?"
Hal penting ? Bisa-bisanya bilang Khanza itu hal penting bagimu !
Batin Vino.
"Sekretaris Rido, bilang pada Zia untuk membuat surat pemutusan kontrak kerja sama dengan Perusahaan Dwitama Group" Ucap Vino.
"Baik, Pak !" ucap sekretaris Rido.
Vino yang telah menyelesaikan rapat, akhirnya naik ke ruangannya dengan perasaan kesal.
Belum lagi kesal karena masalah Yuda, sekarang dia melihat Aldi yang berdiri di depan meja resepsionis, sedang mencoba merayu kekasihnya. Apalagi saat itu Khanza dan Vira terlihat tertawa karena banyolan Aldi.
"Aku enggak percaya, kalau kamu sudah punya pacar. Palingan biar aku enggak berusaha deketin kamu lagi kan ?" ucap Aldi.
"Iya, nih Za. Gue enggak pernah lihat elo teleponan sama cowok. Atau pulang dijemput cowok" Ucap Vira.
Dih, Vira.. pakai ngomong gitu segala. Gimana nih anak mau lari coba.
Batin Khanza.
Aldi cengar-cengir.
"Tuh, kan. Kamu bohong kan, Za ?" Ucap Aldi.
"Siapa yang bohong ? Beneran, aku sudah punya pacar" ucap Khanza.
"Kalau begitu mending aku ke selatan aja ya, karena rindu ini tidak bisa aku utarakan" ucap Aldi yang pura-pura memasang tampang sedih.
Khanza dan Vira sontak tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Apa kau tidak bekerja ? Pagi buta sudah ada disini ?" Ucap Vino yang tiba-tiba baru datang.
Sudah dua orang yang memberikan pertanyaan yang sama untuk dia. Eh, tiga ding sama saya yang menanyakan pertanyaan itu di dalam hati. Tapi sepertinya percuma, sindiran kayak gini, gak mempam sama dia.
Batin Khanza.
"Ayo, ke ruanganku. Jangan menganggu orang yang sedang bekerja" ucap Vino dengan sorot mata yang kesal.
"Gue masih mau disini. Entar aja, gue ke ruangan elo" Ucap Aldi yang tidak mau beranjak.
Tanpa memperdulikan ucapan Aldi, Vino langsung menarik Aldi ke ruangannya.
"Yaelah, kenapa sih elo Vin. Ganggu usaha gue aja" ucap Aldi yang sudah duduk manis di sofa ruangan Vino.
"Kan sudah pernah gue bilang, jangan ganggu karyawan gue" Ucap Vino yang duduk dihadapannya.
"Kan gue juga pernah bilang. Gue enggak ganggu karyawan elo. Gue cuma lagi usaha buat dekat sama Khanza" Ucap Aldi.
Vino merasa terganggu mendengarnya.
"Jangan mendekatinya, dia sudah punya kekasih" ucap Vino.
Aldi tertawa.
"Paling dia cuma mau bohongin gue. Gue enggak percaya !" Ucap Aldi.
Beneran muka tembok kayaknya, bebal !
"Dia tidak berbohong ! Dia betul-betul sudah punya kekasih !" Ucap Vino
Aldi malah cengengesan.
"Tidak apa-apa Vin, Kalau dia punya kekasih. Aku anggap aja pacarnya Khanza sekarang, sedang jagain jodoh orang lain" ucap Aldi dengan pedenya.
Nih, anak.. omongannya makin menjadi-jadi kayaknya.
"Lagipula pacarnya sekarang pasti enggak perhatian sama dia. Buktinya Vira bilang, enggak pernah nelepon dan jemput Khanza pulang. Benar-benar pacar durjana !" ucap Aldi yang masih terus nyerocos.
Modelan gini, lama-lama gue pites juga elu !
Aldi lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Vino.
"Gue seneng banget Vin. Hari ini dapat fotonya Khanza. Gue ambil diem-diem saat dia lagi asyik mengobrol sama Vira. Bakal tiap malam nih memandangi foto Khanza" ucap Aldi.
Sontak Vino langsung merampas ponsel Aldi dari tangannya.
"Eh, Vin elo ngapain ?" Tanya Aldi yang berusaha merebut kembali ponselnya.
"Nih, Gue kembaliin ! Sudah gue delete !" Ucap Vino.
"Emang siapa elo ? berani-beraninya delete foto Khanza yang gue ambil dengan susah payah !" Ucap Aldi yang sudah mulai emosi.
"Gue pacarnya Khanza !" Ucap Vino.
Aldi terdiam.
"Jangan dekati Khanza lagi. Kalau enggak memandang kita berteman. Mungkin aku sudah menghajarmu dari tadi !" Ucap Vino dengan sorot mata yang tajam.
Aldi memandang Vino lekat. Begitupun sebaliknya. Ada tatapan penuh amarah dari keduanya.
"Aku sudah duga dari awal. Tidak mungkin kau tidak menyukai orang seperti Khanza. Dia berbeda dari yang lain. Tetapi, kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau menyukainya juga. Mungkin, aku tidak pernah berharap sejauh ini. Mungkin aku tidak akan segila ini, merebut kekasih teman sendiri !" Ucap Aldi.
Aldi lalu beranjak dari duduknya. Dia melangkah keluar, pergi meninggalkan Vino sendiri di ruangannya.
Khanza yang melihat Aldi keluar dengan ekspresi wajah yang sangat muram, merasa heran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam sana.
Aldi melewati meja Khanza, dia tidak berbicara sepatah katapun. Dia hanya melirik sekilas ke arah Khanza dan tetap melangkah menuju lift, untuk bergegas pergi.
"Tumben tuh anak enggak mampir dulu. Biasanya nempel dulu disini lama, negangguin elo" ucap Vira.
"Ya, baguslah Vir" ucap Khanza.
Apa yang sudah Vino katakan padanya ya, kenapa Aldi kelihatan sangat marah. Bodoh amatlah.
Batin Khanza.
**********
Jam telah menunjukkan pukul 12:00 siang.
Deka dan Zia datang menghampiri Khanza dan Vira.
"Eh, sudah mau jam istirahat nih. Makan ke luar yuk. Bosen di dalam terus. Mana ada Pak Vino diruangannya. Entar, kita enggak bebas ketawa cekikian lagi kalau makan disini. Mana suasana hatinya lagi enggak bagus kayaknya. Entar bisa-bisa kita kena semprot" Ucap Zia.
"Kok elo bisa tahu Zia, kalau Pak Vino lagi dalam suasana hati enggak bagus ?" Tanya Deka.
"Iya, tadi pas nganter dokumen mukanya jutek banget. enggak pernah-pernah tuh muka Pak Vino kayak gitu. Dan yang gue herannya, dia minta dibikinin surat pemutusan kontrak kerja sama dengan Perusahaan Dwitama Group. Padahal sisa kontrak kerja sama masih 6 bulan lagi" Ucap Zia.
Pemutusan kontrak kerja ?
Batin Khanza.
__ADS_1
"Dih, kalau gitu mending kita makan diluar aja yuk. Serem kalau makan disini. Entar lagi enak-enak cekakak-cekikik kita di tegur pak Boss lagi" Ucap Deka.
Khanza tampak kelihatan berpikir.
"Hmmm.. aku belum mau makan. Mau lanjut mengarsip daftar tamu nih. Kalian duluan aja ya" ucap Khanza.
"Yaelah, nanti aja Za. Tinggalin dulu. Yuk, makan dulu keluar" ucap Vira.
"Aku belum laper kok. Kalian duluan aja ya" ucap Khanza.
"Ya, udah. Kita duluan ya !" ucap Zia.
Setelah memastikan teman-temannya telah memasuki lift. Dan juga melihat kondisi ruangan yang sudah sepi. Khanza memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Vino.
Khanza masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Vino mendongakkan wajahnya begitu tahu Khanza yang datang.
"Aku dengar, kau tidak keluar makan siang dan tidak menitip untuk membeli makan siang dengan Pak Ahmad. Apa kau sedang sibuk bekerja ?" Tanya Khanza.
"Iya, lagi banyak kerjaan. Kamu sendiri enggak makan siang dengan yang lain, sayang ?" tanya Vino.
"Enggak, aku mau makan siang disini saja. Aku sengaja bawa dua kotak bekal makanan dari rumah. Tadinya aku ragu mau kasih ke kamu, takutnya kamu enggak mau. Tapi aku pikir, tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu kamu mau memakannya" Ucap Khanza yang sudah meletakkan kotak makanannya di atas meja sofa.
Khanza membuka kotak bekal untuknya dan untuk Vino. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Vin, apa benar kamu memutuskan kontrak kerja sama dengan Perusahaan Dwitama Group ? Padahal kontraknya masih 6 bulan lagi kan ?" tanya Khanza.
"Iya, lalu kenapa ?" Ucap Vino yang tiba-tiba mulai menunjukkan raut wajah kesal.
"Bukannya sayang kalau memutuskan proyek sebesar ini di tengah jalan ? Apalagi ini beresiko besar juga bagi Perusahaan, apabila kerjasama ini dihentikan tiba-tiba" ucap Khanza.
Vino beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke sofa, tempat Khanza duduk.
"Kenapa ? Apa kau kecewa tidak ada kesempatan untuk melihat Yuda berkunjung kemari ?" ucap Vino.
"Kecewa ? Apa hubungannya dengan Yuda ? Aku tidak punya hubungan semacam itu dengan Yuda" Ucap Khanza.
"Lalu apa ini alasanmu meminta aku menutupi hubungan kita sebagai kekasih di kantor. Supaya orang-orang tidak tahu kalau kau mempunyai kekasih, dan Aldi jadi leluasa mendekatimu ?" ucap Vino.
Khanza terdiam. Dia mencoba mencerna ucapan Vino. Dia mulai tahu arah pembicaraan Vino.
Apa dia secemburu itu ? Sampai mengatakan hal-hal yang tak masuk akal seperti ini !
Batin Khanza.
"Kalau begitu, sebaiknya aku keluar saja dulu. Sepertinya kehadiranku disini hanya membuatmu kesal" ucap Khanza yang sudah berdiri dari duduknya dan bersiap melangkah keluar.
Tapi tiba-tiba, Vino menarik tangannya dan memeluknya.
"Jangan pergi ! Tetap disini denganku. Perasaanku sedang kacau sekarang" Ucap Vino yang masih memeluk Khanza.
"Aku hanya kesal, kenapa banyak sekali yang mencoba mendekatimu" ucap Vino.
Banyak ? Perasaan cuma Aldi deh yang udah kayak anak ayam ngintilin gue kemana-mana. Emang siapa lagi ? Oh, jangan-jangan dia mikirnya Yuda kali.
Batin Khanza.
"Vin, kamu salah sangka. Aku dan Yuda enggak mungkin..." belum selesai Khanza menyelesaikan ucapannya Vino memotong ucapannya.
"Jangan bahas orang lain lagi saat kita berdua. Aku benar-benar bisa marah. Jangan buat aku cemburu lagi !" Ucap Vino.
Khanza terdiam.
"Percayalah, aku bisa tahan dengan rindu tapi tidak untuk cemburu" Ucap Vino yang semakin mengeratkan pelukannya pada Khanza.
Deg !
Jantung Khanza berdetak kencang dari biasanya. Hatinya berdebar.
Kenapa jadi begini ? Baru saja aku ingin jujur padanya dan mengakhiri permainan ini. Tapi sepertinya aku kebablasan. Hatiku sudah jatuh ke dalam pelukannya.
Batin Khanza.
"Sayang, jangan marah lagi ya. Aku hanya mencintaimu kok" ucap Khanza yang untuk pertama kalinya mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
Vino tertegun mendengar ucapan Khanza barusan. Dia melepaskan pelukannya dan tiba-tiba.
Cup !
Vino mencium kening Khanza.
Khanza kaget bukan main.
"Makasih ya sayang, sudah meyakinkanku" Ucap Vino yang memeluk Khanza kembali.
Khanza tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Pipinya bersemu merah.
Jangan lupa memberi like, vote , dan komentar kalian ya🙏 makasih 😘
__ADS_1
Aku juga minta doanya ya, buat sahabat aku ika (nama pena mamika / Seo ye Jie) yang juga salah satu author di Mangatoon juga yang judul karyanya "Akibat Sandiwaraku", Baru saja terkena musibah kebakaran rumah. Semoga Allah memberikan ketabahan buatnya dan mengganti rezeki yang lebih baik lagi. Semangat ika sayang 😘