
Jangan lupa memberi like, komen dan vote🙏 Happy Reading Gaes 😘
******************
Drrtttt...drttt..
Tiba-tiba ponsel Vino berdering. Vino membaca nama yang tertera di layar ponsel. Tetapi, Vino tidak mengangkat teleponnya.
"Kenapa tidak diangkat teleponnya ?" Tanya Khanza.
"Tidak apa-apa. Bukan hal yang penting" Ucap Vino sambil meletakkan ponselnya kembali diatas meja.
Tiba-tiba ponsel Vino kembali berdering. Khanza melirik sekilas, nama yang tertera di ponsel Vino. Sedangkan Vino masih acuh tidak menjawab teleponnya.
Dwitama ? Itukan Ayah.. Bukan ! Dia bukan Ayahku lagi.. Itu papanya Nanda !
Batin Khanza.
"Enggak diangkat lagi ? Kenapa enggak mau diangkat sih Vin ? Kalau kamu enggak mau cerita, aku ngambek nih" Ucap Khanza.
Vino yang sedang asyik melahap makanannya, lalu menghentikan kegiatannya.
"Asataga, sayangku ini... Baru juga jadian beberapa menit. Sudah ngambek nih" Ucap Vino.
"Habisnya kamu enggak mau cerita sih ! Jangan-jangan dari cewek ya ?" Ucap Khanza yang pura-pura memasang wajah kesal.
Vino tersenyum.
"Oke, aku cerita. Itu Pak Dwitama. Presiden Direktur Dwitama Group. Dia dari kemarin-kemarin ngajakin aku makan malam di rumahnya. Tetapi selalu aku tolak dengan alasan sibuk. Ini sudah kesekian kalinya dia mengajakku makan malam dirumahnya. Aku bingung mau jawab apalagi buat nolaknya. Makanya enggak aku angkat" Ucap Vino.
"Kenapa menolak datang ?" Tanya Khanza.
"Dia Papanya Nanda Dwitama. Perempuan yang kamu lihat makan berdua denganku di kantin Perusahaan. Kalau aku makan malam di rumahnya, kamu nanti mikir macem-macem lagi" Ucap Vino.
Khanza tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu, biar kamu enggak di telepon lagi. Penuhin aja undangan makan malam mereka" Ucap Khanza.
"Kamu enggak marah kalau aku pergi ke sana ?" Tanya Vino.
"Marah lah, kalau kamu perginya sendirian. Kamu perginya harus sama aku juga. Biar semua orang yang berusaha deketin kamu tahu, kalau Vino Aditya Samudera sudah punya pacar" Ucap Khanza.
Vino tersenyum mendengarnya.
"Sekarang baru mau nih diakuin pacar" Ucap Vino yang meledek Khanza.
"Dih, Vino ! Apaan sih.." Ucap Khanza sambil mencubit pinggang Vino.
"Aw ! Sakit juga ya cubitan kamu" Ucap Vino sambil memegangi pinggangnya.
Khanza tertawa.
"Iya deh, entar aku telepon balik Pak Dwitama. Buat menyetujui makan malam bersama mereka. Berarti besok malam aku jemput ya" Ucap Vino.
"Oke !" Ucap Khanza.
Akhirnya mereka menghabiskan makanan mereka dengan lahap.
Setelah selesai makan, Mereka bergegas pulang. Vino mulai melajukan mobilnya.
Ditengah perjalanan mereka melewati sebuah butik ternama di kota tersebut. Vino lalu menepikan mobilnya disana.
"Kita ngapain di sini Vin ?" Tanya Khanza.
"Beli baju buat Ibumu. Tadi kamu bilang, Kalian batal membeli baju baru untuk Ibumu di Mall. Sekalian beliin baju buat kamu juga, untuk datang ke acara makan malam besok" Ucap Vino.
Oh, Iya ! Kalau berakting jangan setengah-setengah.. Benar, aku harus membeli baju bagus buat makan malam besok. Enggak mungkin kan, kalau aku pakai baju buluk, bisa-bisa mereka enggak percaya dan menertawakanku habis-habisan !
Batin Khanza.
Akhirnya Khanza menyetujui ucapan Vino. Dia memilih baju untuk dia berikan pada Ibunya dan juga memilih baju yang akan dia kenakan di pesta besok.
Sesampai di kasir, Khanza sudah siap-siap mengeluarkan dompetnya untuk membayar semua baju yang sudah dipilihnya. Tapi Vino menepis tangannya dan menggantikannya untuk membayar semua baju tersebut. Vino memberikan kartu black cardnya pada kasir.
"Mbak, jangan ! Kembalikan kartunya. Pakai uang cash saja" Ucap khanza yang bersiap-siap mengeluarkan uang di dompetnya.
__ADS_1
"Semuanya 15 juta Mbak" Ucap pelayan tersebut.
"Apa ? 15 juta ?" Ucap Khanza yang suaranya terdengar seperti berteriak, karena saking terkejutnya.
"Iya, Mbak" ucap Pelayan tersebut.
Kenapa mahal amat ? baju kok seharga motor bebek. Kalau harga segitu, mending gue beli motor daripada beli baju !
Khanza membuka isi dompetnya dan menghitung semua uangnya didalam sana.
"Kalau begitu enggak jadi deh Mbak" Ucap Khanza.
Vino melotot mendengarnya. Dia memberikan black cardnya kembali kepada kasir dan meminta pelayan itu membungkus semua baju yang sudah dipilih oleh Khanza.
Akhirnya mereka kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang.
Sepanjang jalan Khanza mengomel pada Vino.
"Vin, kenapa dibeli sih ? Mahal banget tau enggak ? Baju kok seharga sepeda motor sih ! Padahal cuma sepotong kain juga !" Ucap Khanza.
"Ya, udah nanti aku beliin kamu sepeda motor juga !" Ucap Vino.
"Vinoooo !" Ucap Khanza sambil mencubit pinggang Vino.
Vino yang lagi fokus menyetir langsung tertawa melihat Khanza yang terlihat kesal.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit. Merekapun tiba di rumah Khanza.
Khanza turun dari mobil, lalu diikuti Vino yang berjalan di belakangnya. Khanza menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Vino
"Makasih ya Vin buat bajunya. Seharusnya enggak usah repot-repot beliin baju buat aku dan Ibuku" Ucap Khanza.
"Enggak apa-apa. Kan kebetulan memang Ibu lagi cari baju" Ucap Vino.
"Hmm.. Tapi jangan panggil aku Vino lagi. Kamu enggak romantis banget sih, Za. Aku dari tadi panggil kamu sayang, kamunya tetap aja panggil aku Vino" Ucap Vino.
Astaga, aku baru tahu kalau Vino mempunyai sisi manja seperti ini juga.
Batin Khanza.
"Panggil Sayang juga dong" Ucap Vino.
"Hmm.." Khanza tampak berfikir.
"Enggak mau ! Aku maunya panggil kamu ayang kepo aja deh !" Ucap Khanza.
"Ya, iya. Itu juga boleh. daripada di panggil bang oma tadi" Ucap Vino.
Khanza tertawa mendengarnya.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya. Besok malam, aku jemput ya" Ucap Vino yang sudah berada di dalam mobilnya dan membuka kaca mobilnya.
Khanza mengangguk.
********************
Keesokan harinya, Khanza telah bersiap-siap di depan cermin. Dia menunggu Vino datang untuk menjemputnya malam ini. Ibu yang melihat Khanza yang telah berdandan cantik dan berpakaian bagus menghampiri Khanza.
"Anak Ibu cantik banget sih, mau kemana ?" Tanya Ibu.
"Hmmm.. mau pergi sama Vino, Bu. Mau makan malam. Ibu enggak apa-apa kan makan sendiri malam ini ?" Tanya Khanza.
"Iya, enggak apa-apa. Jadi, sekarang anak Ibu sudah punya pacar nih ?" Tanya Ibu.
Pipi Khanza memerah.
Tiba-tiba terdengar suara mobil yang baru saja tiba di depan rumah Khanza. Vino lalu turun dari mobilnya, dan menghampiri Khanza dan Ibunya yang sekarang telah berdiri di depan pintu. Vino menyalami Ibu Khanza dan meminta izin untuk pergi.
"Bu, saya minta izin pergi makan malam dengan Khanza ya" Ucap Vino.
"Iya, tapi jangan kemalaman ya pulangnya" Ucap Ibu.
Vino menganngguk.
"Memang makan malam di mana ? Jauh tempatnya ?" Tanya Ibu Khanza.
__ADS_1
Ibu Khanza memang termasuk orang tua yang operprotektif terhadap anaknya. Dia harus tau jelas kemana Vino akan membawa anak gadisnya.
Gawat kalau Vino bilang di rumah Pak Dwitama...
Batin Khanza.
"Kami mau makan di rumah..." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Khanza langsung menarik tangan Vino.
"Di rumah kolega perusahaan Vino, Bu. Sekarang mungkin sudah ditunggu disana. Khanza sama Vino pergi dulu ya, Bu" Ucap Khanza sambil menarik tangan Vino.
Sedangkan Vino hanya mengangguk sebagai isyarat meminta izin.
Ibu yang melihat anak gadisnya berani memegang tangan cowok di depannya, hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara didalam mobil, Vino tidak hentinya senyum-senyum sendiri.
"Ngapain senyum-senyum sendiri Vin ?" Ucap Khanza.
"Tuh, kan sudah lupa lagi mesti panggil apa ?" Ucap Vino.
Duh, manja banget anak laki orang.
Batin Khanza.
"Iya, kok senyum-senyum terus dari tadi, ayang ?" Ucap Khanza yang sengaja menekankan kata ayang pada pengucapannya.
Vino tertawa.
"Gimana enggak senyum-senyum sendiri ? Kamu main tarik didepan Ibu kamu tadi. Jadi sekarang sudah berani narik-narik aku nih ?" Ledek Vino.
Khanza langsung mencubit pinggang Vino.
"Suka banget nyubit orang. Sakit tau !" Ucap Vino.
"Syukurin ! Siapa suruh ngeledekin aku" Ucap Khanza sambil tertawa puas.
Akhirnya mobil yang dikendarai Vino tiba di sebuah rumah luas nan megah kediamanan Dwitama.
Khanza yang merasa sangat familiar dengan rumah yang pernah dia tempati selama 12 tahun itu, merasa dejavu.
"Sayang, kenapa bengong ? Ayo turun !" ajak Vino.
Khanza dan Vino lalu turun dari mobil.
Khanza yang memegang lengan Vino, melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Dwitama. Dia mulai mengambil nafas panjang.
Permainan akan segera dimulai
Batin Khanza.
"Mari ikut saya ke meja makan, Pak Vino" Ucap salah satu pelayan di rumah tersebut.
Sepanjang jalan Khanza mengawasi setiap dekorasi rumah yang pernah didekor oleh ibunya, semuanya sudah dirubah. Di dinding rumah juga, dipenuhi dengan foto Ibunya Nanda beserta ketiga anaknya.
Cih, benar-benar tidak tahu diri !
Batin Khanza.
Mereka akhirnya sampai di meja makan yang sudah dipenuhi oleh Yuda, Nanda, Tiara, dan kedua orang tua mereka.
Pelayan menghampiri Pak Dwitama.
"Tuan, Pak Vino sudah sampai" Ucap Pelayan tersebut.
Sontak semua yang ada disitu menoleh ke arah Vino dan Khanza.
Pak Dwitama, langsung berdiri dari duduknya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Vino, kamu tidak datang sendiri ?" Ucap Pak Dwitama yang tidak berhenti menatap Khanza di samping Vino.
"Tidak. Saya mengajak kekasih saya, Khanza. Anda tidak keberatan kan, Pak Dwitama ?" Ucap Vino.
Pengakuan Vino barusan, tambah mengejutkan orang yang berada di meja makan tersebut. Mata mereka terbelalak, raut wajah mereka seketika berubah, penuh dengan emosi.
Khanza yang menyaksikan perubahan itu tersenyum dengan lebar. Dia menyeringai.
__ADS_1
#Berikan dukunganmu ya melalui like, vote dan komen. Maafkan diriku yang selalu telat up, dikarenakan ada sesuatu dan lain hal.. ceilee sok sibuk 🤭 makasih buat yang udah komen.. semoga kalian tetap semangat menjalani aktivitas hari ini.. Dan inget, jangan menyerah pada kegagalan. Kalau kamu gagal coba lagi ya, mana tau kamu nanti gagal lagi🤣 Saranghaeyo 😘