Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Dia Lagi !


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan votenya ya.. Happy reading gaes 😘


**************************


Pagi hari yang begitu cerah. Seberkas sinar mentari masuk dari sela-sela jendela kamar Khanza. Khanza menyipitkan matanya akibat silau terkena sinar mentari.


"Ayo, bangun Sayang. Sudah pagi. Cepat mandi dan sarapan. Bukankah pagi ini kamu harus bekerja" Ucap Ibu Khanza.


"Oh, Iya Bu. Aku akan segera mandi" Ucap Khanza.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, Khanza membantu Ibunya meletakkan piring dan gelas di warteg mereka. Warteg mereka memang menyatu dengan rumah. Tetapi dibatasi pintu pembatas untuk ke rumah. Agar tidak ada akses untuk terlalu bebas bagi orang luar untuk keluar masuk dari warteg ke rumah. Jadi warteg khusus memakai pintu sendiri diluar.


"Sudah, sarapan saja sana. Ibu bisa menyusun piring dan gelas ini sendiri" Ucap Ibu.


"Tidak apa-apa Bu. Hanya membawakan ini saja, tidak begitu sulit kok. Hari ini apa menu yang Ibu masak ?" Tanya Khanza.


"Seperti biasa, sayang. Ada soto ayam, oseng-oseng tempe, Ikan sambal, Ayam bakar sama terong balado" Ucap Mama Khanza.


(Aduh, Author jadi lapar sendiri sambil ngetik ini 😂).


"Ooh" Ucap Khanza.


"Ibu jangan terlalu capek ya kerjanya. Entar sakit lagi. Khanza masuk ke rumah dulu ya, Bu. Mau sarapan terus berangkat kerja" Ucap Khanza.


"Iya, Sayang. Hati-hati ya" Ucap Ibu Khanza.


Khanza yang telah selesai sarapan langsung pergi bergegas menuju tempat kerjanya.


Pada pagi hari, Khanza bekerja di sebuah coffee shop sampai jam 4 sore. Sedangkan pulang dari sana, Khanza langsung mengajar les privat selama dua jam.


Coffee shop tempat Khanza bekerja termasuk coffee shop elit yang kebanyakan orang kalangan atas meminum kopi disini.


Tempat ini selalu ramai pengunjung. Baik itu orang dewasa maupun anak sekolah dan anak kuliahan yang sekedar duduk-duduk meminum kopi, menjadikan tempat ini sebagai tempat nongkrong geng mereka.


Jam telah menunjukkan pukul 14 : 00 Siang. Khanza yang sedang mengantar pesanan kopi diteras cafe, melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya. Wanita itu sedang duduk sambil melihat daftar menu yang mau Dia pesan.


Nanda ? Sedang apa Dia disini sendirian ? Bikin mood bekerjaku hilang saja...


Khanza langsung masuk ke dalam cafe dan mencari Syifa. Syifa adalah teman akrab Khanza yang sama-sama bekerja disini. Rumah Syifapun tidak begitu jauh dari rumah Khanza. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Saat Khanza menempati rumah yang baru dikontraknyan dengan Ibunya. Syifa dan Ayahnya, datang menolong membantu mereka pindahan. Semenjak itu mereka selalu bersama. Satu sekolah yang sama sewaktu Sekola Menengah Atas (SMA), dan sampai sekarang, bekerja di tempat yang sama.


"Fa, Bantuin Aku dong. Please !" Ucap Khanza.


"Bantuin apa, Za ?" Tanya Syifa.


"Itu, ada saudara tiriku diluar. Benaran Aku malas bertemu dengannya. Bisa kan selama Dia masih disini, Kamu yang mengantar pesanan kopi yang ada diluar teras, Dan Aku akan mengantar yang didalam cafe" Ucap Khanza.


"Saudara tirimu ada disini ? Yang mana sih Za ? Entar biar Aku kasih tahu kalau Dia sudah pergi" Ucap Syifa.


"Yang itu, Fa. Yang pakai kemeja putih. Yang sedang duduk sendirian itu" Ucap Khanza sambil menunjuk Nanda dari jauh.


"Wah, Saudara tirimu cantik banget ya Za" Ucap Syifa.


"Ya, Dia memang cantik. Dia juga sangat baik kepadaku. Tetapi siapapun yang ada sangkut pautnya dengan keluarga Dwitama, Aku tidak mau punya hubungan lagi dengan mereka" Ucap Khanza.


"Ya, Udah. Aku ke depan ya kalau begitu. Kamu antar kopi yang di dalam" Ucap Syifa.


Khanza mengangguk.


**********************


Sedangkan diluar teras, Nanda yang sedang duduk sendirian dihampiri oleh seorang Pria yang baru saja datang.


"Sudah lama menunggunya ?" Tanya Vino yang mengambil kursi dan duduk bersebrangan, dihadapan Nanda.


"Tidak juga. Aku juga baru datang" Ucap Nanda sambil tersenyum.


Nanda memanggil pelayan dan memesan kopi untuk mereka berdua.


"Terima kasih ya, Vin. Sudah menyempatkan datang. Padahal sebagai PresDir kamu pasti sangat sibuk sekarang" Ucap Nanda.


"Tidak masalah. Ada yang handle kok di perusahaan" Ucap Vino.


"Jadi mengenai proyek kerjasama Kita..." Belum selesai Vino meyelesaikan kata-katanya, Nanda memotong ucapannya.


"Ehmm, Vin..Bisakah Kita jangan membicarakan pekerjaan sekarang ?" Ucap Nanda.


Vino bengong, dan akhirnya mengangguk.


"Ok. Sorry, Aku pikir tadi Kau mengajakku kemari untuk membahas masalah pekerjaaan" Ucap Vino.

__ADS_1


"Tidak. Aku mengajakmu kemari, karena ingin berteman denganmu. Dan mengetahui lebih banyak tentangmu. Bolehkah Kita berteman ?" Tanya Nanda dengan suaranya yang halus dan lembut.


Vino terdiam beberapa saat. Mencoba mencerna setiap ucapan yang Nanda lontarkan.


"Ya, Tentu saja" jawab Vino ragu.


Mereka akhirnya mengobrol masalah pribadi. Nanda yang aktif bertanya, sesekali tersenyum mendengar jawaban Vino.


Entah kenapa setiap kali melihatnya tersenyum, hatiku merasa tenang


Batin Nanda.


Drtttt..drttt...


Tiba-tiba ponsel Nanda berdering.


Nanda mengangkat teleponnya. Dia terlihat mengobrol serius dengan seseorang di sebrang sana.


"Ok, baiklah. Sebentar lagi Aku akan kesana" Ucap Nanda mematikan teleponnya.


"Vin, Aku sepertinya harus kembali ke Perusahaan. Ada dokumen yang harus Aku urus segera" Ucap Nanda.


"Ok, Tidak masalah" Ucap Vino.


"Senang mengobrol denganmu Vin. Sampai ketemu lagi, ya" Ucap Nanda yang tersenyum manis.


"Iya, Hati-hati ya" Ucap Vino.


Vino masih berada disana. Dia menghabiskan minumannya yang masih tersisa. Panggilan telepon di ponselnya membuatnya duduk kembali untuk mengangkatnya.


Dia mengangkat telepon dari kolega bisnisnya tersebut. Lama mereka membahas kerja sama bisnis tersebut di telepon.


Sementara beberapa anak kuliah yang baru pulang dari kampusnya duduk di dekat meja Vino. Mereka ada sekitar 6 orang dan semuanya perempuan. Mereka tidak henti-hentinya melirik Vino yang sedang duduk sendirian dan asyik menelepon.


"Tia lihat deh. Ganteng banget ya cowok yang duduk disana" Ucap salah satu wanita itu.


"OMG, tipe gue banget" ucap yang satunya lagi.


Tia melirik pria yang dimaksud teman-temannya itu.


"Oh, iya emang ganteng sih. Terus kelihatannya tajir lagi" Ucap Tiara Dwitama.


Tiba-tiba pandangan matanya teralihkan pada sosok wanita yang dikenalnya. Dia melihat saudara tirinya sedang asyik mengantar pesanan kopi dari meja ke meja.


Ternyata dia bekerja disini sebagai pelayan. Bakal ada pertunjukkan menarik sebentar lagi...


Tiara memanggil pelayan meminta daftar menu, dia juga memberi uang dan membisikkan pada pelayan itu untuk meminta Khanza saja yang mengantarkan pesanannya.


Khanza yang semula senang saat Syifa memberitahunya bahwa Nanda sudah pergi. Kembali cemberut saat sang manager cafe memaksanya untuk mengantar minuman ke meja Tiara.


"Kamu saja yang mengantarnya ya Za. Mereka memintamu untuk mengantarnya langsung. Mereka adalah tamu VIP kita" ucap Manager itu.


Kalau saja Dia tidak mebutuhkan pekerjaan ini, sudah pasti Dia akan menolak mentah-mentah permintaan managernya barusan.


Khanza sangat mengenal Tiara. Terakhir kali, sewaktu dia menginjakkan kakinya di kediamanan Dwitama. Saat meminta uang biaya Rumah Sakit untuk Ibunya. Ibu tirinya dan Tiara, adik tirinya inilah yang habis-habisan menghinanya di sana. Mereka sangat merendahkan harga diri Khanza kala itu. Mungkin dari semua saudara tirinya itu, hanya Tiara yang mewarisi sifat jahat Ibunya.


Dengan berat hati Khanza melangkah mengantarkan pesanan cappucino ke meja Tiara. Ketika mendekati meja, temannya tiara sudah siap-siap mengulurkan kakinya menghadang kaki Khanza. Khanza yang membawa nampan minuman seketika terjerembab hampir terjatuh, tetapi dengan sigap dia memegang meja. Naasnya nampan minuman yang berisi es cappucino tersebut tumpah membasahi baju Tiara dan teman-temannya itu.


Tiara berteriak kesal.


"Argghhh..." teriak Tiara.


Alhasil teriakannya mengundang para pengunjung disana. Termasuk Bu Manager cafe yang segera datang mendengar teriakan Tiara.


"Maaf, Nona. Maafkan kesalahan pelayan kami. Kami akan segera membersihkannya. Khanza ayo minta maaf pada Nona ini" Ucap Bu Manager.


"Aku tidak mau, Bu. Aku tidak bersalah.Dia sengaja melakukannya. Dia sengaja menyuruh temannya menghadang kakiku sehingga Aku terjerembab" Ucap Khanza.


"Iya, Bu. Khanza tidak mungkin seperti itu. Aku sangat mengenal Khanza. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu" Ucap Syifa membela Khanza.


"Kau pikir Aku gila membiarkan diriku sendiri basah kuyup seperti ini. Apakah Kau tahu berapa harga baju yang Aku pakai ini ? Aku rasa bertahun-tahun gajimu disini juga tidak akan cukup untuk membayarnya" teriak Tiara pada Khanza.


Bu Manager mendekati Khanza.


"Ayo, Khanza cepat minta maaf. Kau tidak ingin dipecat kan karena masalah ini" Ancam Bu Manager.


Kalau saja Khanza tidak teringat dengan biaya untuk membeli obat ibunya setiap bulan. Khanza sangat enggan untuk menundukkan dirinya meminta maaf pada gadis tengil dihadapannya ini.


Dia menatap sekeliling. Melihat semua orang memandanginya. Seakan menyaksikan sebuah pertunjukkan. Dan menunggu pertunjukkan selanjutnya.

__ADS_1


Khanza menari Nafas panjang. Dengan berat hati Dia menuruti ucapan sang Manager.


"Maaf" Ucap Khanza.


Tiara menyeringai.


"Apa ? Aku tidak mendengarnya. Ucapkan lebih keras dan panggil Aku Nona besar !" Ucap Tiara.


Khanza kembali menarik nafas.


"Aku minta maaf Nona besar !" Ucap Khanza.


Tiara kembali menyeringai. Belum merasa cukup puas dengan aksinya itu, Dia kembali berulah.


"Aku akan dengan tulus memafkanmu, Kalau Kau berlutut dihadapanku sekarang juga. Baru Aku akan menganggap masalah ini clear !" Ucap Tiara.


Semua orang yang berada disana terkejut mendengarnya. Tidak menyangka permintaan gadis kecil itu sudah keterlaluan.


Vino yang sudah melihat dari awal kejadian tadi, segera mengakhiri obrolannya di telepon. Dia segera berdiri, ingin membantu menjelaskan masalah sebenarnya dan menolong Khanza. Tetapi tiba-tiba Dia menghentikan langkahnya saat melihat kejadian yang barusan terjadi.


Byurrr !


Khanza mengambil salah satu gelas yang masih berisi cappucino dan menyiramkannya pada pakaian Tiara.


"Arghhh ! Apa yang kau lakukan !" Teriak Tiara.


"Apa yang Aku lakukan ? Aku hanya melakukan sesuai dengan ceritamu. Sayang sekali kalau Aku tidak melakukannya dengan benar, disaat Kau bercerita seperti itu kepada Bu Manager dan orang-orang yang ada disini" Ucap khanza.


Semua orang berbisik-bisik melihat tingkah Khanza barusan. Ada juga yang tertawa kecil melihat Tiara yang semakin basah kuyup disiram Khanza barusan.


Tiara merasa sangat malu. Dia seperti kehilangan muka saat ini. Saking malunya, Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi.


"Khanza Kamu di pec.." Belum selesai Bu Manager menyelesaikan kata-katanya, Khanza langsung menyelanya.


"Di pecat maksudnya ? Oke ! Lebih baik Aku dipecat daripada harus menuruti kemauan gila, gadis tengil ini dan menuruti kemauan Anda yang lebih mementingkan uang daripada kebenaran" Ucap Khanza sambil meninggalkan tempat tersebut.


Vino yang melihat kejadian tersebut sempat tertegun.


Gadis yang kuat seperti Dia, sepertinya tidak memerlukan bantuan.


Vino lalu bergegas pulang setelah menghabiskan cappucinonya. Dia berjalan menuju parkiran tempatnya memarkir mobil.


Di parkiran, Dia melihat Khanza yang berada di dekat mobilnya sedang duduk di atas trotoar. Gadis itu menunduk tidak memperlihatkan wajahnya sama sekali. Tapi Vino bisa tahu kalau itu adalah gadis yang baru saja dipecat tadi karena melihat pakaian yang dikenakannya tadi, sama persis dengan yang dikenakan gadis itu sekarang. Terdengar isakan kecil dari dirinya.


Vino lalu mengambil beberapa lembar tissue di dalam mobilnya. Dan memberikannya kepada Khanza.


"Ambilah, dan lap air matamu. Jangan menangis disini. Bukankah Kau ini jagoan" Ucap Vino.


Khanza mendongak mendegar suara barusan. Matanya memerah. Dia berdiri dan tidak mengambil sama sekali tissue yang diberikan oleh Vino.


"Siapa yang menangis ? Aku tidak menangis. Air mataku terlalu berharga untuk gadis tengil itu !" Ucap Khanza.


Vino tersenyum.


"Mata sudah memerah seperti itu, masih bilang tidak menangis ? Sungguh gadis yang keras kepala. Mengapa Dia bisa memfitnahmu seperti itu, sampai Kau kehilangan pekerjaanmu. Apa Kau mengenalnya ?" Tanya Vino.


Khanza terdiam. Dia menatap lekat ke arah Vino. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan yang cukup lama.


Apa yang sedang dipikirkan gadis ini sekarang.. (Batin Vino)


"Mengapa Kau selalu mencampuri urusan orang lain ? Dasar Kepo !" Ucap Khanza yang baru mengingat bahwa laki-laki yang ada dihadapannya ini adalah laki-laki yang ditemuinya tempo hari di apotik.


What ? Kepo ? Belum ada yang pernah mengataiku kepo sebelumnya (Batin Vino)


Sontak ucapan Khanza barusan membuat Vino schok mendengarnya.


"Kau ini betul-betul cewek galak ya ! Orang sedang bersimpati padamu Kau bilang kepo. Sebenarnya Aku bukan orang yang suka mencam.." Belum selesai Vino menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Khanza memotong ucapannya.


"Astaga, ini sudah jam 4 lewat, Aku sudah terlambat untuk bekerja !" Ucapnya sambil melirik jam tangannya. Lalu Dia pergi sambil berlari kecil menghentikan ojek.


Vino hanya bisa melongo melihat tingkah Khanza barusan. Ini sudah kedua kalinya, Dia dikacangi oleh Khanza.


"Dasar gadis galak ! Aku hanya bersimpati padamu bukan kepo seperti yang kau bilang !" Gumam Vino.


Terlambat kerja ? Bukankah dia sudah dipecat ? sebenarnya dia punya berapa pekerjaan ? Ah, masa bodoh. Kenapa aku harus repot-repot memikirkannya. Yang jelas sial sekali nasib orang yang mempekerjakan gadis galak dan keras kepala sepertinya.. Arggh.. !


#**Tunggu terus ya update_an bab selanjutnya... jangan lupa memberi jempol dan menyelipkan komentar kalian ya.. selamat membaca 😘


Sembari menunggu up selanjutnya, Baca juga yuk novel dari sahabatku "Aldekha Depe" yang judulnya "Tentang Hati" 😍**

__ADS_1



__ADS_2