
Jangan lupa memberi like, vote dan komen ya๐ Happy Reading gaes๐
***********
Pranggg !
Tiba-tiba terdengar suara gelas yang pecah. Saking terkejutnya, Nanda menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.
Semua matapun tertuju ke arah Nanda.
"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkannya" Ucap Nanda dengan suara yang terbata dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sementara Ibu Nanda dan Tiara, sudah memandang Khanza dengan sorot mata penuh emosi. Tiara yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung memaki Khanza saat itu juga.
"Kenapa kak Nanda yang meminta maaf. Yang seharusnya meminta maaf kan Khanza. Dia yang telah menghancurkan acara makan malam ini !" Ucap Tiara.
Sekarang Vino yang dibuat terkejut dengan ucapan Tiara.
"Jangan menghina kekasihku ! Apa kalian saling kenal ?" Tanya Vino pada Tiara.
Tiara diam tidak menjawab. Dia sudah ketakutan melihat sorot mata Vino yang tajam.
Lalu Vino mengalihkan pandangannya pada Khanza.
"Apa kau sudah mengenal mereka sebelumnya ? Siapa mereka sebenarnya?" Tanya Vino pada Khanza.
Khanza tersenyum.
"Bukan siapa-siapa. Hanya saja, dulu aku pernah meminjam uang dari mereka untuk biaya pengobatan Ibu" Ucap Khanza di hadapan semua.
"Berapa uang yang dia pinjam ? Aku akan membayarnya !" Ucap Vino bertanya pada Tiara.
Tiara hanya diam tidak berani menjawab.
"Aku sudah membayarnya lunas !" Ucap Khanza yang sengaja menekankan kata lunas pada pengucapannya.
Semua yang melihat dan mendengar ucapan Khanza barusan, kaget bukan main. Mereka merasa, kali ini Khanza benar-benar menantang mereka.
"Baiklah, karena aku sudah merusak makan malam kali ini. Sebaiknya, aku pulang" ucap Khanza.
"Sayang, ayo kita pulang" ucap Khanza menarik tangan Vino.
Vino menurutinya. Akhirnya Khanza dan Vino bergegas keluar ruangan, meninggalkan semua orang yang berada di meja makan.
"Khanza ! Tunggu sebentar. Aku mau bicara !" Ucap Yuda yang sudah mengejar Khanza sampai di halaman depan rumah keluarga Dwitama.
Dia memegangi lengan Khanza untuk menahannya agar tidak pergi.
"Lepaskan tanganmu. Jangan sentuh kekasihku !" Ucap Vino.
"Aku tidak ada urusan denganmu, aku hanya ingin bicara dengan Khanza" Ucap Yuda.
"Khanza sebaiknya kita mengobrol baik-baik, agar masalah ini tidak bertambah rumit" Ucap Yuda.
"Aku tidak mau. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan" Ucap Khanza yang segera melepas tangannya dari tangan Yuda. Tapi Yuda menahannya kembali.
Vino yang dari tadi sudah menahan amarahnya, tiba-tiba meluapkan emosinya.
Dia memukul wajah Yuda. Dan sekarang menarik kerah bajunya.
"Kau tidak dengar apa yang dikatakan Khanza. Di bilang, dia tidak ingin bicara padamu !" ucap Vino.
"Dan, kalau kau menyentuhnya sekali lagi, akan aku patahkan lenganmu" Ucap Vino yang sudah dikuasi oleh amarah.
"Sayang, Sudah ! Jangan pukuli Yuda lagi. Ayo, kita pulang saja" ucap Khanza yang tidak tega melihat Vino memukul Yuda. Dia menarik lengan Vino.
Akhirnya Vino mengikuti ucapan Khanza. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara dari kejauhan, sepasang mata menatap kepergian mereka. Nanda yang menyaksikan kejadian barusan melihat dengan jelas bagaimana besarnya rasa cinta Vino kepada Khanza. Tidak terasa, air matanya mengalir membasahi pipinya.
**************
Sementara di dalam mobil, Vino terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sorot matanya yang penuh dengan amarah, membuat Khanza takut untuk mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
Sampai akhirnya, Vino membanting setir kemudi ke arah kiri. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi ?" Ucap Vino yang sudah tidak tahan untuk bertanya. Sorot matanya begitu tajam, dan pandangannya begitu dingin.
"Bu.. Bukankah, aku sudah bilang semuanya tadi" Ucap Khanza terbata.
"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan keluarga Dwitama ? Kenapa Yuda mengejarmu dan berani menyentuhmu ? Apa kau pernah berpacaran dengannya ?" Tanya Vino sedikit berteriak.
Apa kau pikir aku sudah gila ? Berpacaran dengan saudara tiri sendiri !
Batin Khanza.
"Aku tidak pernah berpacaran dengannya. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa" Ucap Khanza.
"Lalu perempuan tadi. Dia perempuan yang sama sewaktu di coffee shop itu kan ? Yang membuatmu di pecat dari pekerjaanmu. Kenapa dia selalu berbicara seenaknya padamu ?" Ucap Vino yang bertanya tentang Tiara.
Khanza kehilangan kata-kata. Dia tidak mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan Vino barusan.
"Aku tidak tahu" Ucap Khanza.
Khanza mengeluarkan air mata, saking merasa tertekan atas semua pertanyaan Vino barusan. Cepat-cepat dia mengelap air matanya.
Vino yang melihat Khanza mengeluarkan air mata langsung menarik tangan Khanza dan memeluknya.
"Maafkan Aku !" Ucap Vino masih dengan posisi memeluk Khanza.
"Maaf kalau kau merasa takut dan tertekan dengan pertanyaanku tadi. Kau boleh tidak menjawabnya" Ucap Vino sambil mengelus kepala Khanza.
Khanza masih terisak. Dia membenamkan wajahnya di dada Vino. Vino sendiri bisa merasakan kemejanya yang lembap akibat air mata Khanza.
"Sudah-sudah, aku antar kamu pulang ya sekarang. Atau kita makan dulu diluar ?" Ucap Vino.
"Aku tidak lapar, Aku mau pulang" Ucap Khanza.
Tetapi Vino tetap saja dengan kehendaknya. Dia membelokkan mobilnya menuju sebuah restoran.
"Ayo, turun !" Ucap Vino.
"Ayo, turun. Kita belum makan sama sekali dari tadi. Nanti Ibumu marah lagi, kalau tahu anak gadisnya tidak diberi makan" Ucap Vino yang sudah menarik lengan Khanza untuk turun dari mobil.
Akhirnya mereka memesan sejumlah makanan dan minuman.
"Ayo, minum minuman coklat panas ini. Aku sengaja memesannya untukmu. Yang aku dengar, dengan meminum coklat panas ini, suasana hati yang buruk bisa menjadi lebih baik" Ucap Vino.
Khanza lalu menyeruput minuman coklat panas pemberian Vino.
"Not Bad" Ucap Khanza.
Vino tersenyum.
"Besok pagi aku jemput kamu ya. Kita ke kantor bareng" Ucap Vino.
"Besok ?" Ucap khanza yang agak kaget mendengar ucapan Vino.
Vino mengangguk.
"Hmm.. Bolehkah kita tidak mempublikasikan hubungan kita di kantor ?" Ucap Khanza.
"Kenapa ? Kamu malu pacaran sama aku ?" Ucap Vino.
Khanza tertawa.
"Yang adanya, kamu yang bakal malu pacaran sama aku. Aku bakal enggak nyaman nih kalau semua orang pada melototin aku, gara-gara pacaran sama kamu dikantor. Orang nanti bakal mengira aku main dukun lagi, buat dapetin kamu" Ucap Vino.
"Aku enggak peduli apa kata orang !" Ucap Vino.
Kamu sih enak bosnya, lah aku ? cuma remahan kerupuk gini.. bakal jadi bullyan nganggur cewek-cewek dikantor nanti.
Batin Khanza.
"Pokoknya kita jangan mencampuradukkan hubungan pribadi sama urusan kantor ya, sayang. Nanti kalau aku sudah siap, baru kita publikasikan. Please, aku mohon ya !" ucap Khanza.
Vino memandang Khanza cukup lama. Dia kelihatan sedang berpikir.
__ADS_1
"Terserah kamu saja" Ucap vino.
Setelah menghabiskan makanannya. Mereka bergegas pulang.
Vino melajukan mobilnya, mengantar Khanza pulang.
Setelah menempuh perjalanan kurang kebih 40 menit akhirnya mereka sampai dirumah Khanza.
"Bye, ayang kepo ! Sampai ketemu besok" Ucap Khanza sembari turun dari mobil, dan melambaikan tangannya di kaca mobil.
"Bye, sayang !" Ucap Vino.
Khanza lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Vino yang telah melihat Khanza masuk ke dalam rumah, langsung mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Tolong cari tahu informasi, tentang hubungan Khanza dan keluarga Dwitama. Laporkan secepatnya padaku" Ucap Vino yang menelepon informan.
"Baik, Tuan" Ucap suara pria di seberang sana.
Aku tidak ingin memaksamu bercerita, tetapi aku akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Batin Vino.
*******************
Keesokan harinya, Khanza sudah berdiri di depan rumahnya untuk menunggu Vino menjemputnya. Dia berdandan rapi mengenakan blazer bewarna dusty pink dan rok yang bewarna senada. Sehingga terlihat serasi dengan kulitnya yang putih bersih.
Sebuah mobil sport mewah, bewarna biru metalik berhenti tepat dihadapan Khanza. Vino turun dari mobilnya dan menyalami Ibunya Khanza yang sibuk menyusun piring di kedai nasinya. Khanza juga ikutan menyalami Ibunya dan meminta izin untuk pergi bekerja.
Di dalam mobil, Jantung Khanza sudah berdegup kencang. Dia takut Vino masih menanyakan perihal kejadian semalam.
Dia enggak bakal bertanya lagi tentang kejadian semalam kan ? Padahal semalam, aku sudah mengarang indah, jawaban yang akan kuberikan bila dia bertanya lagi. Semoga dia sudah melupakannya.
Batin Khanza.
Vino yang merasa suasana di dalam mobil begitu hening, melirik sekilas ke arah Khanza. Dia memulai obrolan untuk memecahkan keheningan.
"Cantik banget sih hari ini. Pacarnya siapa nih ?" ucap Vino.
"Waduh, enggak ada uang receh nih bang. Adanya nasi uduk doang" Ucap Khanza yang mencoba menutupi rasa cemasnya.
"Boleh juga, tapi lauknya rendang atau enggak dendeng ya" Ucap Vino.
"Dih, si ayang.. banyak banget maunya. Pingin di cubit ya ginjalnya ?" Ucap Khanza.
Vino lantas tertawa mendengar ucapan Khanza barusan.
"Nanti saat turun dari mobil, kita barengan aja ya. Soalnya, aku juga enggak langsung ke ruangan kita. Aku harus memimpin rapat di lantai 9. Jadi enggak bakal terlihat barengan" ucap Vino.
Khanza mengangguk.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, Vino dan Khanza akhirnya tiba di kantor. Vino memarkir mobilnya di parkiran basement. Dia keluar dari dalam mobil berdua dengan Khanza. Mereka menaiki lift dengan tujuan lantai berbeda.
Huft, selamat.. Vino enggak tanya-tanya lagi soal kejadian semalam.
Batin Khanza.
Dengan gontai Khanza melangkah keluar dari lift menuju ruangannya. Tapi, tiba-tiba dia melihat sesosok pria yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. Khanza tidak dapat melihat dengan jelas wajah laki-laki yang berdiri membelakanginya.
"Maaf, Anda ingin bertemu dengan siapa ya, Pak ?" Ucap Khanza.
Pria itu berbalik.
"Khanza, I'm comeback" ucap Aldi dengan seyuman secerah sinar mentari.
Sedangkan Khanza sudah merasa lemas untuk melangkah ke mejanya.
Astaga, alamat tekanan darah bakal naik ini !
Batin Khanza.
Jangan lupa memberi like, komen dan vote. Makasih ๐
__ADS_1