Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Meminta maaf


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. makasih🙏


***************


Jam menunjukkan pukul 17:00 sore. Syifa yang baru saja pulang dari bekerja, sedang menunggu ojek yang lewat di pinggir jalan.


Tiba-tiba sebuah mobil sport mewah bewarna hitam, berhenti tepat dihadapannya.


Sang empunya menurunkan kaca mobilnya.


Aish, Dia lagi !


Batin Syifa.


"Kau sedang menunggu kendaraan untuk pulang ? Kalau begitu naik mobilku saja, nanti aku antar. Lagipula aku ingin mengobrol denganmu sebentar. Ada hal yang ingin aku tanyakan" ucap Yuda.


Sok akrab sekali, ngomong panjang lebar. Seperti telah kenal lama. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu lagi setelah kejadian gila itu.


Batin Syifa.


Syifa hanya diam tidak menanggapi ucapan Yuda. Matanya masih melirik ke kanan dan ke kiri mencari ojek yang akan lewat. Yuda lalu turun dari mobil dan mendekatinya.


Syifa yang melihat Yuda mendekatinya, langsung ketakutan. Dia takut Yuda akan melakukan hal yang sama padanya, seperti minggu yang lalu. Ini memang sudah satu minggu, dari kejadian yang dialami Syifa saat itu.


Syifa melangkah mundur beberapa langkah, saat Yuda mencoba mendekat.


"Kau.. Kau mau apa ?" Ucap Syifa terbata.


Yuda tersenyum. Dan Syifa enggak bisa berbohong kalau Yuda terlihat ganteng dengan senyumannya itu.


Dih, Kenapa gue jadi terpesona gini sama nih b*jingan tengil. Pasti ini karena kecapekan kerja, jadinya lihat yang bening dikit kayak gini, jadi beda di penglihatan mata gue.


Batin Syifa.


"Kenapa meringsek mundur seperti itu ? Apa kau melihat hantu ? Sampai perlu ketakutan seperti itu saat melihatku ?" Ucap Yuda.


"Masih mending lihat hantu deh. Setidaknya hantu kagak mesum kayak elo. Main sosor anak perawan orang" ucap Syifa.


"Mau apa elo ?" tanya Syifa yang baru ingat, apa tujuan pria dihadapannya ini mengajaknya mengobrol.


" Aku ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu. Sudah selama satu minggu ini, aku terus mencarimu di tempat kau bekerja. Jangan bilang kau tidak tahu. Aku tahu kau sengaja menghindariku. Dengan menyuruh temanmu menyampaikan pesanmu yang berpura-pura tidak ada di tempat bekerja" ucap Yuda.


"Cuma itu ?" tanya Syifa.


"Hmm, sekalian ada yang ingin aku tanyakan tentang Khanza" Ucap Yuda.


Sudah aku duga !


"Udah, aku bilang. Aku enggak akan memberikan alamat Khanza padamu. Kau juga dengar sendiri kan dari mulut Khanza tempo hari, kalau dia tidak ingin lagi kau mencarinya" ucap Syifa.


"Kau salah. Bukan hal itu yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Yuda.


"Jadi apa ?" Tanya Syifa.


Duh jadi penasaran nih..


"Jangan dipinggir jalan kayak gini. Ayo, masuk ke mobil. Kita cari tempat makan dekat sini" ucap Yuda.


Syifa memandangi wajah Yuda, tidak memberikan jawaban atas ajakan Yuda.


Yuda yang seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan Syifa, akhirnya mencoba meyakinkan gadis yang ada dihadapannya ini.


"Enggak bakal gue apa-apain kok. Gue janji. Kan elo bisa teriak, kalau gue apa-apain elo" Ucap Yuda.


"Ini karena elo sudah punya nilai minus di mata gue. Jadi semua yang melintas dipikiranku, semuanya buruk tentangmu" ucap Syifa.


Yuda tersenyum kembali.


Eh, dia senyum lagi !


"Udah, ayo masuk mobil. Bentar aja kok. Ada hal penting tentang Khanza, yang ingin aku obrolkan padamu" ucap Yuda.


Akhirnya dengan berat hati Syifa naik ke dalam mobil Yuda.

__ADS_1


Sepanjang jalan mereka cuma diam-1diaman satu sama lain.


Sampai di sebuah restoran, Yuda mengajak Syifa turun.


"Ayo, turun" ucap Yuda.


Syifa celingak-celinguk lihat kiri-kanan. Dia memandang lekat ke sekeliling.


"Udah, aman kok. Ini restoran bukan hotel" ucap Yuda yang geleng-geleng kepala lihat kelakuan Syifa.


Dih, tau banget yang gue pikirin !


Akhirnya Syifa dan Yuda masuk ke dalam restoran mewah tersebut. Di depan pintu restoran sudah berdiri mbak-mbak pelayan restoran yang langsung menghampiri mereka.


"Selamat datang Tuan dan Nona, Mau pilih ruangan biasa, vip, atau room candle light dinner buat pasangan ?" ucap pelayan tersebut.


"Yang biasa aja mbak !" ucap Syifa yang langsung nyamber karena kupingnya mulai memanas mendengar room buat pasangan.


Yuda tertawa mendengarnya.


"Minta room VIP ya mbak" ucap Yuda.


"Baik, Pak" ucap pelayan tersebut. Lalu pelayan tersebut membimbing mereka menuju ke ruangan VIP room.


Mereka mulai memesan menu makanan yang ada di daftar menu.


"Ini elo yang bayar kan ? gue enggak ada uang buat bayar makan disini !" ucap Syifa to the point.


"Iya, gue yang bayar" ucap Yuda.


Selang berapa menit kemudian, Pelayan datang menghidangkan makanan pesanan mereka.


Tanpa sungkan, Syifa melahap makanan tersebut dengan lahap.


Kebetulan nih, pulang kerja perut laper... bisa rangkap buat makan malam juga nih.


Batin Syifa.


Yuda yang melihat tingkah Syifa hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum.


"Kenapa emangnya ?" Tanya Syifa ketus.


"Elo enggak ada ayu-ayunya jadi perempuan ya ! Udah makan asal seruduk, Galak lagi ! Beneran cocok deh elo temenan sama Khanza. Sama garangnya !" ucap Yuda.


What ? Garang ? Cari masalah nih orang.


Batin Syifa.


"Kalau menghadapi laki-laki brengs*k kayak elo emang harus garang ! Kalau gue menye-menye, bisa-bisa jadi makanan elo !" ucap Syifa.


"Brengs*k ?" Yuda tertawa.


"Ntar aku tunjukkin beneran yah ke kamu arti brengs*k yang sebenarnya" ucap Yuda yang sudah menaikkan salah satu alisnya.


Syifa terdiam. Dia tidak berani bicara lagi.


Nah, baru diem kan elo ! Dari tadi bawel bener.


Batin Yuda.


"Tadi kamu bilang, mau ngobrol tentang Khanza. Ada apa sama Khanza ?" tanya Syifa yang langsung ke inti.


Semenjak dari rumah sakit, aku enggak pernah ketemu Khanza selama satu minggu ini. Pada sibuk kerja semua soalnya.


Batin Syifa.


"Sudah berapa lama Khanza pacaran sama Vino ?" tanya Yuda.


"Vino ?" ucap Syifa mengulangi ucapan Yuda. Keningnya mengerenyit. Mencoba mengingat sesuatu.


"Bukannya Vino itu bosnya Khanza di kantor ?" ucap Syifa yang terlihat kebingungan.


"Apa ? Jadi Khanza kerja di Perusahaan Samudera Group ?" ucap Yuda yang terkejut mendengar ucapan Syifa.

__ADS_1


Pantas mereka dekat.


Batin Yuda.


Syifa langsung menutup mulutnya, dengan kedua tangannya.


Mati gue.. Khanza bakal ngamuk enggak ya, kalau aku sudah enggak sengaja bocorin tempatnya bekerja.


Batin Syifa.


"Khanza memang benaran cinta sama Vino ?" ucap Yuda.


Syifa diam tidak menjawab.


Syifa lalu mengambil tasnya untuk bersiap-siap pulang.


"Aku pulang saja ya, kamu pinter banget mancingnya. Aku takut kelepasan ngomong soal Khanza" ucap Syifa.


Yuda bingung melihat sikap Syifa.


"Jangan pulang dulu habisin dulu makanannya" ucap Yuda.


Syifa masih diam.


"Iya, Sorry. Kalau aku mengorek-ngorek soal Khanza, padamu. Kalau kamu keberatan, kamu boleh enggak menjawabnya kok. Aku sudah bilang kan tujuan utamaku tadi buat minta maaf padamu" ucap Yuda.


"Bener, elo enggak bakal bahas Khanza lagi ?" tanya Syifa


"Iya" ucap Yuda.


Akhirnya Syifa kembali meletakkan tasnya, dan melanjutkan makannya.


Mereka lalu mengobrol, saling bertanya soal pekerjaan mereka dan kehidupan sosial mereka masing-masing. Terkadang terdengar tawa dari obrolan mereka.


"Maaf soal kejadian kemarin. Aku benar-benar lepas kendali. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendri" ucap Yuda.


Syifa diam tidak bergeming.


"Ciuman pertama ya ? Baru kali itu ?" ucap Yuda.


Syifa kembali diam. Tetapi kali ini wajahnya merah merona. Pipi dan telinganya memanas.


"Tidak heran ciumanmu begitu payah. Apalagi kau terlihat grogi saat itu. Mau aku ajari ?" ucap Yuda yang menggoda Syifa.


Syifa melotot.


"Dasar mesum ! Emang bener ya, yang Khanza bilang ! Elo itu pasti udah biasa bergaul dengan kehidupan malam dan pergaulan bebas !" ucap Syifa marah-marah.


Yuda tertawa.


"Dasar Khanza ! Masih saja suka berbicara semaunya dia. Khanza tahu apa soal gue. Saat usianya 12 tahun dia sudah ninggalin rumah sama Ibunya" ucap Yuda.


"Kadang gue kangen sama Khanza kalau inget dulu. Gue dan Khanza punya banyak kesamaan. Sama-sama keras kepala dan pemberontak. Tapi gue tahu, Khanza orang yang peduli. Kadang gue suka mikir, kenapa adek gue Nanda tidak punya sedikit keberanian seperti yang Khanza punya. Selalu nuruti keinginan orang tua kita, walaupun bertentangan dengan hati nuraninya" ucap Yuda.


"Rasa sayang gue sama Khanza itu sama dengan rasa sayang gue ke adek gue sendiri. Jadi gue enggak ingin Khanza terperosok jauh dan melakukan kesalahan yang nanti bakal dia sesalin" Ucap Yuda.


Ooh.. Dia tipe yang mengayomi adik-adiknya. Duh, jadi pingin juga punya kakak.


Batin Syifa.


"Tapi, elo juga sebelas, dua belas lah sama Khanza. Galak, bawel, judes, pemberontak dan baru ciuman pertama di usia sekarang ini" ucap Yuda tertawa terbahak-bahak.


"Lalu kenapa ? Kalau baru ciuman pertama sekarang ? Apa itu aneh ?" ucap Syifa yang sudah mulai emosi.


Yuda tersenyum. Dia memperhatikan wajah Syifa dengan seksama.


"Tidak aneh kok. Itu malah menarik !" ucap Yuda yang mulai merasa tertarik dengan gadis yang ada dihadapannya sekarang.


Deg !


Dia cuma ngomong begitu doang, tapi kok jantungku serasa mau melompat sekarang.


Batin Syifa.

__ADS_1


#Sorry yak selalu langganan telat update. Aku janji deh, enggak bakal telat up lagi. Kalau aku telat lagi, nanti aku janji lagi 🤣 *Eh🙊 (ini NT dan MT beneran lagi error kk😊)


Jangan lupa like, vote dan komentar kalian yak 😘


__ADS_2